Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 89 : Anrey Sakit


__ADS_3

Di saat Reya masih sibuk menenangkan putranya, tiba-tiba bel pintu berbunyi.


" Wah ... itu sepertinya Papa sudah pulang,"kata Reya sambil menepuk-nepuk lembut pundak putranya agar tenang.


Sambil menggendong putranya yang masih belum berhenti menangis, Reya mencoba membuka pintu apartemennya.


Ketika pintu sudah terbuka,ternyata bukan Aden yang datang,melainkan Zada.


" Zada ...,"lirih Reya yang terlihat cukup terkejut saat melihat Zada tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa memberitahu terlebih dahulu.


" Loh, Anrey kenapa?"tanya Zada yang langsung fokus pada Anrey yang sedang menangis.


" Gak tau juga, tiba-tiba dia rewel dan gak mau berhenti menangis. Padahal, biasanya gak pernah seperti ini,"keluh Reya sambil terus mengayun tubuh mungil putranya yang masih terus menangis.


" Mungkin dia haus atau popoknya penuh,"ujar Zada yang jadi ikutan bingung.


Reya menggeleng. " Popoknya baru aja aku ganti, kalau haus mungkin iya. Tapi masalahnya dia menolak untuk di beri asi,"terang Reya yang semakin bingung dengan kondisi putranya.


Menjadi Ibu baru dan mengurus bayinya sendiri memang tak mudah, masih sering panik jika terjadi sesuatu. Apalagi tak ada baby sister yang membantu.

__ADS_1


"Apa Boleh aku menggendongnya,"pinta Zada yang mencoba untuk membantu Reya menenangkan putranya.


Reya mengangguk, lalu memberikan Anrey pada Zada dengan hati-hati. Berhubung sudah ada yang membantu menggendong putranya, Reya mencoba membuatkan susu. Siapa tahu putranya mau minum susu lewat botol dot.


Menyadari suhu tubuh Anrey yang cukup hangat, membuat Zada mencoba mengecek kening bayi itu dan ternyata dia memang sedikit demam.


" Rey, sepertinya Anrey demam deh," ucap Zada yang membuat Reya melongo.


" Masak sih!" Reya langsung berlari menghampiri Zada,lalu ikut mengecek kening putranya dan memang sedikit hangat. Reya pun segera mencari termometer untuk memastikan apakah putranya benar-benar demam atau karena terlalu lama menangis sehingga membuat suhu tubuhnya lebih hangat.


Setelah mengecek dengan tetmometer, ternyata Anrey memang demam.


" Astaga,gimana ini?"ucap Reya yang semakin panik saat tau putranya mengalami demam.


...***...


Mendengar kabar kalau Anrey di bawa rumah sakit,membuat Aden segera membereskan pekerjaannya dan bergegas menyusul ke rumah sakit. Walau sudah tak jadi asisten, tapi jabatan Aden cukup tinggi di perusahaan sehingga membuat pekerjanya pun tetap banyak, hanya saja waktunya bisa lebih fleksibel di banding menjadi asisten.


Mengetahui kalau putranya sakit,membuat Aden sangat cemas sampai membuatnya mengemudikan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit,akhirnya Aden sampai juga di rumah sakit.


"A ...," seru Reya saat melihat Aden yang sudah sampai dengan nafas yang tersengal-sengal.


Melihat tubuh kecil putranya yang terbaring lemas di ranjang pasien dengan tangan terpasang selang infus, membuat tubuh Aden melemas.


" Apa yang terjadi? Kenapa Anrey bisa sampai seperti ini?"tanya Aden yang terlihat begitu cemas.


" Aku juga tidak tahu,tiba-tiba saja dia rewel dan demam,"terang Reya dengan wajah sembab akibat menangisi kondisi putranya yang menyedihkan.


" Tidak tahu?"ulang Aden dengan wajah yang terlihat marah dengan jawaban dari Reya. " Kamu gimana sih jadi Ibu sampai gak tahu apa penyebab anaknya sakit. Kamu kalau emang tidak suka dengan kehadiran Anrey, bilang ... tapi jangan begini caranya!"tukas Aden yang membuat hati Reya terasa sakit.


" A, apa maksud kamu berkata seperti itu? Kamu nyalahin aku? Kamu kira aku mau Anrey sakit? Nggak!"tukas Reya yang ikutan jadi emosi.


Melihat suasana yang mulai mencekam,membuat Zada mencoba untuk menengahi.


" Rey sudah, jangan ribut ini rumah sakit," tutur Zada yang mencoba mengingatkan sahabatnya agar tak menanggapi perkataan Aden.


" Aku tahu,Za. Tapi___"

__ADS_1


" Sudah ya," sela Zada sambil mencoba menenangkan Reya.


...****************...


__ADS_2