
"Semalam___" Geva terlihat gugup, kepala yang awalnya biasa saja tiba-tiba jadi terasa begitu gatal. Entah ini suatu kebetulan atau keberuntungan, ponsel Geva tiba-tiba berbunyi,membuatnya izin untuk mengangkat panggilan itu.
" Halo,Fatt. Untung saja kamu menelpon!"kata Geva sedikit berbisik pada asistennya di ujung telepon. Dengan sedikit celingukan,Geva mencoba memantau situasi dan untungnya Zada kembali di sibukkan dengan beberes di dapur.
" Memangnya ada apa,bos?"tanya Fattan.
" Gapapa, oh ya. Kamu menelpon ada kepentingan apa?" Geva kembali bertanya akan maksud Fattan menelponnya pagi ini.
" Oh, Itu Pak Edwin dan Bu Annabeth meminta bertemu kembali pagi ini. Kata beliau ada yang ingin di sampaikan sebelum mereka berangkat ke luar negeri,"terang Fattan sesuai amanah yang ia terima.
" Baiklah, kalau begitu kamu tunggu saja saya di basement!" titah Geva.
" Baik bos."
Setelahnya,panggilan pun di matikan. Sebenarnya, Geva sedikit ragu,takut dan merasa tak nyaman untuk bertemu lagi dengan Annabeth. Akan tetapi, untuk saat ini Geva sangat membutuhkan kerjasama dengan perusahaan DG Grup untuk menyelesaikan masalah krisis perusahaan Nuraga grup.
" Sayang, aku minta maaf sekali. Barusan Fattan menelpon mengatakan ada meeting mendadak bersama dengan klien. Jadi___"
" Kalau begitu aku masukin ke dalam kotak bekal saja sarapannya!"sela Zada dengan wajah dingin dan datar.
" Sayang... Maaf... "
" Tidak masalah!"dusta Zada.
Walau sudah mengatakan tidak masalah, Geva dapat merasakan aura kemarahan di raut wajah dan sikap dingin Zada.
"Ini, jangan lupa di makan!" Zada memberikan satu tas kecil berisi kotak bekal sarapan pagi untuk Geva.
Seperti biasanya, Geva akan mencium pipi dan kening Zada sebelum berangkat ke kantor. Sementara Zada akan memberikan sebuah pelukan perpisahan. Namun, hari ini Zada terlihat menghindar dengan mengatakan sebuah alasan yang terdengar seperti pengusiran dengan menyuruh Geva segera pergi agar tidak terlambat.
" Maafkan aku sayang,tapi aku terpaksa melakukan ini demi menyelamatkan perusahaan! Aku harap, suatu saat kamu akan bisa mengerti kenapa aku tak memberitahumu tentang hal ini. "
Sepeninggal Geva, Zada langsung menghela nafas berat. Dia mencoba menetralkan emosinya agar tidak memuncak. Pasalnya, foto serta sikap Geva pagi ini mampu menghancurkan mood Zada.
" Zada tenang, oke! Ingat, kamu tidak boleh stres." Zada mencoba mengingatkan dirinya sendiri sambil terus menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Meski demikian, tetap saja ada perasaan tak suka saat melihat suaminya mencoba menutupi pertemuannya dengan wanita yang paling Zada benci.
__ADS_1
Di saat Zada mencoba untuk menstabilkan moodnya, tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk dari Kakak iparnya yang beberapa bulan ini menghilang.
[ Za, bisakah bertemu di cafe biasanya? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!]
" Kak Tya..., kenapa tiba-tiba ingin bertemu?"gumam Zada yang tetlihat memikirkan apa kemungkinan yang telah terjadi sehingga membuat sang Kakak ipar tiba-tiba kembali menghubunginya. Pasalnya,terakhir kali mereka bertemu, Aristya terlihat menahan amarah dan kecewa pada dirinya karena telah menolak permintaannya.
Zada terlihat bingung, haruskan dia menuruti permintaan Aristya untuk bertemu? Bagaimana jika dia mengabaikannya saja? Tapi ... bagaimana kalau memang ada sesuatu penting yang memang ingin dia bicarakan. Lagipula, bagaimana pun Aristya itu masih tetap kakak iparnya, sekaligus Kakak yang pernah paling baik dan bisa menerima dirinya sebagai adik.
Setelah mondar-mandir tak jelas dam berpikir cukup lama, akhirnya Zada memutuskan untuk bertemu saja. Dengan cepat,Zada langsung berganti pakaian dan bersiap-siap pergi ke cafe itu. Itung-itung cari udara segar juga.
Sesampainya di cafe yang biasanya ia kunjungi dengan Aristya. Zada terlihat celingukan untuk mencari dimana keberadaan sang Kakak ipar.
" Zada ...,"panggil Aristya sambil melambaikan tangan ke arah Zada. Sementara Zada langsung mencari sumber suara itu.
Zada tersenyum tipis ketika menemukan dimana keberadaan Aristya.
" Maaf sudah membuat Kakak menunggu lama, soalnya jalanan lumayan macet,"terang Zada agar Aristya memahami apa penyebab keterlambatannya.
" Iya, Gapapa. Kamu mau pesan minuman dan makanan apa?"tawar Aristya yang bersikal seperti biasanya. sementara Zada,terlihat sedikit canggung sejenak.
" Apa aja boleh Kak, asal aman untuk ibu hamil."
" Bagaimana kabar Kakak?"tanya Zada untuk membuka pembicaraan.
" Seperti yang kamu lihat,Kakak baik-baik saja. Kamu sendiri gimana? "
" Baik juga."
Aristya tersenyum. " Syukurlah, kalau twins?"
" Dia baik juga."
" Oh,ya. Sebelumnya Kakak minta maaf ya karena kemarin gak bisa datang di acara tujuh bulanan kamu. Soalnya, ada sesuatu hal yang membuat Kakak tidak bisa datang."
" Gapapa kok Kak, melihat Kakak baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup. Oh,ya ... Selama beberapa bulan ini Kakak tinggal dimana? Kenapa tiba-tiba menghilang dan tidak bisa di hubungi? Apa Kakak tahu, kalau Mama, Geva dan aku sangat khawatir dengan kondisi Kakak."
__ADS_1
Aristya menunduk sejenak, lalu tersenyum. " Maaf ya, Beberapa bulan ini sudah membuat Kalian khawatir. Tapi tenang saja, Kakak baik-baik saja. Hanya sedang menenangkan diri di sebuah tempat yang dapat menyembuhkan luka."
Mendengar kata luka,seketika membuat Zada merasa bersalah karena dia juga termasuk orang yang telah menggoreskan luka di hati Aristya, Walaupun tidak secara langsung, tapi tetap saja.
" Maaf ya ... Kak ...,"ucal Zada dengan perasaan yang sangat tulus.
" Kamu apa-apaan sih,Za. Buat apa kamu minta maaf? Seharusnya yang minta maaf itu Kakak karena sebelumnya sudah sangat egois, tanpa memperdulikan bagaimana perasaan kamu."
" Kakak ...," seru Zada yang jadi terharu dan langsung memeluk Aristya. Sebenarnya, Zada paling tak suka ada pertengkaran diantara keluarga atau saudara. Tapi keadaan kemarin itu benar-benar membuatnya tak bisa mengontrol emosi hingga mengeluarkan kata-kata yang tqk seharusnya di ucapkan. Tapi untungnya Aristya itu berhati baik dan mudah memaafkan. Setelahnya kedua wanita itu mengobrol cukup banyak seperti biasanya. Sampai tak terasa, hari sudah siang.
" Oh,ya Za. Bisakah kamu rahasiakam pertemuan kita hari ini?"pinta Aristya sebelum mereka berpisah,
" Memangnya kenapa,Kak?"
Aristya menghela nafas berat. " Soalnya, Kakak masih belum siap untuk bertemu dengan yang lainnya. Jadi, Kakak harap kamu bisa mengerti dan merahasiakannya dulu,ya. Nanti, Kalau sudah waktunya Kakak pasti akan menemui Mama dan yang lainnya kok."
Melihat Aristya yang seperti ini,membuat Zada merasa iba. Sepertinya,masalah kemarin benar-benar berdampak cukup besar hingga membuat mental dan kepercayaan diri Aristya sangat down. Tapi, sebagai wanita yang pernah di hina mandul dengan keluarga, Zada cukup mengerto bagaimana perasaan Aristya.
" Baiklah, yang penting Kakak jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa, Kakak bisa hubungi Zada."
Aristya mengangguk.
Setelahnya,mereka berdua pun berpisah karena arah pulang yang tak sama.
Ketika dalam perjalanan,tiba-tiba Zada merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur. Ketika mendengar suara yang cukup keras, membuat Zada mulai mengerjapkan matanya.
" Pak, suara apa itu?"tanya Zada pada sang supir. Namun,tak kunjung ada jawaban. Zada pun mulai membuka matanya dan mengetahui kalau tak ada supir di depan tapi mobil tetap berjalan menuruni jalan turunan.
" Ini di mana? Dan supirnua kemana?" Zada terlihat cemas dan mencoba untuk membuka pintu. Namun terkunci, jalanan juga terlihat sangat sepi dan asing baginya.
" Tolong ...!" teriak Zada seraya memukul-mukul kaca jendela dan berusaha untuk membuka pintu mobil. Menyadari kalau mobil berjalan menuju sebuah jurang,membuat pupil mata Zada melebar. Dia terlihat semakin panik dan bingung harus melakukan apa.
" Laogong kamu dimana? aku butuh kamu ... "
Ban mobil terus menggelinding semakin cepat,sementara Zada berusaha untuk berjalan ke depan untuk menghentikan mobil.Namun, bentuk tubuhnya yang besar membuat Zada kesulitan untuk melawati sekat.
__ADS_1
" Aaaa ...."
...****************...