Mendadak Menikahi Paman Mantanku

Mendadak Menikahi Paman Mantanku
Bab 16 : Paman Diktator


__ADS_3

" T-tuan Geva, maksud anda barusan apa ya?" tanya Zada yang mulai bingung dengan sikap suami palsunya ini.


Jujur, Zada mengira bahwa hubungan mereka cukup berhenti sampai di acara pernikahan itu saja. Dia tak pernah berpikir untuk menikah secara nyata dengan Geva, apalagi dia masih Paman Emerald.


Luka yang Emerald goresan pada hatinya saja belum sembuh, lalu apalagi ini? Jika Geva mencoba untuk mengekangnya, maka Zada tidak akan bisa karena mimpi-mimpinya masih terlalu banyak yang ingin ia wujudkan.


" Bisakah jangan memanggilku Tuan? Aku bukan Tuanmu Zada, tapi suamimu!" tukas Geva yang sama sekali tak suka mendengar Zada memanggilnya Tuan.


Zada menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ini memang bukanlah pertama kalinya Geva menyebutkan dirinya sebagai suami, tapi entah kenapa Zada masih saja tak menyukai hal itu.


" Baiklah, kalau begitu kita perjelas saja hubungan yang masih abu-abu ini. Saya, Zada Clofer Fortuna tidak pernah menganggap bahwa pernikahan ini nyata. Jadi, bisakah anda __"


" Tidak bisa!" potong Geva yang langsung memberikan sebuah penolakan sebelum Zada menyelesaikan ucapannya.


Zada melongo, dia sungguh tak tahu dengan jalan pikiran pria yang ada di hadapannya sekarang. Apa yang membuat pria ini masih mempertahankan dirinya yang hanya seorang upik abu? Kalau di pikir lagi, dengan visual serta statusnya sebagai Ceo Nuraga grup dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik, cantik, kaya, berkelas dan masih banyak lagi.


" Oke, kalau begitu. Maaf saya tidak bisa untuk tetap berada di sini bersama orang yang tidak bisa diajak berdiskusi!" tukas Zada seraya bangun dari tempat duduknya untuk pergi.


Geva pun ikut bangkit dari tempat duduknya dan berlari memeluk Zada dari belakang dengan cukup erat.


" Zada, bisakah jangan pergi? Saya bisa memberikan semua yang kamu inginkan asal jangan tinggalkan saya," ucap Geva yang semakin mengeratkan pelukannya.


Melihat tingkah Geva yang aneh dan begitu takut di tinggal pergi, membuat Zada merasa jika ada yang salah dengan pria ini. Ada apa dengannya? Dia terlihat layaknya seseorang yang memiliki ketakutan di tinggalkan.


Tiba-tiba, terdengar bel berbunyi membuat Geva akhirnya melepaskan pelukannya pada Zada. Berhubung Geva ingin membuka pintu, sebuah ide licik hinggap di benak Zada untuk memanfaatkan keadaan ini untuk kabur. Namun, baru saja ingin melangkah. Geva sudah memberikan sebuah intruksi kalau Zada harus tetap di tempatnya.


Sebelum membuka pintu, Geva melihat layar monitor yang memperlihatkan siapa yang ada di luar. Mengetahui bahwa yang datang adalah Aden, Geva kembali melirik ke arah Zada yang tengah memakai pakaian minim.

__ADS_1


" Zada, masuklah ke dalam kamar terlebih dulu," pinta Geva yang langsung di tolak oleh Zada.


" Zada ... Please ... Sebelum saya bertindak yang tidak-tidak!" ancam Geva.


Namun, Zada tetap kekeh untuk tidak mau pergi. Lagipula, bukankah tadi Geva sendiri yang menyuruhnya untuk tetap berada di tempat itu? Jadi, Zada akan tetap di sana.


Bel kembali berbunyi, membuat Geva tak punya pilihan lain. Tanpa berkata apa-apa, Geva langsung menggendong tubuh Zada layaknya karung beras dan memasukkan ya ke dalam kamar.


" Tetap di sini, sebelum saya memperbolehkan kamu keluar!" titah Geva yang membuat Zada kembali melongo.


Kenapa pria ini jadi semakin memperlihatkan sikap diktatornya? Zada ingin melawan, tapi siapa sangka jika dengan gerak cepat Geva bisa mengunci pintu kamar itu.


" Paman Diktator bukain pintunya! "teriak Zada sambil menggedor-gedor pintu. Namun, Geva tak menghiraukan teriakan Zada dan terus berjalan pergi untuk membukakan pintu Aden.


" Apakah Anda sedang sibuk, bos? "tanya Aden setelah pintu terbuka.


" Em. " Geva hanya menjawabnya dengan deheman saja.


" Sepertinya sudah, bos. Saya bantu bawakan masuk___"


" Tidak perlu!" tolak Geva yang tak memperbolehkan Aden masuk kedalam.


" Kenapa bos?" tanya Aden bingung. Padahal, biasanya Geva selalu menyuruhnya membawakan barang-barang sampai masuk kedalam.


" Pergilah saja, sudah malam!" usir Geva yang tak mau Aden masuk ke dalam penthousenya.


Dahi Aden berkerut, namun tak berani bertanya apa-apa lagi saat Geva sudah memberikan tatapan tajam padanya.

__ADS_1


Sepeninggal Aden, Geva membawa semua paper bag itu menuju kamarnya yang saat ini di tempati oleh Zada.


Mendengar suara pintu di buka, membuat Zada langsung bangkit dari duduknya dengan memasang wajah kesal.


" Bisakah jangan menjadi Paman Diktator? Aku, Zada tidak suka di atur-atur!" kesal Zada pada Geva yang baru saja membuka pintu dengan menenteng beberapa paper bag. Sementara Geva hanya diam saja dengan ekspresi datar, membuat Zada jadi canggung sendiri.


" Ini barang-barang untukmu, kalau ada yang kurang katakan saja. Nanti akan aku belikan," ucap Geva seraya menyodorkan beberapa paper bag itu.


Bukannya menerima dengan hati yang gembira layaknya gadis lain ketika mendapatkan hadiah barang-barang branded, Zada justru semakin emosi dengan sikap Geva yang menurutnya seperti sedang menyogoknya dengan kemewahan .


" Tuan Gevariel, anda kira saya akan mudah luluh dengan benda-benda seperti ini?" tukas Zada yang membuat Geva semakin bingung.


" Saya memang gadis yatim piatu dan miskin tapi saya bukan gadis yang suka bergantung pada laki-laki kaya raya. Saya memang suka uang karena untuk bisa bertahan hidup di kota besar ini, memang harus memiliki benda itu. Dan saya juga lebih suka mendapatkan sesuatu dari hasil jerih payah saya sendiri daripada__" nafas Zada tiba-tiba terasa begitu sesak jika mengingat kembali bagaimana para orang-orang kaya yang sering menghinanya karena bukan berasal dari keluarga kaya.


" Zada, sepertinya kamu sudah salah paham. Saya hanya sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan kamu layaknya seorang suami pada umumnya. Jadi, jangan berpikir yang macam-macam, ya?" terang Geva yang tak ingin Zada berpikir yang tidak-tidak.


" Tapi anda tidak perlu melakukan ini semua karena pernikahan ini hanya palsu. Saya tahu waktu itu sudah salah mengenali orang, tapi bukankah anda juga sudah menerima uang bayaran dari saya walau__ tak seberapa," lirih Zada yang jadi malu sendiri jika mengingat kembali kejadian itu.


Dimana, dia memberikan uang satu juta rupiah pada pria kaya raya yang ia kira pengantin bayaran yang telah Reya sewa.


Geva sedikit merendahkan tubuhnya agar tubuh mereka sejajar.


" Karena saya sudah menerima pembayaran dan sudah mengucapkan janji suci pernikahan, maka saya adalah milik kamu sepenuhnya. Jadi, jangan pernah menganggap bahwa pernikahan ini palsu karena kamu tetap pengantin saya sampai kapanpun!"


Deg


Entah kenapa jantung Zada seakan berhenti sejenak tatkala mendengar ungkapan Geva yang terdengar layaknya sebuah ungkapan cinta?

__ADS_1


Huh? Cinta? Mana mungkin, mereka baru mengenal beberapa hari itupun juga karena sebuah kesalahan. Jadi, mana mungkin ada cinta diantara mereka.


...***...


__ADS_2