
" Paman,"panggil Emerald yang tak lagi memakai panggilan formal pada Geva. Pasalnya, pria itu sedang sendirian.
Geva menghela nafas panjang ketika mendengar Emerald tiba-tiba memanggilnya. Dengan terpaksa, ia pun berbalik menghadap ke arah sang keponakan.
" Ada apa?" ketus Geva yang tak ada ramah-ramahnya sama sekali.
" Em ..., mau ngajak makan siang bareng," ujar Emerald.
Dahi Geva langsung berkerut." Maaf tapi sayangnya saya sudah punya janji dengan istriku tercinta," kata Geva dengan sedikit formal seraya berbalik pergi.
" Paman." Emerald kembali memanggil.
" Zada paling tidak suka jika hubungan pribadinya diketahui oleh orang-orang kantor,jadi___"
" Saya tahu tanpa kamu beri tahu! Lagipula, saya bukan kamu yang suka bertindak bodoh tanpa berpikir lebih dulu," sindir Geva yang kembali melanjutkan langkahnya. Entah kenapa Geva paling kesal ketika mendengar Emerald yang sok-sokan paling tahu tentang Zada.
Ya, Mereka memang pernah menjalin hubungan selama lima tahun, jadi pasti sudah saling mengenal cukup dalam satu sama lain. Tapi apakah harus bersikap seperti itu di depannya? Apakah dia lupa jika Zada sekarang adalah istrinya? dan Dia juga sudah punya istri tapi kenapa masih begitu peduli sama mantan.
Saking kalutnya pikirannya hingga membuat Geva tanpa sadar sudah berdiri di depan ruangan tim desain. Sebelum masuk, Geva mengetuk pintu terlebih dahulu sebagai rasa sopan.
Dan tak lama kemudian, keluarlah salah satu tim desain untuk membuka pintu.
" Tuan Geva, ada perlu apa? Apa ada sesuatu yang ketinggalan?" Gadis itu langsung memberondong beberapa pertanyaan sekaligus .
Iya, istriku ketinggalan di dalam.
Tapi sayangnya, kata-kata itu hanya bisa ia ucapkan dalam hati saja.
" Saya ada perlu sebentar dengan Supervisor Zada, jadi bisakah panggilkan dia?"pinta Geva.
" Oh... supervisor Zada, kalau begitu anda tunggu sebentar."
Setelahnya, gadis itu masuk kembali ke dalam ruangan. Ruangan tim Desain memang tidak sembarangan orang bisa masuk, apalagi ketika ada diskusi soal produk.
Tak lama kemudian, keluarlah wanita cantik dengan memasang wajah kesal.
" Ada apa?bukankah sudah saya___" tanpa banyak bicara, Geva langsung menyeret lengan Zada dan membawanya pergi dari sana.
" Tuan Geva lepaskan! Bagaimana jika ada yang lihat,"pinta Zada memberontak.
" Kalau begitu, menurut lah untuk makan bersamaku honey," pinta Geva yang tiba-tiba memasang wajah memelas.
" Baiklah,tapi aku ambil tas dulu,"jawab Zada yang sepertinya sudah lelah untuk menolak dan berdebat. Apalagi saat ini posisi mereka sedang berada di kantor, bagaimana jika ada yang lihat dan mendengar kalau ternyata mereka memiliki hubungan spesial. Apalagi barusan Geva memanggilnya 'honey'.lagi.
Zada adalah tipe orang yang memang tak suka sukses lewat jalur mengandalkan pria atau status. Dia lebih suka bekerja keras untuk mendapatkan impiannya sendiri.
" Tidak perlu!"tolak Geva.
" Tapi, ponsel dan dompet saya masih___"
" Kamu tak perlu membawa apapun jika pergi bersamaku, karena aku lebih suka kamu yang fokus padaku daripada ponsel." Geva mulai meluncurkan gombalan garingnya.
Sementara Zada hanya bisa memutar bola matanya jengah. Setelahnya, mereka berdua pun berjalan dengan Geva berada di depan, sedangkan Zada di belakang layaknya bos dan sekertaris.
Sesampainya di restoran terdekat, Geva langsung memesan makanan dan juga minuman.
" Wajahmu kenapa kusut begitu sayang? Apa ada masalah?"tanya Geva yang terlihat begitu perhatian pada istrinya.
" Tidak ada," dusta Zada.
__ADS_1
Tiba-tiba Geva menggenggam tangan Zada, lalu menatapnya cukup dalam. " Jika ada masalah, kamu bisa berbagi cerita padaku. Siapa tahu aku bisa bantu, jangan di simpan sendiri oke!" tutur Geva lembut dan tersenyum manis.
Melihat sikap Geva yang begitu manis dan lembut padanya membuat Zada semakin bimbang. Apakah sikapnya ini nyata atau palsu? Apalagi, hari ini Zada mendengar desas-desus para karyawan yang mengatakan bahwa Geva dan Direktur Anna ada hubungan spesial.
Tapi, jika iya pun tidak masalah. Toh, Direktur Anna memang terlihat lebih cocok bersanding dengan Geva daripada dirinya.
" Honey...," panggil Geva lembut ketika melihat Zada yang justru melamun.
" Iya, ada apa?" tanya Zada bingung.
" Apa yang sedang kamu pikirkan?"
" Em__"
Tiba-tiba, ada beberapa pelayan datang membawakan pesanan mereka sehingga dapat membuat Zada tak perlu repot-repot menjawab pertanyaan Geva.
Selesai makan siang bersama, Geva mengajak Zada mampir ke cafe makanan penutup sebentar.
" Kenapa berhenti di sini?"tanya Zada bingung.
" Kamu mau ikut turun apa nggak?"tawar Geva tanpa menjawab pertanyaan Zada.
Gadis cantik itu menggeleng, membuat Geva keluar sendirian. Sementara Zada hanya memperhatikan gerak-gerik suaminya dari dalam mobil.
Tak berselang lama, Geva sudah kembali dengan membawa tiga paper bag yang tak tahu apa isinya.
" Itu isinya apaan?"tanya Zada ketika Geva sudah masuk kembali ke dalam mobil.
" Minuman sama makanan penutup untuk tim kamu," jawab Geva seraya menyodorkan satu paper bag mini ke arah Zada.
Zada pun melihat apa isi dari paper bag itu, ternyata ice cream strawberry vanilla kesukaannya.
" Jangan memakai Anda, terlalu formal dan kaku," sela Geva sebelum Zada menyelesaikan ucapannya.
Bibir Zada mengerucut, membuat Geva semakin gemas melihatnya. Tanpa banyak bicara, Zada langsung mencoba ice cream itu .
" Enak?"tanya Geva.
Zada mengangguk dengan wajah terlihat kembali gembira. Begitulah Zada, moodnya mudah berubah menjadi lebih baik jika bertemu dengan makanan-makanan enak.
Ketika Zada kembali menyendok ice cream, tiba-tiba Geva mendekat dan membuka mulutnya layaknya meminta untuk di suap.
" Sendoknya hanya satu," kata Zada memberitahu. Pasalnya, dia tak enak jika menyuapi Geva dengan sendok bekas mulutnya. Namun, siapa sangka jika Geva tiba-tiba memegang tangannya dan memasukkan ice cream itu ke dalam mulutnya.
" Kok rasanya hambar, ya?" ucap Geva sesuai memakan ice cream itu.
" Enak kok," sahut Zada yang langsung kembali menyuap ice cream itu ke dalam mulutnya untuk memastikan bahwa rasanya masih manis tak hambar seperti kata Geva.
" Apa cara makannya yang salah?"
Dahi Zada berkerut, sambil terus menikmati Ice cream itu yang rasanya enak layaknya ice cream vanila dan strawbery favoritnya.
" Memangnya makan ice cream ada cara makannya selain begini?"tanya Zada seraya kembali menyuap ice cream itu ke dalam mulutnya dan tiba-tiba Geva mencondongkan tubuhnya lalu mencium bibir Zada yang masih penuh oleh ice cream.
Geva ******* lembut bibir Zada yang terasa sangat manis. Rasa vanila bercampur strawbery ikut terasa dalam Indra pengecapnya. Sementara Zada hanya diam membeku ketika mendapatkan serangan tiba-tiba.
" Sekarang baru manis," ucap Geva seusai melepaskan lumatannya.
Modus!
__ADS_1
" Apa masih kurang?" goda Geva seraya kembali mendekat. Namun, Zada langsung menutup bibirnya dengan tangannya agar Geva tak lagi mencuri ciumannya.
Dasar Paman modus bin mesum!
Zada memaki-maki kemodusan Geva dalam hatinya, Sementara Geva tersenyum penuh kemenangan karena dapat meneguk manisnya bibi sang istri yang berasa strawberry bercampur vanila. Benar-benar rasa yang dapat membuat orang candu dan ingin mengulanginya lagi.
" Sudah sampai," kata Geva memberitahu ketika mobil mereka sudah sampai di depan lobi kantor Nuraga Fashion.
" Kok, sampai depan lobi sih!" protes Zada yang takut jika ada orang lain melihatnya turun dari mobil Geva.
" Apakah tidak boleh?"
Zasa hanya mendengus kesal, lalu bergegas turun dari mobil.
" Sayang, camilan dan minumannya ketinggalan," kata Geva memberitahu jika Zada melupakan camilan dan minuman untuk rekan timnya.
" Oh,ya ."
Zada terlihat begitu salah tingkah sejak kejadian ciuman ice cream tadi.
Ketika akan memasuki lift, ada seseorang yang memanggil dirinya.
" Supervisor Zada,"panggil gadis itu yang bernama Mitha.
" Hey," sambut Zada.
Setelahnya, dua wanita itu memasuki lift bersama. Bahkan, Mita juga membantu Zada untuk membawa camilan untuk tim desain.
Melihat Zada yang membawa begitu banyak makanan penutup serta minuman, tentu membuat para team desain sangat senang.
" Terimakasih Supervisor Zada, " seru semuanya.
" Em ... Supervisor Zada, kenapa tiba-tiba membelikan camilan? Apakah ada hal baik yang terjadi?" tanya wanita bernama Amel.
" Benar, kalau gajian sepertinya belum. Soalnya ini masih akhir bulan. Dan ... sepertinya Supervisor Zada tadi pergi tanpa membawa tas. Bahkan, ponselnya juga masih tertinggal di sini tapi pulang bisa membawa makanan sebanyak ini?"timpal Karyawan lainnya yang begitu kepo.
" Hey, kenapa kalian ribut sekali! seharusnya kalian itu senang dapat traktiran camilan dan minuman gratis di akhir bulan. Walau Supervisor Zada tidak bawa uang, 'kan masih ada pacarnya,"papar Mita.
" Pacar?" seru semua orang dengan wajah terkejut. Begitupun dengan Zada yang jadi ikut terkejut.
" Jadi, supervisor Zada tadi makan siang dengan kekasihnya?" kepo Amel.
Mita mengangguk.
"Kamu tahu darimana jika saya pergi dengan kekasih saya?"Kini Zada mulai bersuara.
" Oh, soalnya tadi saya lihat anda keluar dari mobil seorang pria."
Huh?
" Jadi kamu tahu dong seperti apa wajah kekasih supervisor Zada?" tanya karyawan lainnya yang semakin kepo. Pasalnya, selama ini mereka tahu jika Zada punya kekasih tapi tak tahu seperti apa kekasihnya.
" Em ..."
Semua terlihat antusias mendengarkan, begitupun dengan Zada yang terlihat deg-degan takut jika Mita tahu siapa laki-laki yang bersamanya tadi.
...****************...
Kira-kira kebongkar gak, ya?
__ADS_1
Jangan lupa like,komen,vote dan hadiahnya ya gengs