Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 63 : Perfect Husband


__ADS_3

Sebelum memilihkan gaun,sang karyawan wanita itu bertanya lebih dulu untuk di gunakan ke acara apa agar ia tak salah memilihkan gaun.


Tak lupa pula, Aden menyuruh mereka untuk membantu memperbaiki make up Reya yang sedikit berantakan.


Setelah beberapa menit berlalu,Reya keluar dengan dress baru dan make up yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan,kacamata bulatnya juga di ganti dengan kontak lensa.


Aden sempat terpana saat melihat penampilan Reya yang jauh lebih cantik dan anggun dari sebelumnya.


" Ada apa? Apakah jelek?"tanya Reya yang masih tak percaya diri dengan penampilannya saat ini.


" Bukankah dari sebelumnya juga jelek!"sarkas Aden yang tak sesuai dengan isi hatinya. Dalam hati memuji cantik, di luar justru bermulut pedas.


Dasar pria mesum dan savage!


Reya yang awalnya berharap mendapat pujian cantik,justru menjadi kesal karena mulut pedas dari Aden. Tanpa berlama-lama,Aden segera membayar baju serta jasa make up.


Selesai membayar, kedua orang yang tak pernah akur itu segera pergi menuju tempat pesta.


*


Sebelum memasuki rumah pak Brata, Reya dan Aden berjalan terpisah karena mereka tak ingin di sangka berangkat bersama. Ketika memasuki tempat pesta, para undangan yang datang sempat tak mengenali siapa Reya. Pasalnya, selama ini gadis itu jarang sekali memakai make up dan melepas kacamata bulatnya.


" Reya...," sapa pak Brata.


" Merry Christmas,Pak,"ucap Reya yang memberikan ucapan selamat natal pada atasannya itu.


" Merry Christmas, saya tadi benar-benar seakan tidak mengenali kamu. Tapi, saya suka penampilan kamu yang seperti ini,"kata pak Brata yang terdengar seperti sebuah pujian sekaligus sendirian kalau penampilan Reya yang sebelumnya kurang bagus.


" Terimakasih,Pak."


Setelahnya, Reya pergi menyapa para rekan kerja satu divisinya. Walau hubungan mereka tak terlalu dekat,tapi Reya tetap mencoba menjalin hubungan yang baik sebagai rekan kerja.


" Rey,"panggil Joe yang seketika membuat Reya berbalik.


" Senior,"sapa Reya yang selalu memanggil Joe dengan sebutan senior karena dia memang adalah kakak tingkatnya ketika di kampus.


" Malam ini kamu terlihat cantik,"puji Joe yang seketika membuat pipi Reya merona.


" Memangnya, biasanya tak cantik?"timpal Andini rekan kerja Reya.


" Cantik, jika tak memakai kacamata mata kuda yang begitu kuno,"ucap Joe blak-blakan.


Deg


Jantung Reya seakan berhenti sejenak, dalam waktu singkat Joe bisa membuat hati Reya layaknya roller coaster. Setelah di puji hingga melambung tinggi,tiba-tiba kembali di hempaskan ke bawah.


Perkataan Joe barusan,seakan memberitahukan bahwa selama ini Reya itu kuno karena memakai kacamata bulat. Andai matanya tak minus, mana mungkin Reya memakai kacamata.

__ADS_1


" Rey,"panggil Joe seraya menggoyangkan tangannya di depan Reya tatkala melihat gadis itu hanya diam saja.


"Ya."


" Kenapa? Kamu sedang tak enak badan?"tanya Joe yang terdengar perhatian.


" Reya itu bukan tak enak badan,tapi sakit hati karena di hina kuno sama Lo!"sahut Andini yang seakan paham apa yang Reya rasakan saat ini.


" Astaga Rey ..., gue tadi hanya becanda. Jadi,jangan diambil hati oke? Lo cantik kok, pakai atau tak pakai kacamata,"terang Joe yang merasa tak enak hati. Sementara Reya hanya tersenyum kecut.


Dari kejauhan, ternyata ada seseorang yang terus memperhatikan ekspresi Reya yang berubah-ubah. Dari yang bersemu merah hingga badmood.


Jadi, dia menyukai pria itu?


...****************...


Hari ini, Geva dan Zada menghabiskan waktu berjalan-jalan keliling kota Paris. Tak hanya jalan-jalan, mereka juga banyak berbelanja berbagai hal yang menggemaskan untuk di jadikan oleh-oleh. Pasalnya, banyak yang meminta oleh-oleh pada Zada saat tahu bahwa ia tengah pergi berlibur bersama suaminya di Paris.


Sesampainya di kamar hotel, Zada langsung berjalan masuk ke dalam kamar, sementara belanjaan di urus oleh beberapa bodyguard Geva. Jalan-jalan di tengah hujan salju,tentu sangat dingin sekali.


" Apa sangat dingin?"tanya Geva saat melihat istrinya sudah meringkuk di dalam selimut tebal.


Zada mengangguk. Geva pun menambah volume penghangat ruangan agar lebih hangat, lalu ikut masuk ke dalam selimut. Tanpa di pinta, Zada sudah langsung masuk kedalam pelukan suaminya.


" Sekarang,jauh lebih hangat,"ucap Zada yang semakin mengeratkan pelukannya seakan sedang mencari kehangatan dari sang suami.


Geva tersenyum,lalu mengecup kening Zada lembut.


" Oh,ya. Aku sampai lupa mau memberikan hadiah Christmas untukmu,"ucap Geva seraya bangun dari tidurnya.


"Masih ada hadiah lagi?"tanya Zada yang merasa sangat di ratusan oleh Geva. Padahal, hari ini dia sudah berbelanja sangat banyak,tapi masih ada sebuah hadiah lagi? Benar-benar definisi suami idaman sekali.


Mimpi apa Zada sampai bisa memiliki suami seperti Geva?


Tak lama kemudian, Geva sudah kembali dengan membawa sebuah undangan dari Paris fashion week.


Awalnya, Zada bingung kenapa suaminya memberikannya sebuah undangan? Tapi, saat melihat isi undangan itu, Zada sangat terkejut.


"Ini seriusan?" tanya Zada yang seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Geva mengangguk. " Tentu saja,jadi persiapkan dirimu untuk membuat sebuah karya yang sangat indah dan memukau."


Zada tak lagi bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung kembali memeluk Geva dengan erat.


" Makasih banyak lǎogōng .." ucap Zada seraya kembali menatap undangan dari Paris Fashion week.


Sesuatu yang selama ini Zada cita-citakan, akhirnya akan terwujud. Dimana, dia bisa tampil di pekan mode dunia ini. ini benar-benar hadiah yang sangat istimewa bagi Zada.

__ADS_1


Melihat Zada yang begitu bahagia,tentu membuat Geva ikut bahagia.


"lǎogōng ...," lirih Zada yang masih belum bisa tertidur.


" Em,"jawab Geva yang hanya berdehem dengan mata tertutup.


" Bisakah jangan terlalu perfect?"


Dahi Geva berkerut, lalu segera membuka mata agar bisa melihat wajah istrinya.


"Maksudnya apa?" Geva kembali bertanya karena dia tak paham dengan perkataan istrinya barusan.


" Ya ,.. bisakah jangan terlalu menjadi perfect husband? Kalau kayak gini,aku kan jadi minder plus takut."


"Perfect Husband?" ulang Geva.


Zada mengangguk.


" Apakah aku se-perfect itu?"tanya Geva memastikan karena sebelumnya dia selalu dianggap sebagai suami yang ribet,menyusahkan,membosankan dan suka mengekang.


Zada kembali mengangguk. " Walau terkadang masih nyebelin, but you are still the perfect husband."


Mendengar perkataan Zada barusan, seketika membuat Geva tersipu malu dan jadi salah tingkah.


" Maka dari itu,bisakah jangan terlalu perfect?"


" Kenapa?"


"Karena aku gak suka melihat banyak pelakor yang nantinya akan mencoba mengambil kamu dari aku. Sekelas Emerald aja ada yang ngambil apalagi__" Geva langsung menutup bibir Zada saat mendengar nama Emerald di sebut.


" Za, jangan membahas pria lain di depanku. Lagipula, tidak semua wanita akan menganggap seperti itu dan aku bisa terlihat sempurna juga karena kamu, jika tanpa kamu aku hanyalah seorang Gevariel si pria dingin yang membosankan."


" Apa istrimu dulu mengatakan seperti itu?"


Raut wajah Geva seketika berubah saat mendengar Zada tiba-tiba menyinggung soal mantan istrinya.


Zada menangkup wajah suaminya yang tiba-tiba menjadi murung. " Ada apa? Apa aku salah bicara?"


" Lebih baik kita tidur saja." Geva mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia tak suka membahas soal mantan istrinya.


" Gev, apa kamu tak ingin sedikit bercerita tentang masa lalumu? Setidaknya,beritahu aku apa alasan kalian berpisah, atau___"


" Jangan pernah membahasnya,Za,"potong Geva.


"Kenapa?"


"Karena itu tidak penting."

__ADS_1


" Kalau Annabeth?"


...****************...


__ADS_2