Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 45 : Ulangi lagi


__ADS_3

" Hei,bangun!"sentak seorang wanita dengan tubuh besar sambil menendang tangan Veena yang tengah tertidur.


" Bisa gak sih, kalau gak usah ganggu orang tidur!"tukas Veena yang tak kalah galak tapi dengan mata masih tertutup.


" Kalau nggak kenapa? Masalah!"


Veena menghela nafas panjangnya, ia benar-benar sudah hampir tak tahan jika harus berlama-lama berada di sini. Apalagi, pihak kepolisian tak mau setuju memindahkannya ke sel para pejabat. Justru memasukkannya ke sel yang isinya para kriminal rakyat jelata tapi suka berlagak layaknya bos.


Ini semua gara-gara Zada sehingga membuatnya jadi menderita begini. Dulu, Veena kira setelah berhasil mengambil Emerald dari Zada hidupnya akan jauh lebih damai, nyaman,sejahtera karena bisa menikah dengan cucu pertama Nuraga grup tapi nyatanya makin miris.


Andai saja Zada tak menikah dengan Geva, mungkin Veena akan mudah menindasnya tapi ini___ keterbalikannya. Kenapa juga harus Zada yang mendapatkan laki-laki pewaris Nuraga grup?


" Hei, wanita sialan! Bangun Lo!" Wanita itu kembali mencoba membangunkan Veena yang enggan bangun dari tidurnya. Bahkan, dia tak segan-segan menendang kaki Veena.


Mendengar sang wanita gendut memanggilnya dengan sebutan wanita sialan,membuat Veena langsung bangun dari tidurnya.


" Eh, wanita gentong! Panggil namaku Nona VEENA. " Veena mengeja namanya sediri dengan penuh penekanan agar wanita itu bisa jelas mendengar namanya yang cantik. Ya... naman cantik secantik orangnya.


Pede amat!


Hahahaha


Bukannya mengikuti, mereka justru tertawa keras tatkala mendengar Veena menyuruh memanggilnya Nona.


" Nona ... Nona... Gak sudi gue manggil Lo nona."


Cuih!


Wanita itu meludah sembarangan,membuat Veena semakin jijik dengan tempat ini. Sementara anggota sel yang lainnya tak berani berkomentar karena Meraka takut dengan wanita bertubuh besar itu.


" Iuuh ... jorok amat sih jadi orang!"cibir Veena yang bergidik ngeri. Lama-lama, bisa frustasi Veena jika terus - menerus berada di tempat ini.


Dan ... lagian kemana sih Emerald, Mama Tabitha dan kedua orang tuanya? Lama amat menjemputnya pergi dari tempat ini. Apa Mereka gak kasihan apa dengan dirinya jika terlalu lama mendekam di sel penjara.


" Gak usah sok jijik lu! Udah, gak usah banyak bacot! Lebih baik Pijetin gue capek gak bisa tidur!"perintah wanita itu sambil memberikan kode agar Veena mau memijat pundaknya yang rasanya tegang.


" Huh? Gak salah dengar? Gue, suruh mijitin badak? ogah!" elak Veena yang selalu saja melontarkan kata-kata hinaan.


Tanpa banyak kata, wanita tubuh besar itu langsung memberi kode pada tahanan lainnya untuk beraksi.


" Mau apa kalian? Jangan macem-macem ya, gue ini adalah cucu menantu keluarga___"

__ADS_1


"Aaa ...!!!


...***...


Jika Veena sedang meratapi nasibnya yang malang berada di dalam sel penjara. Lain halnya dengan Zada yang justru masih sibuk bekerja untuk mempersipakan acara pagelaran.


Melihat lampu ruangan tim desain masih menyala, membuat Geva memutuskan untuk tidur sejenak guna menghilangkan efek alkohol serta rasa pusingnya. Tak lupa pula, Geva menyalakan musik akustik untuk menemani tidurnya. Dan tak berselang lama, Geva pun sudah tertidur.


Berhubung sudah mendapatkan sogokan makanan enak dan mahal, membuat energi para team desain kembali berkobar. Bahkan, saking semangatnya hingga tak terasa sudah pukul sepuluh malam.


" Akh ..."


Terdengar suara ******* dari beberapa orang sambil merenggangkan otot-otot mereka yang pegal.


" Sepertinya, kita lanjut besok saja. Soalnya sudah malam," ucap Zada yang tak enak jika membuat mereka lembur terlalu malam.


" Sepertinya begitu, soalnya mataku sudah lelah,"keluh Nadine.


Setelahnya, semua orang saling bantu untuk membereskan serta merapikan ruangan itu agar tak terlalu berantakan.


" Diantara kalian, apakah ada yang pulang naik angkutan umum?"tanya Zada perhatian. Pasalnya, kebanyakan timnya ini adalah perempuan. Jadi, dia harus benar-benar bisa memastikan mereka pulang dengan selamat.


" Memangnya kenapa Supervisor Zada?" tanya Mita yang merasa heran kenapa Zada bertanya soal seperti itu.


Mita dan Amel langsung menghampiri Zada dan memeluknya. Sementara Zada terlihat kebingungan kenapa mereka tiba-tiba memeluknya.


" Anda benar-benar ketua tim yang baik, dan perhatian,"puji Nadine yang diangguki oleh Mita.


" Sudah-sudah, jangan lebay seperti itu. Lagipula, bukankah sudah tanggung jawabku sebagai ketua untuk memastikan para anggotanya baik-baik saja?"tutur Zada yang membuat semuanya semakin terharu.


Setelahnya, Zada pun segera memesankan dua mobil untuk mengantarkan Mita dan Nadine yang rumahnya tidak searah. Sementara yang lainnya pulang dengan mengendarai motor sendiri-sendiri.


Melihat Zada yang berjalan menuju sebuah mobil yang cukup mewah, membuat mereka semakin penasaran dengan wajah kekasih dari ketua tim mereka yang cukup misterius itu.


Namun, di saat keinginan untuk tahu semakin besar, taksi yang akan mengantar pulang sudah datang sehingga membuat momen itu tertunda.


Zada mengetuk-ngetuk pintu mobil yang terkunci dari dalam itu. Namun, sang pemilik tak kunjung bangun juga. Zada pun mencoba menelpon ponsel Geva, barulah pria itu terbangun.


Mengetahui bahwa sang istri sudah datang, Geva pun segera membuka kunci agar sang istri bisa masuk.


" Maaf udah nunggu lama," ucap Zada yang merasa kasihan juga sudah membuat suaminya menunggu terlalu lama. Tapi, Geva juga tak mau di suruh pulang duluan.

__ADS_1


Sementara Geva masih terlihat mengumpulkan nyawanya.


" Apakah masih mengantuk? Gimana kalau aku saja yang nyetir?"tawar Zada yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari Geva.


" Memangnya kamu bisa nyetir?" Geva justru bertanya balik.


Zada terkekeh. " Nggak sih!" gurau Zada agar suasana menjadi lebih hidup.


" Dasar!" Geva mencebik, tapi tak tersenyum sedikitpun membuat Zada merasa aneh.


Perkataan Amel dan Mita seketika terlintas di benak Zada.


" Supervisor Zada, jangan lupa ucapkan terimakasih untuk Tuan kekasih atas makan malamnya yang sangat lezat."


" Sama, wakilkan berikan kiss untuknya," imbuh Amel.


*Apakah harus memberikan kiss?


Lagipula, apa salahnya mencium suami sendiri ya kan*?


Tapi, malu ah masak tiba-tiba nyium?


Pikiran Zada sedang berperang memberikan sebuah pendatapat, dan entah dapat dorongan dari mana sehingga membuat Zada akhirnya memberanikan diri untuk mencium pipi Geva sekilas.


Geva yang baru saja akan menginjak pedal gas sampai tak jadi akibat tiba-tiba mendapatkan sebuah ciuman singkat dari istrinya.


" Terimakasih atas makanan serta sudah mau menungguku sampai pulang dari kantor," ucap Zada yang langsung membuat hati Geva yang awalnya dingin menjadi menghangat.


" Ka-mu barusan menciumiku?" tanya Geva memastikan kalau barusan itu dia tak sedang berhalusinasi.


Melihat Geva yang justru bertanya,membuat Zada jadi malu sendiri.


" Bisakah ulangi lagi?"pinta Geva yang membuat Zada melongo.


" Sudah, ayo pulang! Aku capek, mau tidur." Zada langsung berpura-pura menutup matanya karena malu.


Sementara Geva tersenyum tipis saat melihat Zada kembali salah tingkah. Setelahnya, Geva pun segera menginjak pedal gasnya dan melaju memecah jalanan.


Di pertengahan jalan,tiba-tiba Geva merasa ada yang sedang mengikutinya.


" Siapa itu?" Geva pun mencoba menambah kecepatannya, begitupun dengan mobil itu hingga akhirnya mereka memotong jalan.

__ADS_1


Sreettt ....


...****************...


__ADS_2