
Di sebuah kamar hotel yang luas dan mewah,terlihat seorang pria dengan tubuh tegap tengah menatap langit kota Jakarta lewat gendela transparan. Tatapannya nanar,pikirannya tengah melalang buana mengingat kembali kehidupannya tiga tahun silam. Ya, sudah tiga tahun lamanya ia di tinggal pergi oleh orang-orang yang sangat ia cintai.
Ingatan tentang kejadian tiga tahun silam,membuat mata Geva kembali mengembun. Dimana, ia pernah seperti orang gila saat mendengar ketua tim SAR mengatakam kalau istrinya kemungkinan besar sudah meninggal di makan oleh ular besar penunggu gua dekat jurang. Pasalnya, mereka menemukan potongan kain yang berlumuran darah dan di ketahui bahwa itu adalah potongan baju yang terakhir Zada gunakan.
Shock,sedih,dan tak percaya menjadi satu saat mendengar kabar itu. Bahkan, Geva sampai meminta semua tim untuk membunuh ular itu untuk mencari jasad sang istri. Namun, pihak tim SAR menolak dengan alasan tak ingin mengambil resiko yang lebih besar akibat membunuh hewan ganas mematikan.
Mengetahui tak ada yang mau membantunya lagi, sempat membuat Geva ingin melakukannya sendiri. Akan tetapi semua keluarganya mencegah hingga membuat Geva harus diisolasi dan selalu berada dalam pengawasan selama beberapa bulan.
Kehidupan Geva saat itu benar-benar berada pada titik terendah karena di tinggalkan oleh belahan jiwa sekaligus calon buah hatinya. Kehidupannya yang awalnya penuh warna pelangi seketika berubah menjadi gelap dan berkabut. Sejak hari itu, Geva benar-benar berubah menjadi orang yang sangat dingin dan tak berperasaan bagaikan robot karena separuh jiwanya memang telah mati bersamaan kepergian sang istri. Meski demikian, Geva masih di tuntut untuk terlihat baik-baik saja mengingat siapa statusnya. Apalagi, masih ada seorang Ibu yang ingin putranya tetap hidup di dunia ini.
" Sayang, apakah benar jika kamu dan twins sudah ada di langit? Jika benar, apakah kalian bahagia di sana? Aku merindukanmu dan twins sayang."
Geva mengulurkan tangannya ke atas seakan sedang ingin menyentuh langit. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Dengan cepat, Geva langsung mengontrol emosi serta raut wajahnya.
" Gev ...,"lirih Mama Jianying seraya berjalan menghampiri Geva dengan di papah oleh Aristya. Sesungguhnya, yang kehilangan bukanlah hanya Geva saja tapi Mama Jianying juga. Apalagi saat melihat kehidupan sang putra berubah menjadi sangat menyedihkan,membuatnya ikut berpikir keras hingga menyebabkan kondisi tubuhnya yang sudah tua mudah terserang penyakit.
" Mama sama Kak Tya kenapa ke sini?" tanya Geva seraya membantu sang Kakak memapah Mamanya.
" Apakah Mama tidak boleh melihat putra kesayangan Mama sebelum dia bertunangan?"
Ya ... Hari ini Geva akan bertunangan dengan Annabeth. Namun, pertunangan ini bukanlah berdasarkan cinta melainkan hubungan bisnis.
__ADS_1
Menyadari sudut mata Geva yang lembab membuat Mama Jianying tahu jika putranya pasti baru saja menangis.
Mama Jianying mendekati Geva, lalu mengenggam tangan putranya yang dingin.
" Apa kamu bahagia dengan pertunangan ini,Gev?"tanya Mama Jianying dengan tatapan yang begitu dalam. Sebenarnya,Mama Jianying tak terlalu menyukai Annabeth tapi pertunangan ini terjadi atas keinginan Geva. Jadi,ia sebagai orang tua hanya bisa merestui, siapa tahu dengan begini dapat mengurangi kesedihan dan kesepian Geva setelah kepergian Zada.
Geva mencoba tersenyum tipis. " Mama kenapa bertanya seperti itu?"
"Lagipula, tak ada lagi arti bahagia dalam hidupku semenjak kepergian Zada karena kebahagiaanku telah hilang." Namun perkataan ini hanya bisa Geva ucapkan di dalam hati.
" Tidak ada, Mama hanya ingin tahu. Apakah putra Mama ini bahagia atau tidak dalam pertunangan ini."
" Ma ... tentu saja Geva bahagia, kalau tidak mana mungkin dia mau bertunangan. Lagipula, Mama seperti tidak tahu saja bagaimana watak Geva. Dia itu adalah orang yang tidak akan menikah jika tak mau," sahut Aristya.
Setelahnya, terdengar suara pihak WO yang mengatakan kalau acara pertunangan akan segera di mulai. Jadi, pihak laki-laki dan keluarga di mohon untuk segera turun ke tempat acara.
" Mama sama Kak Tya turun saja dulu, habis ini Geva akan menyusul,"pinta Geva yang diangguki oleh Geva dan Mama Jianying.
" Tya, Apa kamu yakin jika adikmu itu bahagia?" Mama Jianying masih saja bertanua selama perjalanan menuju ballroom.
" Ma, kenapa masih saja memikirkan itu sih! Apa Mama lupa pesan dari dokter untuk tidak terlalu banyak pikiran yang dapat memicu stress. Lagipula, Geva itu bukanlah anak kecil lagi. Dia sudah sangat dewasa, jadi dia tahu mana yang baik dan tidak untuk hidupnya sendiri. Kita sebagai keluarga hanya bisa mendukung saja,tanpa harus ikut mengatur."
__ADS_1
Mama Jianying hanya bisa bungkam tak berbicara lagi jika Aristya sudah berkata seperti ini. Tapi, apa yang dikatakan putri keempatnya ini ada benarnya juga. Geva itu bukanlah anak kecil yang apa-apa harus di tuntun karena dia pasti punya pendapat dan pemikiran sendiri.
Sebagai orang tua,Mama Jianying hanya bisa berharap dan berdoa pada Tuhan,semoga putra satu-satunya itu bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia. Soalnya, selama ini hidupnya sudah begitu banyak masalah.
Selesai membenahi diri, Geva langsung bergegas keluar dari kamar hotelnya. Ketika di perjalanan, tiba-tiba kancing lengan kemeja Geva lepas sehingga membuatnya berjalan sambil membenarkannya sampai tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
" Au!"pekik wanita cantik itu saat tangannya di senggol oleh Geva. Untung saja keseimbangannya cukup bagus sehingga membuatnya tak jatuh terpental di lantai.
" Oh, Maaf saya tidak sengaja. " Geva segera meminta maaf pada wanita itu karena sudah tidak fokus memperhatikan jalan hingga menabrak.
" Tidak apa-apa." Wanita itu mendongak, dan spontan membuat Geva terdiam membeku ketika tatapan mereka saling bertemu.
" Tuan, apakah ada yang salah?"tanya wanita itu saat melihat Geva diam dan terus menatapnya.
" Eh, kamu___" Belum saja Geva selesai berbicara. Wanita itu sudah pergi begitu saja saat ponselnya berbunyi.
" Ya,tunggu sebentar.Ini Mimi sudah perjalan kembali ke lobi kok. Jadi,Kalian diam saja jangan pergi kemana-mana oke!"pinta wanita itu yang terus berjalan menjauh. Sementara Geva, terlihat bingung sejenak lalu berlari mengejar wanita itu. Namun sayangnya Geva terlambat sedikit sehingga membuatnya kehilangan jejak wanita itu.
" Siapa dia? Kenapa wajahnya mirip dengan Zada? Tapi,jika dia Zada ... kenapa tak mengenaliku? Apa hanya aku saja yang sedang berhalusinasi karena terlalu merindukannya? Astaga Geva ... ingat, istrimu sudah meninggal tiga tahun lalu. Jadi, berhenti berhalusinasi dan menganggap orang lain adalah dia!"
Geva langsung meraup wajahnya kasar. Sebenarnya, ini bukanlah pertama kalinya Geva seperti ini dan ujung-ujungnya orang itu bukanlah Zada. Melainkan orang lain yang dalam pandangan Geva adalah istrinya.
__ADS_1
" Sepertinya aku harus memeriksakan mataku ke dokter!"
...****************...