Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 97 Menolak


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan cahaya lampu temaram,terlihat seorang wanita cantik yang terlihat gelisah. Tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan, kemudian bangun terduduk dengan bersandar di kepala ranjang. Pikirannya benar-benar kalut, perkataan Aristya tadi terus saja menari-nari dalam benaknya hingga membuatnya tidak bisa tertidur.


" Za,bukankah kamu tadi bilang akan membantuku? Lalu, kenapa sekarang menolaknya?"tanya Aristya dengan wajah kecewa karena Zada langsung menolak usulan darinya. Padahal, dia sudah membayangkan bagaimana ekspresi Gani yang akan sangat bahagia saat mendengar kabar kalau dirinya hamil.


" Aku akan membantu,tapi tidak dengan cara seperti ini,Kak!"


" Lalu dengan cara apa? Menurutku, ini adalah satu-satunya cara yang paling tepat. Dimana, aku bisa memiliki anak dan rumah tanggaku bersama Gani juga terselamatkan. Jadi, ayolah Za ... bantu aku ya. Lagipula, bukankah anakmu ada dua? Berikan padaku satu, aku janji akan merawatnya dengan baik."


" Aku tahu,tapi dia anakku Kak. Darah dagingku,bagaimana bisa aku memberikannya pada orang lain?"


" Aku bukan orang lain,Za. Aku adalah Kakak iparmu,dan wanita yang sama-sama pernah berjuang untuk mendapatkan seorang anak. Tapi sayangnya aku tak seberuntung kamu, jadi bisakah kamu mengerti perasaanku? Aku hanya meminta satu agar rumah tanggaku terselamatkan,dan terlepas dari bayang-bayang kata-kata mandul! Kamu tahu 'kan bagaimana di hina mandul di saat kondisi kamu baik-baik saja."


" Sayang ..." panggil Geva yang membuat lamunan Zada seketika buyar.


Geva seketika ikut bangun, dan duduk bersandar di samping Zada.


" Kamu kok belum tidur? Ada apa?"tanya Geva seraya mengenggam tangan Zada.


" Gapapa,"dusta Zada yang membuat Geva menghela nafas panjang.


" Jangan bilang gapapa dengan wajah kusut seperti itu. Sekarang, cerita sama aku. Apa ada sesuatu yang sedang menganggu pikiranmu?" Geva menatap mata Zada dengan intens,berharap sang istri akan mengatakan yang sejujurnya.

__ADS_1


" Ingat pesan Dokter, gak boleh setres dan terlalu banyak pikiran. Apa kamu tidak sayang dengan bayi kita?"Geva masih berusaha memancing Zada agar mau berbicara.


Soal perdebatan Aristya dan Zada tadi,Geva memang tidak tahu karena dia sedang mandi. Selesai mandi, Aristya sudah pulang. Sementara Zada, wajahnya sudah di tekuk tapi tak mau mengatakan apa-apa saat di tanya. Jadi, Geva hanya bisa diam saja karena sang istri sudah tidak bisa di ganggu jika dalam keadaan seperti itu. Jika Geva masih mengganggunya dan banyak bertanya, maka itu sama saja dengan membangunkan macan betina yang sedang tidur.


Zada tertunduk dengan tangan yang sedang memilin kain selimut. " Suami Kak Tya berselingkuh dan punya anak dari wanita lain."


" Huh!"pekik Geva dengan mata melotot seperti akan keluar dari tempatnya.


" Kamu tidak sedang bercanda 'kan sayang?" Geva masih dalam mode tidak percaya bercampur terkejut, itulah mengapa dia bertanya seperti ini.


Zada menggeleng. " Itu benar, dan Kak Tya juga ingin meminta anak kita." Buliran bening seketika luruh dari pelupuk mata Zada saat mengingat kembali perkataan Aristya yang meminta anaknya. Anak yang sudah lama ia nantikan kehadirannya, dan kini masih berusia delapan minggu di dalam rahimnya. Bahkan, tubuhnya belum sempurna tapi dengan mudahnya Aristya ingin memintanya? Bagi seorang ibu, tentu saja Zada tidak akan rela memberikan anaknya pada orang lain. Apalagi dia mampu membesarkan mereka berdua.


" Maksud kamu apa ya sayang? Kok aku jadi bingung, Kak Gani berselingkuh dan mempunyai anak dari wanita lain, lalu kenapa Kak Tya justru meminta anak kita? Apa hubungannya?" Geva benar-benar di buat bingung dengan perkataan Zada yang hanya setengah-setengah.


Geva melongo, lalu menyugar rambutnya ke belakang. " Apa Kak Tya sudah gila!"lontar Geva dengan wajah tak mengerti.


" Menurutku Kak Tya bukan hanya gila,tapi juga bodoh karena terlalu mencintai laki-laki brengsek seperti Gani!"kesal Zada dengan berlinang air mata. Ia ingin mengutuk Aristya,tapi merasa kasihan juga dengan kondisinya. Dia juga pasti sedang dalam keadaan bingung harus berbuat apa, makanya langsung memilih sebuah ide tanpa peduli dengan hal lainnya.


Geva pun langsung membawa Zada ke dalam pelukannya, dan mencoba menengkan sang istri yang jadi sangat sensitif.


" Lalu, kamu jawab apa?" Geva mulai bertanya lagi.

__ADS_1


Zada langsung melepaskan diri." Tentu saja aku menolaknya, bagaimana bisa aku memberikan anakku pada orang lain walaupun itu Kakak iparku sendiri!"kesal Zada yang perlahan mulai terlampiaskan.


" Terus, apa yang membuatmu menangis dan tidak bisa tidur?"


" Aku___ juga bingung. Di satu sisi ada rasa kesal dan marah karena Kak Tya dengan seenaknya meminta anakku demi memperbaiki pernikahannya dengan pria brengsek yang jelas-jelas sudah berselingkuh . Tapi di sisi lain, aku juga merasa kasihan sama Kak Tya, dia pasti sedang sangat frustasi dengan masalah ini."


Geva kembali memeluk Zada, dia benar-benar takjub dengan sifat istrinya. Walau dalam kondisimarah,masih saja memikirkan orang itu.


"Tapi laogong, Kenapa Kak Tya tidak langsung meninggalakan Kak Gani saja? Kenapa justru ingin memperbaiki pernikahan mereka sampai rela melakukan berbagai cara agar tetap bersama. Andai itu aku,pasti sudah ku tinggalkan pria macam itu. Bukan hanya ku tinggalkan, tapi ku potong habis juga rudalnya biar tidak seenaknya jajan sana sini di saat masih punya istri!" kesal Zada dengan nafas yang memburu. Sementara Geva menelan kasar salivanya, serta membayangkan bagaimana ngilunya jika rudal di potong sampai habis.


" Laogong ...,"panggil Zada saat melihat suaminya hanya diam saja.


" Iya sayang, ada apa?"


" Kok ada apa sih! Jawab dong, kenapa Kak Tya bisa seperti itu?"


" Itu___ Karena Kak Tya bukanlah kamu sayang. Dan, tidak semua wanita berpikiran luas seperti kamu yang begitu mudah meninggalkan pria yang sudah menghianati atau menyakitinya. Karena terkadang ada wanita yang rela tersakiti, bahkan bisa menganggap semua itu tak pernah terjadi agar tetap bersama dengan laki-laki yang dia cintai."


" Ya ... itu mah namanya bodoh!" Zada kembali memaki wanita yang menurutnya tidak masuk akal. Sudah di sakiti,tapi masih mau bertahan. Bahkan, melupakan semua kejadian yang menyakitkan. Namun, kita tak bisa sembarang menjudge begitu saja karena setiap orang memiliki pemikiran dan alasannya masing-masing.


Entah apa itu,kita sebagai orang yang hanya melihat dari luar cukup tahu dan mengingatkan. Jika apa yang kita ingatkan tidak di gunakan, ya itu terserah orang itu karena yang menjalani dia bukan kita.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2