
" Za,"panggil Emerald pada Zada, namun wanita cantik itu justru sibuk sendiri dengan ponselnya. Bahkan,ia juga memakai airpods agar Emerald menyangka jika dia sedang mendengarkan music.
"Pak Emerald, Supervisor Zada,ini kunci kamar kalian." Amel memberikan cardlock kamar hotel pada Zada dan Emerald.
" Terimakasih,"ucap Zada maupun Emerald. Setelahnya, Zada pun bergegas pergi. Namun, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekalnya.
" Za, siang ini bisa lunch berdua?"
Melihat Emerald yang sedang mengajaknya berbicara,membuat Zada mencopot satu airpods yang masih terpasang di telinganya.
" Tolong lepaskan tangan anda!"pinta Zada dingin, Emerald pun segera melepaskan cekalan tangannya.
Zada terlihat membersihkan tangannya seakan memberitahukan bahwa dia tak ingin ada bekas sisa tangan Emerald di sana.
"Barusan anda bicara apa?"tanya Zada yang berpura-pura tak mendengar. Padahal,sebenarnya dia tahu apa yang dikatakan Emerald barusan.
" Siang ini, ayo lunch berdua."
Bukannya menjawab,Zada justru melirik ke Arah Amel seakan memberikan kode lewat matanya bahwa gadis muda itu harus melakukan sesuatu.
Amel yang paham pun langsung berdiri di diantara Zada dan Emerald.
" Mohon maaf Pak Emerald, tapi Tuan Gevariel sudah memberi pesan pada saya kalau anda di larang mengajak Makan Supervisor Zada. Jangankan mengajak makan, anda juga di larang dekat-dekat dengan Supervisor Zada,"terang Amel yang membuat Emerald melongo.
" Kenapa?"tanya Emerald bingung.
" Karena suami saya tidak suka!"jawab Zada dengan bahasa yang sangat formal. Setelahnya,Zada segera bergegas pergi meninggalkan Emerald yang terlihat diam mematung .
Dia benar-benar tak menyangka jika Zada akan separuh itu pada Gevariel, dan Emerald juga tak mengerti kenapa pamannya bersikap seperti ini. Apa dia merasa kalau dirinya adalah sesuatu bahaya?
Akh ... Jadi,Paman Geva sedang merasa terancam dan takut kalau Zada akan dengan mudah kembali padaku.
" Ya ... ya ... I see. Aku memang adalah laki-laki yang pernah sangat di cintai oleh Zada. Jadi,pantas saja jika paman sangat was-was padaku,"gumam Emerald dengan penuh percaya diri kalau namanya masih ada di hati Zada.
Sementara Zada akhirnya bisa bernafas lega setelah bisa pergi jauh-jauh dari mantan kekasih yang terus-menerus cari muka dan sok perhatian padanya.
...***...
Setelah turun dari pesawat,Geva langsung berusaha menghubungi istrinya untuk menanyakan apakah dia sudah sampai? Sekaligus ingin tahu apa yang sedang di lakukan oleh istrinya.
Namun, Zada tak kunjung mengangkat panggilannya sehingga membuat Gecariel cemas.
" Kemana dia?"gumam Geva seraya mencoba mencari nomor Amel untuk menanyakan keberadaan Zada.
"[ Halo Mel, istri saya ada dimana?]" tanya Geva to the point ketika tahu panggilannya diangkat oleh Amel.
" [ Supervisor Zada adi di kamarnya Tuan,memangnya ada apa?]"
__ADS_1
" [ Coba kamu cek sebentar ke kamarnya, soalnya saya telepon tidak diangkat-angkag!]"
Walau sedang malas gerak, Amel pun tetap beranjak bangun dan bergegas pergi menuju kamar Zada untuk menjalankan perintah dari atasannya.
Sesampainya di kamar Zada, Amel mencoba mengetuk pintu kamar itu dan terus memanggilnya dengan suara sedikit lantang agar Zada mendengarnya. Tak lama kemudian,pintu pun sudah terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik masih memakai bathrobe serta handuk kecil di kepalanya..
" Ada apa,Mel?"tanya Zada.
" Suami anda terus menelpon." Amel menyodorkan ponselnya yang terlihat masih ada panggilan bersama Geva.
Zada pun mengambil ponsel itu dan berbicara sebentar pada Geva.
" Enak gak sih punya suami bucin dan sangat posesif seperti itu?" tanya Amel dengan nada yang terdengar sedikit menyindir.
" Enak gak enak!"jawab Zada.
" Banyak enaknya atau nggak enaknya?" Amel kembali menggoda Zada.
" Sudah sana pergi, aku mau ganti baju!"usir Zada dengan sedikit mendorong tubuh Amel agar keluar dari kamarnya.
" Kalau banyak gak enaknya,aku siap menampung kok!"
" Jangan harap!"ketus Zada seraya menutup pintu kamarnya dengan cukup keras. Sedangkan Amel hanya bisa mencebik akibat di usir secara paksa oleh Zada.
Dasar pasangan bucin!
...***...
Begitu pun dengan Geva yang terlihat begitu tampan dengan setelan jas berwarna navy. Baru saja keluar dari kamar hotel,sudah terdengar suara seseorang memanggil dirinya.
" Gev,"panggil wanita cantik itu seraya berjalan menghampiri Geva.
Gaun polos yang menjuntai melekat pada tubuhnya. Walau tak banyak pernak-pernik swarovski,gaun itu masih terlihat begitu mewah dan elegan karena terbuat dari kain sutra. Kemudian, kain lengannya di jahit secara terpisah dan menggunakan kain tile sehingga menambah kesan mewah dan unik pada gaun itu.
" Aku kira kamu sudah turun ke bawah,"ucap wanita itu yang tak lain adalah Anna.
" Belum,"jawab Geva dingin.
" Kalau begitu,kita jalan bareng yuk." Tiba-tiba,Anna sudah menggandeng lengan Geva sambil menariknya berjalan pergi.
" Anna, lepaskan. Jangan bersikap seperti ini." Geva mencoba melepaskan gandengan tangan Anna,tapi wanita itu justru semakin mengeratkan pegangan.
" Anna ..."
" Apa aku menjijikkan sampai kamu tak mau aku gandeng,Gev?"
"Huh?" Geva melongo tatkala mendengar perkataan Anna.
__ADS_1
Tanpa di sangka, Anna mendorong tubuh Geva ke samping hingga menempel pada dinding. Kemudian, satu tangannya di letakkan ke dinding layaknya tengah mengunci pergerakan Geva. Sedangkan tangan lainnya menarik kerah jas bagian bawah.
" Apa aku jelek,Gev?" Anna kembali bertanya sesuatu yang menurut Geva aneh jika di pertanyakan. Pasalnya, Geva tak merasa bahwa ia jijik pada Anna,hanya menjaga jarak karena saat ini ada hati yang harus ia jaga. Apalagi,Geva tahu kalau Zada sangat tak menyukai Anna seperti halnya dia tak menyukai Emerald yang terus saja mencoba mendekati istrinya.
" Kamu cantik An, tapi___"
" Tapi kenapa kamu tak pernah bisa mencintaiku?"sela Anna dengan tatapan yang begitu dalam. Sepertinya,ini adalah pertama kalinya Anna berani berkata seperti ini pada Geva. Pasalnya selama ini,dia hanya memendam rasa itu dan berharap kalau Geva akan mencintainya juga. Namun,siapa sangka jika Geva justru mencintai dan menikahi wanita lain. Wanita yang Anna tahu belum lama hadir dalam kehidupan Geva.
" Karena cinta tak hanya tentang kecantikan Anna."
" Lalu,tentang apa? Kepintaran? Apa aku kurang pintar jika di banding Zada? Apa aku___"
" Stop Anna!" bentak Geva, " Jangan pernah membanding-bandingkan dirimu dengan Zada karena kalian punya daya tarik tersendiri."
" Kalau begitu,kenapa kamu tak pernah tertarik padaku? Kenapa harus Zada? Bukankah aku yang sudah lama ada di dekatmu? Bahkan,aku sudah sangat lama mencintaimu dalam diam dan berharap kamu juga bisa mencintaiku. Tapi___" tenggorokan Anna tercekat,ia seakan tak mampu lagi mengeluarkan apa yang selama ini sudah ia pendam dalam hati.
Ketika mulut tak lagi bisa berkata,maka air mata yang berbicara. Dimana yang sejak tadi di tahan agar tak luruh, tetap luruh juga saat hati merasa sedih.
Mengingat kembali bagaimana kedekatan hubungan mereka,membuat Geva refleks membantu mengusap air mata itu.
" Jangan pernah menangisi pria sepertiku Anna."
" Kenapa?"
" Karena itu tak pantas sama sekali. Kamu adalah wanita baik,pintar dan cantik. Jadi, simpan saja cintamu untuk pria yang benar-benar pantas mendapatkannya. Pria yang nantinya bisa memberikan cinta untukmu juga."
" Tapi pria yang aku cintai adalah kamu,Gev."
Geva menggeleng, membuat dahi Anna berkerut.
" Kamu bukan mencintaiku Anna,tapi___" Belum seja Geva selesai berbicara,tiba-tiba Anna sudah mendaratkan sebuah ciuman ke bibir itu.
Cekrek
Sebuah potret yang begitu menajubkan telah di dapat dan segera di kirim ke sasaran utama.
Di saat Zada masih memperhatikan setiap detail kain yang di pamerkan, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk dalam ponselnya.
Sepasang mata nan indah itu membola sempurna tatkala melihat apa yang memenuhi layar ponselnya. Saking fokus pada foto di layar ponselnya hingga membuat Zada tak menyadari kalau akan ada bahaya yang menghampiri.
" Zada ...,"
Brak
...****************...
Halo gengs,maaf kalau updatenya lama dan sedikit. Soalnya,baru pulang mudik jadi masih repot di real life.
__ADS_1