
"Em ..."
Semua terlihat antusias mendengarkan, begitupun dengan Zada yang terlihat deg-degan takut jika Mita tahu siapa laki-laki yang bersamanya tadi.
" Mit,buruan!udah penasaran nih!"kesal Amel yang sejak tadi sudah menunggu informasi dari Mita.
" Kalian buruan kembali kerja!"titah Zada yang mencoba untuk menghalau pembicaraan ini. Jujur, dia sangat takut jika statusnya sebagai nyonya bos akan terbongkar. Pasalnya, Zada tak ingin di anggap bisa menjadi seperti sekarang karena statusnya itu. Walau sebelumnya Gevalah yang membantu membongkar kecurangan Veena hingga menunjuknya sebagai ketua tim, tapi ide desain semua murni dari kerja kerasnya sendiri.
" Supervisor Zada, sebentar lagi tanggung!"timpal karyawan lainnya yang masih kepo.
" Sudahlah, kalian kembali kerja saja. Lagian, aku juga tidak terlalu jelas dengan wajah kekasih Supervisor Zada,"terang Mita yang membuat semua orang kecewa.
" Huuuu ....," sorak semua orang yang merasa sia-sia telah menunggu. Sedangkan Zada langsung merasa lega saat mendengar Mita tak melihat dengan jelas wajah Geva.
Sebenarnya, Mita cukup jelas hanya saja dia masih ragu apakah itu benar Tuan Gevariel CEO Nuraga grup atau hanya mirip dari samping saja? Pasalnya, dia seakan tak percaya jika seorang Zada bisa menjadi kekasih Tuan Geva. Lagipula, Mita tahu jika Zada sudah berpacaran cukup lama dengan kekasihnya, sementara Tuan Geva belum ada satu tahun kembali ke Indonesia. Jadi, mana mungkin! Toh, bukankah Tuan Geva dekatnya dengan Direktur Anna?
" Mita, fokus bekerja! Jangan melamun!"tegur Zada.
" I-iya supervisor Zada."
Setelahnya semua team desain kembali sibuk dengan tugas masing-masing.
...****...
Di sebuah meja makan, terlihat keluarga Emerald tengah menikmati makan malam bersama.
" Oh,ya Veen. Kamu seriusan, gak mau periksa ke dokter?"tanya Mama Veena khawatir. Pasalnya, beberapa hari ini Veena terus-menerus mengeluh lemas, dan malas gerak. Bahkan, sudah beberapa hari dia tidak masuk kerja. Sebenarnya, tak masalah juga Veena mau kerja apa tidak, toh penghasilan Emerald juga sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ditambah lagi, Veena sedang hamil muda dimana dia memang harus lebih banyak istirahat karena usia segitu kandungannya masih sangat rawan keguguran jika terlalu capek.
" Gak perlu, Ma. Lagipula, Veena sudah jauh lebih baik kok, " tolak Veena.
" Rald!" panggil Mama Bitha pada putranya yang justru asyik bermain game sambil menikmati makanannya.
Melihat anaknya yang tak kunjung mendengar panggilannya,membuat Mama Veena langsung mencopot headset yang menutup telinganya.
" Mama apaan sih!"omel Emerald ketika sang Mama mencabut headsetnya secara paksa.
" Kamu itu yang kenapa? udah tua masih aja main game! Daripada main game, lebih baik kamu itu banyak-banyak belajar untuk meningkatkan kualitas diri agar bisa naik pangkat menjadi CEO!"omel Mama Bitha.
__ADS_1
"Jabatan itu 'kan sudah ada yang menempati,Ma!"
" Maka dari itu, kamu pikirkan cara untuk menggeser si Abian itu. Walau kamu tak bisa menggeser posisi Geva, setidaknya kamu bisa menjabat sebagai CEO di Nuraga Fashion. Dan satu lagi, lebih perhatikan istri dan calon anakmu!" lanjut Mama Bitha yang berbicara panjang lebar tanpa henti.
Emerald hanya bisa mendengus kesal, setelahnya bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan meja makan.
" Emerald!" panggil Mama Bitha yang tak di hiraukan oleh Emerald.
" Ni anak, main pergi begitu saja. Apa tidak tahu jika Mamanya masih belum selesai bicara," kesal Mama Bitha pada sikap putra semata wayangnya itu.
" Sudah, Mama jangan emosi terus. Mungkin Rald sedang capek dan lagi banyak pikiran. Soalnya, sebentar lagi perusahaan akan mengadakan pagelaran," tutur Veena yang mencoba menenangkan mertuanya.
Walau sebenarnya dia juga ikut kesal dengan sikap Emerald yang semakin dingin padanya, tapi Veena harus tetap terlihat menjadi istri yang sabar, pengertian, lemah lembut di depan mertuanya. Intinya, dia harus bisa memperlihatkan sebagai istri dan menantu sempurna agar terlihat pantas.
Mama Bitha menghela nafas panjangnya.
" Kamu tuh, sabar dan pengertian sekali. Beruntung Emerald bisa menikah dengan kamu,"puji Mama Bitha.
Veena tersenyum, akhirnya ia berhasil membuat image yang baik di depan mertuanya.
" Oh, ya Veen. Kalau kamu mau memeriksakan kandungan, ajak Mama ,ya. Soalnya Mama ingin melihat perkembangan calon cucu Mama," ucap Mama Bitha yang membuat senyuman di bibir Veena mulai memudar menjadi rasa gelisah.
...***...
Waktu terus berjalan tanpa henti, hari demi hari telah berlalu. Berhubung sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga membuat hubungan suami istri itu masih bisa dikatakan belum banyak mengalami perubahan. Pasalnya, Zada masih terus membentengi dirinya untuk tidak mudah terlena akan sikap perhatian, dan manis dari Geva.
Seminggu ini Geva sedang pergi dinas keluar Negeri. Walau jarak memisahkan mereka,tapi Geva masih rutin menghubungi Zada lewat panggilan telepon dan juga Vidio call.
" Pagi honey ...," sapa Geva di ujung telepon. Baru juga jam enam pagi, Geva sudah melakukan panggilan Vidio call.
" Pagi juga," jawab Zada seraya menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Reya. Ya, selama Geva pergi, Reya menginap untuk menemani Zada. Awalnya, Zada meminta izin untuk tinggal di rumah sewa saja tapi Geva menolak dengan alasan keamanan di sana kurang bagus. Apalagi, akhir-akhir ini banyak sekali kasus kejahatan.
Berhubung Penthouse milik Geva lebih dekat dari perusahaannya bekerja, serta memiliki fasilitas jauh lebih bagus dan lengkap daripada rumah sewa, membuat Reya tak keberatan tinggal di sana. Di tambah lagi, Geva menyediakan supir pribadi untuk mengantar mereka pergi kemana-mana semakin membuat keduanya menjadi terlihat layaknya para wanita sukses.
" Kamu sedang apa sayang?"tanya Geva yang terus menatap Zada tanpa berpaling. Seminggu tak bertemu membuatnya menjadi rindu.
" Memasak,"jawab Zada sambil mengalihkan posisi kamera ke arah masakan yang sedang ia masak.
"Wow, sepertinya enak. Jadi rindu dengan masakan istriku,"gombal Geva.
__ADS_1
"Huwek!"terdengar suara Reya yang eneg dengan ucapan manis dari Geva.
" Siapa itu honey?"tanya Geva.
" Tuan Geva, apakah anda tidak eneg dan bosan pagi-pagi sudah menggombal?" ejek Reya yang tiba-tiba ikut bergabung.
" Kenapa harus eneg dan bosan?" Geva justru kembali bertanya.
" Ya, karena sepertinya Zada masih belum luluh dengan gombalan anda," goda Reya yang semakin memancing keadaan.
" Walau Zada tidak luluh, tapi dia tetap istri saya!"tukas Geva tak mau kalah.
" PD sekali, gimana kalau tiba-tiba saya bawa Zada pergi ke tempat yang jauh?"
" Jangan macam-macam kamu Reya!" raut wajah Geva langsung berubah menjadi cukup mengerikan ketika mendengar Reya ingin membawa Zada pergi.
" Sudah-sudah, aku mau sarapan dan siap-siap pergi bekerja," lerai Zada yang tak mau perdebatan ini semakin jauh.
" Lo nggak asik, ah!" dengus Reya seraya pergi menjauh.
" Za ...," panggil Geva yang kembali lembut.
" Em."
" Jangan pernah pergi," ucap Geva dengan wajah mengiba.
Zada hanya bisa menghela nafas panjang.
" Tuan Gevariel yang terhormat, sekarang coba anda pikirkan. Bagaimana saya bisa pergi jauh jika anda menyediakan beberapa penjaga untuk terus memantau saya,hem?"
Geva tersenyum, dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memiliki syndrom tak bisa di tinggalkan membuat Geva mempunyai kecemasan tersendiri.
" Sudah ya, aku matikan,"pamit Zada.
" Tunggu, apakah tak ada kiss perpisahan?"
Zada menggeleng, lalu mematikan panggilan secara sepihak.
" Suamimu sepertinya benar-benar udah bucin deh sama Lo,Za. Tapi kenapa Lo yang justru lempeng-lempeng aja?"tanya Reya penasaran. Pasalnya, sama Emerald yang seperti itu aja Zada udah bucin tapi kenapa sama Geva yang terlihat jauh lebih baik malah cuek?
__ADS_1
...****************...