
Dikarenakan Zada terus mengunci kamarnya, membuat Geva terpaksa harus kembali tidur sendiri. Alhasil, semalam tidurnya tak senyenyak jika tidur bersama Zada.
"Ternyata, tidur bersama istri itu benar-benar jauh lebih nyaman walau tangan harus kebas, tubuh sakit karena di tendang" gumam Geva yang meratapi nasibnya.
Dikarenakan hari libur telah usai, maka dia harus kembali bekerja. Apalagi hari ini akan banyak urusan yang masih harus di selesaikan.
Selesai mandi dan bersiap-siap, Geva langsung keluar dari kamarnya dan berharap bisa bertemu dengan sang istri yang biasanya sedang memasak di dapur. Tapi ternyata dapur begitu bersih, tak ada bekas orang selesai memasak.
Geva pun mencoba mencari Zada di kamarnya, dan ternyata gadis itu sudah tak ada.
" Za ... kamu dimana sayang?" Geva terus memanggil Zada, dan mencoba mencarinya kemana-mana. Di kamar tak ada, kamar mandi tak ada, ruang kerja pun tak ada. Hal itu tentu membuat Geva semakin panik, rasa kecemasan, ketakutan di tinggal pergi pun langsung meningkat. Bahkan, kenangan di masa lalu tiba-tiba terlintas kembali bagaikan kaset rusak berputar-putar di kepala Geva.
" Catherine, jangan pergi!" Geva mencoba menghentikan sang istri yang sudah membawa kopernya untuk pergi meninggalkannya.
" Gev, lepaskan!"pinta Catherine yang tetap kukuh ingin pergi meninggalkan Geva.
" Sayang, coba kita bicara baik-baik, oke. Jika ada yang membuatmu tak puas padaku, katakan. Aku akan memperbaikinya tapi tolong jangan tinggalkan aku." Geva sudah seperti seorang pengemis, pengemis cinta yang memohon-mohon pada istrinya agar tak di tinggalkan pergi.
" Gev, sudah tak ada lagi yang bisa di bicarakan dan hubungan kita memang sudah cukup sampai di sini. Jadi, anggap saja jika ini adalah terakhir kali kita bertemu."
Setelahnya, Catherine berjalan pergi meninggalkan Geva yang masih termenung.
Kepala Geva tiba-tiba menjadi pusing, penglihatannya pun ikut kabur. Namun, dia terus berusaha untuk tetap berjalan dengan berpegangan tembok sebagai penopang.
" Bos ...," pekik Aden tatkala melihat Geva tiba-tiba terjatuh.
...***...
" Zada ...," panggil Emerald seraya berlari menghampiri Zada.
" Pak Emerald, ada apa?"tanya Zada bingung saat melihat Emerald tiba-tiba berlari menghampiri dirinya.
"Ada yang ingin aku bicarakan, tapi sepertinya tidak enak jika di sini," ujar Emerald seraya melihat ke samping kanan dan kiri.
__ADS_1
Sementara Zada justru melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. " Tapi mohon maaf Pak Emerald, saya tidak bisa," tolak Zada yang masih bersikap sopan dan formal karena bagaimana pun, Emerald tetap atasannya di kantor.
Siapa sangka, tiba-tiba Emerald meraih tangan Zada membuat gadis itu langsung menepisnya.
" Tolong jaga sikap anda Pak Emerald! Kita sedang berada di kantor, jangan sampai ada orang yang salah paham dengan perbuatan anda barusan!" ucap Zada memberi peringatan.
" Za ...," Emerald kembali memanggil ketika Zada beranjak pergi meninggalkan dirinya. Melihat Zada yang masuk ke dalam lift, Emerald pun ikut menerobos masuk.
" Za, kenapa kamu begitu berubah?" ucap Emerald ketika mereka sudah berada di dalam lift berdua.
Zada tersenyum kecut." Sebenarnya bukan berubah, hanya kembali ke mode Zada yang asli saja."
" Mode yang asli? " ulang Emerald bingung.
" Jika sekarang adalah kamu yang asli,lalu saat bersamaku dulu apa dan siapa?"
" Pikir saja sendiri!" tandas Zada yang sudah malas berbicara. Untungnya, pintu lift sudah kembali terbuka sehingga membuat Zada tak perlu berlama-lama berduaan dengan Emerald di dalam lift.
" Za ..." Emerald masih terus mengikuti Zada sampai ke ruangan kerja gadis itu bersama istrinya. Namun, hari ini Veena tak ada karena dia sedang menjalani hukuman di penjara atas perbuatannya.
" Aku tahu, lagipula aku datang ke sini bukan untuk mencari Veena tapi berbicara denganmu," papar Emerald.
Zada menghela nafas berat. " Tapi saya tidak ada waktu, jadi lebih baik anda pergidari ruangan saya!" usir Zada seraya mencoba membuka pintu.
" Maafkan Veena," ucap Emerald yang membuat Zada menurunkan tangannya. Kini, Zada beralih menata wajah Emerald yang mengiba.
" Jadi, dari tadi kamu mendekatiku hanya untuk berkata seperti ini!" Kini, Zada sudah kembali menggunakan kata 'aku' dan 'kamu' saat berbicara.
Entah kenapa, tiba-tiba Zada merasa kecewa ketika melihat Emerald terus berjuang mengikutinya demi Veena. Zada kira, hatinya benar-benar sudah tak ada lagi nama Emerald tapi nyatanya dia masih saja merasa tak suka jika pria itu melakukan sesuatu untuk wanita jahat dan licik itu.
" Za, aku tahu Veena salah tapi bisakah ringankan hukumannya. Kasihani dia yang sedang hamil, jadi___"
" Hamil?"ulang Zada yang memang tak tahu soal kehamilan Veena.
__ADS_1
Emerald menunduk malu karena akhirnya dia berkata jujur soal kehamilan Veena pada wanita yang sampai saat ini belum sepenuhnya hilang dalam hatinya tapi dia juga tak tega saat melihat Veena terus menangis meminta di keluarkan dari penjara. Apalagi saat ini kondisinya sedang hamil anaknya.
Hamil?
" Rald, jika kamu ingin meminta keringanan dariku. Maaf, aku tidak bisa,"tolak Zada yang tak mau begitu mudahnya mengasihani serta memaafkan seseorang seperti Veena.
Dia merebut Emerald, Zada sudah rela. Veena mencuri desain miliknya, Zada juga masih toleran untuk tidak memperpanjang kasus itu. Tapi sekarang, dia sudah benar-benar tidak bisa toleran. Karena wanita licik seperti Veena tipe orang yang tidak kenal rasa terimakasih atau rasa sungkan.
Jika saat ini Zada kembali memberikan toleran, maka Veena bisa berbuat lebih buruk lagi dari ini untuk balas dendam.
" Za, bisakah sedikit berbaik hati? Bukankah kamu juga seorang wanita? Coba kamu pikirkan bagaimana kalau kamu berada di posisi Veena, ketika hamil harus berada di penjara."
Zada menarik sudut bibirnya. " Apa aku tidak salah dengar? Kamu berbicara soal berbaik hati? dan menyuruhku untuk memikirkan dia? Lalu, apakah kamu pernah berpikir bagaimana dengan aku? Rald c'mon, jangan buta dan terlalu bodoh! "
" Lagipula, Aku tak mau memikirkannya karena aku bukan Veena. Jadi, sekarang pergi dari ruangan ku!" Zada kembali mengusir Emerald. Bahkan, dia tak segan-segan menarik dan mendorong laki-laki itu keluar dari ruang kerjanya.
Tubuh Zada beringsut luruh ke lantai, dia benar-benar tak pernah mengira bahwa Emerald akan bersikap seperti ini. Alih-alih bertanya tentang bagaimana dirinya, ini dia justru mencoba meminta maaf agar ia membantu meringankan hukuman istrinya. Sepertinya, Zada benar-benar tak pernah berarti bagi Emerald.
...***...
Seusai mendapatkan pemeriksaan, Geva mulai sadarkan diri. Dan hal pertama yang ia cari adalah Zada.
" Aden, mana istriku?"tanya Geva panik.
" Anda tenang saja bos, nyonya sedang ada di kantor," kata Aden memberitahu.
" Kamu serius?" Geva mencoba memastikan.
Aden mengangguk, membuat Geva langsung merasa lega.
" Kalau begitu, kita pergi ke kantor Nuraga Fashion!"titah Geva yang berusaha bangkit dari duduknya. Namun, tiba-tiba kepalanya kembali merasa pusing.
" Anda tenang dulu bos, jangan memaksakan diri."
__ADS_1
...****************...