Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 59 : Omes!


__ADS_3

Di ujung telepon, terdengar Anna yang terus memanggil-manggil nama Geva layaknya seseorang yang butuh penjelasan.Penjelasan atas apa yang ia dengar barusan, entah kenapa dia seakan tak percaya saat mendengar Geva memanggil seseorang dengan panggilan sayang. Bahkan, hubungan mereka terdengar sangat intim sekali.


Siapa orang itu? Dimana Geva sekarang?Dan apa hubungan mereka? Kenapa selama ini Anna tak pernah tahu bahwa Geva sedang dekat dengan seorang wanita? Jangankan dekat, selama ini Anna dan orang luar memang taunya Geva tak sedang dekat dengan wanita selain dirinya. 


Begitu banyak pertanyaan muncul dalam benak Anna yang membuatnya bingung dan sakit hati. Sakit saat mendengar pria yang sudah ia cintai selama bertahun-tahun sedang bersama dengan wanita lain, bahkan suara Geva terdengar begitu lembut saat memanggilnya dengan sebutan sayang.


Anna yang penasaran pun segera bergegas pergi untuk melihat ke apartemen Geva.


*


*


" Emangnya gak dingin? Terus, kenapa gak cepet ganti baju? Nanti masuk angin loh, atau jangan-jangan ... kamu memang sengaja ingin memancingku, ya ...."goda Geva yang sudah bersiap untuk mencium Zada. Namun,gadis cantik itu kembali menutup bibir Geva dengan ujung jarinya.


Dahi Geva berkerut,kedua alisnya juga saling bertaut tak mengerti akan  sebuah penolakan dari istrinya.


"Mandilah dulu,"bisik Zada di dekat telinga Geva.


" Apa aku bau?" Geva justru kembali bertanya.


Zada mengangguk dengan mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan hidup layaknya seseorang yang tengah mengusir aroma tak sedah. Alih-alih minder saat di hina bau, Geva justru menggelitik Zada.


" laogong … hentikan,geli!!"pinta Zada yang terus tertawa karena geli. Bahkan, di sudut matanya terlihat ada buliran bening yang hampir jatuh.


Brug


Tubuh keduanya sama-sama terjatuh diatas sofa panjang. Kini,posisi mereka terlihat begitu intim dengan Geva yang berada diatas tubuh Zada.


Momen seperti ini,sungguh sangat mendukung untuk melanjutkan aksi. Nafas keduanya pun terdengar tersengal-sengal akibat terlalu lama main gelitik sert tertawa. Geva sudah kembali mencondongkan wajahnya mendekati wajah Zada,namun tiba-tiba suara bunyi perut keroncongan terdengar nyaring yang seketika memecahkan suasana romantis.


Geva terlihat menghela nafas panjang.


" Kamu lapar?"tanya Geva yang hanya dijawab dengan  anggukan kepala oleh Zada. 


" Kalau begitu,aku akan menyuruh  karyawan hotel mengantarkan makanan."

__ADS_1


Setelahnya,Geva pun beranjak bangkit dari posisinya dan langsung menghubungi pihak hotel agar mengirimkan makanan ke kamarnya. Sementara Zada,kali ini merasa sangat berterima kasih pada cacing dalam perutnya karena berbunyi di waktu yang tepat. Jika biasanya Zada akan kesal karena mereka selalu berbunyi tak melihat sikon,kini Zada justru berterima kasih karena mereka membuat aksi itu tertunda. Namun, sepertinya Zada tak yakin jika ia bisa terus-menerus mengulur waktu untuk tidak melakukannya.


Kenapa aku tiba-tiba kembali menjadi sangat ragu? Apa karena Anna? Sebenarnya,ada hubungan apa antara Geva dan Direktur Anna?Apakah mereka memang begitu dekat layaknya rumor yang beredar?


Selama ini, Zada memang tipe orang yang tak suka kepo dengan kehidupan orang lain. Selagi orang itu tak mengganggu kehidupannya,dia juga akan bersikap hal yang sama. 


"Sayang … kenapa masih belum ganti baju?" tanya Geva yang seketika membuat lamunan Zada buyar.


" Oh,iya." 


" Apa perlu aku bantu untuk mengganti pakaian?"goda Geva dengan seringai licik.


" Dasar Omes!"cibir Zada.


" Mandi aja sana,biar gak bau!"lanjut Zada yang kembali menggoda Geva dengan menghinanya bau.


" Maunya di mandiin …,"manja Geva yang membuat Zada bergidik ngeri. Sementara Geva justru tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Zada yang tengah memperagakan bahwa dia merinding dan geli saat di suruh memandikan bayi gede. bukan bayi gede lagi sih,bayi tua yang akan membuat mata melongo saat melihat tubuh telanjangnya.


Setelahnya, Geva pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan  dirinya.Namun,ketika baru membuka baju dan melihat pantulan dirinya di cermin. Geva baru teringat kalau perban lukanya harus di ganti dengan yang anti air terlebih dahulu jika ingin di pakai mandi.


Sepertinya,semesta memang sedang berpihak padanya.


" Sayang …," 


" Astaga!"pekik Zada tatkala mendengar suara Geva kembali memanggilnya,bahkan kepalanya tiba-tiba menyembul dari balik pintu kamar mandi. Untung saja Zada belum melepaskan bathorebnya, kalau tidak. Sudah dapat di pastikan jika Geva bisa melihat tubuh naked Zada sebelum waktunya.


" Bisakah bantu pasangkan perban anti airnya?"pinta Geva dengan wajah tanpa bersalah karena telah membuat Zada terkejut.


Zada pun hanya bisa menghela nafas panjangnya,ingin menolak tak bisa karena ia tahu jika luka itu cukup sulit di jangkau dengan tangan sendiri. Harus butuh bantuan orang lain jika ingin mengganti perban.


Zada pun beranjak bangkit dari tempat duduknya,beralih mengambil sebuah kotak yang di dalamnya berisi obat,perban,dan lain sebagainya.


Ini,adalah pertamakalinya Zada membantu menggantikan perban pada luka Geva karena biasanya suster yang melakukannya. Menatap luka itu,seakan membuat Zada teringat kembali kejadian dimana Geva telah mempertaruhkan nyawa untuk dirinya.


" Sayang …,"panggil Geva tatkala merasakan tak  ada pergerakan dari istrinya.

__ADS_1


"Eh,iya."


Geva berbalik menatap wajah Zada dengan mata yang telah mengembun.


" Kamu kenapa?"tanya Geva seraya menangkup wajah Zada yang tertunduk.


" Aku gapapa,"dusta Zada.


"Jangan berbohong padaku, karena aku bisa melihatnya."


" Kenapa waktu itu kamu mengganti posisi?" Akhirnya Zada mengeluarkan pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Selama ini,Zada memang terus memikirkan kenapa waktu itu Geva rela mengganti posisi sebagai seseorang yang tertembak. Kenapa dia tak membiarkan dirinya saja yang terluka? Setidaknya,jika Zada yang pergi tak akan banyak orang yang kehilangan serta bukan orang penting juga. Sementara Geva, dia adalah satu-satunya seseorang yang bisa meneruskan keturunan Nuraga. Jika dia tak ada,siapa lagi yang akan menjadi penerus?


Di tambah lagi, Geva masih mempunyai seseorang yang akan sangat terpukul jika dia pergi, sementara dirinya...


" Karena aku tak mau kamu terluka,"jawab Geva dengan tatapan yang begitu dalam.


" Kenapa?Apa kamu tak takut mati?"


Geva justru tersenyum tipis saat melihat Zasa yang mulai menangia." Aku takut,tapi lebih takut lagi jika kamu yang terluka dan akhirnya pergi meninggalkanku."


Deg.


Jantung Zada seakan berhenti sejenak, setelahnya seakan ada semburan air dingin yang menyirami hatinya.


" Apa se takut itu kamu kehilanganku?"


Geva mengangguk, membuat Zada semakin bingung. Jika diingat kembali,pertemuan mereka baru sekitar satu bulan, dan sejak awal Geva selalu saja takut jika Zada akan pergi meninggalkannya. Sebenarnya ada apa? Tak mungkin 'kan___


Zada terlihat memperhatikan wajah Geva dengan seksama,dan tiba-tiba sebuah ingatan lama terlintas kembali.


" Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"


Geba tersenyum. " Kamu mengingatku?"


...****************...

__ADS_1


MP nya pending dulu ya...😁


__ADS_2