
Demi pria itu melepaskan Zada, Geva rela menyerahkan diri. Dia tak akan melawan jika mereka ingin memukulinya.
Mendengar pernyataan Geva yang seperti itu tentu saja membuat Zada tak rela.
" Gev, jangan seperti ini. " Zada menggeleng, dia tak mau menjadi titik lemah bagi seorang Gevariel. Dan tak ingin melihat pria itu rela berkorban apa saja hanya demi menyelamatkannya. Tapi bagi Geva,dia rela melakukan apapun asal tak lagi harus kehilangan seseorang yang ia sayang.Kehilangan seseorang yang kita sayang di depan mata kepala sendiri itu sungguh menyiksa dan menyakitkan.
Di saat para preman ingin memukul Geva, Tiba-tiba bala bantuan datang.
dor!
dor!
Zada, maupun Geva terlihat memejamkan mata. Mereka mengira bahwa tembakan itu diarahkan padanya, tapi tetnyata bukan. Melainkan dilayangkan ke arah para preman yang bersiap ingin menyakiti keduanya. Preman yang menodongkan senjata ke arah Zada perlahan tumbang jatuh ke atas tanah, begitupun dengan preman yang bersiap ingin memukuli Zada.
Menyadari bahwa tak ada sesuatu yang terjadi padanya, membuat Geva maupun Zada perlahan membuka mata. Geva tersenyum saat melihat para pengawalnya datang untuk menyelamatkan.
Tanpa berlama-lama, Geva langsung berlari memeluk Zada dengan erat. Dia benar-benar bersyukur masih bisa melihat sang istri baik-baik saja.
" Tenang, kita sudah aman,"kata Geva mencoba menenangkan Zada yang masih menangis tergugu dalam pelukannya. Namun, ternyata drama itu tak berhenti sampai di situ saja karena ternyata ada seseorang yang sejak tadi sudah memantau dari kejauhan dengan memegang sebuah senapan. Ketika semua orang terlihat mulai lengah, serta titik yang sudah sesuai ia langsung melayangkan sebuah tembakan.Indra pendengaran Geva yang cukup peka,membuatnya langsung memutar posisi Zada dengannya hingga
Dor!
Dada Geva membusung tatkala sebuah peluru menembus masuk kedalam tubuhnya. Muntahan darah begitu saja jatuh membasahi pakaian Zada.
" Laogong, ada apa?"tanya Zada yang merasa bahwa ada sesuatu yang telah terjadi.
Mengetahui bahwa masih ada seseorang yang berhasil menembak Geva dari kejauhan, membuat salah satu dari pasukan satu mengedarkan pandangan mencari sumber tembakan dan ia melihat seseorang yang berlari dengan membawa senapan. Tanpa berlama-lama, pria itu segera lari u mengejar sang pelaku. Sementara yang lainnya membantu menyelamatkan Geva.
Beberapa orang langsung membawa tubuh Geva masuk ke dalam mobil, sementara Zada terlihat shock dengan tangan yang berlumuran darah. Zada pun ikut masuk kedalam mobil terlebih dahulu. Lalu di susul dengan Geva yang di tidurkan diatas pahanya.
" Laogong, bertahanlah!"ucap Zada dengan berlinang air mata.
Tangan kanan Zada terus mengusap puncak kepala Geva, sementara tangan kirinya mengenggam tangan Geva yang mulai dingin dan pucat.
" Bisakah lebih cepat lagi?"pinta Zada pada seseorang yang sedang mengemudi.
" Ini sudah batas maksimal keamanan dalam mengemudi nyonya, jika saya tambah lagi itu akan berbahaya. "
__ADS_1
" Laogong,bangun! Jangan menutup mata!"pinta Zada yang terlihat sangat cemas. tak berselang lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit terdekat.
Beberapa anak buah Geva langsung mengambil Brankar untuk Geva, ada juga yang langsung menarik suster maupun dokter agar menangani bosnya.
" Hei,apa-apaan kamu!" bentak seorang Dokter wanita saat tiba-tiba ada yang menariknya secara paksa.
" Tolong selamatkan bos kami! Jika sampai terjadi apa-apa dengannya, saya akan menuntut rumah sakit ini!"ancam pria itu.
" Hei, kenapa kalian hanya diam saja!Cepat lakukan sesuatu!"bentak pria itu lagi saat tim medis yang menurutnya cukup lelet dalam memberikan sebuah tindakan.Padahal hanya dia saja yang terlalu panik, takut terjadi sesuatu pada Geva.
Seorang Dokter yang bersiap untuk pulang, tiba-tiba datang menghampiri saat mendengar ada sebuah keributan di ruang UGD.
" Ada apa ini?"tanya Dokter itu dengan penuh wibawa.
" Dokter Lean, anda belum pulang?"tanya seorang perawat yang ada di berdiri di depan pintu ruangan UGD. Kehebohan yang dilakukan oleh para pasukan satu memang cukup memancing perhatian banyak orang hingga banyak yang datang berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
" Kamu juga seorang Dokter?"serobot pria yang sejak tadi marah-marah.
Lean mengangguk.
* Kalau begitu, selamatkan bos saya!" Pria itu langsung menyeret lengan Lean untuk membawanya melihat kondisi Geva yang sedang kritis tanpa bertanya lebih dulu Dokter bagian apa dia.
Melihat luka Geva yang cukup serius, membuat Lean langsung menyuruh para perawat untuk segera menyiapkan ruang operasi.
" Dok,tolong selamatkan suami saya,"pinta Zada dengan wajah sendu dan penuh harap. Melihat tatapan penuh kekhawatiran dari wanita ini seakan mengingatkannya pada sang istri yang ada di rumah.
" Saya akan berusaha semaksimal mungkin, selebihnya serahkan sama sang pemberi hidup!"
Setelahnya, Lean berjalan pergi untuk kembali memakai pakaian operasinya. Sebelum masuk ruang operasi, Lean berusaha menghubungi istrinya terlebih dahulu untuk memberitahukan bahwa ia sedang ada pasien gawat darurat. Namun, panggilannya tak kunjung mendapatkan respon.Terpaksa, Lean hanya bisa mengirimkan sebuah pesan.
Seusai mengirimkan pesan, Lean segera keluar dari ruangan ganti menuju ruang operasi. Tangan Lean sudah menengadah,bersiap untuk melakukan sebuah operasi. Seperti biasanya, Lean akan mengajak semua tim medis yang ikut berpartisipasi untuk berdoa terlebih dahulu agar operasi berjalan dengan lancar.
"Scalpel," Lean meminta sebuah pisau bedah dan mulai melakukan pembedahan.
"Pinset anatomis."
"Kain kasa."
__ADS_1
"Alat pengisap."
Kini, Lean sudah mulai mengisap darah untuk mencoba menghentikan pendarahan. Tiba-tiba monitor jantung berbunyi.
" Cek tanda vital."
"Denyut jantung 180, tekanan darah 50/30 turun sangat cepat, saturasi masih stabil," ucap rekan yang menjaga monitor.
Setelahnya, Lean pun kembali fokus untuk mengambil sebuah peluru yang masih menancap di dalam organ tubuh Geva.
Jika di ruangan operasi semua tim medis sedang bekerja keras untuk menyelamatkan pasien yang berada dalam masa kritis, Lain halnya dengan Zada yang terus memanjatkan doa pada Tuhan-Nya seperti apa yang dikatakan oleh Lean.
Tuhan, selamatkan lah suamiku.
Zada menangkup wajahnya, isakan tangis masih terus terdengar, sebuah kalimat yang Geva ucapkan sebelum tak sadarkan diri seakan terlintas kembali.
"wǒài nǐ lǎopó ( Aku mencintaimu istriku)."ucapan yang sebelumnya belum pernah Geva katakan,tiba-tiba terucap di kala kondisi seperti itu. Selama ini, Geva mrmang lebih menunjukkan sikap bahwa dia memang menyayangi Zada tapi tak pernah mengatakan kata cinta.
" Dok, kondisinya terus menurun,"ucap sang penjaga layar monitor saat melihat detak jantung Geva yang semakin melemah. Semua orang terlihat saling pandang satu sama lain, sementara dokter senior seperti Lean masih terlihat begitu tenang.
" Jangan panik, lakukan saja tugas masing-masing."
Di luar ruangan, telihat Aden yang baru datang menghampiri Zada yang terus mondar-mandir di depan ruang operasi.
" Nyonya, lebih baik anda bersihkan diri terlebih dahulu,"kata Aden seraya menyodorkan paper bag berikan pakaian ganti untuk Zada.
Zada masih terlihat ragu-ragu untuk mengambil paper bag itu. Jujur, pikirannya saat ini begitu kalut tapi sepertinya doa memang butuh membersihkan dirinya yang berlumuran daeah Geva. Baru saja berjalan satu langkah, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang operasi terbuka.
Zada pun berbalik dan langsung berjalan menghampiri sang Dokter itu.
" Dok, bagaimana dengan kondisi suami saya?"tanya Zada cemas.
" Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi____"
Menatap raut wajah sang Dokter yang kurang bersahabat,membuat Zada langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan operasi.
...****************...
__ADS_1