
Berhubung semalam Geva tak membolehkan Zada untuk pergi, alhasil dia menginap di penthouse ini. Sebenarnya, Zada cukup nyaman tinggal di tempat yang bisa di bilang jauh lebih nyaman, mewah dan indah dari rumah sewanya. Apalagi, dari kamar yang Zada tempati saat ini, bisa melihat panorama keindahan kota.
...Sungguh tempat yang sangat indah bukan?...
Tapi, apalah daya jika keindahan dengan kemewahan itu bukan milik sendiri.
Pagi ini, dengan terpaksa Zada harus memakai pakaian yang sudah di belikan oleh Gevariel. Walau dia adalah seorang asisten desainer pakaian mewah, tapi Zada belum pernah memakai produk perusahaan. Pasalnya, harganya sangat mahal bagi dirinya yang miskin ini.
Sepasang mata dengan bola mata berwarna hitam itu membulat sempurna tatkala melihat ada pakaian dalam juga di dalam paper bag itu.
" OMG, kenapa dia bisa tahu ukuranku?" gumam Zada sambil menutup mulutnya yang terbuka akibat terlalu terkejut.
" Ternyata ... Si Paman diktator mesum juga!" Zada langsung bergidik ngeri membayangkannya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Bagaimana tak ngeri ketika mengetahui seorang pria yang baru di kenal selama beberapa hari sudah tau ukuran pakaian dalam.
Udah narsis, licik, diktator, mesum lagi! Satu julukan lagi tersemat untuk Gevariel di mata Zada.
Namun tiba-tiba seulas senyum terbit di bibir Zada ketika melihat pantulan dirinya di dalam kaca yang terlihat menjadi lebih elegan dan mewah.
" Ternyata aku cantik juga!" puji Zada pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Zada pun segera meninggalkan cermin dan berjalan pergi untuk membukakan pintu.
" Ada apa?" tanya Zada yang terdengar begitu ketus, tak ada ramah-ramahnya sedikit. Bahkan, Ia juga memasang wajah judes di depan Geva yang sudah membuat moodnya buruk sejak kemarin.
" Ayo sarapan," ajak Geva seraya berlalu pergi begitu saja.
Berhubung Zada sudah lapar, Ia pun berjalan mengekor di belakang Geva. Tak lupa pula, Geva membantu menaikkan sebuah kursi untuk Zada duduki.
" Silahkan duduk," kata Geva mempersilahkan. Namun, Zada menolak dan justru duduk di tempat lain.
" Za, itu tempat duduk saya," ujar Geva lembut.
" Memangnya ada peraturan, ini tempat duduk milik siapa?"
Geva hanya bisa menghela nafas panjang, lalu menunjuk menu makanan di depan Zada yang memang sudah tersaji sesuai kesukaan. Berhubung Zada keras kepala, dia tetap duduk di kursi itu, namun mengganti sajian yang ada di depannya itu.
" Oh, ya. Hari ini, aku mau pulang ke rumah sewa," ucap Zada takut-takut. Entah kenapa, dia tiba-tiba berubah menjadi takut dengan Geva.
" Mau ngapain?"tanya Geva yang masih terus menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
" Em ..."
" Kalau mau ambil barang-barang, nanti biar aku suruh seseorang untuk mengemas dan mengambilnya. "
Zada meletakkan garpu dan Pisau nya diatas piring ." Bisakah jangan terlalu mengekang dan berbuat sesuka hati tanpa peduli dengan perasaan orang lain? Aku bukan boneka anda yang bisa seenaknya diatur ini dan itu. Aku masih punya perasaan dan kehidupan yang ingin aku lakukan, dan yang jelas bukan kehidupan seperti ini!" tandas Zada yang kembali memberontak.
__ADS_1
" Kalau begitu, kamu ingin kehidupan seperti apa? " Geva mencoba memancing karena sebenarnya dia hanya sedang ingin membuat Zada kesal saja.
" Kehidupan pernikahan yang indah dan romantis layaknya orang lain pada umumnya." Setelahnya, Zada langsung menutup mulutnya yang begitu mudah mengeluarkan sebuah kalimat yang merujuk seakan kalau dia sudah menerima pernikahan ini.
" Baiklah, aku akan mewujudkannya. " Geva bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Zada.
" Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Zada ketika Geva semakin mencondongkan tubuhnya ke arahnya.
" Bukankah Kamu tadi bilang, menginginkan sebuah pernikahan yang romantis? " Kata Geva mengulang perkataan Zada tadi.
" Ya ... Tapi___" Zada menekan dada Geva agar ia tak semakin dekat.
Melihat wajah Zada yang begitu gugup, membuat Geva merasa senang. Sepertinya, mulai hari ini dia mempunyai hobi baru.
Geva tersenyum, lalu mengacak-acak puncak kepala Zada.
" Selesaikan makanmu, Setelahnya akan aku antar untuk pergi ke rumah sewa," ucap Geva dengan tersenyum tipis. Setelahnya, dia berlalu pergi kembali ke tempat duduknya untuk menghabiskan sarapannya.
" Bolehkah jika aku pergi sendiri."
Begitulah sifat alami manusia, sudah di kasih hati minta jantung.
" Tidak, karena siang ini kamu harus menemaniku makan siang keluarga di rumah Mama," tolak Geva.
" Ke rumah Mama?" pekik Zada dengan wajah terkejut.
Bagaimana tak lemas jika mendengar sebuah kabar kalau akan diajak pulang ke rumah orang tua. Apalagi, Geva tadi mengatakan makan siang bersama keluarga. Itu artinya, dia akan bertemu dengan keluarga Geva?
Ya Tuhan ... Apalagi ini?
Sesuai harapan, selesai menghabiskan sarapan. Geva dan Zada segera pergi ke rumah Sewa. Selama di perjalanan, Zada lebih banyak diam karena begitu banyak masalah yang ada dalam pikirannya.
Memikirkan bagaimana reaksi Reya nanti ketika ia pulang bersama Geva saja sudah membuat Zada pusing. Ini di tambah lagi, harus menemani Geva makan siang bersama keluarganya?
Itu berarti, Zada akan bertemu dengan para duo lampir dan juga mantan kekasihnya. Melihat reaksi Mama Emerald yang begitu tak menyukainya saja sudah membuat Zada malas, apalagi harus bertemu keluarga besar? Bagaimana reaksi mereka nanti? Apakah semua orang akan membullynya? Kemarin, uang dua ratus juta, nanti apalagi?
Sepertinya, dia benar-benar harus menyetok energi dan kesabaran sebanyak-banyaknya untuk bertemu dengan keluarga Nuraga.
" Paman Geva ...," panggil Zada yang mencoba untuk bernegosiasi. Siapa tahu berhasil.
Namun, Geva terlihat begitu acuk seakan tak mendengar panggilan dari Zada.
"Paman!!"pekik Zada yang masih tak di hiraukan oleh Geva. Alhasil, Zada menggoyang tangan kekar itu.
" Ada apa sayang? "tanya Geva sedikit melirik ke arah Zada dengan wajah layaknya orang yang tidak memiliki salah.
__ADS_1
" Kenapa di panggil-panggil tidak menyahut!"kesal Zada.
" Memangnya kamu memanggilku dengan panggilan apa? "Geva justru kembali bertanya.
" Paman Geva, "jawab Zada.
" Memangnya aku pamanmu? "
Zada menggeleng.
" Lalu, kenapa kamu memanggilku Paman? Lagipula, apakah kamu pernah mendengar seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan Paman? "
Zada terdiam.
" Panggil aku dengan sebutan yang romantis jika ingin aku menyahut! "pinta Geva yang kembali fokus menyetir.
Sementara Zada hanya bisa mencebik dan memutar bola matanya malas. Dia benar-benar bingung, dan tak tahu bagaimana nasibnya jika harus hidup dengan pria yang selalu membuatnya jengkel. Mungkin dia akan cepat memiliki penyakit darah tinggi karena terus emosi.
Sepertinya semesta memang benar-benar sedang bermain-main dengannya. Kemarin, kisah cintanya kandas karena sebuah perselingkuhan. Sekarang, dia justru harus terikat dalam sebuah pernikahan dengan pria yang sangat menyebalkan.
Apakah tak ada kisah yang lebih indah dari ini untuknya? Layaknya kisah seorang cinderella dan Pangeran di buku dongeng?
Saking sibuk dengan pikirannya, hingga membuat Zada tak sadar jika mobil yang ia kendarai sudah berhenti di depan gerbang rubah sewanya.
" Kamu mau terus duduk melamun di sini, atau keluar?" tanya Geva yang seketika sadar jika mereka telah sampai.
Tanpa berasa basi, Zada segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah sewanya tanpa memperdulikan Gevariel.
" Rey... Bukain pintunya," panggil Zada dari balik pintu. Pasalnya, dia tak bisa membuka pintu karena kunci milik Reya masih menancap di sana.
" Ya, sebentar." teriak Reya dari dalam rumah. Tak lama kemudian, pintu sudah terbuka.
"Zada ...,".seru Reya yang langsung memeluk Zada dengan erat. Dia benar-benar merasa lega saat melihat Zada akhirnya pulang juga. Semalaman dia khawatir tentang dimana keberadaan sahabatnya itu. Di tambah lagi ponsel Zada mati sehingga membuat Reya semakin khawatir dan bingung. Pasalnya, sahabatnya itu tak punya siapa-siapa lagi di kota ini.
" Kamu dari mana saja sih? Semalam menginap di mana? Terus, kenapa di telpon gak aktif? Kamu sadar gak sih kalau aku khawatir sampai tidak bisa tidur semalaman?" omel Reya tanpa henti.
" Terus, ini juga pakaian siapa yang kamu pakai?" lanjut Reya ketika menyadari bahwa Zada tidak memakai pakaian yang sama dengan kemarin.
" Selamat pagi?" sapa Geva pada Reya.
Reya termangu saat melihat sosok pria tampan, tinggi, penuh karisma berdiri di belakang Zada. Dan, sepertinya dia tak asing baginya, tapi siapa?.
" Siapa, ya?" tanya Reya.
" Saya, Gevariel suaminya Zada," ucap Geva memperkenalkan diri.
__ADS_1
Mulut Reya seketika menganga lebar, matanya pun ikut melebar selebar-lebarnya saking terkejutnya.
...****************...