
Selesai mandi, Geva baru teringat kalau dia tak membawa pakaian ganti masuk ke dalam kamar mandi. Jadi, terpaksa dia keluar dengan bertelanjang dada, hanya memakai handuk yang dililitkan sampai pinggang.
Ketika keluar dari kamar mandi, ternyata Zada masih belum tidur juga. Ia justru terlihat melongo sejenak lalu menutup matanya ketika melihat Geva keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada.
" Kenapa tidak memakai baju?" tanya Zada dengan masih menutup wajahnya.
" Aku lupa membawanya," jawab Geva santai, kemudian berlalu pergi menuju walk in closet miliknya. Untungnya, Geva masih memiliki beberapa pakaian yang memang ia simpan di kamarnya ini.
Selesai berganti pakaian, Geva langsung kembali menghampiri Zada yang masih asyik bermain ponsel dengan membawa selimut tebal sebagai alas tidurnya.
Berhubung sofa di kamar ini tiba-tiba menghilang begitu saja, membuat Geva terpaksa harus tidur di lantai karena sepertinya Zada akan tak merasa nyaman jika mereka tidur seranjang .
" Asik sekali, sedang chatingan sama siapa?" kepo Geva yang tiba-tiba sudah mencondongkan tubuhnya di depan Zada.
Zada mendongak, sepasang netranya seketika membola saat mengetahui tiba-tiba ada wajah Geva di depannya.
" An_da sedang apa?" tanya Zada yang terdengar begitu gugup. Jakun Zada naik turun, jantungnya sudah senam zumba di dalam sana tatkala menatap ketampanan dari seorang Gevariel dengan jarak sedekat ini.
" Bertanya, "jawab Geva singkat yang membuat Zada menautkan kedua alisnya.
" Maksudnya? "tanya Zada bingung.
Setelahnya, Geva hanya melirik ke layar ponsel Zada yang masih menyala dan Gadis itu spontan menyembunyikan ponselnya.
" Cepatlah tidur, jangan begadang. Besok kamu kerja 'kan? " kata Geva dengan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Zada lembut.
Tuhan ... kenapa dia terlihat tampan dan imut dengan penampilan seperti ini?
Wajah terlihat segar dengan tatanan rambut berponi yang masih setengah kering. Penampilan yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dari biasanya.
Zada memegangi dadanya, dan berharap kalau Geva tak mendengar detak jantung yang sedang senam zumba di dalam.
Setelahnya, Geva terlihat menarik sebuah bantal yang ada di samping Zada lalu beringsut pergi menjauh.
" Anda sedang apa?"tanya Zada tatkala melihat Geva yang tengah membentangkan selimut di atas lantai.
" Mau tidur," jawab Geva.
" Tidur di bawah?"
" Tentu saja, emangnya kamu bersedia saya tidur di samping kamu?" Geva justru kembali bertanya membuat Zada terdiam.
__ADS_1
Melihat Geva yang begitu baik dan pengertian justru membuat Zada jadi tak tega melihatnya tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Sementara dia menikmati tidur di kasur empuk, padahal ini adalah kamar Geva.
" Sudah, kamu cepat tidur saja. biar besok tidak bangun kesiangan," nasehat Zada.
" Anda boleh kok tidur di sini, asal__" belum saja Zada selesai berbicara, Geva sudah duduk di sisi kasur dengan wajah bahagia.
" Ini kamu sendiri yang bilang ya, jangan menyesal," seloroh Geva.
Zada hanya mencebik melihat Geva yang begitu berbinar ketika di perbolehkan tidur seranjang dengannya.
" Ya, tapi jangan sampai melewati batas!" tandas Zada yang kini tengah membuat pembatas diantara mereka dari tumpukan bantal.
" Apakah harus seperti ini? kenapa tidak tidur sambil pelukan gitu? kan anget," goda Geva dengan mengeringkan matanya.
" Ngarep!" ketus Zada yang langsung berbaring dengan membelakangi Geva. di balik sana, ada seulas senyum yang terbit di bibir mungil itu.
Setelah beberapa menit kemudian, belum ada yang bisa terlelap diantara keduanya. Pasutri itu masih sama-sama terjaga dengan pikiran masing-masing.
" Za ...," panggil Geva lembut yang mencoba mencari tahu apakah Zada sudah tidur apa belum.
" Em," jawab Zada yang hanya berdehem.
" Belum tidur?"
" Kalau gitu, yang sedang berbicara denganku ini siapa,ya?" tanya Geva dengan nada menggoda.
" Raganya Zada mungkin," jawab Zada asal yang membuat Geva terkikik.
Bisa-bisanya gadis itu menjawab seperti ini. Bagi Geva, Zada definisi wanita yang cukup langka di lingkungannya. Pasalnya, selama beberapa tahun ini banyak wanita yang berusaha menggoda, mendekati bahkan rela merangkak naik ke atas ranjangnya agar bisa menjadi nyonya Nuraga. Tapi Zada, dari awal dia terus - menerus menolak dirinya seakan tak mempan walau tahu bahwa dia adalah pewaris keluarga Nuraga grup. Bahkan, di janjikan uang dua ratus miliar saja tidak di gubris.
Bukan hanya itu saja, dia juga wanita yang cukup berani melawan orang-orang yang mencoba merendahkannya walau terkadang masih ada rasa minder dalam dirinya.
" Za ...," Geva kembali memanggil. Namun, sudah tak lagi terdengar ada sahutan dari sang istri. alhasil dia bangun dan mencoba mengecek apakah Zada sudah benar-benar tertidur.
Seulas senyum terbit di bibir Geva ketika melihat Zada sudah tidur terlelap.
" Terima kasih karena kamu sudah kembali hadir dalam hidupku," ucap Geva dengan tatapan yang begitu dalam.
Setelahnya, ia pun mencoba untuk ikut tertidur
...****...
__ADS_1
Hari yang penuh drama telah hilang, berganti pagi dengan lembaran baru dan cerita baru. Entah akan ada cerita apalagi hari ini, semoga lebih baik dari kemarin.
Di sebuah kamar dengan nuansa monochrome, terlihat sepasang suami istri yang masih tidur terlelap dengan posisi cukup intim.
Bantal-bantal pembatas semalam seakan hilang begitu saja dari permukaan kasur. Suara alarm yang berbunyi membuat Zada mulai mengerjapkan matanya. Namun, ia merasa kalau ada sesuatu yang menindih perut dan juga kakinya serta hembusan nafas menerpa kulit pipinya.
Tangan Zada terlihat meraba-raba guna mengetahui apa yang sebenarnya tengah menindihnya. Dan akhirnya dia merasakan layaknya ada tangan berotot yang melingkar di atas perutnya.
Tangan?
Sepasang netra indah itu spontan terbuka, dan betapa terkejutnya ia saat melihat ada tangan kekar dan kaki yang menindih tubuhnya. Zada pun menoleh ke samping untuk melihat siapa orang itu. Namun, siapa sangka jika bibirnya bertemu dengan bibir orang lain.
Sepasang Netra itu spontan membulat sempurna layaknya akan keluar dari tempat. Begitupun dengan Geva yang tadi bergerak-gerak, seketika spontan ikut terbangun saat merasa ada sesuatu lembut menempel pada bibirnya.
" Aaa ...," teriak Zada yang spontan mendorong tubuh Geva agar menjauh darinya.
Saking kerasnya dorongan dari Zada hingga membuat tubuh Geva hampir menggelinding ke bawah. Namun, teriakan Zada begitu memekikkan telinga.
" Zada, bisakah jangan teriak-teriak di pagi hari?"omel Geva seraya mengusap-usap telinganya.
" Siapa suruh anda tidur memeluk saya seperti guling habis itu tambah mencium lagi!" sungut Zada dengan tangan yang di silangkan depan dada. Dia benar-benar sangat kesal dengan apa yang telah terjadi hari ini.
Bukankah semalam dia sudah membuat sebuah pembatas. Ya... berbicara pembatas, dimana mereka? Zada pun segera bangkit dan mencoba mencari dimana para bantal-bantal pembatas itu dan melihat bahwa mereka sudah berserakan di atas lantai.
Sementara Geva mencoba memulihkan kesadarannya, baru saja ia merasa nyenyak saat tertidur tanpa harus mengalami mimpi buruk. kini sudah di bangunkan dengan cara yang tak layak sama sekali.
" Memangnya masalah kalau__"
Memeluk? mencium?
Geva pun baru tersadar akan sesuatu. Jadi tidurnya begitu nyenyak karena memeluk Zada? dan soal ciuman ... berarti itu nyata?
Geva berdehem.
" Jika seperti itu, anggap saja sebagai morning kiss!"tandas Geva acuh seraya beranjak turun dari atas kasur.
" Morning kiss?" pekik Zada dengan mata melotot dan wajah tak mengerti. Bisa-bisanya Geva sesantai itu menanggapi apa yang telah terjadi barusan.
...****************...
Halo gengs, maaf baru up lagi.soalnya semalam ketikan Novi hilang, jadi harus ngetik ulang dari awal.
__ADS_1
Gengs, kalau bisa jangan jadi pembaca ghoib ya ... tolonglah beri apresiasi dengan like dan komen biar Novi semangat ngetiknya.
Selamat weekend