Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 96 : Meminta anak


__ADS_3

" Za ..." lirih orang itu dengan wajah berlinang air mata dan langsung memeluk Zada.


Kejadian hari ini, benar-benar membuatnya sangat tersakiti. Awalnya, Aristya ingin menjadi wanita yang kuat dan elegant ketika menghadapi wanita perusak rumah tangganya. Namun, semua kekuatannya seketika menghilang saat mendengar Gani mengatakan kalau wanita itu tengah hamil.


Itulah alasan kenapa suaminya membawa wanita itu pulang karena tak ingin terus menutupi ini semua dari Aristya. Dia ingin jujur dan berterus terang agar Aristya tahu dari mulutnya sendiri, dan berharap sang istri bisa menerima. Namun, istri mana yang bisa menerima begitu saja suaminya membawa wanita lain pulang dalam kondisi tengah hamil.


Jika ada, dia adalah wanita yang sangat kuat!


" Kakak kenapa?"tanya Zada yang terlihat bingung dengan situasi dan kondisi saat ini. Dia tak tahu apa yang terjadi pada sang kakak ipar sampai menangis sesenggukan seperti ini.


Bukannya menjawab, Aristya justru semakin tergugu dalam pelukan Zada. Zada pun hanya bisa membiarkannya, lalu membawa sang kakak ipar masuk ke dalam rumah.


Setelah mendudukkan Aristya di sofa, Zada segera mengambilkan air minum.


" Di minum dulu,Kak. Biar tenang,"kata Zada seraya menyodorkan segelas air putih pada Aristya.


" Makasih, Za." Aristya pun meminum air itu guna membasahi tenggorokannya yang kering akibat terlalu banyak menangis.


Setelah tenang, Zada mulai bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat Aristya datang berkunjung di malam hari dengan keadaan menangis seperti ini. Namun, Aristya hanya diam tak menjawab pertanyaan Zada. Tatapan matanya terlihat kosong seperti sedang ada masalah besar dan berusaha untuk di tutupi.


Ada apa sebenarnya ini?


" Oh ya, tadi Kakak datang ke sini sendirian?"Zada mencoba menanyakan hal lainnya, siapa tahu Aristya mau merespon. Kebetulan, dia baru teringat kalau Kakak iparnya itu tak datang bersama suaminya. Padahal, setahunya Aristya kalau pergi ke mana-mana selalu di antar oleh suaminya.


Zada mencoba menggenggam tangan Aristya agar dia lebih tenang dan merasa nyaman.


" Kak, kalau ada masalah Kakak cerita aja sama Zada. Siapa tahu Zada bisa bantu." Zada masih berusaha membujuk Aristya agar mau berbicara.


Aristya tertunduk, lalu menghela nafas yang sangat berat layaknya sedang ada beban berat yang tengah menindih dadanya.

__ADS_1


" Gani selingkuh,dan membawa wanita itu___ pulang ke rumah." Walau sedikit tersendat, akhirnya Aristya mengatakan apa masalahnya.


Sepasang Netra Zada seketika membulat sempurna. Terkejut? Tentu saja, siapa yang tak terkejut dengan berita seperti ini. Apalagi, sebelumnya Zada melihat dengan mata kepalanya sendiri hubungan Gani dan Aristya yang terlihat baik-baik saja dan sangat harmonis. Akan tetapi, di balik itu semua tersimpan sebuah rahasia besar.


Membicarakan soal perselingkuhan,membuat Zada teringat kembali dengan kisahnya sendiri satu tahun yang lalu. Dimana, ia juga di selingkuhi oleh calon suaminya di saat hubungan mereka baik-baik saja. Ternyata, namanya buaya ya tetap aja buaya. Sulit untuk stay dengan satu orang saja.


" Terus sekarang Kakak maunya gimana? Kalau Kakak butuh bantuan untuk menghancurkan pelakor dan pria brengsek seperti itu, Zada siap membantu!"kata Zada dengan wajah penuh keseriusan.


" Kamu yakin,Za?"tanya Aristya yang tak percaya jika Zada akan berkata seperti ini.


" Tentu saja yakin! Bagi seorang Zada, memusnahkan pelakor dan laki-laki brengsek yang suka selingkuh adalah sebuah keharusan!" Zada terdengar begitu bersemangat dan tak sabar untuk menghancurkan para benalu seperti mereka itu.


Belum saja selesai bercerita, terdengar suara seseorang yang tengah memencet kata sandi pintu. Sepertinya, Geva sudah pulang.


" Sayang ... aku pulang ...," seru Geva seraya mencopot sepatunya.


Mendengar suara sang adik yang sudah pulang, Aristya cepat-cepat memberitahu Zada untuk tidak memberitahu Geva terlebih dahulu karena dia tau bagaimana tempramen adiknya itu.


" Memangnya kenapa? Gak boleh?" Aristya berusaha untuk bersikap seperti baik-baik saja agar sang adik tak menyadarinya.


" Boleh saja, justru aku sangat senang karena ternyata Zada tidak sendirian, ada yang menemani." Sebelumya, Geva cepat-cepat pulang karena teringat kalau istrinya di rumah sendirian. Makanya, dia menyuruh Fattan tinggal di dekat pabrik selama beberapa hari untuk memantau kondisi di sana.


Geva berjalan menghampiri Zada, dan langsung memberikan sebuah kecupan lembut di kening,kedua pipi dan juga perut.


Melihat kemesraan Zada dan Geva,membuat Aristya merasa iri. Padahal, pernikahannya dulu juga seperti ini,tapi kenapa tiba-tiba berubah menjadi berantakan? Ini semua gara-gara wanita itu. Andai dia tak ada, mungkin rumah tangganya masih baik-baik saja karena dia tahu betul kalau Gani sangat mencintainya.


" Laogong, mandi sana gih! Bau tau!"Zada mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung agar Geva pergi dan berhenti menempel serta menciuminya. Pasalnya, Zada merasa tak enak jika harus bermesraan di depan orang yang sedang sakit hati.


" Masak sih!" Geva terlihat mencium kedua ketiaknya bergantian untuk memastikan apakah dia bau.

__ADS_1


" Sudah, mandi sana ..." Zada mendorong tubuh Geva agar pergi untuk mandi. Geva pun hanya bisa menurut dengan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


" Maaf ya,Kak. Geva memang seperti itu, gampang tidak bisa melihat sikon,"kata Zada yang mencoba meminta maaf karena belum bisa menjamu dengan baik.


" Apa Geva selalu seperti ini kalau pulang kerja?" Aristya justru kembali bertanya dengan pertanyaan yang membuat Zada bingung.


" Seperti ini gimana___ ya,Kak?"


" Mencium perut kamu,"jawab Aristya.


" Oh ... itu sih, dia lakukan akhir-akhir ini, semenjak tahu kalau aku hamil,"tetang Zada.


Hamil?


Aristya menghela nafas, dia tiba-tiba lupa kalau sang adik ipar sekarang sudah hamil dan langsung dapat bayi kembar.


Berbicara soal hamil, Aristya jadi teringat tentang titik masalah di rumah tangganya.


Yaitu 'Kehaamilan' Kalau Gani tahu dia sedang hamil, Aristya yakin kalau suaminya akan lebih memilihnya dan meninggalkan wanita itu. Tapi bagaimana ...


" Za ..."panggil Aristya ketika mendapatkan sebuah ide.


" Iya, ada apa,Kak?"


" Boleh Kakak meminta bantuanmu?"


Zada tersenyum, " tentu saja boleh, Kakak katakan saja. Kakak butuh bantuan apa, Zada akan siap membantu Kakak."


" Boleh Kakak meminta satu anakmu?"pinta Aristya yang membuat Zada melongo.

__ADS_1


...****************...


I


__ADS_2