
Sepulang dari kantor, Reya langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang. Semenjak hamil, Reya mudah sekali merasa lelah, mengantuk,lapar,perut kram dan punggung sakit. Tapi,untungnya tak ada drama mual muntah karena hal itu sudah di wakili oleh Aden.
" Masih trimester pertama sudah begini, bagaimana nanti kalau sudah hamil besar!"gumam Reya seraya mengusap perutnya yang mulai membuncit. Efek nafsu makan yang melonjak,membuat tubuh Reya cepat sekali naik. Baru juga tiga bulan hamil, berat badannya sudah naik lima kilo.
Di saat seperti ini,tiba-tiba pembicaraannya bersama tadi seakan terlintas kembali.
" Rey, kenapa sampai sekarang kamu belum menerima Aden? Apa kamu masih kekeh ingin merawat anak itu sendiri?"tanya Zada yang merasa kalau sahabatnya itu sangatlah keras kepala. Padahal, biasanya pihak wanita yang mengemis minta tanggung jawab pada pria ketika hamil di luar nikah,tapi Reya ... Dia justru terus-menerus menolak niat baik Aden yang ingin bertanggung jawab.
" Kalau ngurus sendiri aja bisa,buat apa orang lain. Lagipula, itu hanyalah sebuah kecelakaan yang terjadi tanpa di sengaja. Jadi,aku gak butuh pertanggung jawaban dari dia."
" Oke,aku tahu. Saat ini mungkin kamu bisa mengatakan kalau tak butuh pertanggung jawaban dari Aden,tapi anak itu ..." Zada menunjuk perut Reya yang mulai kelihatan buncit.
" Ingat Rey,kita hidup di negara dimana ibu tunggal itu adalah sesuatu yang__" Zada seakan tak mampu mengatakannya karena takut menyinggung perasaan Reya. Apalagi saat ini sahabatnya itu sedang hamil, dimana hormon estrogennya sedang meningkat dari jumlah normal yang membuatnya mudah emosi, mudah tersinggung,dan lain sebagainya.
Melihat Reya yang hanya diam saja,membuat Zada menggenggam tangan sahabat yang sudah seperti keluarga baginya.
" Aku tahu kamu bakalan bisa merawatnya dengan baik,aku pun juga akan membantu. Tapi,Rey ... dia juga butuh status yang jelas agar nantinya tak jadi bahan bullyan oleh teman, dan orang-orang di sekitarnya."
" Lagipula, aku tahu betul kalau Aden adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Jadi, aku yakin jika dia pasti akan bisa menjadi ayah dan suami yang baik buat kalian berdua. Soal cinta,itu akan berjalan dengan sendirinya seperti aku dan Geva."
Di saat Reya masih sibuk dengan lamunannya,tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.
" Siapa yang datang?"
Mendengar pintu terus di ketuk tanpa henti,membuat Reya beranjak bangun dari tidurnya,lalu berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
" Aden ...," lirih Reya saat tahu siapa yang datang.
Aden tersenyum dengan manisnya. "Aku datang untuk mengantarkan serabi,rujak buah, dan ayam bakar," ucap Aden seraya memperlihatkan beberapa kantong plastik berisi makanan yang sempat Reya inginkan.
Dahi Reya berkerut,dia cukup terkejut saat melihat Aden datang dengan membawa makanan yang ia inginkan. Padahal,setahu Reya Aden sudah ia block. Jadi,mana mungkin bisa melihat status yang ia buat.
" Kamu tahu darimana kalau aku___"
" Kontak batin,"sela Aden yang membuat Reya melongo.
__ADS_1
Apakah ada hal seperti itu?
" Ambil, dan makanlah dengan kenyang biar dedek utun senang."
Reya mengambil beberapa kantong plastik berisi makanan itu,setelahnya Aden tiba-tiba sedikit membungkukkan badannya agar bisa sejajar dengan perut Reya.
" Dek, Malam ini Papa udah turutin keinginan Adek. Jadi,makan yang lahap ya, dan jangan menyusahkan Mama. Baik-baik di dalam sana," pesan Aden begitu lembut pada sebuah janin yang masih ada di dalam perut. Ingin rasanya Aden mengusap perut Reya,tapi ia coba tahan karena tahu jika ibu dari anaknya akan marah jika di sentuh.
Melihat Aden yang begitu tulus mengajak berbicara bayi di dalam perutnya,membuat Reya tersentuh. Apalagi jika mengingat betapa siaganya dia selama ini yang selalu saja ada di saat Reya butuh.
" Kalau gitu,Papa pamit pulang dulu ya ... Selamat tinggal anak baiknya Papa,"pamit Aden sebelum pergi.
" Aku pulang dulu,ya. Jangan lupa segera di makan, mumpung masih hangat." Setelahnya, Aden beranjak pergi meninggalkan Reya yang masih diam mematung.
" Aden ...,"panggil Reya yang seketika membuat langkah Aden terhenti, lalu berbalik menghadap ke arah Reya.
" Ya, ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan lagi? Jika ada, biar aku carikan!"kata Aden.
Entah kenapa,tiba-tiba Reya merasa sangat gugup sekali untuk mengatakannya. Bahkan,ia sampai menarik nafas dalam-dalan, lalu ...
Walau Reya berkata dengan memasang wajah datar dan dingin, sudah membuat Aden merasa senang karena perkataan itu seakan sebuah bentuk persetujuan dari Rey untuk menikah dengannya.
" Tentu saja, apa kamu sudah bersedia untuk menikah denganku?"ucap Aden yang kembali melontarkan sebuah kalimat lamar.
" Em." Reya mengangguk malu-malu,membuat Aden tersenyum lebar. Akhirnya, Reya setuju juga untuk menikah dengannya. Walau hubungan mereka tak berawal dari kata cinta, tapi Aden janji akan belajar mencintai dan membahagiakan Reya serta calon anak mereka.
...***...
Jika Aden sedang merasa bahagia karena Reya akhirnya setuju menikah dengannya. Lain halnya dengan Geva yang masih sibuk menata sebuah dekorasi makan malam romantis agar sang istri tak lagi marah dengannya. Pasalnya,jika Zada terus-menerus marah serta cuek padanya seperti ini,mana bisa mereka membuat anak. Jangankan membuat anak,tidur saja terpisah.
" Akhirnya selesai juga!" lirih Geva seraya menepuk-nepuk kedua telapak tangannya layaknya sedang menepis debu yang menempel di sana.
Tak lama kemudian,terdengar suara kunci pasword rumah di pencet.
" Selamat datang di rumah sayang," sambut Geva dengan menampilkan wajah sumringah.
__ADS_1
Bukannya ikut tersenyum, Zada justru merasa ada sesuatu aneh yang terjadi pada suaminya. Apalagi saat melihat Geva masih memakai apron, serta rumah yang di dekorasi sedemikian rupa, membuat Zada merasa dejavu.
" Ada apa ini?"tanya Zada yang seketika membuat senyum Geva memudar.
" Kok ada apa sih!"kesal Geva yang merasa kalau Zada tak bisa menghargai usaha kerasnya.
" Ya,terus aku harus bagaimana. Jingkrak-jingkrak dan bilang, wah ... sayang lagi buat apa ini ...," Zada mengatakan kalimat itu dengan memasang ekspresi manja dan lucu.
" Gak perlu jingkrak-jingkrak juga sih, kayak anak kecil aja! Cukup tersenyum dan senang atas kejutan yang aku berikan."
" Oh ... terimakasih atas kejutannya, tapi kejutan dalam rangka menyambut hari apa,ya?" Zada kembali bertanya seakan tak tahu apa maksud dari Geva.
" Bukan apa-apa kok, aku hanya ingin mempersialkannya saja.*
" Oh,ya?"sahut Zada yang terlihat seakan tak percaya.
Berhubung malas berdebat, Geva langsung menggiring tubuh Zada berjalan menuju meja makan dan mendudukannya di kursi.
Melihat meja makan yang sudah penuh dengan berbagai menu makanan kesukaannya,membuat Zada paham jika ada udang di balik bakwan. Ada maksud terselubung dari apa yang Geva lakukan.
" Katakan saja,jika ada sesuatu yang ingin kamu ucapkan padaku."
" Sayang ... bisakah___"
" Aku lelah dan sudah kenyang. Jadi, katakan saja sekarang sebelum aku berubah pikiran."
" Za, kenapa kamu berubah jadi seperti ini?"
" Berubah? Masak sih! Perasaan biasa aja."
" Za, aku benar-benar minta maaf yang sedalam-dalamnya,dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya kembali. Jadi,stop ya ... jangan marah terus seperti ini,"pinta Geva dengan memasang wajah mengiba.
" Baiklah, tapi jika sampai ada kejadian serupa terjadi lagi. Jangan salahkan aku jika akan pergi meninggalkanmu tanpa ada kata pamit. Karena bagi seorang Zada, tak ada kata maaf bagi seseorang yang berkhianat."
...****************...
__ADS_1