Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 91 : Keanehan Zada


__ADS_3

Mendengar suara alarm yang berbunyi cukup keras, membuat Geva terbangun dari tidurnya. Namun, sang istri yang biasanya paling peka dengan suara alarm justru masih tidur terlelap di bawah selimut tebal.


Inilah salah satu kondisi aneh yang terjadi pada Zada akhir-akhir ini. Mudah sekali mengantuk dan susah untuk bangun.Bahkan, ketika mendengarkan presentasi saat meeting pun dia sempat-sempatnya tertidur.


" Sayang, ayo bangun siap-siap. Hari ini kita kan mau pergi liburan."Geva mencoba membangunkan Zada dengan lembut.


" Aku masih ngantuk banget ...,"keluh Zada seraya melingkarkan tangannya memeluk pinggang Geva dan menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang suaminya. Pelukan hangat seperti ini,membuat wanita cantik itu semakin terlelap dan tak mau bangun.


Melihat wajah istrinya yang terlihat begitu tenang saat tertidur, membuat Geva tersenyum tipis. Tangannya mulai meraba wajah cantik sang istri, lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga agar tak menganggu pemandangan.


" Semoga, kita bisa bersama hingga tua nanti." Geva pun mengecup lembut kening Zada, dan mencoba untuk ikut tidur kembali. Namun, siapa sangka jika Zada tiba-tiba terbangun dan langsung bergegas pergi ke kamar mandi.


" Sayang ada apa?"tanya Geva sedikit berteriak. Namun, tak ada sahutan dari dalam.


Tak lama kemudian, Zada keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat berjalan menghampiri Geva lalu bergelayut manja.


" Ada apa?"tanya Geva.


" Gapapa, hanya ingin manja-manja sama suami aku. Emangnya gak boleh?" kata Zada dengan memperlihatkan puppy eye nya.


Geva tersenyum, lalu mencubit kedua pipi Zada yang menurutnya sangat menggemaskan. " Tentu saja boleh, justru aku sangat senang melihat kamu yang bermanja-manja daripada kamu saat mode Ibu Bos,"tutur Geva yang membuat bibir Zada mengerucut.


" Sudah-sudah, lebih baik kita mandi dan bersiap-siap lalu pergi untuk liburan," ajak Geva sambil menarik lengan Zada agar bangun dari duduknya. Namun, Zada justru terlihat semakin malas-malasan karena entah kenapa dia jadi malas sekali untuk bepergian. Padahal, dulu dia akan sangat bahagia sekali jika diajak untuk liburan.


...***...


Semenjak kejadian hari itu, Reya maupun Aden mulai mengoreksi diri masing-masing dalam mengasuh Anak serta menjalani kehidupan rumah tangga karena pada dasarnya menjalani kehidupan pernikahan tak semudah yang di bayangkan.


Begitu banyak problematika yang datang silih berganti mulai perbedaan pendapat, kesalahpahaman, perbedaan pola berpikir, guncangan dari luar dan lain sebagainya. Tak jarang, problematika yang tak terselesaikan dengan baik dapat menghancurkan sebuah rumah tangga. Itulah mengapa sebelum menikah dianjurkan untuk memiliki kesiapan mental yang cukup karena kehidupan rumah tangga tak hanya soal cinta.


" Sayang, makanannya sudah siap," panggil Reya seusai menyelesaikan menata makanan di atas meja.


" Wah, Sepertinya Mama sudah selesai masaknya. Kalau gitu, kita pergi ...," ucap Aden sambil menggendong Anrey. Beginilah kegiatan pagi hari orang tua baru ini. Dimana, mereka akan bekerjasama dalam mengurus anak dan pekerjaan rumah. Apakah tidak ada pembantu?


Ada, tapi dia akan datang sedikit siang karena hanya membereskan rumah, mencuci baju dan menyetrika. Sementara memasak dan mengurus Anrey Reya sendiri yang menghandlenya. Jadi, ketika Reya sedang memasak Aden akan membantu menjaga Anrey.

__ADS_1


" Sini, Anrey Mama gendong. Biar Papa bisa sarapan." Reya mengulurkan tangannya, bersiap untuk mengambil alih sang anak. Namun, di cegah oleh Aden.


" Anrey baring di stroller saja, biar Mama dan Papa bisa sarapan bersama," ucap Aden yang sedang cosplay menjadi Anrey.


Reya pun tertawa mendengarnya. Setelahnya, Aden pun meletakkan Anrey ke dalam stroller, sementara mereka berdua sarapan bersama di meja makan. Di pertengahan makan, Anrey tiba-tiba menangis membuat Reya seketika menghentikan makannya dan bergegas bangun untuk mengambil sang anak. Namun, di hentikan oleh Aden.


" Biar aku saja, Ibu menyusui makan saja yang tenang dan banyak biar asinya full," kata Aden dengan tersenyum manis.


Reya pun mengangguk, dan melanjutkan makannya yang terhenti. Walau Aden sudah memberitahu untuk makan yang tenang tapi seorang Ibu akan tetap tergesa-gesa saat melihat sang anak masih saja rewel ketika di gendong oleh papanya. Sepertinya Anrey mengantuk, makanya dia tak kunjung tenang walau sudah di beri susu lewat botol karena dia sudah terbiasa tidur dengan menyusu secara langsung.


" Sini, Anrey sama Mama sayang ..." Reya pun segera mengambil alih menggendong putranya.


" Kamu sudah selesai makannya?"tanya Aden seraya memberikan Anrey pada Reya.


" Sudah kok," jawab Reya seraya berjalan pergi membawa Anrey masuk ke dalam kamar untuk menyusuinya.


Melihat Anrey yang langsung diam saat berada dalam gendongan Reya,membuatnya tersadar kalau ikatan Ibu dan anak antara mereka berdua begitu erat. Rasa bersalah kembali datang menyelimuti Aden karena sempat berpikir untuk memisahkan mereka berdua.


Ternyata, Anrey sangat bergantung pada Reya.


Maafkan suamimu yang tak tahu malu ini Rey, karena pernah meragukan kamu. Pantas saja jika seorang Ibu harus sangat di hormati karena perjuangannya sungguh besar.


...***...


Baru saja setengah perjalanan, Zada kembali meminta Geva untuk berhenti. Ketika mobil sudah berhenti, Zada langsung keluar dari mobil untuk menghirup udara segar. Entah kenapa, perutnya terasa begah,kepala pusing, ingin muntah tapi tak bisa. Mau di bilang mabuk kendaran, tapi Zada tak punya riwayat seperti itu.


" Sayang, kamu kenapa?"tanya Geva yang ikut keluar dari mobil.


Zada menggeleng. " Gak tahu nih, perut aku rasanya begah, kepala pusing, pokoknya rasanya gak enak sekali."


" Kalau gitu, kamu minum dulu. Siapa tahu bisa reda." Geva pun membantu Zada untuk meminum air miniral yang ada di dalam botol.


" Gimana? Sudah baikan belum?"


Zada menggeleng karena rasa tak nyaman itu belum juga menghilang. Alih-alih mereda, perut Zada justru terasa semakin sakit.

__ADS_1


" Sayang kamu kenapa?" tanya Geva yang jadi panik saat melihat Zada memegangi perutnya dengan raut wajah kesakitan.


" Perut aku sakit ...," keluh Zada dengan tubuh yang mulai tak seimbang. Geva pun langsung memapah Zada untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan duduk Zada aman dan nyaman, Geva langsung ikut masuk ke dalam mobil.


" Kamu tahan sebentar ya,kita ke rumah sakit."


Tanpa banyak bicara, Geva langsung mencari rumah sakit terdekat. Selama perjalanan, Zada terus mengeluh kesakitan karena kepalanya ikut semakin sakit.


" Sabar ya sayang." Walau dalam keadaan cemas, Geva di tuntut untuk tetap fokus mengemudi demi keselamatan mereka.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya Geva sampai juga di rumah sakit.


" Doktet ... suster ... tolong istri saya,"teriak Geva seraya menggendong tubuh Zada memasuki rumah sakit.


Seorang perawat wanita pun, segera mengarahkan Geva untuk membawa Zada masuk kedalam ruangan UGD. Melihat ada pasien yang datang, Dokter jga Unit Gawat darurat oun segera datang menghampiri.


" Ini kenapa?"tanya sang Dokter.


" Saya juga tidak tahu, tiba-tiba istri saya mengeluh perut dan kepalanya sakit," papar Geva.


" Kalau begitu, bapak silahkan keluar dulu. Biar saya memeriksa istri anda."


Seorang perawat wanita pun segera menggiring Geva untuk keluar dari ruangan UGD agar sang Dokter fokus dalam memeriksa pasien.


Di luar ruangan, Geva tetlihat mondar-mandir tak jelas karena saking khawatirnya. Dia gakut sesuatu buruk terjadi pada sang istri. Padahal, niat hati ingin pergi berlibur tapi siapa sangka jika harus seperti ini.


Setelah beberapa menit berlalu, pintu ruangan UGD pun terbuka dan memperlihatkan seorang dokter perempuan yang memeriksa Zada keluar.


" Dokter, bagaimana dengan kondisi istri saya? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Geva dengan raut wajah cemas.


Bukannya menjawab pertanyaan Geva, sang Dokter justru tersenyum saat melihat kepanikan Geva.


" Dokter, apa yang terjadi?"tanya Geva bingung.


...****************...

__ADS_1


Kira-kira Zada kenapa, ya?


__ADS_2