
Di sebuah kamar yang awalnya terang, kini telah berubah menjadi gelap gulita. Pasalnya, hari telah berganti dengan malam.Entah efek terlalu lelah atau terlalu nyaman hingga membuat pasangan suami itu tak kunjung bangun dari tidurnya.Keduanya, masih dalam posisi yang sama tidur saling memeluk satu sama lain.
Suara dering ponsel terdengar menggema mengisi seluruh ruangan. Sayup-sayup, sepasang mata yang indah mulai mengerjap. Dalam cahaya yang sangat minim, membuat Zada tak dapat mengenali siapa yang sedang tidur di sampingnya.
Aaa ....
Zada berteriak sambil melepaskan dirinya dari orang itu. Bahkan, Zada juga menendangnya hingga jatuh menggelinding dari atas kasur.
" Au!"pekik Geva yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Walau sudah melewatkan makan siang, tapi tenaga Zada masih begitu kuat.
" Siapa kamu!"pekik Zada seraya menyalakan lampu tidur di sampingnya. Setidaknya, ada cahaya yang dapat membuatnya tahu siapa orang yang sudah berani-beraninya tidur sambil memeluk dirinya.
" Tuan Geva ...,"lirih Zada yang masih saja menambahkan embel-embel tuan.
" Zada, bisakah kamu lebih kalem sedikit? Kenapa selalu saja menendangku ketika bangun tidur? "protes Geva sembari memegangi kepalanya yang begitu sakit. Sebenarnya, bukan kepala saja yang sakit tapi seluruh tubuh. Di tambah lagi rasa kebas masih belum hilang pada lengan kirinya. Lengan yang Zada gunakan sebagai bantal selama tidur beberapa jam.
Jadi, dapat di pastikan jika selama itu aliran darahnya tak mengalir dengan sempurna hingga mengakibatkan kebas.
Dengan perasaan penuh rasa bersalah, Zada segera menghampiri Geva dan mencoba melihat apakah kepalanya luka.
" Maaf, aku tadi reflek!"ucap Zada dengan wajah mengiba.
" Lagian, siapa suruh tidur di kasurku, pakai meluk-meluk lagi!"lanjut Zada dengan lirih. Namun, masih terdengar oleh Geva.
Kedua bola mata Geva seketika melotot, ketika mendengar ucapan Zada yang seakan menyalahkan dirinya. Padahal, bukankah dia sendiri yang membuatnya tidur di ranjang itu? Tapi kenapa sekarang justru menyalahkan dirinya. Memang wanita selalu saja ingin benar.
" Apa kamu lupa jika kamu sendiri yang memintaku untuk tidur bersama?" kata Geva yang sedikit melebih-lebihkan.
" Ha ...?" Zada melongo, dia benar-benar tak ingat apapun soal itu. Dalam ingatannya, dia sedang berada di dalam mobil dan tiba-tiba merasa sangat mengantuk. Pasalnya, sudah beberapa hari ini dia tidak tidur dengan baik demi bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.
" Apakah aku berkata seperti itu?"tanya Zada memastikan.
" Em." Geva mengangguk.
" Bahkan, kamu menggunakan tanganku sebagai bantal hingga kebas rasanya,"papar Geva seraya memijat tangannya.
Menyadari jika dia memang menggunakan tangan Geva sebagai alas kepala,membuat Zada reflek membantu memijat lengan itu.
" Maaf, tapi aku tidak ingat apa-apa. Lagipula, aku tidak terbiasa tidur__"
" Kalau begitu, mulai hari ini kita akan tidur bersama biar kamu terbiasa,"potong Geva yang membuat Zada semakin melongo.
__ADS_1
" Tidak mau!"tolak Zada.
" Kenapa tidak mau?"
" Karena___" Zada jadi bingung sendiri untuk mencari alasan apa agar mereka tidak tidur bersama.
Melihat Zada yang hanya diam saja, membuat Geva memegang dagu istrinya agar bisa menatap ke arahnya.
" Apa kamu lupa jika kita itu suami istri sah? Masak iya, terus-menerus pisah kamar. Jika seperti itu terus___" Geva mendekatkan wajahnya ke telinga Zada yang tiba-tiba langsung memerah.
" Kapan kita bisa memberikan Mama cucu,"lanjutnya dengan seringai licik. Hanya mendengar kata-kata seperti itu saja sudah mampu membuat pipi Zada ikut merona. Zada bukanlah gadis remaja yang tak paham apa maksud dari perkataan Geva. Tapi, apakah harus mereka melakukan hal itu sementara belum ada rasa cinta diantara keduanya?
Memang banyak orang yang bisa melakukan hubungan intim tanpa rasa cinta, tapi sepertinya tidak dengan Zada. Pasalnya, sama Emerald yang memiliki rasa cinta saja Zada tak pernah mau melakukannya, apalagi tanpa rasa cinta.
Big No!
...***...
Selesai mandi diri, Zada langsung bergegas pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Pasalnya, Geva tak mau makan makanan selain masakannya. Katanya, dia sudah bosan dengan menu makanan restoran.
Sementara Zada sedang sibuk bergulat dengan bahan-bahan dapur, Geva berbicara dengan Aden lewat telepon.
" Jadi, sekarang kamu ikut meragukan istriku, A?"tanya Geva dengan mimik wajah tak suka.
" A, kamu juga tahu sendiri kalau saya bukanlah tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain tanpa alasan. Tapi kali ini, saya percaya kalau Zada memang hanyalah korban,"terang Geva yang ternyata di dengar oleh Zada.
Awalnya, Zada hanya ingin memanggil Geva untuk memberitahukan bahwa makanan sudah siap tapi ketika mendengar Geva sedang membicarakan dirinya, membuat Zada mencoba untuk menguping terlebih dahulu.
" Saya tahu bos, tapi bukankah kita tetap perlu waspada dengan semua orang? Lagipula, anda belum lama mengenal nyonya. Jadi__"
" Stop A!" pekik Geva.
" Saat ini, saya hanya butuh kamu menyelidiki siapa dalang dari ini semua. Jadi, lakukan saja tugas kamu!"titah Geva yang langsung mematikan ponselnya sepihak.
Setelahnya, Geva berbalik berencana untuk menemui istrinya yang tengah memasak makan malam untuknya. Namun, siapa sangka jika dia melihat Zada berdiri di depan pintu.
" Sayang,"panggil Geva yang langsung membuyarkan lamunan Zada.
" Eh." Zada terlihat kebingungan sendiri.
" Kamu mendengar percakapanku dengan Aden?"tanya Geva ketika melihat gerak-gerik Zada yang terlihat seperti orang kebingungan.
__ADS_1
Zada menunduk, dia merasa sangat bersalah karena sudah memberikan masalah sebesar ini pada perusahaan serta tekanan pada Geva.
Geva memegang kedua pindah Zada, lalu merendahkan kepalanya agar bisa melihat wajah sang istri.
" Kamu tenang saja, aku janji akan segera menyelesaikan masalah ini. Jadi, jangan bersedih lagi,oke!" ucap Geva menenangkan.
Zada mendongakkan kepalanya. " Kenapa kamu begitu percaya padaku?"tanya Zada.
Geva tersenyum. " Karena tidak ada alasan untuk aku mencurigai kamu," jawab Geva.
" Tapi___" Geva langsung menutup bibir Zada dengan jari telunjuknya.
" Za, sekalipun seluruh orang di dunia ini mencurigai kamu aku akan tetap percaya bahwa istriku bukanlah orang yang picik."
Sepasang mata Zada langsung mengembun, dia benar-benar merasa terharu dengan perkataan Geva. Padahal, jika Geva tak percaya padanya pun itu wajar. Karena beberapa bukti memang sudah mengarah padanya, tapi dia justru memilih percaya jika bukan dirinya yang melakukan itu.
Zada kembali memeluk Geva.
" Terimakasih,"lirih Zada yang masih terdengar oleh Geva.
" Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita makan aja, soalnya aku sudah sangat lapar."
setelahnya, keduanya berjalan beriringan menuju meja makan.
" Bagaimana? Apakah Enak?"tanya Zada ketika Geva sudah mencicipi masakannya.
"Em ... manis," jawab Geva seraya menatap wajah istrinya.
Zada melongo, dahinya pun ikut berkerut.
"Kok manis?perasaan aku gak banyak masukin gula!" Zada terlihat panik dan langsung ikut mencicipi makanan itu.
" Enak kok, gak manis!"komentar Zada, sementara Geva justru tertawa.
" Lagipula, siapa yang bilang makanannya yang manis ..."
" Lah, terus apa yang manis?"
" Kamu,"gombal Geva dengan tatapan dalam serta senyum manis.
" Dasar, gombal!"dengus Zada berusaha menutupi wajahnya yang merona. Sementara Geva hanya senyum-senyum sendiri melihat istrinya yang jadi salah tingkah.
__ADS_1
...****************...