Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 50 : Meminta hadiah


__ADS_3

" Ma, apa tidak sebaiknya Mama pulang saja?"ucap Zada yang merasa kasihan ketika Mama Jianying masih setia menemani dirinya untuk menjaga Geva.


" Kenapa?Kamu mengusir Mama?"canda Mama Jianying tapi dianggap serius oleh Zada.


Zada menggeleng." Bukan,Ma. Zada hanya__" tiba-tiba Zada bingung sendiri harus bagaimana caranya menjelaskan pada mertuanya. Dia takut salah bicara lagi karena biasanya orang yang sudah berumur itu perasaannya memang jauh lebih sensitif.


Melihat raut wajah Zada yang kebingungan justru membuat Mama Jianying terkekeh. Sepertinya,menantu perempuannya ini memang sedang tidak bisa diajak bercanda.


" Sudah-sudah,Mama tahu kamu mengkhawatirkan Mama 'kan?"ujar Mama Jianying yang langsung di angguki oleh Zada.


" Ya, Zada khawatir jika Mama akan kelelahan jika terus menemani Zada untuk menunggu Geva di sini."


Mama Jianying menggenggam tangan Zada lembut." Za, kamu jangan hanya bisa mengkhawatirkan orang lain, sementara diri sendiri di abaikan. Kamu sendiri juga butuh istirahat, jadi pulanglah sama Mama. Soal Geva biar para penjaga yang menunggunya."


Zada terlihat menoleh ke samping, dimana sebuah kaca transparan terpasang agar orang dari luar ruangan bisa melihat bagaimana kondisi pasien yang ada di dalam sana.


Melihat beberapa alat penopang hidup masih terpasang di tubuh suaminya,serta mata yang belum juga terbuka,membuat Zada kembali merasa sedih. Sedih karena sang suami belum juga sadar dari koma.


" Apa yang dikatakan Nyonya benar, sepertinya anda memang butuh pulang dan istirahat sejenak. Soal Bos, biar kami yang akan menjaganya,"imbuh Akbar.


Mama Jianying kembali menatap Zada,berharap menantu perempuannya itu setuju untuk pulang dan istirahat lebih dulu karena tubuhnya pasti sudah sangat lelah.


Zada pun akhirnya setuju karena sepertinya tubuhnya Memang butuh istirahat karena beberapa hari ini sudah bekerja sangat keras. Berhubung Rumah Mama Jianying cukup jauh,ia memilih ikut pulang ke penthouse Geva dan juga Zada.


Baru saja memasuki rumah yang terlihat sangat gelap tanpa cahaya karena tak ada penghuninya, kaki Zada tiba-tiba seakan tak mampu untuk di gerakkan. Kenangan bersama Geva seakan terlintas kembali. Dimana, mereka yang sering bertengkar,bercanda,berselisih dan banyak lagi.


" Za, kami kenapa?"tanya Mama Jianying saat melihat menantunya hanya diam saja.


" Gapapa,Ma,"dusta Zada.


Setelahnya,Mama Jianying punmenggandeng lengan Zada, lalu berjalan bersama memasuki rumah,

__ADS_1


"Mama tunggu sini saja dulu,ya. Zada mau membersihkan kamar yang akan Mama tempati nanti," ucap Zada yang langsung mendapatkan sebuah penolalan dari Mama Jianying.


" Tidak perlu, kamu istirahat saja. Biar Nina yang melakukan hal itu,"kata Mama Jianying. Nona adalah asisten yang selalu menemani Mama Jianying kemanapun pergi.


" Iya, biar saya saja yang membersihkannya." Setelahnya,Nina pun berlalu pergi menuju sebuah kamar yang dulunya biasa di gunakan oleh tamu yang datang menginap. Namun, akhir-akhir ini sering di pakai Geva jika dia tak bisa tidur sekamar dengan Zada.


" Eh ..." Melihat Nina yang sudah berjalan pergi memasuki kamar itu membuat Zada semakin panik. Panik jika Mama Jianying akan tahu jika Zada dan Geva pisah kamar.


" Za, istirahatlah!"titah Mama Jianying yang membuat Zada semakin dilema.


" Za ...,"


"Iya,Ma." Zada.langsung menurut jika Mama Jianying sudah mengeluarkan wajah tak mau di bantah.


Walau tubuh Zada berjalan ke arah kamarnya,tapi tatapanya masih saja ke arah dimana kamar itu berada. Dan tak lama kemudian,terlihat Nina yang sudah keluar dari kamar itu.


" Sepertinya, kamarnua baru saja di bersihkan Nyonya. Jadi,anda sudah bisa langsung istirahat,"kata Nina memberitahu.


Zada terlihat bingung saat mendengar Nina mengatakan kalau kamar baru saja di bersihkan. Jika di lihat-lihat kembali, rumah ini memang terlihay seperti di bersihkan. Tapi,Zada 'kan sudah tidak pulang dari kemarin, dia juga belum memanggil tukang bersih-bersih.


" Za,kamu kenapa kok malah melamun di depan pintu?"tegur Mama Jianying.


" Eh,gak kok Ma." Zada pun bergegas masuk ke dalam kamarnya dan cukup terkejut saat melihat sprei dan beberapa barang di kamarnya terlihah berbeda dari sebelumnya.


" Eh, sepertinya ada yang salah,"gumam Zada seraya meneliti seluruh isi kamarnya yang memang terlihat sangat berbeda. Kesannya terlihat seperti sebuah kamar pasangan pada umumnya. Semua barang-barang yang ada berubah menjadi sepasang.


Siapa yang merubahnya?


...***...


Keesokan harinya, Zada datang kembali ke rumah sakit sendirian untuk melihat bagaimana kondisi suaminya. Sementara Mama Jianying akan datang nanti karena saat ini masih jam untuk beliau melakukan senam bersama teman-temannya. Dikarenakan hari ini Zada harus pergi ke kantor karena ada urusan yang penting, ia memilih untuk berangkat lebih dulu.

__ADS_1


" Pagi Nyonya,"sapa Akbar dan beberapa penjaga lainnya.


" Kalian sudah sarapan?"tanya Zada.


" Belum Nyonya,"jawab Akbar.


" Kalau begitu, makanlah ini." Zada memberikan sebuah paper bag yang ia bawa. sebelum berangkat ke rumah sakit,Zada memang menyempatkan untuk membeli makanan.


" Terimakasih Nyonya."


Setelahnya, Zada berjalan pergi menuju ruang ganti karena dia ingin menjenguk Geba di dalam. Seusai memakai pakaian khusus, Zada segera berjalam menghampiri Geva yang belum sadarkan diri.


" Selamat pagi lǎogōng,"sapa Zada yang berusaha untuk tegar. Hari ini, dia tak mau lagi menangis di depan Geva karena takut jika dia akan merasa sedih. Pasalnya, kemarin Dokter Leanne mengatakan kalau Geva masih dapat mendengar apa yang orang lain bicarakan di dekatnya walau dia masih dalam kondisi koma.


Zada meraih tangan Geva, lalu menciumnya sekilas.


" lǎogōng, apa yang sedang kamu lakukan di alam mimpi sekarang? Apakah di sana sangat indah sampai membuatmu enggan untuk kembali membuka mata?" Zada mulai mengajak Geva untuk berbicara walau ia tahu jika pembicaraan itu tak akan di jawab. Ya, saat ini Zada audah seperti orang bodoh yang berbicara sendiri di depan orang koma.Namun, hal itu tak masalah bagi Zada asal Geba bisa segera sadar.


Setelah waktu besoknya zudan habis,Zada segera berpamitan untuk pergi.


" lǎogōng, aku pamit pergi ke kantor dulu,ya. Kamu cepatlah sadar agar bisa melihat acara pagelaranku yang pertama. Bukankah kamu bilang akan memberikan sebuah hadiah jika aku berhasil melakukan pagelaran ini dengan sukses?"


" Jika seperti itu, bisakah aku request hadiahnya?"


Zada terdiam, layaknya seseorang yang tengah menunggu sebuah jawaban atas permintaannya.


" Kamu tenang saja, aku tidak minta hadiah yang mewah kok. Cukup kamu datang ke acara ku dengan membawa sebuah bunga," lanjut Zada yang tak lagi tahan untuk menahan bendungan air mata. Alhasil, giliran itu jatuh kembali membasahi pipinya. Zada langsung mengelap air mata itu agar Geva tak tahu jika ia menangis.


Permintaan Zada memang tak mahal bagi seseorang sekelas Geva, tapi permintaan itu cukup sulit bagi orang yang masih dalam keadaan koma. Namun,tak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah bertindak.


" Sudah, aku pergi dulu." Sebelum pergi, Zada menyempatkan mengecup kening Geva sebentar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2