Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 41 : Penenang tanpa efek samping


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, suara dengkuran halus sudah terdengar. Menandakan bahwa seseorang di sampingnya sudah masuk ke alam mimpi.


Zada menatap lekat wajah suaminya yang tengah tertidur.


Wajah tegas, kulit putih, hidung mancung,alis tebal, bibir seksi. Seulas senyum terbit di bibir Zada ketika menyadari kalau suaminya ternyata sangat tampan. Bahkan, jauh lebih tampan dari Emerald. Namun, siapa sangka jika pria ini memiliki kisah yang cukup menyedihkan.


Walau Aden hanya menceritakan secara sekilas, tapi itu sudah membuat Zada merasa iba. Apalagi saat tahu bahwa selama ini Geva memang sering mengkonsumsi, obat tidur maupun penenang.


" Semoga, setelah ini hanya akan ada mimpi indah."


Setelah itu, Zada beranjak turun dari ranjangnya. Berjalan mendekati tasnya yang tersimpan di atas meja, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Amel.


" Halo, Mel," sapa Zada pada seseorang di ujung telepon.


" Supervisor Zada, ada apa?"


" Hari ini, sepertinya saya tidak bisa kembali ke kantor. Jadi, bagaimana kalau meeting nya lewat zoom saja?" usul Zada.


" Oh, kalau begitu saya akan mempersiapkan semuanya dulu Supervisor."


Setelahnya, panggilan pun di matikan karena Amel harus memberitahu semua tim terlebih dahulu.


Selesai meeting, Zada langsung memasak terlebih dahulu baru melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya, beli makanan di luar juga bisa tapi Zada yang tak mau. Apalagi saat ini Geva sedang butuh gizi yang cukup. Jadi, lebih baik tak makan junk food terlebih dahulu, harus makan-makanan sehat dan bergizi.


Sebelum memasak, Zada mencari sebuah artikel terlebih dahulu makanan apa saja yang dapat mengatasi insomnia. Setelah mendapatkan referensi, Zada langsung eksekusi. Dengan keterampilannya, tak butuh waktu lama untuk menyiapkan beberapa hidangan yang simpel tapi sehat dan bergizi.


Berhubung semua makanan sudah siap, serta jam makan siang juga sudah lewat dua puluh menit yang lalu. Zada langsung berjalan menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya. Namun, ketika Zada baru membuka pintu ia mendapati Geva yang mengigau, dan berkeringat dingin.


" Jangan .... Jangan sakiti dia ..." racau Geva dengan bercucuran keringat.


Melihat Geva yang sepertinya kembali mengalami mimpi buruk, membuat Zada langsung berlari menghampirinya.


"Lǎogōng, bangun." Zada mencoba membangunkan Geva dari mimpi buruk itu.


Geva pun terbangun dan langsung memeluk Zada erat. Nafasnya terdengar tersengal-sengal layaknya orang yang baru saja lari maraton.


" Ada apa? apakah mimpi buruk lagi?"tanya Zada sambil menepuk punggung Geva lembut layaknya sedang menenangkan.


" Jangan pergi,"lirih Geva yang masih terdengar oleh Zada.


" Tenang, aku tidak akan pergi kemana-mana."

__ADS_1


Pelukan hangat yang Zada berikan seakan mampu menjadi obat penenang bagi Geva. Padahal, biasanya dia langsung meminum sebutir obat penenang tapi sekarang sepertinya tak perlu lagi karena sudah ada obat penenang tanpa efek samping.


Setelah merasa tenang, Zada mencoba memberikan Geva minum agar lebih rileks lagi.


" Makasih."


Zada tersenyum, lalu kembali meletakkan gelas itu di atas nakas. Sementara Geva bersandar di sandaran ranjang sambil memegangi tangan Zada.


Melihat dahi Geva masih berkeringat, Zada mengambil tissue yang ada di dalam laci dan membantu mengelap keringat itu.


Menatap wajah Zada yang terlihat begitu perhatian dan telaten mengurusnya, membuat Geva semakin jatuh cinta. Ya, dia sudah jatuh cinta pada istrinya ini dan berharap bisa bersama dengannya dalam waktu yang lama.


Namun, ingatan tentang mimpi itu terlintas kembali dalam benaknya.


" Gev, aku pastikan tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia dengan wanita lain. Aku akan membunuhnya, seperti kamu yang telah membunuhku!"


" Za...," panggil Geva dengan suara bergetar.


" Ya, ada apa? Apa mau cerita tentang mimpi buruk itu?"


Geva menggeleng.


" Kenapa? Cerita saja, siapa tahu itu bisa meringankan beban pikiran kamu. Lagipula, itu hanyalah mimpi, jadi jangan terlalu di pikirkan biar tidak stress."


Zada terkekeh. " Mana ada mimpi bisa saat tidur jadi kenyataan? Mereka itu hanya bunga tidur, jadi tidak akan menjadi nyata."


Geva kembali memeluk Zada, dia benar-benar takut jika sesuatu buruk terjadi pada istrinya. Geva janji, dia akan melindungi Zada sepenuh jiwa dan raga.


...***...


Di tempat lain, terlihat seorang wanita yang terus memandangi menu makan siangnya.


"Hei polisi! Apakah kalian yakin ini makanan untuk manusia bukan hewan!"hardik Veena yang merasa jijik dengan makanan itu. Sedangkan sang polisi sudah pergi menjauh.


" Hei wanita sombong! sukur-sukur Lo masih di kasih makan, kalau gak mau buat gue aja!" timpal tahanan lainnya.


" Yaudah makan aja! lagian, aku juga gak level makan- makanan rakyat jelata soalnya lambungku tak menerima." cemooh Veena yang masih saja bersikap sombong walau sudah berada di dalam sel penjara.


Wanita itu mencebik. " Sombong amat! Ngakunya kaya tapi masuk sel juga!"


Veena menganga, emosinya jadi naik tatkala mendengar perkataan wanita itu yang terdengar layaknya sebuah sindiran.

__ADS_1


" Hei gendut! Jaga mulutmu ya!" sentak Veena yang sudah tersulut amarah.


Mendengar Veena kembali menghinanya, membuat wanita itu bangun dari duduknya dan menghampiri Veena dengan wajah garang.


" Jangan mendekat, Lo bau!"


Wanita itu terus mendekat, lalu menarik baju Veena.


" Pak___" wanita itu langsung membekap mulut Veena yang sudah bersiap berteriak untuk meminta tolong. Tanpa banyak bicara, wanita itu menampar wajah Veena beberapa kali hingga berbekas bentuk tangan berwarna merah.


" Lo, kalau masih mau hidup baik-baik di dalam sini, diem! Jangan banyak bacot!"


Wanita itu sudah benar-benar di buat geram oleh Veena yang mulutnya los dol tanpa rem.


" Lo ngancam gue!?" Veena tiba-tiba mempunyai sebuah kekuatan untuk kembali mengancam.


" Dengerin ya, gue gak takut sama Lo! Badan aja gede tapi___" Veena tiba-tiba bungkam ketika wanita itu mengoleskan tangannya yang bekas memegang ketiak ke hidung dan mulut Veena.


Seketika Veena mual-mual ketika Indra penciumannya mencium aroma tak sedap dan basah.


...***...


Selesai makan siang, Zada melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sementara Geva duduk di sampingnya sambil menyuapi buah-buahan.


Saking fokus sama leptopnya, Geva mencoba menjahili Zada dengan menarik buah secara perlahan yang awalnya akan masuk ke dalam mulut. Zada yang menyadari buah itu menjauh, terus mengikuti sampai akhirnya.


Cup!


Bukan buah yang ia dapatkan, justru sebuah ciuman dari Geva.


" Lǎogōng!"pekik Zada sambil memukul Geva yang suka sekali menjahili serta mencuri ciumannya.


" Ampun, sakit sayang ...."


Geva mencoba meminta ampun tapi Zada tak menghiraukannya dan terus memberikan pukulan hingga tubuh keduanya terjatuh diatas lantai. Posisi Zada saat ini berada tepat di atas tubuh Geva.


Netra keduanya saling tatap satu sama lain, detak jantung pun seketika ikut berdetak lebih cepat dari biasanya. Nafas keduanya naik turun di iringi dengan sebuah hasrat yang tiba-tiba muncul.


Di saat Geva berniat untuk mencium bibir Zada kembali, gadis itu spontan menutup bibirnya.


" Jangan mesum!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2