
Cup
Sebuah ciuman tanpa sengaja telah terjadi. Sepasang mata Reya membola tatkala merasakan ada daging tak bertulang nan lembut menyentuh bibirnya. Begitupun dengan Aden yang ikut shock.
Aden dan Reya sama-sama menjauh.
" Dasar pria mesum!"maki Reya seraya berlari pergi meninggalkan Aden yang masih diam membeku. Tangannya reflek memegang bibirnya yang baru saja telah mencium bibir seorang wanita.
" Rasa yang ... cukup aneh,"gumam Aden yang baru pertama kali ciuman. Selama ini,pria itu memang tak pernah dekat dengan seorang wanita. Dua puluh lima tahun usianya hanya di habiskan dengan belajar dan bekerja tak ada istilah percintaan dalam kamus Aden.
Terlalu larut dalam kejadian barusan hingga membuat Aden lupa akan tugasnya untuk mengambil tas Zada. Aden pun hanya bisa menghela nafas panjangnya.
...***...
" lǎogōng, kita mau kemana sih?"tanya Zada yang masih bingung kemana Geva akan membawanya pergi.
Geva tersenyum." Nanti kamu juga akan tahu,"jawab Geva yang masih saja misterius. Sementara Zada hanya bisa memberengut kesal saat melihat Geva yang masih saja tak mau mengatakan kemana dia akan membawanya pergi.
Geva tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Zada yang terus cemberut hingga akhirnya tertidur.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai juga di parkiran bandara. Sementara Zada terlihat masih tertidur pulas.
Geva mendekati wajah istrinya yang masih tidur terlelap, lalu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu. Wajah yang selalu Geva rindukan jika tak melihatnya. "Beberapa hari ini,pasti sangat berat dan melelahkan. Maaf jika aku sempat membuatmu khawatir tapi setelah ini aku akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu."
Berhubung luka di pundak Geva belum terlalu kering,membuatnya tak bisa menggendong sang istri. Jadi, terpaksa Geva membangunkan Zada. Tak butuh waktu lama,Zada pun sudah terbangun.
" Kita ada dimana?"tanya Zada seraya mengumpulkan kesadadannya. Akibat terlalu lelah hingga membuatnya tertidur selama perjalanan.
" Bandara sayang,"jawab Geva.
"Bandara?!" Zada terlihat begitu terkejut dan bingung ,lalu semakin mengedarkan pandangannya untuk memastikan apakah benar jika mereka sedang ada di bandara?
" Kita ngapain ke sini?"
" Yang jelas untuk naik pesawat sayang."
__ADS_1
Zada menghela nafas panjang." Aku tahu,lagian mana mungkin kita ke bandara mau naik becak."
Geva justru tertawa saat mendengarkan perkataan Zada yang terdengar layaknya sebuah gurauan.
" Kok ketawa?"protes Zada dengan wajah bingung.
" Habisnya kamu lucu sekali ..." Geva mencubit gemas pipi istrinya. Kemudian, mengajaknya segera turun dari mobil karena penerbangan mereka tinggal sebentar lagi.
Walau masih bingung,Zada tetap mengikuti Geva yang terus berjalan menuju gerbang keberangkatan.
" Selamat sore Tuan dan Nyonya," sapa empat orang laki-laki dan satu perempuan. Setelahnya,Geva memberikan kunci mobil yang ia bawa tadi pada salah satu laki-laki itu.
Setelahnya, mereka semua berjalan masuk ke dalam bandara. Awalnya,Geva hanya ingin pergi honeymoon berdua tapi Mama Jianying melarang dengan alasan takut jika sesuatu terjadi lagi pada putra dan juga menantunya. Walau hanya beberapa,Geva harus tetap membawa pengawal. Apalagi kondisinya belum pulih dengan sempurna akibat kejadian malam itu.
Demi keselamatan, Geva pun setuju.
" Kita mau ke Paris?"tanya Zada saat melihat tiket penerbangan mereka.
Geva mengangguk. "Bukankah kamu pernah mengatakan ngin pergi ke sana?"
" Dan aku masih ada satu kejutan lagi,"bisik Geva yang membuat Zada menoleh.
" Apa?"tanya Zada penasaran.
Geva pun terlihat seakan tengah berpikir,haruskah dia mengatakannya sekarang? Jika dia mengatakannya sekarang ...
* Nanti kamu juga akan tahu sendiri ..." ucap Geva yang lagi-lagi membuat Zada penasaran.
"lǎogōng ... bisakah jangan terus membuatku penasaran?" ucap Zada dengan memperlihatkan puppy eyes-nya. Bahkan,tanpa sadar Zada menggandeng lengan Geva manja.
Sungguh,melihat wajah Zada yang menggemaskan seperti ini membuat Geva ingin sekali kembali menciumnya. Tapi itu tak mungkin mengingat dimana saat ini mereka berada.
" Sudah ... nanti saja. Yang jelas,itu akan membuatmu bahagia." Geva masih saja kekeh tak mau memberi tahu membuat Zada kembali cemberut.
" Selamat datang," sapa pramugari ramah pada Geva dan Zada ketika memasuki pesawat.
__ADS_1
Zada pun ikut tersenyum membalas sapaan itu. Setelahnya, ia berjalan menuju tempat duduknya dan Geva. Baru pertama kali menaiki pesawat first class, tentu saja membuat Zada takjub tapi berusaha untuk bersikap elegan.Pasalnya,saat ini status nya bukan lagi seorang Zada si gadis yatim piatu dan miskin. Melainkan, sebagai istri sekaligus menantu pemilik Nuraga grup. Jadi,ia harus bisa membaur layaknya wanita kaya raya.
Namun,tiba-tiba Zada teringat kalau ia tak membawa apa-apa. Bahkan,ponsel dan tasnya masih ada di perusahaan.
"lǎogōng ...," panggil Zada pada Geva yang duduk di sampingnya.
" Ada apa sayang?"
" Aden tadi jadi nggak sih ngambil tas aku? Dan, apakah dia tak ikut?"
" Sepertinya jadi,tapi dia tak ikut."
"Huh?" pekik Zada yang terlihat terkejut.
" Memangnya kenapa sayang?"
" Ponselku,dompetku dan ...." Zada menggantung ucapannya,lalu kembali melihat tiket serta visa serta paspornya yang ada pada Geva. Ternyata tanda kartu penduduknya ada di sana tapi kapan Geva mengambil itu darinya? dan sejak kapan Geva membuatkannya bisa serta paspor?
" Sayang ... ada apa?"Geva kembali bertanya saat melihat istrinya yang terlihat diam saja tak melanjutkan perkataannya tadi.
" Kamu sejak kapan membuatkan ini semua?" Zada memperlihatkan paspor serta visa-nya. Beberapa hari terakhir,Zada memang tak pernah mengecek serta menggunakan kartu Tanda penduduknya sehingga membuatnya tak sadar jika kartu itu tak ada di dompetnya.
" Sejak aku bilang mau mengajakmu pergi honeymoon,"jawab Geva jujur karena sejak saat itu Ia langsung mempersiapkan semuanya sendiri. Ya, Geva mempersialkannya sendiri bukan Aden karena Geva tahu jika asistennya itu kurang handal jika mengurus sesuatu yang berbau romantisme.
Sementara Geva, dia cukup tahu lah karena sebelumnya pernah menikah dan melakukan perjalanan honeymoon walau tak terlihat layaknya pasangan yang sedang pergi honeymoon karena istrinya yang dulu selalu sibuk dengan ponsel serta laptopnya. Itulah mengapa Geva sengaja membuat sebuah adegan dimana Zada tak bisa membawa ponselnua karena dia ingin mereka fokus untuk liburan dan senang-senang.
Jadi,perjalanan ini adalah honeymoon mereka? HONEYMOON?Oh,no! Jadi, apakah mereka nanti akan ...?
Pipi Zada seketika menjadi merona saat memikirkan hal itu. Zada bukanlah gadis polos yang tak tahu apa-apa soal apa yang akan dilakukan oleh pasangan yang sedang pergi honeymoon. Jika di pikir kembali, Mereka sudah menikah selama sebulan tapi belum terjadi sesuatu yang seharusnya menjadi kegiatan rutin pengantin baru. Bahkan, ciuman yang cukup dalam saja baru hari ini.
Untungnya Zada masih memakai blash on sehingga membuat Geva tak menyadari pipi Zada yang memerah akibat berpikiran mesum.
Apa ini sudah waktunya aku untuk melepas semuanya? Tapi ....
...****************...
__ADS_1