
" Apa anda mencintai Zada?" tanya Reya yang juga merasa ada yang salah dengan Paman dari Emerald ini.
Geva terlihat terdiam sejenak seakan sedang memikirkan jawaban dari sebuah pertanyaan tentang cinta.
" Untuk saat ini saya tidak bisa menjawabnya, tapi saya bisa pastikan bahwa saya akan melindungi dan membahagiakan Zada selama dia menjadi istri saya."
" Sepertinya, anda memang belum mencintai Zada tapi kenapa anda repot-repot menahannya di sisi anda? Bukankah banyak wanita lain yang___"
" Sepertinya kamu terlalu banyak bicara dan ikut campur," potong Geva sebelum Reya menyelesaikan ucapannya.
"Saya tahu mengkhawatirkan Zada, tapi tidak harus terlalu ikut campur juga 'kan? Dan, hari ini saya ada urusan penting. Jadi, tidak bisa meladeni kamu terlalu lama. Jika kamu ingin bertemu Zada, kamu bisa datang ke rumah kami."
Setelahnya, Geva segera mengenggam tangan Zada dan mengajaknya beranjak pergi dari rumah ini. Pasalnya, dia sudah sangat pusing dan sesak berada di rumah ini.
" Em ... Tuan Geva, tapi saya belum membereskan barang sama sekali, " ujar Zada yang memang belum mengambil apapun dari rumah ini.
" Ambillah sesuatu yang penting dalam waktu lima menit. Saya tunggu kamu di luar!" tukas Geva yang keluar lebih dulu untuk menghirup udara segar.
Lima menit?
Dengan kecepatan kilat, Zada segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil beberapa barang yang menurutnya sangat penting. Sedangkan Reya juga ikut masuk ke dalam kamar itu.
" Za, kamu yakin akan tetap bersama dengan pria itu? Dia tidak mencintaimu tapi masih menahan u untuk tetap berada di sisinya. Lagipula, nukankah kamu tidak suka di atur-atur?" Reya masih saja memberondong beberapa pertanyaan pada Zada.
" Rey, waktuku hanya sebentar. Jika ada waktu, kita bicarakan lagi soal ini oke? " ucap Zada seraya pergi meninggalkan kamarnya dengan terburu-buru.
Entah kenapa, tiba-tiba Zada berubah jadi penurut seperti ini tanpa ada pemberontakan sedikitpun.
Sementara di luar, Geva terlihat membuang nafas dan menarik nafas banyak-banyak layaknya orang yang baru saja kehabisan oksigen. Dan aksi itu di lihat oleh Zada dari kejauhan.
Ada apa dengan pria ini? Kenapa dia semakin aneh dan misterius sekali?
" Tuan Geva, anda baik-baik saja?" tanya Zada seraya menepuk pundak Geva.
Geva berbalik dan langsung memeluk Zada begitu saja. Entah magic, ilusi atau apa, perasaan jadi Geva lebih tenang saat memeluk dan menghirup aroma tubuh Zada.
__ADS_1
Rasanya sungguh nyaman dan menenangkan.
Jika Geva merasa tenang saat memeluk Zada, lain halnya dengan gadis itu yang tiba-tiba merasa kalau detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
" Tetaplah di sisiku, dan jangan pernah pergi," racau Geva yang masih terdengar oleh Zada.
Apa maksud dari kata-kata ini? Kenapa pria ini sungguh membingungkan?
Setelah merasa tenang, dan kembali normal Geva langsung mengurai pelukannya.
" Sudah berkali-kali aku katakan, jangan memanggilku Tuan karena aku bukan Tuanmu tapi suamimu, Za," ucap Geva seraya membelai lembut pipi Zada.
Di balik jendela, ternyata ada seseorang yang terus memperhatikan interaksi mereka berdua.
" Maaf," lirih Zada.
Geva tersenyum lembut." Kali ini aku maafkan, tapi jika aku mendengar kamu memanggilku Tuan lagi akan ku beri hukuman," ancam Geva.
Setelahnya, Geva membawa Zada pergi dari rumah Sewa.
Selama di perjalanan, Zada lebih banyak diam. Zada yang biasanya cerewet seakan hilang entah kemana. Apa mungkin karena gugup akan bertemu mertua dan keluarga besar?
Geva tersenyum, lalu kembali meraih tangan Zada yang terasa dingin dan menggenggamnya.
" Tidak perlu gugup, Mamaku tidak bukanlah monster yang suka memakan orang," gurau Geva yang mencoba membantu mengurangi rasa gugup pada Zada.
" Lagian siapa juga yang bilang kalau Mama anda monster, dan aku juga tidak gugup! Biasa aja," elak Zada yang tak mau terlihat lemah.
Geva tersenyum." Baguslah kalau begitu, aku jadi lebih tenang!" kata Geva menimpali.
*
*
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah dengan halaman luas dengan desain rumah tradisional china. Memasuki rumah ini, layaknya sedang berasa di negara tirai bambu. Bahkan, di rumah ini juga ada tanaman bambu, benar-benar rumah yang seakan memperlihatkan bahwa penghuninya adalah orang china.
__ADS_1
Apa jangan-jangan Gevariel keturunan orang China? Tapi, Dia tidak memakai marga dengan nama-nama China.
" Em ... lǎogōng," panggil Zada pelan namun masih terdengar oleh Geva.
" Kamu tadi memanggilku apa?" tanya Geva yang tak jadi keluar dari mobil.
" Lǎogōng ...," ulang Zada yang seketika membuat Geva tersenyum.
" Aku suka panggilan itu, terdengar seperti panggilan Mama dulu ke Papa. "
" Jadi ... Orang tua anda keturunan china?" tanya Zada.
" Mama keturunan tionghoa, Papa asli orang Indonesia."
" Oh ..., pantes," lirih Zada.
Setelahnya, keduanya segera turun dari mobil. Ketika baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Zada berpapasan dengan Mama Bitha, Emerald dan juga Veena yang kebetulan baru datang juga. Melihat Zada yang seketika diam membeku, membuat Geva langsung merengkuh pinggang Zada posesif.
Zada pun seketika menatap ke arah Geva ketika suaminya itu tiba-tiba merengkuh pinggangnya.
" Kalian juga baru datang?" sapa Veena.
" Paman, Zada ___" sapa Emerald.
" Kamu memanggilku Paman, jadi harus memanggil Zada dengan sebutan Bibi Karena bagaimana pun, dia sekarang adalah bibimu," terang Geva.
Emerald hanya bisa mengangguk. Entah kenapa, ada rasa ngilu di hatinya saat melihat pamannya meringkuh pinggang Zada posesif.
" Kamu tidak membawa hadiah untuk Oma? "tanya Veena julod saat melihat Zada tak membawa apa-apa. Sementara Veena terlihat membawa sebuah kotak persegi panjang yang entah apa isinya.
Zada terlihat menatap bingung ke arah Geva. Pasalnya, dia benar-benar tak tahu apa-apa soal harus membawa hadiah.
" Kamu tidak perlu membawa apa-apa karena hadirmu saja sudah merupakan hadiah paling indah untuk Mama," ucap Geva lembut dengan tatapan begitu dalam.
...****************...
__ADS_1
Halo gengs, hari ini novi udah crazy up loh. Jadi, jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya ...
Peluk sayang buat kalian semua 🥰