Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 14 : Dua ratus miliar


__ADS_3

Mama Bitha mengeluarkan sebuah kartu debit dan di letakkan di meja depan Zada.


" Di dalam kartu itu ada uang sebesar dua ratus juta, saya kira cukup untuk kamu pergi dari kota ini."


" Maksudnya?" tanya Zada berpura-pura tidak tahu. Padahal, Ia cukup mengwrti jika saat ini wanita paruh baya ini sedang mengusirnya dengan menggunakan uang.


" Saya tahu jika pernikahanmu dan adik bungsu saya itu hanya palsu, jadi saya harap tinggalkan dia sekarang juga karena keluarga Nuraga tidak menerima gadis sepertimu menjadi menantu perempuan! " terang Mama Bitha.


" Memangnya gadis seperti apa saya? "Zada kembali bertanya.


" Gadis miskin yang mencoba mendongkrak karirnya dengan cara mendekati pria kaya!" tukas Veena.


" Kamu sedang berbicara tentang dirimu sendiri, Veen? " balas Zada.


" Kamu!!! "geram Veena.


" Kenapa? Kalau kamu kesal, bilang? Jangan hanya bersembunyi di belakang wanita tua!" Zada langsung berpura-pura menutup mulutnya layaknya sedang keceplosan.


" Apa maksud kamu? Kamu bilang saya tua?"geram Mama Bitha yang ikut meradang karena di sebut sebagai wanita tua.


Padahal, Zada masih bermain kalem tapi sudah mampu membuat kedua wanita itu emosi.


Zada mengambil kartu itu dan memain-mainkannya." Jadi, harga adik anda hanya dua ratus juta? " kata Zada dengan raut wajah menecemoh.


" Dua ratus juta itu sudah sangat besar untuk gadis miskin sepertimu! Jadi, tidak usah serakah!" hardik Veena.

__ADS_1


Belum saja Zada membalas perkataan Veena, tiba-tiba ada seseorang yang datang, dan merampas kartu debit itu pada Zada lalu membuangnya ke sembarang arah.


" Tuan Geva?" lirih Zada yang terlihat terkejut saat melihat Gevariel tiba-tiba datang.


" Aku bisa memberimu dua ratus miliar asal jangan pernah meninggalkanku. Memikirkannya saja jangan pernah," ucap Geva dengan tatapan begitu dalam.


Apalagi ini? Dua ratus miliar? Apakah pria ini sudah gila?


" Geva!" bentak Mama Tabitha yang terlihat shock saat melihat sikap adik bungsunya yang sudah begitu keterlaluan.


" Kenapa? Kakak tidak suka? Geva pun begitu!"


" Jangan pernah mengurusi kehidupan pernikahan Geva, apalagi sampai memberikan uang hanya untuk membuat orang di sisi Geva pergi. Kakak tidak ada hak karena ini adalah kehidupan Geva!" pungkas Gevariel dengan tatapan begitu tajam.


Sesampainya di depan mobil, Geva meminta kunci pada Aden karena kali ini dia mau menyetir sendiri. Tak lupa pula, Geva membukakan pintu untuk Zada dan menyuruhnya masuk.


Melihat raut wajah Geva yang masih terlihat begitu menakutkan, membuat gadis itu menurut tanpa membantah seperti biasanya. Setelahnya, Geva berjalan mengitari mobil dan duduk di bangku kemudi.


Melihat Zada yang belum memakai sabuk pengaman, membuat Geva spontan mencondongkan tubuhnya dan menarik tali seat belt itu.


" An_da ma_u ngapain?" tanya Zada gugup saat Geva tiba-tiba mendekatinya, apalagi saat ini jarak wajah keduanya begitu dekat.


" Sabuk pengaman," jawab Geva dingin dan tak lama kemudian terdengar bunyi seat belt yang telah terpasang.


Tak mau berlama-lama berada di kawasan rumah sang Kakak, membuat Geva segera menginjak pedal gas melaju memecah jalanan.

__ADS_1


Selama di perjalanan, hanya ada keheningan diantara keduanya hingga akhirnya Zada tertidur saking sunyinya.


...***...


Kembali ke keadaan rumah mewah itu sepeninggal Geva dan juga Zada. Terlihat Veena yang tengah mencoba menenangkan emosi mertuanya yang sempat meradang.


" Mama ambil nafas dalam-dalam, lalu hembuskan," ucap Veena menenangkan.


" Mama tidak habis pikir, apa yang sebenarnya wanita itu berikan pada Geva sehingga membuatnya begitu membelanya?"gumam Mama Bitha yang benar-benar tak mengerti dengan sikap adik bungsunya itu.


Selama ini, Geva memang tipe anak yang tak pernah takut dengan siapapun. Meski dia anak bungsu, tapi dia merupakan anak kesayangan dan memiliki tahta tertinggi dalam keluarga Nuraga. Itulah kenapa dia tak punya rasa takut pada kakaknya selama dia benar.


Veena menghela nafas panjang.


" Yang jelas, Zada pasti sudah meracuni otak Paman dengan hal-hal buruk. Mama juga sudah lihat sendiri 'kan betapa buruk tabiatnya gadis itu. Dari yang merusak acara pernikahan, mempermalukan aku di kantor, terus barusan juga membuat Paman Geva bersikap tidak sopan sama Mama. Padahal, Mama kan kakak tertuanya. " Veena kembali memprovokasi mertuanya agar semakin membenci Zada.


" Benar apa yang kamu bilang, dia benar-benar gadis pembawa pengaruh buruk. Kalau begitu, ini tidak bisa di biarkan. Aku harus memikirkan sebuah cara untuk menjauhkan Geva dari dia!"


" Benar itu, Ma. Mama tidak usah khawatir, Veena akan selalu membantu Mama," ucap Veena yang penuh akan rasa kemenangan karena telah memiliki sekutu untuk membuat Zada menderita.


Rasain kamu Zada, tunggu saja pembalasanku padamu!


...****************...


Halo gengs, maaf kalau Novi belum bisa up banyak, soalnya lagi kurang enak badan. Jadi, harap bersabar ya ...

__ADS_1


__ADS_2