
Melihat semua orang sedang berdebat soal acara resepsi pernikahan, membuat Geva mengajak Zada berbicara di luar ruangan karena Geva merasa kalau istrinya butuh menghirup udara segar.
Sesampainya di halaman belakang, Zada langsung menghirup udara banyak-banyak. Berada di tengah-tengah keluarga yang tak harmonis membuat dadanya merasa sesak dan penat. Jujur, Zada tak pernah menyangka jika kehidupan orang kaya ternyata jauh lebih rumit.
Jika orang seperti dirinya, masalahnya pasti tak jauh-jauh dari uang. Tapi orang kaya, walau mereka sudah bergelimang harta tapi masih saja ada perselisihan antar keluarga.
" Maafkan keluargaku ya, Za," ucap Geva yang merasa sangat bersalah karena telah membawa Zada masuk ke dalam keluarganya yang memiliki begitu banyak perselisihan.
Zada berbalik agar bisa menatap wajah Geva yang masih berdiri di belakangnya. " Kenapa meminta maaf? "
Geva bergerak satu langkah agar lebih dekat dengan Zada, lalu mengenggam tangan gadis itu. " Karena semenjak kamu menginjakkan kaki ke rumah ini, banyak omongan-omongan buruk yang merendahkanmu. Bahkan, ketiga kakakku secara terang-terangan memperlihatkan bahwa mereka tak menyukaimu," terang Geva.
Ternyata dia sadar juga, tapi kenapa aku justru merasa kasihan ketika melihat wajahnya yang mengiba begini.
Zada mencoba untuk tersenyum guna menutupi keadaannya yang sesungguhnya, walau sudah terbiasa dengan hinaan dan cacian tapi dia tetaplah manusia biasa yang punya perasaan. Dimana dia akan merasakan sakit jika di rendahkan.
" Santai aja, orang miskin sepertiku ini hatinya sekeras baja. Hanya perkataan-perkataan seperti itu, sudah biasa."
Walau Zada terlihat tersenyum, Geva masih bisa merasakan kalau itu bukanlah ekspresi yang sesungguhnya.
" Za, bisakah jangan ikut merendahkan dirimu sendiri? Melihat ketiga kakakku merendahkanmu saja sudah membuatku kesal, jadi stop memandang dirimu rendah karena kamu itu berharga," ucap Geva.
Hati Zada tiba-tiba berdesir tatkala mendengar Geva mengatakan bahwa dia itu berharga.
" Jika aku berharga, mana mungkin aku di selingkuhi, " kata Zada dengan tersenyum getir.
Tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba Geva memegang tengkuk Zada dan menciumnya. Mata Zada seketika membulat sempurna, tubuhnya menegang, aliran darahnya memanas layaknya sedang ada aliran listrik dalam tubuhnya ketika daging tak bertulang itu menyentuh bibirnya lembut.
Langkah kaki Emerald seketika terhenti tatkala melihat Geva dan Zada tengah berciuman. Hatinya kembali merasakan sakit ketika melihat sang mantan kekasih berciuman dengan pria lain.
Saking tak kuatnya melihat pemandangan itu hingga membuat Emerald segera membalikkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan sepasang suami istri yang tengah berciuman.
Rasanya sakit sekali
__ADS_1
Emerald meremas dadanya sendiri yang terasa sakit. Sementara Zada, terlihat mendorong tubuh Geva agar menjauh.
" Kenapa anda menciumku!" protes Zada sembari mengusap bibirnya kasar.
" Sebagai hukuman karena kamu masih mengingat mantan kekasihmu," jawab Geva santai.
" Tapi tidak harus mencium juga 'kan!" kesal Zada.
" Memangnya kenapa? Apakah ada aturan seorang suami tidak boleh mencium istrinya sendiri?"
Zada terdiam.
" Eits, jangan bilang kalau itu ciuman pertamamu," lontar Geva yang mulai menebak alasan kesalnya Zada ketika ia menciumnya.
" Tentu saja bukan!" elak Zada.
" Lalu, kenapa kamu begitu marah? " tanya Geva.
Lagi-lagi Zada hanya menghela nafas berat.
Sementara Geva hanya mengendikkan bahu dan terlihat begitu santai. Berhubung Zada sudah terlanjur kesal dengan Geva yang tiba-tiba menciumnya, membuat gadis itu berlalu pergi begitu saja.
Dan, Geva pun berlari menyusulnya. Namun, tiba-tiba langkah Zada terhenti ketika mendengar Mama Jianying yang sedang memarahi ketiga putrinya.
" Bitha, Eshika, Fennita, bisakah kalian itu tidak selalu mengajak berdebat jika Mama ingin melakukan sesuatu untuk Geva. Sebenarnya kalian itu ada apa? Kenapa sampai sekarang tak pernah sedikitpun menyukai Geva? Apa salahnya dia sama kalian?"
" Salahnya karena dia terlahir sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini sehingga membuat kasih sayang Mama dan Papa hanya berpusat padanya saja," jawab Tabitha dengan rasa penuh kebencian pada adik bungsunya itu.
" Betul, bahkan baru saja lahir dia langsung di nobatkan sebagai pewaris keluarga Nuraga. Lalu, bagaimana dengan kita kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu lahir? " timpal Fennita.
" Bukan hanya itu saja, Mama juga selalu mentolerir jika Geva melakukan sebuah kesalahan. Tapi pada kita? " imbuh Eshika.
Melihat keluarganya yang sedang bersitegang, membuat Geva tiba-tiba membekap mulut Zada dan membawanya pergi menjauh. Geva hanya tak ingin Zada terlalu banyak mendengar kebencian ketiga kakaknya padanya.
__ADS_1
" Sudah selesai unjuk rasanya? " sindir Mama Jianying. " Aristya, kamu tidak ikut mengeluarkan unjuk rasa seperti ketiga kakakmu?" tanya Mama Jianying Pada putri keempatnya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
Aristya menggeleng. " Tya, tidak ingin unjuk rasa tentang Geva tapi hanya ingin mengatakan bisakah Kak Bitha, Kak Fenni dan Kak Eshika berhenti menyerang Mama seperti ini? Apa kalian tidak kasihan pada Mama, bagaima kalau__"
" Sudah, tidak apa-apa" sela Mama Jianying yang paham jika putri keempatnya itu tengah menghawatirkan kesehatannya.
" Jika kalian sudah selesai, sekarang giliran Mama yang berbicara."
Sebenarnya, Mama Jianying malas jika di suruh membeberkan kekurangan ketiga putrinya itu karena pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun, sepertinya ketiga putrinya itu sedang butuh ultimatum agar bisa introspeksi diri.
Syukur-syukur jika mereka bisa berubah dan tak lagi memiliki rasa iri dengki pada sang adik.
" Tabitha, sekarang Mama mau tanya. Pernahkah kamu serius dalam belajar agar kelak bisa menggantikan mengurus bisnis keluarga?"
" Dulu, Bitha pernah mencoba untuk serius tapi semenjak mendengar Mama dan Papa menjadikan Geva sebagai penerus, membuat Bitha jadi malas sekaligus kesal, "jawab Tabitha yang masih saja menyalahkan Geva.
" Jangan terus-menerus mengkambinghitamkan Geva! Karena jika kamu memang ingin menjadi penerus, seharusnya kamu menunjukkan keahlianmu bahwa kamu bisa menjadi pemimpin. Toh, usiamu dan Geva terpaut cukup jauh. Tapi, alih-alih menunjukkan keahlian kamu justru mengandung Emerald ketika masih berada di bangku kuliah," beber Mama Jianying.
Tabitha seketika di buat bungkam.
" Lalu kamu Eshika, dari kecil Mama sudah tahu jika kamu tak pandai dalam dunia bisnis. Tapi, Mama dan Papa masih memberikan kesempatan pada suamimu untuk memimpin perusahan, tapi nyatanya. Dia berbuat curang hingga membuat perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar, tapi untungnya Geva masih bisa mengatasinya. Jika begitu, Bukankah seharusnya kamu berterima kasih pada adikmu? " lanjut Mama Jianying yang mengomentari putri keduanya.
Semua orang langsung menatap ke arah Eshika, berita ini mereka benar-benar tak ada yang tahu jika Mama Jianying tak memberitahu.
Soal perusahan mengalami kerugian, mereka memang sempat mendengar tapi tak tahu apa penyebabnya. Di tambah lagi, hal itu sudah selesai sehingga membuat keduanya acuh.
" Dan kamu Fennita, apakah kamu lupa jika Mama dan Papa yang memberikan suntikan dana untuk perusahaan suamimu hingga menjadi sebesar sekarang?"
Kini, giliran Fennita yang di buat terdiam oleh Mama Jianying. Sebenarnya, selama ini Mama Jianying sudah berusaha untuk bersikap adil. Tapi, sepertinya masih saja kurang di mata anak-anaknya hingga menimbulkan perasaan iri.
Terkadang rasa iri, dengki memang dapat membuat seseorang selalu merasa kurang dengan apa yang sudah di milikinya. Bahkan, tak jarang rasa itu bisa membuat manusia tuli dan buta akan perbuatan baik orang lain hingga membuatnya selalu menyalahkan orang itu.
" Dan satu lagi, ketika kalian menikah dan memiliki anak. Anak-anak kalian akan mengikuti marga ayahnya, jadi apakah salah jika Geva memang satu-satunya penerus keluarga Nuraga?"
__ADS_1
...****************...