Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 25 : Meminta cucu


__ADS_3

Kini, semua keluarga sudah pulang ke rumah masing-masing. Tersisa Geva dan Zada yang memang di minta menginap oleh Mama Jianying.


Setelah berunding, akhirnya Geva setuju untuk tidak membuat sebuah acara resepsi. Apalagi, akhir-akhir ini banyak masalah yang datang sehingga membuat Geva takut jika Zada akan di gunakan sebagai alat pembalasan dari musuh atau saingan bisnisnya. Jadi, demi menjaga keselamatan sang istri, Geva memilih setuju untuk menyembunyikan pernikahannya di depan publik.


" Berhubung kalian sama-sama tidak mau mengadakan resepsi, gimana kalau dengan bulan madu?" usul Mama Jianying.


Bulan madu?


Zada dan Geva saling pandang satu sama lain. Bagaimana mungkin mereka berdua pergi bulan madu. Bulan madu kan untuk pasangan suami istri yang menikah karena saling mencintai satu sama lain. Kalau mereka?


" Ma, sebentar lagi perusahaan akan merilis produk baru. Jadi, Geva begitu banyak pekerjaan. " Geva mencoba mencari alasan agar sang Mama tak menyuruhnya untuk pergi bulan madu.


Lagipula, buat apa mereka pergi bulan madu jika masih tak ada cinta diantara keduanya? Jangankan cinta, Zada saja di cium marah-marah apalagi ___


Geva menelan ludahnya dan mencoba rileks ketika pikirannya menjurus ke sana.


" Kamu ini, apakah tidak bisa meluangkan waktu untuk istrimu sebentar saja? Jangan pekerjaan terus yang kamu urus, kalau begitu kapan Mama bisa menggendong cucu dari kamu?" papar Mama Jianying.


Huh? Anak? Jangan bilang kalau sebentar lagi aku akan di paksa untuk hamil dan melahirkan anak untuk keluarga ini?


" Ma, sebenarnya Zada juga banyak pekerjaan. Apalagi, kebetulan Zada kali ini jadi ketua tim satu untuk desain pakaian. Jadi, sepertinya juga belum bisa untuk bulan madu," imbuh Zada.


Sejak kejadian Veena yang terungkap kalau mengambil desainnya, posisi ketua tim satu beralih menjadi miliknya. Jadi, dalam sebulan ini dia pasti akan sangat sibuk untuk acara pagelaran.


" Tuh, Ma. Mama sudah dengar sendiri 'kan? Bukan hanya anak Mama yang sibuk tapi menantu Mama juga," lanjut Geva menimpali jawaban sang istri.


Mama Jianying menghela nafas kasar.


" Kalian ini gimana sih? Suami istri sama aja sibuknya!" kesal Mama Jianying yang terlihat bangkit dari tempat duduknya. Hari ini, tenaga dan emosinya benar-benar sedang di buat naik turun.


" Apakah aku salah bicara?" tanya Zada yang merasa tak enak hati.


Geva menggeleng." Kamu tidak salah, sudah habiskan saja makananmu," terang Geva.


Selesai makan, Geva menyuruh Zada untuk kembali ke kamar duluan. Sementara dia pergi ke kamar sang Mama untuk mengecek keadaannya.

__ADS_1


" Mau apa kamu ke sini! " ketus Mama Jianying ketika mengetahui bahwa yang datang adalah putranya. Mama Jianying yang awalnya sedang membaca buku, seketika meletakkan buku dan kacamatanya.


Menyadari jika sang Mama masih dalam mode marah membuat Geva tetap berjalan mendekati ranjang sang Mama. Sementara Mama Jianying, sudah dalam posisi berbaring membelakangi Geva layaknya seseorang yang tengah merajuk.


Geva duduk di pinggiran ranjang, lalu mengenggam lembut tangan sang Mama yang sudah keriput. Maklum, usianya sudah menginjak angka tujuh puluh tahun. Angka yang sudah bisa dikatakan tak lagi muda. Namun, mamanya masih terlihat awet muda dari usianya, kesehatannya juga masih terbilang sangat bagus.


" Ma, maafkan Geva dan Zada. Tapi, bisakah Mama lebih mengerti kami?" ucap Geva lembut.


" Kamu mau Mama mengerti bagaimana lagi? Mama sudah cukup mengerti, kamu menikah tanpa memberitahu juga Mama masih toleran. Kalian tak mau mengadakan resepsi juga Mama berusaha mengerti walau sebenarnya di sayangkan. Lalu, kamu mau Mama bagaimana lagi?" papar Mama Jianying dengan posisi masih membelakangi Geva.


" Ma, Mama juga tahu jika pernikahan Geva tidak seperti pasangan pada umumnya. Jadi, kita berdua masih butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain. "


Kini, Mama Jianying tiba-tiba berubah dari posisi tidurnya menjadi duduk bersandar agar bisa lebih nyaman berbicara dengan putra satu-satunya ini.


" Maka dari itu, kalian pergilah liburan bersama agar hubungan kalian bisa lebih dekat," kata Mama Jianying yang kembali bersemangat.


Geva menghela nafas panjang. " Ma, Geva pasti akan pergi mengajak Zada untuk berlibur tapi bukan sekarang."


Mama Jianying terdiam, sebenarnya dia cukup kasihan pada putranya ini karena sepertinya beban perusahan cukup besar hingga membuatnya begitu sibuk.


Geva terdiam, dia bingung harus beralasan apa. Apalagi, Mamanya terlihat begitu berharap jika ia segera memiliki anak. Soal anak, Sebenarnya Geva sudah siap tapi gak tau partnernya.


" Ma, kenapa buru-buru sekali?"


" Karena Mama sudah tua Geva, kalau kamu kelamaan takutnya Mama sudah meninggal sebelum melihat anak dari kamu lahir," terang Mama Jianying.


" Ma ... Kenapa berkata seperti itu lagi?" rengek Geva yang tak suka mendengar Mamanya berbicara soal kematian. Jujur, Geva paling tak suka di tinggal pergi.


" Haih ... Kamu ini, apa kamu lupa jika Mamamu ini sudah tua? Dan, kita sebagai makhluk ciptaan juga tak bisa menghindar dari namanya kematian."


Geva terdiam dan tertunduk.


Jangankan orang yang tua, yang muda juga banyak yang tiba-tiba meninggal dunia.


" Geva, apa kamu masih belum bisa melupakan dia? "

__ADS_1


" Ma, sudah malam istirahatlah. " Geva segera membantu Mamanya untuk berbaring kembali, lalu menyelimuti tubuh itu dengan selimut hangat.


" Selamat malam, Ma." Sebelum pergi, Geva mencium kening Mamanya dan mengganti lampu utama dengan lampu tidur.


Sementara Mama Jianying hanya bisa menghela nafas panjang ketika melihat Geva selalu saja menghindar jika membahas soal masa lalunya.


Sebelum kembali ke kamarnya, Geva pergi ke taman belakang untuk menghirup udara segar. Berbicara tentang masa lalu, membuat dadanya kembali sesak.


Geva mencengkram dadanya, tarikan nafas panjang terus terdengar. Sepertinya, dia memang belum bisa keluar dari lubang hitam yang sempit itu.


Setelah merasa tenang barulah Geva kembali ke kamarnya dan melihat Zada yang masih belum tertidur.


" Kok belum tidur?" tanya Geva.


" Emm ... belum mengantuk," jawab Zada gugup.


" Apa Kamu punya kesulitan tidur di tempat yang asing?" tanya Geva seraya berjalan mendekati Zada.


" Biasanya sih tidak, tapi__ entah kenapa malam ini berbeda," lirih Zada yang terlihat begitu gugup. Bagaimana tak gugup jika malam ini dia harus tidur sekamar dengan seorang pria. Walau status pria itu adalah suaminya, tapi Geva masih terasa asing bagi Zada.


Apalagi, mengingat kembali tentang permintaan Mama Jianying tadi yang meminta cucu, membuat Zada semakin tak bisa tidur. Bagaimana jika Geva meminta___


Akh .... Ingin rasanya Zada lari dari kenyataan ini. Kenyataan dimana Ia telah menikah dengan pria asing setelah di Khianati.


" Tak perlu gugup, aku tidak akan melakukan macam-macam padamu," ungkap Geva yang seakan tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Zada.


Sementara Zada terlihat tercengang mendengar hal itu.


" Tidurlah, aku mau membersihkan diri dulu!"


Setelahnya, Geva berlalu pergi memasuki kamar mandi.


Apakah dia bisa di percaya?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2