
" I love you Za,"ucap Geva lembut.
Deg
Jantung Zada seakan berhenti berdetak tatkala mendengar sebuah ungkapan cinta dari suaminya. Namun bukan sebuah balasan 'I Love you too' yang Geva dapatkan,melainkan sebuah pukulan yang Zada layangkan ke perutnya.
" Au!"pekik Geva yang terlihat kesakitan sambil memegangi perutnya.
" Sayang, suamimu ini baru saja sadar dari koma tapi kenapa sudah kamu aniaya ..." keluh Geva dengan memasang wajah memelas.
" Kamu yakin baru sadar?" Zada justru bertanya balik tanpa peduli dengan wajah memelas Geva. Lagipula, Zada tak memukul dengan full power karena dia juga tahu kalau Geva baru saja terluka demi menyelamatkannya.
Geva diam, sebenarnya Geva sudah sadar dari dua hari lalu tapi berpura-pura masih koma karena dia suka mendengar Zada yang banyak bercerita padanya. Padahal,biasanya Zada tipe yang irit bicara saat bersama Geva mode sadar. Selain itu,Geva juga ingin memberikan sebuah kejutan untuk Zada serta membiarkan para musuh merasa menang terlebih dahulu karena sudah berhasil melumpuhkannya.
" Kita pergi yuk,aku ada sebuah kejutan lagi untukmu." Geva berusaha menghindar dengan mengubah topik pembicaraan.
" Paman Geva ... pertanyaanku tadi belum kamu jawab!"protes Zada yang tak di hiraukan oleh Geva.
...***...
Prang
Sebuah gelas keramik di lemparkan ke dinding hingga membuatnya pecah menjadi serpihan.
" Kurang ajar! Kenapa Geva tiba-tiba sudah terlihat sehat? Bukankah dia mengalami koma?"pria itu bermonolog sendiri. Hari ini dia benar-benar merasa sangat kesal.
Mendengar kabar bahwa acara pagelaran Busana milik Nuraga grup berjalan dengan sangat sukses dan lancar saja sudah mampu membuat hatinya panas. Di tambah lagi melihat Geva yang terlihat baik-baik saja,tentu membuatnya semakin merasa kesal.
Walau pada akhirnya bukan orang suruhannya yang berhasil melukai Geva,tapi dia merasa sangat senang saat mendengar kabar kalau Geva tertembak dan mengalami koma.
" Sepertinya,aku harus menyusun rencana baru untuk menghancurkan Gevariel!"gumam Pria itu seraya mengetuk-ngetuk meja layaknya sedang memikirkan sebuah cara untuk membalas dendamnya.
...***...
Mendapatkan sebuah kabar kalau semua tim desain pakaian mendapatkan bonus liburan dua hari dari kantor, membuat mereka semua merasa sangat senang. Tapi menimbulkan rasa iri untuk tim lainnya. Namun, itu semua di berikan sebagai bentuk apresiasi kerja keras mereka karena tlah berhasil membuat penjualan produk tim desain pakaian sangat tinggi. Maka dari itu,Geva memberikan sebuah bonus liburan. Sementara tim yang lainnya tetap mendapatkan bonus tapi tak sebesar tim desain pakaian dapatkan.
" Eh,kalian lihat supervisor Zada nggak?"tanya Amel yang sejak acara konferensi pers tak melihat Zada sama sekali.
" Mungkin sudah pulang,"sahut Nadine.
"Masak sih? Tapi tasnya masih ada sama aku," kata Amel seraya menunjuk tas Zada yang masih ada padanya.
Do luar ruangan,terlihat Aden yang tengah berjalan menuju ruang make up untuk mengambilkan tas Zada.
__ADS_1
" Aden,Geva dimana?"hadang Direktur Anna saat melihat Aden berjalan menuju ruang make up untuk mengambilkan tas Zada.
" Bos sudah pulang,memangnya ada perlu apa?"
" Oh ... hanya bertanya saja," jawab Anna yang terlihat lesu saat mendengar Geva sudah pulang. Padahal, dia berniat untuk mengajak Geva makan malam bersama.
Aden pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, tapi lagi-lagi Anna menghentikannya.
" Eh,Aden!Kalau Geva sudah pulang, kenapa kamu masih ada di sini?"tanya Anna lagi yang merasa aneh saat melihat Aden tak bersama Geva karena biasanya dia selalu ada di samping Geva layaknya kembar siang yang selalu bersama.
" Apakah tidak boleh?"Aden justru kembali bertanya membuat Anna kebingungan harus menjawab apa.
Setelahnya,Aden pun pergi meninggalkan Anna karena dia masih mempunyai tugas untuk mengambil yas nyonya bos.
Ketika akan masuk kedalam ruang make up, Aden bertabrakan dengan seorang wanita yang kebetulan sama-sama ingin masuk ke dalam ruangan itu.
" Au!"pekik wanita itu yang tak lain adalah Reya~sahabat Zada.
" Eh! Kalau jalan pakai maya dong!"omel Reya.
" Kok Kamu___"Aden tak melanjutkan ucapannya saat tahu siapa wanita yang bertabrakan dengannya.
" Kamu apa!?"Reya malah nyolot.
" Apa kalian tahu dimana tas Supervisor Zada?"
" Zada dimana?"
Lagi-lagi Reya dan Aden bertemu,serta sama-sama mengatakan seuatu yang mirip. Reya mencari Zada,sedangkan Aden mencari tas Zada.
Amel,Nadine,dan Mita saling pandang satu sama lain saat mendengar dua orang itu bertanya secara bersamaan.
" Kamu lagi!" ucap Reya dan Aden bersamaan.
Reya menghembuskan nafas panjangnya,dia benar-benar malas bertemu dengan pria seperti Aden.
Ketus,dingin, dan menyebalkan!
" Kenapa kalian malah diam?"
" Kenapa kalian malah diam?"
Lagi-lagi Reya dan Aden mengucapkan satu kalimat yang sama dan secara bebarengan.
__ADS_1
" Untuk Supervisor Zada,saya tidak tahu dia kemana. Soal tas, ada sama saya tapi kenapa pak Aden mencari tas supervisor Zada?" tanya Amel yang tak akan sembarangan memberikan sesuatu yang di titipkan padanya karena itu termasuk melalaikan sebuah amanah.
" Kenapa kamu mengambil tas Zada? Dimana dia? Apa sedang bersama__" Aden langsung membekap mulut Reya dengan tangannya yang terdengar seperti akan keceplosan mengatakan sesuatu yang tak seharusnya di ucapkan di depan umum.
Reya spontan mencoba menyingkirkan tangan Aden,lalu mengusap-usap mulutnya mulutnya yang bekas di pegang oleh Aden.
" Lebih baik kalian berikan tasnya pada saya daripada banyak tanya!"punya Aden yang gak ada sopan atau lembutnya.
Amel menggeleng
" Tidak bisa!"tolak Amel yang kekeh tak akan memberikan tas Zada pada Aden. Walau mereka tahu siapa Aden,tapi tetap saja ada sebuah kecurigaan di dalam hati Amel. Bukan hanya curiga,tapi beberapa pemikiran kenapa Aden meminta tas Zada? Lalu,kemana Zada sampai harus Aden yang mengambilkan tas?
Aden terlihat bingung harus berbuat apa,lalu memberikan sebuah kode agar Reya yang meminta tas itu pada Amel. Siapa tahu kalau dia yang meminta akan di berikan.
Reya yang tanggap, tengu saja mudah paham dengan kode yang di berikan oleh Aden. Berhubung Reya melihat Aden sepertinya gahu dimana keberadaan Zada,maka dia mencoba untuk membantu.
" Mel,tas Zada berikan sama aku saja. Toh,aku tinggal bersamanya,daripada orang asing yang meminta," ucap Reya yang penuh percaya diri tapi ternyata gagal.
Dalam hati Aden sedang menertawakan kesombongan Reya.
" Mel__"
" Bukankah Supervisor Zada audah menikah, masak iya masih tinggal bersama Anda,"ucap Amel.
Reya menghembuskan nafas panjangnya,serta merutuki dirinya sendiri karena lupa jika semua orang sudah tahu status Zada yang sudah menikah.
" Saat ini iya karena suaminya sedang perjalanan keluar negeri." Reya terpaksa berbohong demi bisa mendapatkan tas itu.
" Oh ..." akhirnya,Amel pun memberikan tas itu pada Reya.
Se keluarnya dadi ruangan itu,Aden segera meminta tas Zada karema waktunya sudah gak banyak. Namun,Reya jistru menolaknya.
" Reya,bisakah kamu berikan tas itu pada saya?"pinta Aden yang masih bersikap sabar.
" Ambil aja kalau bisa!" Reya belari membawa tas itu, dan Aden pun mengejarnya.
Ketika berlari,tanpa sengaja Reya tersandung tali sepatunya sendiri yang terlepas hingga membuatnya hampir terjatuh mencium lantai. Melihat Reya yang akan terjatuh,spontan membuat Aden menarik lengannya hingga membuat keduanya
cup
Sebuah ciuman tanpa sengaja telah terjadi. Sepasang mata Reya membola tatkala merasakan ada daging tak bertulang dan lembut menyentuh bibirnya.
...****************...
__ADS_1