Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 69 : Tidak hamil


__ADS_3

Kini, pasangan suami istri itu terlihat semakin blak-blakan dan tak segan-segan untuk memposting kebersamaan dan keromantisan mereka ke media sosial. Para haters yang awalnya menghakimi Zada, justru berubah menjadi penggemar. Bahkan, sampai sudah ada sebuah akun penggemar mereka.


Berhubung Geva ada hal yang begitu penting, membuatnya harus pulang ke Indonesia lebih cepat dari jadwal.


" Sayang, setelah urusan kita selesai. Ayo liburan ke shanghai,"ajak Geva.


" Shanghai?Ngapain?"


" Aku mau mengenalkan kamu ke keluarga Mama, sekaligus mengecek anak perusahaan serta pabrik yang ada di sana," terang Geva.


" Mama masih punya keluarga di Shanghai?"tanya Zada yang memang tak tahu soal itu.


Geva mengangguk." Tentu saja, bahkan sebelum menjabat sebagai CEO di kantor pusat aku bekerja mengurus perusahaan yang ada di sana."


" Oh ..." Zada hanya manggut-manggut mengerti.


Dan tak lama kemudian, mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan perusahaan Nuraga grup.


" Sayang,ikut yuk," ajak Geva yang seakan tak ingin berpisah dengan istrinya. Akibat beberapa hari ini selalu bersama selama dua puluh empat jam sampai membuat Geva seakan tak mau pisah dengan Zada walau sedetik pun.


" Tapi aku capek dan ingin segera rebahan di atas kasur. Jadi, aku pulang saja,ya ..."tolak Zada dengan memasang wajah lelah.


" Di kantorku juga ada kamar kecil yang di dalamnya ada kasurnya. Jadi,kamu bisa rebahan di sana kalau mau,"kata Geva yang masih kekeh ingin Zasa menemaninya ke kantor.


Sementara Zada sudah terlihat bingung harus menolak bagaimana lagi. Jujur,tubuhnya sangat lelah,letih dan lesu. Apalagi, selama beberapa hari ini Geva tak pernah absen untuk main kuda-kudaan, membuat energi Zada seakan terkuras habis.


Geva tersenyum,lalu mengusap lembut puncak kepala Zada. " Kalau begitu pulang dan istirahatlah. Tidak usah melakukan pekerjaan terlebih dahulu."


Zada mengerutkan keningnya, dia seakan bingung dengan perubahan sikap suaminya. Baru saja beberapa detik yang lalu,ngotot menginginkan untuk tetap tinggal. Eh, beberapa detik kemudian justru menyuruhnya untuk pulang. Ini yang benar yang man sih? Pulang atau tegal tinggal.


" Kok diam saja, kamu gak mau pulang?"


" Mau!"sahut Zada cepat,membuat Geva tertawa lepas.


" Menggemaskan sekali,"ucap Geva seraya mencubit gemas pipi istrinya. Setelahnya,Geva mencium bibir Zada singkat,lalu segera keluar dari mobil.


" Pak, Hati-hati bawa mobilnya,ya."pesan Geva pada Sang supir.


" Baik Tuan."


" Nanti,hubungi aku kalau sudah sampai rumah."


" Em." Zada mengangguk, setelahnya mobil itu langsung melesat pergi menjauh meninggalkan perusahaan Nuraga grup.


Di kejauhan,terlihat sepasang mata yang ternyata sejak tadi memperhatikan kemesraan sepasang suami istri yang sedang bucin-bucinnya itu. Tangannya mengepal,raut wajahnya terlihat sangat kesal dan masam karena tak suka melihat kemesraan itu.


" Awas saja, aku tak akan membiarkan hubungan kalian bertahan lama!"ucap wanita itu yang berencana akan merusak hubungan Geva dan Zada.

__ADS_1


...***...


Sepertinya, wajah Anda jauh lebih segar dan bercahaya sepulang dari honeymoon,bos,"kata Aden yang membuat Geva senyum-senyum sendiri.


Tentu saja bercahaya, orang setiap hari selalu mendapatkan amunisi dari sang istri.


" Makanya,A menikahlah biar kamu tahu indahnya asmara kehidupan pernikahan. Sama biar tuh pusaka juga ada gunanya, tak hanya di pakai untuk buang air kecil saja,"canda Geva yang tengah mengiming-imingi Aden. Pasalnya selama Aden bekerja dengannya, Geva tak pernah melihat pria itu dekat dengan wanita manapun. Apa jangan-jangan ...


" A,"panggil Geva dengan tatapan penuh selidik.


" Ada apa,bos?"


" Kamu masih suka wanita 'kan?"tanya Geva memastikan.


" Te-ntu saja,bos!"jawab Aden sedikit tergagap.


Geva menghela nafas beratnya.


" Syukurlah kalau kamu masih suka wanita, jangan sampai kamu suka sesama pisang!"


" Memangnya kenapa,bos?"Aden justru bertanya dengan polosnya.


"Karena ... sebentar,kenapa kita justru bahas beginian?" kata Geva yang merasa aneh sendiri ketika menyadari kalau apa yang mereka bahas jauh dari masalah pekerjaan.


" Sudahlah, tidak usah bahas begituan lagi. toh kamu juga belum pernah tau rasanya."


"Huh?" Geva melongo.


" Maksud kamu apa,A?"tanya Geva memastikan.


" Bos, sebentar lagi meeting akan segera di mulai. Semua materi sudah saya siapkan. Setelah itu, anda juga ada jadwal temu dengan Pak Abian direktur Nuraga Fashion ...." Aden terus membacakan jadwal Geva hari ini untuk mencoba mengalihkan pembicaraan. Pasalnya, dia tak mau ketahuan jika sudah melakukan hal itu tapi pada akhirnya di hempaskan begitu saja. Bahkan, sejak hari itu Reya akan bersikap sangat dingin jika mereka kebetulan berpapasan,layaknya tak pernah terjadi sesuatu diantara keduanya.


...***...


Jika Geva langsung di sibukkan dengan jadwal pekerjaan yang padat,Zada justru mencoba merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang sudah lama tak ia tempati.


Rasa lelah,kantuk,dan pusing akibat jetlag bercampur menjadi satu,membuat Zada ingin segera memejamkan mata. Namun,siapa sangka jika ada sebuah panggilan masuk dari Geva.


" Halo,ada apa?"tanya Zada dengan suara sedikit parau.


" Kamu sudah sampai rumah sayang?"tanya Geva khawatir karena Zada belum memberikan kabar padanya. Padahal, dia sudah memiliki ponsel baru yang Geva belikan.


" Sorry, aku baru saja sampai. Makanya belum memberikan kabar."


" Kenapa suaramu jadi parau begitu sayang?"


" Oh,mungkin karena sudah terlalu lelah,"jawab Zada yang merasa kalau tubuhnya mulai hangat dan meriang.

__ADS_1


" Kalau begitu,istirahatlah. Selamat tidur sayang ...." Tak lupa pula, Geva memberikan sebuah kiss virtual.


Setelah panggilan di matikan,Zada langsung menutup matanya yang sudah terasa begitu berat.


...***...


" Hei,pemalas! Bangun!" bentak ketua geng yang mencoba membangunkan Veena dengan menggunakan kakinya.


Kondisi Veena yang tak enak badan pun,membuatnya enggan untuk bangun.


" Hei,Pena! Bangun ... jangan jadi wanita pemalas!!!"hardik Sang ketika geng.


" Bisakah kalian jangan berisik! Kepalaku pusing denger suara cempreng kalian!"sarkas Veena.


" Kurang ajar, bukannya bangun! malah berani-beraninya lo membantah perintah gue! Lo mau gue jadikan bubur manusia,"ancam Sang wanita dengan tubuh besar dan wajah sangar.


" Serah lu,dah! Mau ngomong apa, yang penting buruan bangun! Soalnya hari ini jadwal kita piket masak untuk orang-orang."


" Kalau begitu,kalian saja 'kan katanya kalian pinter dan berasal dari kaum rendahan. Jadi, pasti pada pinter masak 'kan kalau gue mah gak bisa plus lagi meriang,"kata Veena yang masih saja belum berubah, masih saja sombong dan suka menghina orang lain.


Para anggota geng yang tak terima pun langsung membangunkan Veena secara paksa. Lalu,membopong tubuhnya keluar dari ruangan sel menuju dapur.


" Sudah sana,masak. Gue udah lapar ini!"titah Sang ketua Geng yang terus memperhatikan gerak-gerik Veena.


Veena yang mmemang tak enak badan,pun tiba-tiba merasa sangat pusing berputar-putar dan tak lama kemudian jatuh pingsan diatas lantai.


" Astaga!"pekik semua orang yang kaget saat melihat Veena jatuh pingsan.


" Hei,Pena! Bangun, jangan pura-pura pingsan lo!"ujar sang ketua Geng.


" Ada apa ini?"tanya seorang petugas kepolisian yang datang akibat mendengar sebuah teriakan dan ramai-ramai.


" Ada yang pingsan bu pol,"jawab salah satu dari mereka.


anggota polisi ojn menghampiri dan melihat kondisi Veena yang begitu lemah. Setelahnya, mereka segera membawa Veena ke rumah sakit.


Mendengar kabar kalau Veena jatuh pingsan,membuat Tiabitha dan Emerald cemas dan segera datang ke sana. Sesampainya di rumah sakit,bertepatan dengan Sang dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.


" Dokter,bagaimana dengan kondisi cucu saya? Apakah dia baik-baik saja?"tanya Mama Tabitha cemas. Alih-alih menanyakan kondisi Veena, Tabitha justru mencemaskan anak yang di kandung oleh Veena.


" Anak?"ulang Sang Dokter bingung saat keluarga pasien menanyakan soal anak.


" Iya,anak. Menantu saya 'kan sedang mengandung, jadi bagaimana keadaannya?"papar Tabitha.


" Tapi Ibu Veena sedang tidak dalam kondisi hamil."


" Huh?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2