Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 40 : Merasa bersalah


__ADS_3

" Aden ...," panggil Zada dengan nafas sedikit ngos-ngosan. Sebenarnya, hari ini Zada ada meeting bersama tim desain tapi berhubung mendapatkan sebuah telepon dari Aden kalau Geva masuk rumah sakit, dia menundanya.


" Nyonya."


" Dimana Geva?"tanya Zada yang terlihat khawatir.


" Ada di ruangan UGD," jawab Aden.


Setelahnya, kedua orang itu berjalan beriringan menuju ruangan UGD. Selama perjalanan, Zada banyak bertanya tentang kondisi Geva.


" Aden, sebenarnya ada apa dengan Geva? Kenapa tiba-tiba bisa masuk rumah sakit?" Jujur, Zada cukup terkejut saat mendengar kabar kalau Geva masuk rumah sakit. Pasalnya, seingatnya dia semalam baik-baik saja tidak ada yang salah.


" Yang serumah dengan bos 'kan Anda Nyonya? Seharusnya, yang paling tahu dengan kondisi bos itu anda."


Zada langsung terdiam ketika mendengarkan perkataan Aden yang terdengar seperti sebuah sindiran secara tidak langsung. Zada memang serumah, tapi sejak kemarin dia sedikit menjauhi Geva. Bahkan, pagi ini dia sengaja berangkat lebih awal agar tak bertemu dengan pria yang sudah membuatnya merasa kesal tak jelas.


" Apa kalian sedang bertengkar?"tanya Aden penasaran.


" Tidak," elak Zada yang merasa kalau mereka sedang tidak bertengkar hanya sedikit menghindar.


" Jika tidak bertengkar, kenapa anda pergi ke kantor lebih dulu? Bukankah biasanya selalu bersama?"


Lagi-lagi Zada di buat diam oleh asisten suaminya ini.


" Jangan pernah pergi diam-diam tanpa pamit pada bos nyonya, apalagi sampai tidak menjawab teleponnya karena itu bisa membuat penyakit paniknya kambuh."


Tek


Langkah Zada seketika terhenti, lalu menengok ke arah Aden yang tiba-tiba ikut berhenti juga.


" Apa maksud kamu?" tanya Zada yang memang tak pernah tahu soal gangguan panik berlebihan yang di miliki oleh Geva. Pasalnya, serangan panik itu hanya akan kambuh ketika Geva merasa kalau orang yang ia sayangi tiba-tiba pergi meninggalkannya.


Geva paling takut di tinggal pergi oleh orang-orang tersayangnya. Gangguan ini bermula ketika ayahnya yang tiba-tiba meninggal seusai bertengkar besar dengannya. Sebelum ayahnya mengalami kecelakaan kata-kata yang ia ucapkan adalah ia akan pergi. Dan ternyata setelahnya dia benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


Perasaan bersalah serta duka akibat kehilangan sang ayah belum juga sembuh, tiba-tiba Geva kembali di tinggalkan dengan kejadian yang hampir sama. Dimana sang istri tiba-tiba meminta cerai darinya dan setelahnya mengalami kecelakaan tepat di depan matanya. Itulah alasan kenapa Geva paling tak suka dengan kata 'pergi' dia takut. Takut jika harus mengalami kehilangan lagi, dan lagi. Bahkan, akibat dari kejadian malam itu Geva jadi sering mengalami mimpi buruk, insomnia dan serta gangguan kecemasan. Bahkan, ia nyaris hampir bunuh diri karena tak mampu hidup dalam bayangan mimpi buruk terus-menerus.


Sesampainya di ruangan itu, Zada dapat melihat tubuh Geva terkulai lemas berbaring di atas brankar.

__ADS_1


Mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat, membuat Geva mencoba untuk bangun. Rasa pusing di kepalanya, sudah berangsur menghilang.


" Zada ...,"lirih Geva dengan raut wajah berbinar tatkala melihat istrinya yang datang. Zada pun memaksakan untuk tetap tersenyum walau dalam hatinya penuh rasa bersalah dan khawatir.


Bersalah karena selama ini belum bisa menjadi istri yang baik dan tak tahu apa-apa soal Geva. Padahal, Geva selalu berusaha menjadi suami yang sangat baik untuknya walau pernikahan ini berawal tanpa cinta.


" Bagaimana kondisimu? Apakah sudah lebih baik?"tanya Zada perhatian.


Geva mengangguk dan tersenyum.


" Kamu kenapa datang ke sini? Bukankah ini masih jam kerja? Lagipula, aku tadi berniat untuk mengunjungimu ke perusahaan tapi di larang oleh Aden." Geva mengadu layaknya anak kecil.


Sebelumnya, Memang Aden yang menghentikan Geva untuk tidak pergi karena dia sudah menghubungi Zada. Lagipula, saat itu keadaan Geva belum terlalu stabil. Dia masih mengalami pusing efek akibat terlalu sering mengkonsumsi obat tidur. Sebenarnya bukan hanya pusing saja, ada beberapa gangguan lainnya juga tapi Geva menutupinya. Begitulah Geva yang selalu berpura-pura baik-baik saja agar tak membuat orang di sekitarnya cemas dan khawatir


" Dasar sok kuat!" Zada mencebik saat melihat Geva masih saja berpura-pura baik-baik saja di depannya.


" Aku bukan sok kuat, tapi emang kuat!"kilah Geva yang tak mau di kira lemah.


" Kalau kuat, mana mungkin bisa sakit!"


" Ya ... walau kuat, aku 'kan tetap manusia bukan robot."


...***...


" Oh,ya. Kalian tahu dimana Zada?"tanya Emerald pada salah satu tim desain ketika ia tak kunjung menemukan keberadaan Zada.


" Oh, Supervisor Zada tadi pergi,Pak. Katanya ada sesuatu yang penting," jawab Amel memberitahu.


" Pergi kemana?"tanya Emerald penasaran kemana mantan kekasihnya itu pergi di saat jam kantor.


" Saya kurang tahu sih,Pak. Soalnya supervisor Zada tidak memberitahu."


Berhubung tak bisa bertemu dengan Zada, maka Emerald pun pergi dari ruangan tim desain.


...***...


Setelah dokter memeriksa kembali kondisi Geva, akhirnya dia sudah di perbolehkan pulang. Namun, masih dengan catatan untuk mencoba berhenti meminum obat tidur. Walau obat itu resep dokter, tetap saja akan ada efek jangka panjangnya sehingga lebih baik di hindari.

__ADS_1


Berhubung Geva baru saja keluar dari rumah sakit, Aden melarangnya untuk istirahat saja di rumah.


" Sayang, kamu hari ini WFH aja ya,"pinta Geva yang tak mau sendirian di rumah.


Zada terdiam seakan sedang berpikir apakah harus dia WFH. Tapi, mengingat kondisi suaminya yang sedang sakit membuatnya jadi tak tega kalau harus meninggalkannya sendiri.


" Baiklah."


Geva tersenyum bahagia karena ternyata sang istri lebih memilih menemaninya daripada kembali ke kantor. Padahal, Geva tahu kalau sebenarnya istrinya sedang sibuk tapi dia juga tak mau di rumah sendirian.


Sesampainya di depan lobi apartemen, Geva dan Zada turun bersama. Demi tak menyia-nyiakan kesempatan, Geva berpura-pura kembali merasa pusing agar Zada mau memapahnya. Dan untungnya istrinya itu terpancing. Melihat Zada yang begitu perhatian seperti ini membuat Geva merasa sangat senang.


Pasalnya,biasanya Zada selalu marah-marah jika dia menggandeng tangannya tapi sekarang ...


pertamakali nya sakit ini membawa keuntungan dan aku tak merasa menyesal karena sakit.


Awalnya, Zada ingin membaringkan Geva di kamarnya. Namun, Geva menolak dan meminta tidur di kamar Zada saja.


" Aku tak mau tidur sendiri!"kata Geva memberi alasan.


"Ya ... baiklah."


Zada pun membantu Geva berbaring di atas ranjangnya.


" Istirahatlah, aku mau masak dulu."


Namun, siapa sangka jika Geva mencekal tangan Zada layaknya sedang mencegah gadis itu pergi.


" Temani dulu aku sampai tertidur, "pinta Geva dengan memasang puppy eyes.


" Tapi__"


" Kalau begitu, berikan aku obat tidur."


"No!"tolak Zada dengan memasang wajah garang. " Tidak ada obat tidur, apa kamu lupa tadi pesan dokter? BERHENTI MENGKONSUMSI OBAT TIDUR!" ucap Zada penuh penekanan.


" Kalau begitu, temani aku tidur!"

__ADS_1


Zada membuang nafasnya kasar, dia benar-benar tak mengira kalau Geva akan semanja dan mengesalkan seperti ini. Masak tidur saja minta di temani seperti anak bayi.


...****************...


__ADS_2