Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 38 : Tertangkap!


__ADS_3

"Sebenarnya aku tak terlalu mengenalnya, hanya pernah mendengar seseorang memanggilnya Zada," jawab pria itu yang langsung membuat Zada melongo.


"Hei! Apa maksudmu berkata seperti itu!" bentak Zada yang jadi emosi. Sementara Geva berusaha untuk mencegah istrinya.agar tak emosi.


"lǎogōng, aku tak mengenalnya jadi mana___"


" Aku tahu, jadi tenanglah jangan emosi." Geva masih terus mencoba menenangkan sang istri.


Setelah melihat Zada sudah kembali tenang, Geva kembali melanjutkan percakapannya pada pria itu.


" Jika kamu pernah mendengar seseorang memanggilnya, itu berarti kamu pernah bertemu dengannya?"


Pria itu hanya diam saja membuat Geva mulai geram.


" Jawab!"bentak Geva dengan wajah semakin dingin.


" Pernah waktu pembayaran tapi saat itu tak terlalu jelas, soalnya dia selalu memakai kacamata hitam dan juga masker!"terang Budi.


" Lalu, apakah dia?"


Melihat Geva yang tiba-tiba menunjuk ke arahnya, membuat dahi Zada berkerut.


Budi mencoba mengamati Zada dari ujung kaki sampai rambut cukup lama, dan hal itu tentu saja membuat Zada maupun Geva Menjadi risih.


" Jangan menatapnya terlalu lama!" Geva langsung berdiri di depan Zada guna menutupi tubuh istrinya agar tak terus di tatap oleh Budi.


" Kenapa? Bukankah kamu sedang menyuruhku untuk mengamati?" Budi justru mencoba bermain-main. Sebenarnya, walau tak pernah melihat dengan jelas wajah wanita itu, tapi dia masih bisa mengenali suara serta bentuk tubuhnya dan itu berbeda. Meski berbeda tapi wanita di hadapannya ini cukup cantik, putih dan enak di pandang. Jadi, Budi ingin terus menatap kecantikannya.


" Hei Ini Budi, bagaimana?" ketus Geva yang sudah sangat penasaran.


" Makanya jangan halangi penglihatan ku jika ingin aku bisa menjawabnya."


Rahang Geva seketika mengeras, tatapanya semakin tajam, ia benar-benar semakin di buat geram oleh pria ini.


" Jawab saja, jangan banyak bacot! Dan Jika kamu masih berani menatapnya, ku congkel matamu!" ancam Geva yang langsung membuat bulu kuduk Budi merinding.


Mengerikan juga nih pria!


Dengan berat hati, Budi hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Geva cukup merasa lega karena sebentar lagi dia bisa membuktikan bahwa pilihannya untuk tetap percaya pada sang istri tak salah.


Setelahnya, Geva terlihat mengotak-atik ponselnya lalu memperlihatkan foto Veena pada Budi.


" Apakah dia?"


Pria itu terlihat kembali menajamkan penglihatannya untuk mengingat kembali seperti apa wanita yang telah membayarnya.

__ADS_1


" Hampir mirip,tapi___"


Budi terlihat ragu-ragu, tapi Geva sudah tahu jawabannya.


" Aden, urus dia!"titah Geva yang di angguki oleh Aden.


Setelahnya, Geva langsung membawa Zada pergi dari ruangan itu karena dia sudah tak tahan melihat tatapan mesum Budi pada istrinya.


" Hei, mana uang lima puluh jutaku!"teriak Budi yang tak di hiraukan oleh Geva.


" Diam!"bentak Aden. Demi memastikan jika itu benar Veena, Aden menyuruh Budi untuk menelpon wanita yang sudah menyuruhnya untuk berbuat hal itu.


*


*


Ketika sudah berada di dalam mobil, Zada masih terus menatap ke arah Geva dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


" Kenapa? Apa aku sangat keren dan tampan?" Lagi-lagi sifat narsis Geva keluar.


Zada hanya memutar bola matanya malas menanggapi Geva yang begitu narsis.


" Bisakah jangan terlalu narsis!"sindir Zada.


...***...


Sejak pulang dari menemui Budi, Zada lebih banyak diam. Bahkan, Dia menolak untuk pergi jalan-jalan dan ketika sedang berbelanja makanan di supermarket pun, dia hanya terus memasukkan belanjaan ke dalam troli tanpa berbicara sedikitpun.


Sebenarnya ada apa dengannya?


" Sayang, aku laper ...," rengek Geva yang berusaha mencari perhatian.


" Laper, ya makan!"ketus Zada yang terlihat begitu acuh tak seperti biasanya.


" Masalahnya, kamu kan tadi belum masak untuk makan siang."


Zada menoleh ke arah Geva dengan tatapan begitu tajam dan dingin.


" Lalu ... apakah tidak bisa membelinya?"


Setelahnya, Zada langsung beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya. Ketika Geva ingin menyusul untuk ikut masuk, ternyata pintu sudah di kunci dari dalam.


" Sayang ... bukain pintunya!"pinta Geva seraya menggedor-gedor pintu dari luar. Namun, Zada berusaha untuk menghiraukannya. Entah kenapa dia tiba-tiba jadi kesal sendiri saat mengetahui bahwa Geva memiliki foto Veena.


" Sayang ...," Geva masih saja terus memanggil istrinya yang tak kunjung membuka pintu.

__ADS_1


Sebenarnya ada apa dengan Zada? Apa dia sedang dalam masa periode?


Berhubung sudah sangat lapar, Geva pun segera memesan beberapa makanan yang biasa di sukai oleh istrinya. Siapa tahu mood istrinya bisa kembali membaik. Namun, siapa sangka jika Zada masih saja diam, bahkan dia tak sedikitpun tergiur oleh makanan yang Geva beli.


Apa istriku kerasukan? Eh, tunggu. jangan-jangan dia bukan istriku lagi?


Begitu banyak pikiran aneh yang muncul di kepala Geva, apalagi ketika mengingat kembali bahwa mereka tadi memang pergi ke tempat layaknya rumah hantu. Walau tak ikut masuk, tapi bisa saja jika hantunya ikut keluar bersamaan dengan Budi dan Aden yang sedang kerja-kejaran lalu merasuki tubuh istrinya. Jika memang begitu, sepertinya Geva perlu memanggil seorang dukun untuk mengobati istrinya agar kembali seperti semula.


...***...


Berhubung semua sudah terkonfirmasi, Aden langsung membawa pengacara dan juga polisi untuk menangkap Veena dengan gugatan pencurian hak cipta, pencemaran nama baik, serta penjualan secara ilegal.


" Selamat sore, apakah saya bisa bertemu dengan Ibu Veena?" ucap sang polisi pada seorang maid yang membukakan pintu.


Sang Maid pun mengangguk dan segera memanggil Veena. Sementara Aden masih memperhatikan adegan itu dari kejauhan.


Tak lama kemudian, Verna pun sudah datang di temani oleh Tabitha dan juga Emerald. Pasalnya, mereka ikut penasaran kenapa tiba-tiba ada polisi datang mencari Veena.


" Selamat sore, apakah benar anda Ibu Veena?" tanya sang polisi pada Veena.


" Ya, benar. Memangnya ada perlu apa ya, Pak?"tanya Veena bingung.


" Anda kami tangkap atas kasus pencurian hak cipta, pencemaran nama baik dan penjualan secara ilegal,"terang sang polisi yang langsung membuat semua orang melongo.


" Maksudnya bapak apa? Saya tidak tahu." Veena langsung berubah menjadi sangat panik.


" Apa Bapak tidak salah orang?" timpal Emerald.


" Tidak!" Bukan polisi yang menjawab, melainkan Aden dan juga kuasa hukum Nuraga grup.


" Aden ...," seru semua orang.


" Aden ada apa ini?"tanya Emerald yang memang tak tahu apa-apa.


" Mohon maaf Tuan Emerald, Nyonya Tabitha jika kedatangan kami sudah menganggu waktu santai kalian. Tapi, saya datang ke sini sebagai perwakilan Nuraga grup untuk menuntut Nona Veena atas perbuatan yang telah ia lakukan pada perusahaan dan juga Nyonya bos," papar Aden.


" Hei Aden! kamu jangan asal bicara,ya!"sentak Veena yang masih saja tak mengakui kesalahannya.


" Nyonya bos?"tanya Emerald.


" Saya tidak asal bicara Nona Veena karena saya sudah mempunyai bukti yang kuat. "


" Dan untuk Nyonya Tabitha dan Tuan Emerald, jika kalian belum percaya pengacara kami bisa menjelaskan kepada Anda secara rinci. Kalau ingin membantu, maka siapkan kuasa hukum yang handal tapi saya peringatkan bahwa itu tidak akan mudah."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2