
Selesai sarapan,Geva dan Zada duduk bersama di sebuah sofa panjang, di temani coklat panas dengan menikmati pemandangan ikon kota Paris yang begitu terkenal, Menara Eiffel. Ya, dari kamar hotel yang Zada dan Geva tempati bisa melihat menara Eiffel dengan sangat jelas.
" Indah sekali ... "puji Zada yang duduk bersandar di dada bidang Geva.
Agar moment indah seperti ini tak terbuang sia-sia, Zada mencoba mengabadikannya melalui sebuah potret dirinya dan juga Geva. Inilah cara Zada untuk mengingat kembali kenangan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Lagipula, sepertinya mereka juga belum pernah foto bersama.
Kini,Zada sudah mengambil alih ponsel Geva dan langsung menyalakan aplikasi kamera bersiap untuk memotret.
" lǎogōng, ciss ...," Zada meminta Geva untuk tersenyum dan membuat sebuah pose dia jari. Awalnya Geva tak mau,tapi melihat wajah Zada yang cemberut membuatnya menurut.
Beberapa pose telah mereka lakukan,dan yang terakhir. Geva tiba-tiba mencium pipi Zada,namun berakhir menjadi saling berciuman saat wanita cantik itu menoleh.
Zada masih terdiam,sementara Geva justru buru-buru ingin melihat hasil jepretannya. Ya, foto terakhir Geva yang memegang kamera.
Melihat hasil fotonya yang sempurna,membuat Geva tersenyum bahagia.
" Coba aku lihat!"pinta Zada yang juga ingin tahu hasil dari potretan mereka barusan.
Geva pun kembali menarik tubuh Zada kedalam pelukannya agar mereka bisa melihat hasil foto itu bersama.
" Kenapa wajahku di tutup? Apa kamu malu memperlihatkan wajahku?"kesal Geva karena Zada menutup wajahnya dengan emoticon saat memposting ke media sosial. Padahal, Geva ingin para laki-laki yang masih cari perhatian pada istrinya tahu kalau suami Zada itu jauh lebih tampan dari mereka. Istilah kata,biar mereka insecure jika ingin mendekati Zada karena kalau mau jadi pebinor harus lebih tampan darinya.
" Bukan malu,lebih tepatnya menjaga dari bibit-bibit pelakor karena followersku banyak wanita," ucap Zada yang seketika membuat Geva tersipu malu.
" Jadi, kamu takut kalau para wanita-wanita itu menyukaiku? Kalau itu sih sudah biasa, pesona pria tampan memang tak ada yang bisa menolak,"ucap Geva seraya menyugar rambutnya ke belakang. Melihat Geva yang kembali narsis, membuat Zada sedikit menyesal karena sudah berkata seperti itu. Padahal,niat hati hanya ingin menghibur agar Geva tak bersedih karena ia menutupi wajahnya. Namun, siapa sangka jika itu justru membangkitkan jiwa narsisme suaminya.
Zada memegang dagu Geva, dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan. " Sebenarnya,bukan takut. Hanya tak suka membagi sesuatu yang sudah menjadi milikku dengan orang lain."
Geva menarik pinggang Zada hingga membuat tubuh keduanya menempel.
" Kalau itu, aku juga tak suka." Geva kembali mencium bibir Zada dengan lembut.
Dunia serasa milik berdua ya, kalau sudah seperti ini.
...***...
Di tempat lain,terlihat seorang gadis yang tengah sibuk memilih pakaian mana yang harus ia kenakan di acara pesta. Pasalnya, malam ini CTO perusahaan mengadakan pesta Natal di rumahnya.
__ADS_1
Reya terus mencoba beberapa gaun pesta yang ada di dalam lemarinya, tapi semua gaun itu sudah pernah ia pakai semua.
" Kenapa gak ada baju yang cocok sih!"kesal Reya ketika tak kunjung menemukan pakaian yang pantas. Ingin rasanya tak datang,tapi takutnya tak menghargai undangan atasan. Apalagi,di acara pasti Ada Joe sang pujaan hati.
Reya menghela nafas berat,lalu teringat akan baju-baju Zada yang sepertinya masih ada di lemari kamarnya.
Reya pun berjalan menuju kamar Zada, dan langsung membuka lemari itu. Benar saja, beberapa gaun pesta milik Zada masih tergantung rapi di sana. Untungnya, ukuran baju Reya dan Zada memang sama dan memang sering bertukar baju.
Awalnya,Reya ingin menghubungi Zada untuk meminta izin tapi ia baru sadar jika ponsel sahabatnya itu ada padanya. Teringat kalau Zada masih bisa mengirimnya pesan lewat Direct massage,membuat Reya pun meminta izin lewat pesan itu.
Setelah mendapatkan gaun yang cocok,Reya pun segera bersiap-siap untuk segera berangkat ke tempat pesta. Namun,siapa sangka jika ia terus-menerus mendapatkan sebuah kesialan. Dari taksinya yang tiba-tiba mogok di tengah jalan,sampai bajunya kotor akibat terkena percikan air.
" Sialan! Hei,keluar lo!"maki Reya pada pemilik mobil yang sudah membuat bajunya jadi kotor. Padahal,tinggal beberapa langkah lagi dia sudah sampai di gerbang perumahan rumah CTO,nya.
Melihat ada orang yang menggedor-gedor pintunya,membuat pria yang ada di dalam mobil itu keluar.
" Kamu!"pekik Reya dan Aden bersamaan dengan saling menunjuk satu sama lain.
Reya membuang nafasnya kesal,dia benar-benar tak pernah mengira kalau akan mendapatkan sebuah kesialan lagi dari Aden.
Sepertinya,apa yang dikatakan peramal itu ada benarnya. Jika Reya akan selalu mendapatkan kesialan jika dia berdekatan dengan seseorang yang memiliki shio tikus.
" Kamu nanya? ( Dengan menggunakan nada yang lagi viral) Bajuku kenapa?"
Dahi Aden berkerut. " Bukan, aku hanya sedang bertanya bukan nanya!"balas Aden yang membuat Reya semakin kesal.
Reya kembali melihat pakaiannya yang sudah sangat kotor, lalu bwralih menatap ke arah gerbang perumahan. Sepertinya, dia memang tidak di takdirkan untuk bisa menghadiri pesta itu.
" Kamu mau menghadiri pesta Pak Brata?* Aden masih saja bertanya.
" Tadinya sih iya,tapi sekarang sepertinya tidak bisa karena gaun ku kotor gara-gara seseorang yang tak tahu diri! Sudah tahu bersalah tapi berpura-pura tidak tahu!" kata Reya yang sedang menyindir Aden.
Bukannya sadar,Aden justru celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu. Melihat hal itu tentu membuat Reya semakin kesal, dan bergegas pergi.
"Tunggu!" panggil Aden yang layaknya sebuah magnet yang dapat menghentikan langkah Reya.
Aden berjalan menghampiri Reya,lalu menarik pergelangan tangannya dan membawanya bwrjalan memasuki mobil.
__ADS_1
" Hei,lepaskan!"bentak Reya memberontak. Namun, Aden tak menghiraukan nya.
" Masuklah, aku akan mengganti pakaianmu,"ucap Aden seraya membukakan pintu untuk Reya.
Bukannya masuk, Reya justru menyilangkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk perlindungan.
" Kamu jangan macam-macam ya!"ujar Raya yang sudah negatif thingking pada Aden.
Aden pun hanya bisa menghela nafas panjang." Kamu jangan salah paham, aku hanya bermaksud untuk membelikan pakaian baru untuk mengganti pakaianmu yang kotor itu,tidak lebih. Lagipula, wanita tepos sepertimu bukanlah tipeku!"ketus Aden yang membuat Reya melongo.
Apa dia bilang? Wanita tepos? Apa matanya sudah rabun?
Ingin rasanya Reya menampar Aden,tapi tiba-tiba ia melihat mobil Joe yang masuk ke dalam perumahan itu.
Sepertinya, aku Terima saja tawarannya daripada tidak bisa menghadiri pesta.
Akhirnya,Reya pun masuk ke dalam mobil Aden. Setelahnya,mobil itu sudah melewati cepat menuju sebuah butik.
Sesampainya di butik, Aden langsung menyuruh staff yang ada di sana untuk mencarikan gaun untuk Reya.
Reya pun di sambut dengan ramah, dan segera memilih-milih pakaian itu. Namun,tiba-tiba mata Reya melotot sampai hampir lepas saat melihat harga gaun yang ada.
"Busett!!! Nih baju mahal banget," gumam Reya dalam hati.
" Bagaimana Nona, apa sudah ada gaun yang anda suka?"tanya sang karyawan wanita yang bertugas menemani Reya.
" Em ...," Reya jadi bingung sendiri harus menjawab apa, akhirnya dia hanya bisa berpura-pura tak ada gaun yang ia suka.
" Kita pergi ke tempat lain saja,"ajak Reya pada Aden. Walau Reya tahu bahwa Aden yang akan membayar bajunya,tapi harga gaun di sini sangatlah mahal. Meski Reya tak menyukai Aden,tapi dia tak sekejam itu membiarkan seorang asisten harus membayar harga yang mahal hanya untuk sepotong gaun. Apalagi, gaun yang Reya kenakan bukanlah gaun mewah yang harganya selangit
" Kenapa?"
" Em ...,"Reya terlihat sedang berpikir untuk mencari alasan apa yang tak terkesan merendahkan dan memalukan. Namun, ternyata Aden paham akan gerak-gerik Reya.
" Mbak,tolong berikan satu gaun yang cocok untuknya,"pinta Aden pada karyawan wanita itu.
Reya yang awalnya menunduk, seketika mendongak saat mendengar Aden masih saja kekeh mau membelikannya gaun di tempat ini.
__ADS_1
...****************...