Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 87 : Tak akan meninggalkanmu


__ADS_3

Sepeninggal Mama Jianying, Zada seketika menghembuskan nafas yang begitu panjang seperti orang yang sedang menahan sesak di dada. Bagaimana tak sesak jika sedang berada dalam kondisi yang sangat tak baik.


Daripada terus kepikiran tentang pembicaraan hari ini,Zada memutuskan untuk membersihkan rumah yang cukup berantakan.


" Sayang, biar aku saja yang membersihkannya. Kamu istirahat saja," kata Geva dengan tersenyum manis. Walau Zada tak mengatakan apa-apa, tapi Geva tahu kalau saat ini kondisi istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Zada terdiam, dan kembali menundukkan kepalanya. Ingin rasanya menangis tapi takut di kira lemah. Akan tetapi, hati dan perasaannya begitu kalut. Apalagi jika mengingat kembali kata-kata dari kakak iparnya tadi.


Kalau Geva kan udah jelas pernah punya anak tapi sayangnya istrinya keguguran dan tak lama kemudian, meninggal. Tapi kalau___


Walau tak di katakan secara gamblang, Zada sangat paham kalau mereka sedang meragukannya yang sulit punya anak.


Tanpa kata, Geva langsung membawa tubuh Zada ke dalam pelukannya.


" Tidak usah terlalu di pikirkan apa yang di katakan Kak Fenita, dan Kak Eshika. Kamu juga tahu sendiri bagaimana watak mereka. Lagipula, aku tidak akan meninggalkan kamu hanya karena tak ada anak."


Bukannya tenang, Zada justru semakin terisak karena merasa gagal menjadi istri yang belum bisa memberikan anak pada suami dan keluarganya. Biasanya, Zada selalu terlihat menjadi wanita yang kuat seperti baja, tapi akhir-akhir ini perasaannya sangat sensitif. Apalagi jika membahas soal anak. Padahal, mereka tak pernah menunda untuk memiliki momongan. Bahkan, selalu menuruti saran-saran dari orang sekitarnya agar bisa segera hamil tapi hasilnya masih nihil.


...***...

__ADS_1


Baru saja keluar dari kamar mandi, Aden langsung di suguhi dengan pemandangan sang istri yang tengah melamun di atas ranjang mereka. Sejak kembali dari acara perayaan Anniversary Zada dan Geva, Reya tiba-tiba menjadi seseorang yang begitu pendiam.


" Sayang ...," panggil Aden seraya duduk di samping sang istri.


Mendengar suara Aden memanggil,membuat Reya tersadar dari lamunannya.


" Kamu lagi mikirin apa? Apa ada masalah? Kalau ada, kamu cerita saja, siapa tahu aku bisa bantu."


Reya tersenyum tipis saat melihat suaminya yang sudah berubah ke mode menjadi teman curhat yang siap menjadi pendengar akan keluh kesah istrinya.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Aden, Reya justru merubah posisinya yang awalnya duduk bersandar pada kepala ranjang berubah memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang kini sudah tak lagi kerempeng seperti awal pertemuan mereka.


Sekalipun pernikahan mereka terjadi akibat kesalahan cinta satu malam, tapi Aden benar-benar memenuhi janjinya yang akan terus belajar menjadi suami dan ayah yang baik bagi Reya dan anaknya.


Dia memang bukanlah pria yang berpengalaman soal cinta dan romantisme,tapi dia adalah pria yang mau belajar dan berubah demi orang tersayang.


" Aku hanya kepikiran sama Zada. Kasihan sekali dia, sudah sangat ingin memiliki anak tapi belum juga di beri sama Tuhan. Sedangkan kita, yang tak menginginkannya justru di kasih."


Tiba-tiba Aden mengurai pelukan Reya.

__ADS_1


" Apa maksud kamu? Siapa yang tak menginginkannya?" Aden seketika memberikan dua pertanyaan sekaligus dengan memasang wajah dingin.


" Kamu kenapa?" Bukannya menjawab, Reya justru bertanya balik tentang ekspresi wajah Aden yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.


" Jangan menjawab dengan pertanyaan kembali Shreya!"kata Aden yang sudah tak lagi memanggil dengan panggilan sayang.


" Shreya?"ulang Reya dengan dahi yang berkerut saat mendengar Aden menyebut namanya.


" Ya, apa maksud dari perkataan kamu barusan? Apa selama ini kamu tak pernah menginginkan Anrey ada?" Aden kembali bertanya dengan kalimat yang lebih jelas.


" Ya, dulu memang tak pernah menginginkannya dia ada tapi___" Belum saja Reya menyelesaikan perkataannya, Aden sudah beranjak turun dari ranjang.


" Aden,mau kemana kamu!" panggil Reya saat melihat Aden tiba-tiba pergi dari kamar.


" Aden!" Reya kembali memanggil,namun pria dua puluh enam tahun itu terus berjalan pergi meninggalkan kamar tanpa menengok atau menjawab panggilan dari istrinya.


" Dia kenapa sih! Kayak cewek lagi PMS aja, moodnya gampang berubah-ubah. Baru saja beberapa menit yang lalu mau jadi teman curhat istrinya, eh sekarang tiba-tiba nyelonong pergi begitu saja. Aneh deh!" kesal Reya yang terus menggerutu karena Aden tiba-tiba pergi begitu saja tanpa memperdulikan dirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2