Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 64 : Jangan libatkan masa lalu!


__ADS_3

" Kalau Annabeth?" Berhubung sedang berbicara serius seperti ini,sekalian saja Zada bertanya soal hubungan suaminya dengan Annabeth.


"Anna?" ulang Geva.


Zada mengangguk, Geva memicingkan matanya layaknya sedang menyelidik apakah ada sesuatu yang telah terjadi hingga membuat sang istri tiba-tiba bertanya soal masa lalunya,dan Annabeth. Pasalnya, selama ini Zada selalu diam dan tak pernah bertanya.


" Ada hubungan apa diantara kalian sebelumnya?" terang Zada yang mencoba memperjelas pertanyaannya.


" Tidak ada apa-apa, just partner kerja,"jawab Geva jujur karena dia memang tak pernah merasa memiliki hubungan spesial dengan Anna.


" Seriously?" Zada masih saja terlihat seperti tak percaya. Pasalnya, dia seakan melihat kalau ada sesuatu yang tak biasa diantara keduanya.


Geva mengangguk. " Kenapa?Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" Geva kembali bertanya.


" Tidak ada,hanya ingin bertanya saja,"elak Zada yang mencoba menutupi perasaan cemburu serta kejadian pada malam itu. Kejadian,dimana ia merasa kesal karena Anna terus menghubungi suaminya dan berbicara layaknya mereka memiliki hubungan spesial selain atasan dan bawahan.


Geva membalikkan tubuh Zada yang tiba-tiba berbalik membelakangi dirinya.


" Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu,katakan saja padaku."


" Bukankah barusan aku sudah menanyakannya,tapi kamu sendiri yang tak mau menjawab. Aku tahu, masa lalu adalah milikmu tapi bukankah aku juga berhak tahu apakah masih ada namanya di hatimu?"


Dahi Geva berkerut " Namanya sudah menghilang bersama kepergiannya sejak lima tahun silam. Jadi, jangan pernah membahasnya lagi karena sekarang hanya ada tentang aku dan kamu, jangan libatkan masa lalu!"


Terkadang, masa lalu memang lebih baik tidak pernah di bicarakan lagi ketika bersama dengan pasangan yang baru. Kenapa? Selain menjaga hati dan perasaan pasangan, hal itu juga hanyalah sebagian history perjalan hidup kita sebelum bertemu dengan pasangan yang sekarang. Jadi, biarkan dia tetap berada pada tempatnya. Alih-alih membahas masa lalu,kenapa tak membahas masa depan saja?


...***...


Malam semakin larut, acara pesta pun semakin tak terkondisikan. Ada beberapa yang sudah mabuk berat akibat terlalu banyak minum alkohol. Begitupun dengan Reya yang mengusir rasa penatnya dengan terus meminum wine tanpa henti.


Melihat Reya yang sudah terlihat mabuk dan sendirian,membuat Aden berjalan menghampirinya. Meski ia tak menyukai gadis itu,tapi bagaimana pun dia adalah sahabat dari istri bosnya dan Zada juga sempat berpesan untuk menjaga Reya jika terjadi sesuatu padanya.


" Hentikan!"ucap Aden seraya mengambil gelas wine dari tangan Reya.


Reya memicingkan matanya,lalu berjalan mendekati Aden.


" Kamu lagi! Bukankah sudah aku katakan jangan pernah mendekatiku? Kenapa kamu masih saja ada mendekatiku? Jangan bilang kalau kamu menyukaiku,"racau Reya sambil menunjuk-nunjuk wajah Aden dengan tubuh sempoyongan.


" Gak usah GR,aku mendekatimu juga karena sebuah amanah dari Nyonya Zada. Jika tak ada amanah itu, mana sudi aku dekat-dekat dengan gadis galak dan absurd sepertimu!"tandas Aden yang selalu saja mengeluarkan kata-kata pedas pada Reya.


" Bisakah mulutmu itu lebih manis sedikit? Kenapa selalu pedas kayak bon cabe level tiga puluh saja!"


" Huh?" Aden melongo saat mendengar Reya justru mengatai dirinya pedas.

__ADS_1


Perkataan sang peramal kembali terlintas dalam pikiran Reya sehingga membuat gadis itu segera pergi menjauh dari Aden karena tak mau terkena sial lagi.


Baru beberapa langkah berjalan,Reya sudah hampir terjatuh karena terlalu mabuk. Untungnya Aden tepat waktu menolongnya,kalau tidak mungkin Reya sudah jatuh ke lantai yang keras.


" Dasar,gadis yang menyusahkan!"cibir Aden seraya menggendong tubuh Reya dan membawanya pergi dari tempat pesta.


Sesampainya di depan rumah sewa, Aden mencoba membangunkan Reya yang tertidur tapi gadis itu tak kunjung bangun.


Aden pun hanya bisa menghela nafas panjang,lalu segera turun dari mobil dan mencoba menggendong tubuh Reya. Aden pun mencoba mencari kunci rumah yang ada di dalam tas Reya,dan segera membuka pintu.


Ketika pintu terbuka, Reya terlihat mulai tersadar dan ingin muntah, membuat Aden segera membawanya menuju kamar mandi. Namun, sepertinya Reya sudah tak sanggup menahannya.


Huek


Reya pun memuntahkan isi perutnya ke lantai.


Aden hanya bisa menghela nafas panjang,hari ini dia benar-benar soal sekali. Lagipula, kenapa juga ia harus terjebak untuk mengurus gadis yang tak bisa menjaga dirinya sendiri seperti Reya ini.


" Haus,Pusing ...,"racau Reya yang merasa tenggorokannya kering. Dengan telaten, Aden pun membantu mengambilkan minum untuk Reya.


Setelah meneguk minuman itu sampai tandas, Reya akhirnya membuka mata. Namun, masih dalam keadaan setengah sadar. Bahkan, dalam penglihatannya Aden adalah Joe.


Reya bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Aden dan langsung menciumnya secara paksa.


...***...


Sering suara alarm terus berbunyi saling bersahutan,membuat kedua orang itu sama-sama terbangun.


Tanpa di sadari, selimut yang awalnya menutupi bagian atas tubuhnya terjatuh ketika Reya mencoba merenggangkan otot-otot tangannya.


Aaaa ...


Kedua orang itu berteriak bersama, Reya pun spontan kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.


" Kenapa kamu bisa ada di sini?"tunjuk Reya pada Aden.


" Jangan bilang kalau kamu lupa dengan kejadian semalam,"sahut Aden yang membuat Reya melongo.


Kejadian semalam?


Selintas ingatan kejadian semalam seakan kembali berputar.


" Rey,kamu apa-apa an!"Aden mencoba mendorong tubuh Reya yang tiba-tiba menciumnya secara paksa. Walau Aden juga meminum wine,tapi dia jauh lebih sadar dari Reya.

__ADS_1


" Kenapa kamu menolakku? Apa aku seburuk itu sampai tak ada pria yang menginginkanku?"racau Reya yang tiba-tiba menangis di depan Aden.


" Kamu memang buruk,tapi bukankah semua manusia tak ada yang sempurna? Kamu hanya butuh menemukan pria yang bisa menerimamu apa adanya saja,"kata Aden menasehati.


Reya tersenyum kecut. " Tapi kapan hari itu tiba? Usiaku sudah dua puluh enam tahun tapi tak pernah benar-benar mendapatkan pria yang tulus. Selalu saja bertemu dengan pria brengsek yang hanya ingin memanfaatkan ku saja,"ucap Reya yang tiba-tiba mengiba.


" Aku tak tahu kapan,tapi aku percaya bahwa Tuhan akan mendatangkan laki-laki itu jika sudah waktunya."


Mendengar perkataan Aden yang begitu bijak,membuat Reya tersentuh. Reya kembali mendekati Aden.


" Please don't reject me," ucap Reya kembali mendaratkan ciuman itu pada Aden. Rasa iba akan ucapan Reya seakan menghipnotis Aden hingga membuatnya ikut terbawa suasana.


Ciuman yang awalnya lembut,berubah menjadi semakin menuntuk dan penuh gairah.


" Rey, kamu sadar siapa yang kamu cium saat ini?" Aden bertanya karena takut jika Reya mengira dirinya sebagai orang lain.


" Siapa kamu itu tidak penting." Reya kembali mencium Aden dengan kasar. Sepertinya dia benar-benar sudah di penuhi dengan kabut gairah sehingga tak peduli dengan apapun lagi. Aden pun begitu, dia adalah laki-laki normal jadi sulit untuk nya menolak hal semacam ini. Dan,terjadilah malam yang panas dan penuh peluh keringat.


" Apakah sudah ingat?"tanya Aden yang seketika membuyarkan lamunan Reya.


" Kalau begitu,lupakan saja kejadian semalam. Anggap saja tak pernah terjadi apapun diantara kita!"


" Huh?"Aden seketika melongo saat mendengar penuturan Reya yang begitu mudahnya menyuruhnya untuk melupakan kejadian semalam. Apa dia sedang bercanda?


" Rey,tapi semalam aku tidak memakai pengaman. Bagaimana kalau___"


" Itu tidak akan terjadi!"potong Reya yang terlihat begitu santai.


" Kenapa kamu begitu yakin sekali?"


" Karena aku tidak yakin jika kecebongmu begitu ajaib sampai bisa membuatku hamil dalam sekali sembur!"tandas Raya yang terdengar begitu meremehkan Aden.


" Ka__"


" Pergi sana!"usir Reya sebelum Aden menyelesaikan ucapannya. Aden hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat wanita seperti Reya. Ternyata dia bukan hanya judes,dan absurd saja. Tapi juga gila!


Aden pun segera bergegas memakai pakaiannya dan pergi dari kamar Reya. Ketika berada di dalam mobil, sebuah notifikasi masuk kedalam ponsel Aden.


Sepasang netra itu kembali membola saat melihat berita yang telah beredar hingga membuat media sosial begitu heboh. Aden pun mencoba menghubungi Geva, namun panggilannya tak kunjung diangkat karena di sana masih tengah malam.


" Bagaimana ini?"gumam Aden yang bingung harus bersikap bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini. Pasalnya, ini sudah menyangkut masalah pribadi,jadi dia tak bisa seenaknya mengambil keputusan untuk bos.


...****************...

__ADS_1


Kira-kira ada apa lagi?


__ADS_2