Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 44 : Berbeda


__ADS_3

Setelah panggilan Geva di matikan, sebuah panggilan lagi masuk dari Amel. Ya, berhubung Veena sudah tak lagi menjadi asistennya posisi itu di gantikan oleh Amel. Namun, hari ini Amel punya tugas sendiri sehingga tak bisa menemaninya pergi ke pabrik konveksi.


" Halo, ada apa, Mel?" tanya Zada.


" Apakah anda masih lama pulang ke kantornya?"


" Memangnya ada apa?"


Setelahnya, Amel menjelaskan apa yang sedang terjadi di kantor. Berhubung masalah di kantor lebih urgent, maka Zada putar balik kembali ke kantor.


*


*


Seusai menyelesaikan masalah yang terjadi, tiba-tiba sorot mata Zada tertuju pada alat jahit yang ada di dalam ruangan ini. Seulas senyum terbit di bibir Zada ketika sebuah ide muncul.


Saking paniknya karena pihak konveksi tak mau membantu menyelesaikan desain terbaru, padahal waktu pagelaran tinggal beberapa hari lagi, membuat Zada lupa jika di dalam ruang kerja tim desain semua alat lengkap. Di tambah lagi, banyak tim yang bisa ia kerahkan untuk membantu.


Terlalu terbiasa melakukan semuanya sendiri hingga membuat Zada lupa jika statusnya saat ini adalah ketua tim bukan lagi asisten desainer atau pegawai magang. Dimana dia bisa dengan mudah meminta bantuan timnya untuk mengerjakan pekerjaan bersama.


" Oh, ya. Dikarenakan pihak konveksi tidak menerima pekerjaan desain yang baru. Bagaimana kalau kita saja yang mengerjakannya sendiri?" papar Zada yang mencoba berdiskusi terlebih dahulu.


Semua tim terlihat saling pandang satu sama lain, lalu serentak setuju. Setelahnya, Zada meminta bantuan Amel dan Mita untuk membantunya mengambil barang-barang yang sudah ia beli serta beberapa pakaian yang akan di tambah elemen.


Dikarenakan ada beberapa hal yang belum mereka pahami,membuat Zada harus memberi pengajaran layaknya seorang guru. Meski Zada bukan lulusan dari luar negeri,tapi pengalamannya bisa di bilang cukup banyak karena dia sering ikut kursus, pelatihan, serta lomba yang berkaitan dengan dunia desain. Bahkan, Zada bisa di bilang seorang desainer yang banyak bisanya.


*


*


Selesai meeting bersama klien, Geva segera menyuruh Aden mengantarkannya ke rumah sewa istrinya dulu. Namun, siapa sangka jika Zada tak ada di sana.


" Anda mabuk Tuan Geva?"tanya Reya ketika mencium sedikit aroma alkohol dari tubuh Geva.


" Sedikit."


" Oh,ya dimana Zada?"tanya Geva lagi seraya memegangi kepalanya yang kembali berdenyut. Padahal, sebelumnya Zada sudah mengingatkannya untuk tidak meminum sesuatu yang berbau alkohol lebih dulu tapi Geva melalaikan pesan itu.


Awalnya, Geva sudah menolak ketika kliennya mengajaknya bersulang untuk meminum wine tapi pria itu terus saja memaksa hingga pada akhirnya Geva menyerah dan meminumnya sebagai bentuk kesopanan.


" Saya tidak tahu,"jawab Reya yang memang tak tahu dimana sahabatnya berada.


Tanpa berlama-lama, Geva pun mencoba menghubungi Zada tapi tak kunjung diangkat-angkat.


" Kemana dia?" gumamnya yang terus mencoba menghubungi sampai akhirnya panggilan itu tersambung.

__ADS_1


" Kamu dimana sih? kenapa di telepon tidak di angkat-angkat?"omel Geva yang masih kesal pada Zada.


" Sorry, aku tadi ada toilet. "


" Oh."


" Ada apa?"


" Kamu ada dimana? Kenapa di rumah sewa gak ada?"


Zada menepuk jidatnya sendiri karena lupa mengabari pada Geva jika malam ini dia lembur di kantor. Awalnya Zada tak berniat untuk lembur, tapi semua mengajak lembur agar semuanya cepat selesai dengan alasan agar bisa lebih santai H-1 sebelum acara.


" Jadi, kamu di kantor? Apakah sudah makan malam?" Walau masih dalam mode kesal bin cemburu tapi Geva masih saja perhatian.


" Belum sih, ini masih mau pesan makanan."


" Ya udah, kalau gitu biar aku saja yang pesankan."


Setelahnya panggilan pun di matikan.


" Bagaimana?"tanya Reya penasaran.


" Dia sedang lembur di kantor, kalau begitu aku pamit pergi."


*


*


Sekembalinya dari toilet, Zada langsung di tanya ingin makan apa karena yang lainnya ingin pesan makan malam.


" Soal makan malam sudah saya pesankan, jadi kalian tak usah pesan!"kata Zada memberitahu dan tentu membuat semua bersorak gembira.


Namun, tiba-tiba Mita menyadari satu hal.


" Itu gratis atau bayar, Supervisor?" tanya Mita memastikan karena Zada hanya mengatakan sudah memesankan, bukan membelikan.


Semua orang pun ikut terdiam, dan menunggu jawaban dari Zada.


" Gratis ...," jawab Zada yang membuat semua orang merasa lega.


Dan tak berselang lama, makanan sudah datang.


" Ini mau di taruh dimana?" tanya beberapa kurir yang datang bersamaan. Melihat ada beberapa kurir yang datang, membuat Zada berpikir kalau Geva tak membeli di satu tempat.


Zada pun meminta para kurir meletakkan makanan di atas meja pantry. Para karyawan lain sudah menelan Saliva masing-masing tatkala mencium aroma makanan yang menggoda iman. Perut yang tadinya sudah lapar menjadi semakin lapar. Bahkan, sudah mereog minta di isi.

__ADS_1


" Ini, khusus untuk Supervisor Zada," ucap sang kurir ketika membaca pesan dari sang pemesan.


" Ciee ....," sorak semua orang.


" Eh ...eh, jangan bilang yang belikan makanan ini semua kekasih supervisor?"goda Mita yang membuat pipi Zada langsung merona.


" Kalau mendengar pesan yang di bacakan oleh kurir sih, sepertinya begitu," timpal Nadine.


" Oh My God, kekasih supervisor Zada baik sekali. Bukan hanya baik tapi sweet dan loyal ...," tambah lainnya yang semakin gencar menggoda Zada.


" Sudah! sudah! Kalian makan saja, habis itu lanjut selesaikan pekerjaan!" Zada melerai candaan yang keluar dari para bawahannya.


Setelahnya, sebuah notifikasi pesan masuk dari Geva.


Geva [ Makan yang banyak, aku tunggu di mobil!]


Dahi Zada berkerut, entah kenapa Zada merasa kalau gaya bahasa Geva tak seperti biasanya. Terkesan seperti cuek tapi masih berusaha untuk perhatian.


Apa dia sedang marah?


Zada terlihat sedang berpikir apa yang membuat gaya bicara Geva berubah. Apa hari ini dia membuat kesalahan?


" Supervisor! Makanannya jangan di liatin terus, keburu abis," goda Temmy si lemah gemulai.


" Hush, jangan ganggu supervisor yang sedang rindu ingin segera bertemu dengan kekasihnya lalu memeluknya dan bilang.... Sayang... terimakasih , muach, muach." tambah Amel seraya memperagakan seseorang yang memeluk sambil mencium pipi kanan dan kiri.


" Dasar jomblo! pikirannya mesum terus ...,"olok Temmy sambil memanyunkan bibirnya.


" Ye ... biasanya 'kan memang begitu adegan di dalam drama-drama romantis!"


" Eh, tapi kenapa aku merasa kalau kekasih supervisor itu jauh berbeda sama yang dulu, ya?" ucap Amel.


Zada terdiam, apakah hal ini begitu mencolok? Kalau di bilang berbeda, tentu saja berbeda. Bahkan, bisa dikatakan jauh berbeda karena mereka memang bukan orang yang sama.


" Beda gimana?"tanya Nadine seraya terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


" Lebih loyal dan terkesan seorang pria kaya raya yang sangat bucin sama pasangannya," seloroh Amel yang diangguki oleh semua orang.


Sementara Zada hanya bisa tersenyum tipis karena apa yang dikatakan oleh Amel bisa di katakan benar. Kekasihnya yang dulu adalah anak orang kaya tapi masih bersembunyi di ketiak sang Mama. Sementara yang sekaranga...


Ah! Kenapa aku jadi ikut membanding-bandingkan Emerald dan Geva?


Zada langsung menepis pikiran buruknya, lalu segera memakan makanannya karena setelah ini masih harus kembali bekerja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2