
" Manis," ucap Geva sambil memakan cream yang menempel pada ibu jarinya tanpa rasa jijik.
Zada kembali memegang bibirnya yang tadi sempat mendapatkan sentuhan lembut dari Geva. Sikap manis, tatapan dalam serta kata-kata manis dari Geva terus menari-nari dalam pikiran Zada.
Padahal, sebelumnya Geva juga sudah pernah mencium bibirnya sekilas tapi kenapa ada sesuatu yang berbeda.
" Zada ...stop!!!! Jangan terlalu mudah untuk terbuai oleh sikap manis, perhatian dan juga wajah tampannya!"
" Ingat Zada, Kamu itu hanya sebagai pengganti istrinya yang entah ada dimana sekaligus seseorang yang hanya di jadikan sebagai tameng agar tak ada lagi yang memaksanya untuk menikah," lanjut Zada yang terus memperingati dirinya sendiri.
Pasalnya, sebelumnya ia pernah mendengar perbincangan seseorang yang mengatakan kalau Geva menikahinya hanya agar tak lagi terus-menerus di paksa untuk menikah.
Dan hal itu masuk akal bagi Zada karena mana mungkin seseorang yang memiliki kasta tinggi seperti Geva tiba-tiba mau melanjutkan pernikahan pura-pura menjadi nyata dengan gadis seperti dirinya jika tak ada alasan yang menyertainya.
Jika Zada terus-menerus memperingati dirinya untuk tak jatuh cinta,lain halnya dengan Geva yang tengah mencari cara agar bisa tidur bersama Zada lagi. Pasalnya, tidur bersama Zada dapat membuatnya bisa tidur sangat nyenyak sekali. Padahal, selama lima tahun terakhir, Gevabmemiliki insomnia serta mimpi buruk yang selalu saja hadir dalam hidupnya.
" Jika aku berbicara secara terang-terangan, apakah Zada akan setuju?" Geva terlihat bermonolog dengan dirinya sendiri sambil mengetuk - ketuk dagunya.
Kemudian, ia mencoba membayangkan apa yang akan terjadi jika dia mengatakan ingin tidur bersama.
" Sayang ... aku tidur sama kamu,ya?"
" Tidak boleh!" tolak Zada seperti biasanya dengan memasang wajah garang.
Geva langsung tersentak ketika membayangkan penolakan serta wajah garang dari istrinya. Masih membayangkannya saja sudah mempu membuat Geva tersentak, apalagi nyatanya. Andai waktu itu mereka tak sedang menginap di rumah Mama Jianying mungkin Zada juga tak akan mau tidur sekamar dan seranjang dengannya.
" Sebentar ... tapi kita 'kan suami istri. Jadi, wajar dong kalau tidur sekamar," gumam Geva yang masih berbicara sendiri.
Tanpa berlama-lama, Geva segera bergegas pergi menuju kamar Zada yang berada dekat dengan ruang televisi. Walau ragu-ragu, Geva mencoba untuk mengetuk pintu itu. Namun, tak kunjung ada sahutan dari dalam.
" Apa Zada sudah tidur?" gumamnya dengan perasaan penuh kecewa. Akhirnya, Geva pun kembali ke kamarnya sendiri.
...***...
Seperti sebelumnya, malam ini Geva hanya bisa tidur kurang lebih dua jam saja jika tanpa obat tidur. Pasalnya, insomnia nya kambuh dan kebetulan obat tidurnya juga habis. Jadi, tubuhnya terlihat sedikit loyo akibat kurang tidur.
Geva memijat pelipisnya yang sedikit berkedut, lalu beranjak turun dari ranjang dan berjalan pergi menuju kamar mandi. Geva berharap, dengan siraman air shower dapat membuat tubuhnya lebih segar.
__ADS_1
Selesai mandi dan berganti pakaian, Geva keluar dari kamarnya dan melihat Zada tengah memasak di dapur. Tangan Zada terlihat cukup lincah, sepertinya dia sudah terbiasa memasak.
Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Geva berjalan menghampiri Zada dan langsung memeluknya dari belakang.
" Selamat pagi," ucap Geva di dekat telinga Zada.
Spontan gadis itu terjingkat kaget saat ada lengan kekar tiba-tiba melingkar di perutnya serta kepala yang di letakkan di atas bahunya.
" An-da ngapain?" tanya Zada.
Geva hanya diam tak menjawab. Pasalnya, dia sedang menikmati rasa nyaman yang begitu nyata hadir dalam dirinya.
" Hei, lepaskan!"pinta Zada seraya mencoba melepaskan diri dari Geva. Namun, Geva justru semakin mengeratkan pelukannya.
" Biarkan begini sejenak, Za," lirih Geva yang seketika membuat darah Zada berdesir.
...***...
Walau semalam kurang tidur, tapi hati Geva cukup bahagia karena pagi-pagi sudah mendapatkan sebuah kenyamanan yang mampu membuat energinya jadi full charging.
" Sepertinya hari ini aura anda terlihat bersinar bos, " kata Aden.
Aden mengangguk.
" Apa ada hal baik yang telah terjadi?"tanya Aden kepo.
" Tentu saja," jawab Geva dengan tersenyum tipis ketika mengingat kembali momen tadi pagi.
Dimana, dia terus-menerus melihat wajah Zada yang merona akibat terus- menerus mendapatkan gombalan receh darinya. Kemarin, selain membelikan beberapa buku yang ia minta, Aden juga mengirimkan beberapa Vidio gombalan receh yang dapat membuat hati wanita berbunga- Bungan layaknya sedang berada di taman bunga.
Bahkan, Zada yang biasanya galak dan cerewet, tiba-tiba menjadi sering salah tingkah.
Ketika lift sudah terbuka, Mereka berpapasan dengan seorang wanita cantik dengan penampilan yang begitu elegant. Hanya melihat dari penampilannya saja sudah dapat memperlihatkan bahwa dia adalah sosok wanita yang sangat paham dengan Fashion.
" Selamat pagi Direktur Anna," sapa Aden pada Annabeth selalu direktur departemen perancangan.
" Selamat pagi Direktur Gevariel," sapa Direktur Anna.
__ADS_1
" Pagi," sahut Geva yang kembali menampilkan wajah dingin.
" Sepertinya moodmu tadi baik, tapi kenapa tiba-tiba berubah dingin lagi,hem?"tanya Direktur Anna yang berubah bersikap santai. Tidak seformal tadi karena pada dasarnya, hubungan mereka adalah teman di luar kantor.
" Tidak ada. Oh ya, bagaimana dengan persiapan acara Pagelaran?"tanya Geva yang berubah menjadi membahas pekerjaan.
" Sudah enam puluh persen, dan hari ini aku ada jadwal pergi ke Nuraga Fashion untuk melihat persiapan di sana," jawab direktur Anna.
"Nuraga Fashion ...," ulang Geva yang langsung teringat akan istrinya yang bekerja sebagai desainer di sana.
" Kalau begitu, aku akan ikut," celetuk Geba yang seketika membuat Direktur Anne langsung menoleh ke arahnya.
" Untuk apa? No ... no ...maksudnya tumben kamu ingin ikut mengecek masalah seperti ini," terang Anne.
"Anda sudah sampai," ucap Geva memberitahu ketika pintu lift sudah terbuka. dengan berat hati, Direktur Anne pun segera keluar karena kalau tidak, pintu akan tertutup untuk lanjut ke lantai tujuan selanjutnya.
Ketika pintu sudah tertutup, Geva langsung menyuruh Aden mengatur ulang jadwalnya karena hari ini dia mau pergi ke perusahaan dimana istrinya bekerja. Untung-untung kalau bisa sekalian makan siang bersama.
Sementara Aden hanya bisa menghela nafas panjang ketika melihat sikap bosnya yang mulai aneh.
Sepertinya, virus bucin mulai menyerang seorang Gevariel.
...***...
Di sebuah ruangan dengan meja panjang yang terbentang, terlihat Zada dan anggota timnya tengah sibuk untuk segera menyelesaikan beberapa rancangan pakaian Flower theme. Apalagi, hari ini dia mendengar bahwa direktur kantor pusat akan datang untuk mengecek persiapan yang ada di sini.
" Supervisor Zada, sepertinya jenis kain sutra lebih cocok,"usul seorang wanita dengan style rambut kuncir kuda.
Zada pun mengambil contoh kain sutra dan menempelkannya pada patung peraga. Lalu, sedikit mundur agar bisa melihat dengan jelas apakah kain itu cocok untuk desain Love rose.
" Sepertinya memang jauh lebih cocok."
Setelahnya, Zada segera mengarahkan semua timnya untuk segera menyelesaikan sampel busana itu agar bisa segera di kirim ke tim produksi.
Ketika sampel hampir selesai di buat, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. salah satu karyawan segera membuka pintu itu dan terlihat seorang wanita cantik nan elegan perlahan berjalan memasuki ruangan.
Namun, tatapan Zada justru fokus pada seseorang yang datang bersama dengan direktur perancangan daei kantor pusat.
__ADS_1
...****************...
Ehm, virus bucin mulai menyerang.asik...