
Melihat jam di tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam, membuat Zada mencoba berpamitan pulang. Selain kasihan dengan Geva yang pasti sangat capek menunggu di luar, besok pagi Zada juga ada meeting pagi bersama tim desain.
"Rey, maaf gak bisa nemenin kamu lagi. Soalnya besok pagi aku ada meeting," pamit Zada dengan wajah yang terlihat tak enak sekali karena tidak bisa menemani Reya menjaga Anrey.
" Tapi kamu tenang saja, besok setelah meeting selesai aku akan datang lagi,oke."
Reya mengedipkan matanya pertanda setuju, karena bagaimana pun dia juga tak enak jika harus menahan Zada terlalu lama di sini. Dia pasti capek, dan butuh istirahat.
" Iya, gapapa. Aku ngerti kok."
Melihat Reya yang selalu pengertian padanya,membuat Zada langsung memeluknya. " Yang sabar ya, aku yakin kalau Anrey adalah anak yang kuat. Jadi, dia akan segera sembuh dan soal Aden ... mungkin tadi dia hanya sedang cemas saja, makanya bersikap seperti itu," nasehat Zada sebelum pergi. Sementara Reya hanya diam tak menanggapi.
Jika mengingat kembali tentang perkataan Aden tadi, membuat Reya kembali merasa sakit. Reya tahu, dia bukanlah ibu yang baik karena sudah menyebabkan putranya sakit, tapi apakah harus berkata seperti itu?
Kalau di bilang cemas, Reya juga sangat cemas. Bahakan sampai takut kalau akan terjadi apa-apa pada putranya.
Sekeluarnya dari kamar inap Anrey, Zada berjalan menghampiri tempat duduk Geva dan juga Aden.
" Jadi pulang sekarang sayang?"tanya Geva ketika Zada sudah berdiri di depannya.
Zada mengangguk. Namun, langkah kaki Zada tiba-tiba seketika terhenti karena merasa ada hal yang perlu ia katakan pada Aden.
" Kenapa sayang? Apa ada sesuatu yang tertinggal?"tanya Geva ketika sang istri tiba-tiba berhenti.
" Em, kamu tunggu sebentar ya. Ada satu hal yang ingin aku selesaikan," ucap Zada seraya berjalan kembali menghampiri Aden.
" Aden,"panggil Zada pada Aden yang akan memasuki ruangan Anrey.
" Ada apa?"
" Bisa bicara sebentar,"pinta Zada yang membuat Aden tak jadi masuk ke dalam.
Mereka berdua pun berjalan menjauhi ruangan Anrey.
" Ada apa?"tanya Aden to the point.
Zada menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
" Sebenarnya,aku tak suka ikut campur dengan masalah orang lain tapi gak tau kenapa aku merasa gelisah jika tak mengatakannya."
__ADS_1
" Katakan saja,"jawab Aden dingin.
" Bisakah jangan memarahi Reya seperti itu lagi?"akhirnya Zada mengeluarkan unek-unek yang ia simpan dari tadi. Sebagai sahabat dan juga seorang wanita, Zada bisa merasakan apa yang Reya rasakan saat ini. Jadi, ia berharap kalau Aden bisa bersikap lebih dewasa lagi ketika ada masalah.
Aden hanya diam menunduk.
" Aku tahu kamu cemas dan masih ada kesalahpahaman diantara kalian berdua yang belum terselesaikan. Tapi, aku harap kamu lebih bisa mengontrol emosi agar urusannya tak semakin runyam."
Aden mengangkat sedikit kepalanya, lalu memberikan tatapan yang begitu tak enak pada Zada.
" Jadi, kamu menganggap bahwa di sini aku yang membuat masalah. Oke, aku memang salah karena membiarkan Reya mengurus anak yang tak pernah dia inginkan hadir dalam hidupnya!" papar Aden yang kembali emosi. Entah kenapa, Aden jadi sangat sensitif jika mengigat kembali perkataan Reya yang tak menginginkan Anrey ada. Di tambah lagi, hari ini Reya sudah membuat Anrey masuk rumah sakit, membuat Aden semakin yakin kalau Reya benar-benar tak menyukai kehadiran putranya.
Dahi Zada berkerut saat mendengar perkataan Aden.
" A, apa maksud perkataanmu barusan?"
" Sudahlah, bukankah kamu tadi mau pulang? Jadi, pulang saja dan jangan ikut campur lagi dalam urusan rumah tanggaku!" Bukannya menjawab pertanyaan Zada, Aden justru mengusirnya agar segera pergi.
" Aden, jika kamu berpikir bahwa Reya tak menginginkan Anrey. Kamu salah besar! Karena bagi Reya, Anrey adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya."
" Dan seharusnya kamu paling tahu akan hal itu karena kalian tinggal bersama. Sekarang, coba kamu ingat-ingat kembali apakah pernah Reya melakukan hal yang menunjukkan bahwa dia tak menyayangi Anrey? Apa kamu lupa bagaimana perjuangan Reya ketika melahirkan Anrey? Dia sampai tak peduli kalau nyawanya menghilang asal Anrey lahir dengan selamat." Buliran bening seketika luruh begitu derasnya saat mengingat kembali bagaimana perjuangan Reya saat melahirkan.
Mengurus anak, adalah pekerjaan yang sangat sulit tapi Reya tak menyerah dan terus belajar menjadi Ibu yang baik. Tapi sayangnya, semua perjuangan itu masih saja di ragukan oleh suaminya karena sebuah kata-kata yang belum selesai di ucapkan.
Sepeninggal Zada dan Geva, Aden kembali memasuki kamar putranya. Di sana, terlihat Reya yang ketiduran sambil terus memegang tangan putranya. Seperdetik kemudian, Anrey sedikit bergerak dan hal itu langsung membuat Reya terbangun. Ketika terbangun, hal pertama yang Reya lakukan adalah mengecek suhu tubuh putranya, saat mengetahui bahwa suhu tubuh Anrey sudah menurun ia terlihat merasa lega. Kemudian, beralih mengecek diaper Anrey apakah sudah penuh apa belum.
Melihat semua itu,membuat Aden tersadar kalau memang dia yang terlalu bodoh karena sudah salah paham. Tanpa berkata apa-apa, Aden langsung memeluk Reya dari belakang, membuat ibu satu anak itu cukup terkejut.
" Maafkan aku sayang,"lirih di sela pelukannya.
Mendengar kata maaf keluar dari mulut suaminya, membuat hati Reya seketika menghangat. Dalam kondisi seperti ini, hal yang paling di butuhkan seorang istri memang pelukan hangat dari suami, bukan amarah karena ia juga tak menginginkan hal buruk terjadi pada buah hatinya.
...***...
Selama perjalanan pulang, Zada terlihat diam seribu bahasa. Padahal, biasanya dia akan banyak bercerita tentang kejadian hari ini.
Geva pun mencoba menggenggam tangan Zada yang terasa cukup dingin.
" Sayang lagi mikirin apa? Kok diam aja dari tadi?"tanya Geva yang mencoba membuka pembicaraan.
__ADS_1
Sementara Zada hanya tersenyum kecut.
" Cerita aja, daripada hanya di pendam sendiri terus buat mood jadi jelek."
Sebenarnya, begitu banyak yang sedang Zada pikirkan sehingga membuatnya bingung harus memulai cerita dari yang mana.
" Apa masalah pekerjaan?"tebak Geva yang di jawab dengan gelengan kepala.
" Atau sayang lagi lapar,ya?" goda Geva.
" Nggak kok!"elak Zada dengan wajah cemberut. Pasalnya, baru satu jam yang lalu dia makan camilan yang di belikan oleh Geva waktu masih di rumah sakit.
" Terus kenapa dong?"
" Laogong, sepertinya sekarang aku tahu apa alasan Tuhan belum memberikan kita anak,"kata Zada yang seketika membuat Geva mengerem mendadak.
Sreet ...
Tubuh Zada sedikit terpental ketika Geva tiba-tiba mengerem mendadak. Untungnya jalanan sudah mulai sepi kalau tidak, bisa bahaya.
" Laogong kok mengerem mendadak sih!"omel Zada.
" Maaf sayang ... sayang gapapa 'kan?" Geva mencoba mengecek tubuh Zada yang baik-baik saja.
" Gapapa sih,tapi itu bahaya!"
" Ya, habisnya sayang tiba-tiba bahas soal anak lagi." Geva terdengar sedikit melirihkan nada bicaranya ketika mengucapkan kata anak. Pasalnya, ia sudah jarang sekali membahas soal anak karena takut membuat Zada semakin terbebani.
" Ya .... emangnya gak boleh?"
" Bukan gak boleh, hanya___" Geva jadi bingung sendiri mau mengatakan apa karena hal ini cukup sensitif bagi para pejuang garis dua.
" Maaf ya, karena sampai saat ini belum bisa memberikan anak. Justru membuat kamu ikut-ikutan menahan diri untuk tidak membicarakannya demi menjaga perasaanku," ucap Zada dengan kepala tertunduk.
Geva langsung menggenggam kedua tangan Zada. " Sayang gak perlu meminta maaf karena soal anak itu bukan hanya masalah satu orang,tapi keduanya."
" Ya tapi 'kan kamu sudah jelas pernah punya anak sementara aku___" Geva langsung menutup bibir Zada dengan sebuah ciuman agar sang istri tak semakin melantur.
...****************...
__ADS_1