
" Tuh 'kan benar apa yang aku bilang. Dasar gadis pembawa sial!Belum juga ada sebulan adikku menikah denganmu, tapi dia sudah jadi seperti ini! Bagaimana kalau___
" Eshika diam! Jaga ucapanmu,bagaimanapun Zada itu adalah adik iparmu,"potong Mama Jianying yang sudah tak tahan dengan sikap serta ocehan putri keduanya itu yang terus memojokkan Zada.
" Ma ... kenapa selalu saja membelanya? Apa Mama lupa jika dia yang sudah mengakibatkan Geva jadi seperti ini?"protes Eshika yang tak suka sang Mama justru membela Zada. Padahal, bukankah Geva adalah putra kesayangan mamanya?tapi kenapa dia tak menyalahkan gadis itu ketika terjadi sesuatu padanya?
" Benar apa yang dikatakan oleh Eshika,Ma. Gadis ini memang pembawa sial,"tambah Tabitha yang justru ikut mengompori.
" Nyonya Eshika, Nyonya Tabita, kalian jangan terus - menerus menyalahkan Nyonya Zada.Jika ada yang perlu di salahkan,maka itu kami yang tidak bisa menjaga Bos dengan baik karena saat itu kami juga ada di tempat kejadian."
Mendengar kedua Kakak Geva terus menyalahkan Zada,membuat telinga Akbar ~ salah satu pasukan satu panas.Apalagi,kejadian ini juga termasuk kelalaian dari mereka yang kurang jeli dalam melihat musuh.
Sementara Aden terlihat memutar bola matanya jengah saat melihat kedua kakak bosnya berpura-pura terlihat seperti orang yang peduli saja. Padahal, selama ini semua orang juga orang tahu jika mereka tak pernah menyukai Geva. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba sok peduli? Cari muka?
" Jika seperti itu,maka kalian harus menemukan orang itu!"titah Mama Jianying yang selalu bijaksana dalam berbicara maupun mengambil sebuah keputusan. Ya,Mama Jianying adalah sosok wanita yang sangat bijaksana, dia tidak mudah di hasut oleh orang lain. Seperti halnya yang dilakukan oleh Eshika, jika Mama Jianying orang yang mudah emosi dan terhasut mungkin dia akan ikut menyalahkan Zada.
" Baik Nyonya , Anda tenang saja. kami pasti akan menemukan pelaku dan tak akan membiarkannya hidup dengan mudah!" kata Akbar .
Mama Jianying mendekati Zada, dan langsung memeluknya guna memberikan kehangatan serta kekuatan. Pasalnya, ia dapat melihat kesedihan yang begitu mendalam dari sorot mata gadis itu.
" Maafkan Zada,Ma. Jika waktu bisa di putar kembali,Zada tak akan membiarkan Geva memutar posisi. Biar Zada saja yang___" tangisan Zada kembali pecah.
Mama Jianying melepas pelukannya,lalu membantu mengusap air mata Zada yang terus-menerus keluar.
" Sudah,jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Mama justru bangga karena Geva memilih menyelamatkan istrinya karena itu pertanda bahwa dia adalah laki-laki sejati. Laki-laki yang rela mempertaruhkan nyawanya demi bisa melindungi orang yang ia sayang."
" Zada, kamu itu adalah tanggung jawab Geva. Jadi,sudah sepantasnya dia berbuat seperti ini untukmu. Jadi,jangan terus menyalahkan diri sendiri,oke?
" Jika kamu masih terus seperti ini,itu tandanya kamu tak menghargai perjuangan Geva. "
Zada menggeleng.
" Zada bukan tidak menghargai, hanya___"
" Mama tau,"potong Mama Jianying yang seakan tahu apa yang akan dikatakan oleh menantu perempuannya itu.
Melihat Zada yang begitu sedih,serta rela bertukar posisi dengan Geva membuat hati Emerald kembali sakit.
Apakah sebesar itu cintamu pada paman,Za? Akh ... kenapa aku masih saja merasa sakit dan cemburu saat melihat Zada sudah mencintai laki-laki lain? Ingat Emerald,hubungan kalian itu sudah berakhir.
__ADS_1
Emerald mencoba mengontrol hatinya yang masih saja belum bisa move on. Padahal, yang lebih dulu berselingkuh dia,tapi kenapa sekarang justru dia yang gagal move on? Sementara Zada ... dia terlihat begitu mudahnya melupakan dirinya. Bahkan, sejak di hari pernikahannya, Zada sudah tak pernah lagi menatapnya dengan penuh cinta seperti biasanya.
Padahal, dulu Ia bisa melihat mata Zada selalu berbinar saat menatapnya tapi sekarang,tatapan itu selalu saja dingin.
Sementara Tabitha dan Eshika terlihat begitu kesal saat melihat sang Mama yang justru semakin perhatian dan terlihat menyayangi Zada.
Pintar juga gadis itu mencuri hati Mama!
Dasar gadis penuh tipu muslihat!
Melihat sebuah Paper bag berisi makanan yang masih utuh, belum tersentuh tergeletak di kursi tunggu, membuat Mama Jianying dapat menebak bahwa menantu perempuannya itu belum makan.
" Za, apa kamu belum sarapan?"tanya Mama Jianying.
Zada hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sementara Mama Jianying menghela nafas panjang.
" Za, makanlah walau sedikit. Jangan sampai tidak makan lalu jatuh sakit. Mama tahu kamu khawatir dengan kondisi Geva,Mama pun sama. Tapi,kita juga butuh energi bukan untuk bisa menjaganya?" Mama Jianying mencoba memberikan sebuah nasehat pada menantu perempuannya ini.
" Nanti saja ,Ma. Zada belum lapar,"tolak Zada. Sebenarnya bukan tak lapar, lebih tepatnya tak ada selera.
" Makan sekarang juga!"titah Mama Jianying yang terdengar seperti tak ingin dk bantah.
" Ma, Zada angkat telepon dulu ya sebentar,"izin Zada.
"Kamu boleh mengangkatnya asal setelah itu harus makan."
Zada mengangguk.
Setelahnya, Zada bangkit dari tempat duduknya berjalan sedikit menjauh.
" Halo,Mel. ada apa?"
" [ Supervisor kenapa hari ini belum datang? Apa terjadi sesuatu?]
Zada menghela nafas berat, saking khawatirnya dengan kondisi Geva yang belum sadarkan diri sampai membuatnya lupa dengan segalanya.
" Maaf Mel, hari ini sepertinya saya tidak bisa masuk kerja soalnya suami saya masuk rumah sakit. Jadi, saya minta kamu handle semuanya,ya?"
Tanpa sengaja, Zada menyebut Geva sebagai suami bukan kekasih.
__ADS_1
Walau Zada sudah menjauh,tapi Mama Jianying masih mendengar samar-samar apa yang sedang Zada bicarakan dengan seseorang di telepon.
Mendengar Zada lebih memilih menunggu suaminya di rumah sakit daripada bekerja membuat Mama Jianying merasa senang. Entah kenapa,dia merasa sangat bersyukur akhirnya Geva bisa memiliki istri yang lebih memprioritaskan dirinya daripada pekerjaan.
Awalnya,Mama Jianying mengira bahwa Zada akan seperti mendiang istri Geva yang sebelumnya saat dia menolak pergi honeymon dengan alasan pekerjaan. Namun,makin ke sini Mama Jianying semakin percaya kalau Zada berbeda.
Walau tak hidup serumah, tapi Mama Jianying bisa dikatakan cukup tahu soal rumah tangga keduanya. Dimana,ia sering mendengar kalau Zada selalu memasakkan makanan untuk Geva sendiri,alih-alih menggunakan art atau membeli makanan di luar.
Dan kini, ia semakin tahu kenapa alasan Geva begitu mencintai gadis ini sampai rela berkorban sebesar ini.
Setelah panggilan di matikan, entah kenapa Amel merasa ada yang aneh.
" Sebentar,Supervisor Zada tadi mengatakan suaminya masuk rumah sakit?" gumam Amel yang masih saja merasa ada kata yang salah dari kata-kata itu.
Suami bukan kekasih? Apa Supervisor Zada sudah menikah? Tapi kapan?
Amel masih terus berpikir apakah tadi dia salah dengar.
"Woi!" tiba-tiba ada seseorang yang datang mengejutkan Amel,
" Eh suami!"pekik Amel yang tiba-tiba jadi latah.
" Suami siapa,Mel?"tanya Nadine yang sedikit bingung dengan latahan Amel.
" Lo bisa gak sih jangan suka ngagetin orang! Gimana kalau jantung gue copot!" Amel juatru mengomel pada Nadine.
" Ye ... lebay amat! kalau copot ya di pasang lagi lah!"canda Nadine.
Amel menoyor kepala Nadine.
" Lo pikir jantung gue mainan bisa di pasang copot!"kesal Amel yang hanya di balas cengiran.
" Eh,Nad. Menurut lo, kalau ada seseorang yang menyebutkan kekasihnya sebagai suami itu artinya apa?"tanya Amel yang masih saja kepikiran dengan ucapan Zada.
...****************...
Kira-kira apa ya artinya?
Jangan lupa like,komen,vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1
Kalau bisa jangan silent reader ya guys, biar Novi tahu kalau kalian suka dengan cerita ini. Soalnya, di statistik pembaca banyak sampai ribuan,tapi yang like dan komentar gak begitu banyak. Padahal, komen itu bisa jadi mood booster sekaligus apresiasi lho bagi Novi yang masih penulis amatir ini 😁