
" Dokter, apa yang terjadi?"tanya Geva bingung dengan ekspresi yang di berikan dokter itu.
" Anda tenang saja, Ibu Zada hanya mengalami sesuatu yang biasa terjadi pada Ibu hamil ketika dalam kondisi terlalu tegang, lelah dan kurang nyaman,"terang sang Dokter.
" I-bu Ha-mil?"ulang Geva dengan suara sedikit terbata-bata.
Dokter wanita itu mengangguk,membuat Geva semakin shock, bercampur tak percaya dan bahagia.
" Tadi, apa Dokter mengatakan kalau istri saya sedang hamil?" Geva kembali bertanya untuk memastikan kalau yang ia dengar itu nyata.
" Iya Pak Geva, Ibu Zada memang tengah hamil muda. Bahkan sudah memasuki usia delapan minggu,"terang sang Dokter.
" Delapan minggu!"pekik Geva yang terlihat sangat terkejut. Pasalnya, bulan kemarin Zada mengatakan kalau ia masih mendapatkan masa periode menstruasi . Jadi, dia tak tahu kalau sang istri ternyata sudah hamil cukup lama.
Tanpa berlama-lama, Geva langsung masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat kondisi sang istri. Sama halnya dengan Geva, Zada juga masih dalam mode tak percaya jika ia tengah hamil delapan minggu.
Delapan minggu! Itu artinya, waktu Zada mengalami flek bulan lalu itu dia sudah hamil. Berhubung ini adalah kehamilan pertamanya, membuat Zada tidak bisa membedakan mana flek tanda hamil dan menstruasi. Awalnya, dia hanya mengira kalau siklusnya sedang bermasalah saja, makanya tak begitu banyak mengeluarkan darah saat menstruasi.
" Sayang ...," Geva langsung memeluk tubuh Zada dengan erat. Dia benar-benar bahagia dan bersyukur karena Tuhan akhirnya memberikan kepercayaan kepada Mereka untuk menjadi orang tua.
" Terimakasih dan maaf,"lirih Geva yang membuat Zada merasa terharu sekaligus bingung.
" Kenapa meminta maaf?"tanya Zada ketika Geva mengurai pelukannya.
" Karena demi anak kita, kamu harus mengalami sakit seperti tadi. Bahkan, hari-hari kedepannya___"
" Aku tidak apa-apa, jadi jangan meminta maaf karena terkesan seperti sebuah beban," sela Zada yang merasa tak nyaman dengan permintaan maaf dari Geva. Lagipula, Zada sudah siap dengan apa yang akan ia alami kedepannya nanti.
Mengingat saran Dokter yang mengatakan kalau tidak boleh melakukan perjalanan jauh dulu, Geva dan Zada pun memutuskan untuk pulang. Namun, dengan menggunakan mobil yang lebih besar agar posisi duduk Zada bisa lebih nyaman saat perjalanan.
__ADS_1
Walau sudah memakai mobil dengan tempat duduk yang jauh lebih nyaman, Zada masih saja sedikit merasa pusing dan mual. Padahal, selama dua bulan ini dia tak memiliki gejala-gejala kehamilan seperti mual dan muntah. Hanya sering lelah,mudah mengantuk dan nafsu makan sedikit berkurang. Yang biasanya bisa makan banyak, sekarang hanya makan secukupnya.
Tapi hari ini, dia mengalaminya. Dan ternyata itu sungguh tak nyaman.
" Sayang tidur saja, biar tidak merasa pusing," saran Geva yang terus menggenggam erat tangan sang istri.
Zada hanya mengangguk, lalu mencoba untuk tertidur.
Setelah menempuh perjalan yang cukup memakan waktu lama karena dengan kecepatan sedang, akhirnya mobil yang di kendarai Zada dan Geva sampai juga di depan lobi apartemen. Melihat Zada yang masih tidur terlelap, membuat Geva tak berniat untuk membangunkannya. Dia akan menggendong sang istri saja.
Dengan perlahan dan hati-hati, Geva mencoba menurunkan tubuh Zada ke atas ranjang mereka. Namun, ternyata pergerakannya membuat Zada terbangun.
" Loh, kita sudah ada di rumah?"tanya Zada seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
" Iya, jadi sayang tidur aja lagi atau ada sesuatu yang sayang inginkan. Katakan saja, aku akan menurutinya,"tawar Geva yang mulai belajar menjadi suami siaga.
" Aku pengennya tidur sambil di peluk oppa-oppa tampan, muda seperti___" Geva langsung menutup mulut Zada agar tak bisa melanjutkan ucapannya yang mulai melantur.
" No!"tolak Geva penuh dengan penekanan.
Zada mencoba menyingkirkan jari Geva dari mulutnya, lalu memasang wajah cemberut. " Padahal belum aja ada satu menit yang lalu bilang kalau akan menuruti keinginan aku. Eh, sekarang tiba-tiba bilang gak mau! Dasar, pembohong!" Zada masih saja berakting merajuk, membuat Geva jadi serba salah.
" Ya, aku akan menuruti apa saja keinginan sayang tapi bisakah permintaan yang normal-normal saja. Masak iya, minta di peluk sama oppa-oppa tampan,muda dan__"saking kesalnya,tenggorokan Geva tiba-tiba tercekat. Ia benar-benar tak suka mendengar permintaan Zada yang seperti itu. Lagipula, apakah suaminya ini kurang tampan sampai ingin di peluk sama pria lain?
Melihat Geva yang begitu kesal, membuat Zada merasa senang karena telah berhasil menggoda suaminya.
" Padahal itu adalah permintaan yang normal loh, karena oppa tampannya kan ada di samping aku,"terang Zada dengan lirikan penuh arti.
Sementara Geva justru celingak-celinguk seakan mencari sesuatu.
__ADS_1
" Laogong, lagi cari apa sih!"
" Cari Oppa yang kata istri aku tampan," kata Geva yang ikut-ikutan menggoda.
Zada mencebik, lalu bergelayut manja di tangan Geva. " Bukankah Oppa tampannya ada di sini, kenapa masih di cari?" kata Zada dengan mengerlingkan kedua matanya serta memberikan ekspresi imut.
" Di sini mana? Kok aku gak kelihatan__" Zada langsung menangkup kedua pipi Geva agar tak celingak-celinguk terus, lalu mengecup singkat bibir berwarna merah cerry itu.
" Aku lupa, bukan Oppa tapi Koko tampan yang selalu membuat aku jatuh cinta,"rayu Zada yang membuat pipi Geva merona merah.
" Kamu tuh ya ...," geram Geva yang sudah bersiap-siap untuk menggelitiki sang istri seperti biasanya. Namun, Zada langsung memberikan warning kalau sekarang di dalam perutnya ada makhluk kecil yang sedang bertumbuh. Jadi, Geva tak boleh lagi menggelitikinya karena itu dapat memicu kram pada perutnya.
Demi kenyamanan, dan keselamatan istri serta calon bayinya. Geva pun hanya bisa menurut apa kata Zada karena dia tak ingin ada hal-hal buruk terjadi pada orang yang sangat ia sayangi. Alhasil, Geva hanya bisa memeluk sang istri seperti keinginannya.
" Sayang, gimana kalau kita hubungi Mama. Pasti Mama akan sangat senang sekali mendengar kabar ini,"usul Geva.
Zada menggeleng. " Jangan dulu,"tolak Zada yang membuat dahi Geva berkerut.
" Kenapa?"
" Karena aku ingin memastikannya dulu, jadi kita beritahu setelah periksa ke dokter kandungan aja,ya," usul Zada yang tak mau terburu-buru. Walau hasil tespek waktu di rumah sakit positif, Zada masih ingin meyakinkannya lagi kalau dia benar-benar hamil dan keadaan anak itu sehat di dalam sana.
Geva terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafas sedikit berat. " Yaudah, kalau gitu. Aku ikuti apa kata kamu saja."
Zada tersenyum, dia benar-benar bersyukur bisa memiliki suami yang begitu penurut seperti ini.
Setelahnya, Geva segera mencari referensi Dokter kandungan yang bagus untuk istri dan calon bayinya.
...****************...
__ADS_1