
" Culik dia!
Dua kata yang menjadi sebuah perintah untuknya. Sejak sore tadi, beberapa preman terus memantau perusahaan Fashion grup. Namun, mereka tak kunjung melihat Zada keluar dari perusahaan itu hingga malam. Alih-alih melihat Zada, mereka justru melihat sebuah mobil mewah terparkir hingga malam.
Dan ketika melihat wanita itu sudah keluar, mereka mendapati bahwa Zada masuk ke dalam mobil itu.
" Bos, dia di jemput oleh seseorang dengan menggunakan mobil mewah!" para preman itu terus menghubungi bisa mereka untuk memberitahu setiap gerak-gerik yang terjadi.
" Kirimkan foto mobilnya!"titah pria di ujung telepon.
Para preman pun memotret dan langsung mengirimkan foto mobil itu. Walau tak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil itu, tapi dia bisa memastikan bahwa pemiliknya adalah Geva di lihat dari nomor plat mobil.
" Geva?kenapa dia menunggu Zada sampai pulang? Ada hubungan apa mereka? " pria itu bergumam dan bertanya-tanya tentang hubungan keduanya. Pasalnya, tak lazim seorang CEO menunggu seorang desainer baru jika tak memiliki hubungan spesial. Apalagi, mereka tak bekerja di kantor yang sama.
Walau belum menemukan sebuah jawaban, tapi tiba-tiba seringai licik begitu mengembang saat tahu bahwa Zada akan pulang bersama Geva.
" Sepertinya ini adalah sebuah kesempatan bagus untuk membalaskan dendamku!"
Tanpa berpikir panjang, pria itu langsung menyuruh orang-orang suruhannya untuk mencelakai Geva.
Malam ini Geva menyetir sedikit pelan, selain demi keselamatan juga agar Zada lebih nyaman saat tidur. Namun, tiba-tiba ia merasa kalau ada yang mengikutinya.
"Siapa itu?" Geva pun mencoba menambah kecepatannya, begitupun dengan mobil itu yang terus mengikutinya.
Berhubung Mobil goyang ke kanan dan ke kiri dengan tempo yang cukup cepat hingga membuat Zada terbangun dari tidurnya.
" Laogong, apa yang terjadi?"tanya Zada dengan kesadaran yang belum sempurna.
" Ada yang mengikuti kita," jawab Geva yang masih terus fokus mengemudikan mobilnya.
" Za, bisakah bantu tekan tombol panggilan satu di ponselku."
Zada pun mengangguk, baru saja akan menekan panggilan itu tiba-tiba Geva mengerem mendadak ketika mobil yang sebelumnya berada di belakang memotong jalan.
Sreettt ....
Sebuah gesekan keras antara ban mobil dengan aspal begitu kuat hingga menimbulkan asap.
Tubuh Zada dan Geva sedikit terpental tapi untungnya masih memakai sabuk pengaman.
__ADS_1
" Kamu baik-baik saja sayang?"tanya Geva yang terlihat begitu khawatir pada istrinya.
" Ya." Mulut berkata iya, tapi Zada terlihat memegangi kepalanya yang tadi sempat terbentur dashboard mobil.
Melihat Zada yang terus memegangi kepalanya, membuat Geva mencoba mengecek kondisi sang istri dan terlihat sebuah memar di sana. Namun, sebuah gedoran dari luar mengangetkan keduanya.
" Keluar!"teriak pria dengan tubus besar penuh dengan tatto.
Mendengar suara gedoran pintu dari luar, tentu membuat Zada menjadi panik. Sementara Geva terlihat mencondongkan tubuhnya mendekati Zada lalu mengambil sesuatu yang tersimpan di laci dasboard.
" Pistol?" pekik Zada dengan sepasang mata yang membulat sempurna ketika mengetahui suaminya menyimpan sebuah pistol di laci dasboard mobil.
Geva memberikan sebuah kode lewat jari telunjuknya yang di tempelkan ke bibir.
" Kamu lakukan apa yang aku suruh tadi, dan jangan pernah membuka kunci pintu mobil jika mereka yang meminta, oke?" titah Geva dengan tatapan begitu dalam.
Sementara Zada terlihat ketakutan, apalagi mendengar para preman-preman itu terus saja menggedor jendela.
" Tapi Laogong, bisakah jangan keluar? mereka ada banyak sedangkan kamu__" Zada tak melanjutkan perkataannya tapi terselip sebuah kekhawatiran dari tatapan matanya.
" Kamu meremehkan ku, hem?" Dalam kondisi seperti ini, Geva masih saja bisa bercanda dan menggoda.
" Tenanglah, lakukan saja perintahku tadi!" Sebelum keluar, Geva mengecup sekilas kening Zada lalu bersiap mengambil ancang-ancang dengan membuka pintu mobil sekuat tenaga hingga membuat para preman itu berjatuhan.
" Sialan!"pekik preman itu ketika Geva tiba-tiba membuka pintu secara kuat hingga membuat mereka berjatuhan di aspal.
" Suruhan siapa kalian?"tanya Geva dengan memasang wajah dingin serta menodongkan pistol ke arah mereka. Berharap para preman itu ketakutan karena Geva melihat mereka tak membawa senjata.
Tanpa Geva tahu, ternyata ada seseorang yang menyerangnya dari belakang. Pria itu langsung menyingkirkan pistol yang ada di tangan Geva, sementara Geva menendang tulang kering laki-laki itu hingga membuatnya terlepas dari kuncian.
Setelah melihat Geva tak lagi memiliki senjata, keempat preman lainnya segera menyerang Geva secara bersamaan.
Jika di luar Geva tengah bertarung dengan beberapa preman sekaligus, Zada sibuk menghubungi seseorang yang di suruh oleh Geva.
" [Halo,bos ada apa?]"
Mendengar seseorang di ujung telepon itu memanggil bos, membuat Zada mengerti bahwa nomor yang ia hubungi ini adalah nomor darurat.
" [Bisakah kalian segera ke sini? ada preman yang sedang menyerang Geva!]"ucap Zada dengan suara penuh ketakutan. Pasalnya, di luar ada satu preman yang terus menggedor pintunya.
__ADS_1
"[ Dimana?]"
Belum sempat Zada mengatakan dimana keberadaannya, pria itu sudah berhasil membuka pintu mobilnya.
" Ayo turun!" pria itu langsung menyeret lengan Zada agar keluar dari mobil. Sedangkan Zada terus berusaha memberontak, dia mengerahkan segala kekuatannya untuk melawan pria itu.
Tiba-tiba, terlihat ada sorot cahaya lampu mobil yang begitu menyilaukan.
Bug
Sebuah sepatu mengenai kepala pria yang tadi menyeret Zada.
" Anda tidak apa-apa nyonya?"tanya Pria itu yang tak lain adalah mata-mata yang selama ini selalu mengawasi Zada dari kejauhan.
Awalnya, mereka sudah bersiap untuk pulang saat melihat Zada sudah masuk kedalam mobil Geva. Namun, niat itu mereka urungkan ketika menyadari ada mobil yang cukup mencurigakan.
Menyadari bahwa pria itu sudah kembali bangkit, membuat sang mata-mata satu kembali menyerang dan terjadilah pertengkaran sengit.
sedangkan di sisi lain, kini Geva sudah mendapatkan satu bantuan dari sang mata-mata dua. Ya, ada dua orang yang selama ini selalu mengintai Zada.
Walau tubuh para preman itu lebih besar dari Geva, tapi kekuatan dan ketangkasan Geva bisa bersaing. Apalagi dengan adanya bala bantuan, dapat membuat Geva berhasil menumbangkan mereka.
Geva berjalan menghampiri salah satu dari preman itu yang masih sadarkan diri.
" Jawab pertanyaan saya, siapa yang menyuruh kalian?"bentak Geva dengan tatapan yang begitu tajam.
" Lepaskan dia, atau gadis ini akan mati di tanganku!" ucap seorang pria yang sudah menodongkan sebuah pistol di kepala Zada. Sementara sang mata-mata satu telah tumbang akibat kalah tarung.
" Zada ...," lirih Geva yang terlihat sangat cemas dan khawatir saat melihat sang istri sedang dalam bahaya.
" Lepaskan dia," pinta Geva.
" Dendam kalian pasti padaku, jadi jangan libatkan dia."
Pria itu menyeringai licik, sementara Zada terlihat begitu ketakutan dan terus-menerus menangis.
" Tapi sayangnya,aku ingin kalian berdua___"
Dor! dor!
__ADS_1
...****************...