
Nama Email itu memang bukan milik Zada, namun nama rekening penerima itu tertulis nama lengkap Zada di sana.
" Bukan aku ...,"lirih Zada dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Anna menarik nafas panjang, Ia benar-benar tak pernah menyangka jika Zada berani menjual desain milik Nuraga ke pesaing.
" Bukan kamu,tapi ua
Melihat netra Zada yang sudah mengembun, dengan wajah kalut membuat Geva jadi tak tega. Tapi, dia juga bingung harus bersikap bagaimana sekarang.
Geva kembali mencermati isi email itu, dan menemukan tanggal, serta jam pengiriman email itu.
" Sekarang, kita tak mungkin mengeluarkan produk itu di acara pagelaran karena kita bisa di kecam sebagai plagiat,"terang Direktur Anna.
" Siapa bilang?"kata Geva yang terlihat seakan menampik perkataan Direktur Anna.
" Ya, kamu juga tahu sendiri 'kan kalau mereka sudah meluncurkan produk lebih dulu, di tambah lagi mereka punya bukti bahwa telah membeli desain bukan menjiplak," terang Direktur Anna.
" Aden, panggil salah satu team IT Ke sini," titah Geva.
" Baik,bos."
Aden pun segera pergi dari ruangan itu, sementara Anna, Zada dan Elisa terlihat bingung kenapa Geva butuh tim IT untuk datang.
" Gev, kamu mau ngapain?"tanya Anna penasaran apa yang akan di lakukan oleh Geva.
" Mencari pelaku," jawab Geva singkat.
" Bukankah pelakunya ada di depan kamu?" hardik Anna dengan tatapan tak suka dengan Zada.
" Bukan saya," elak Zada yang tak terima dianggap sebagai pelaku penjual desain itu. Pasalnya, dia tak pernah melakukan hal keji itu.
" Gak usah terus mengelak, bukankah sudah ada buktinya! Bahkan, uang juga sudah masuk ke dalam rekening" Bukan Anna yang berbicara tetapi Elisa dengan tatapan yang tak kalah sinisnya.
" Jika kalian tak percaya, saya siap kok mengembalikan uangnya!"tukas Zada yang tak mau di salahkan atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
" Percuma kamu mengembalikan uangnya, karena mereka sudah meluncurkan produk lebih dulu. Dan sekarang, Perusahaan yang harus mengalami kerugian besar karena kamu!"hardik Elisa.
" Sudah, jangan saling berdebat sebelum semua buktinya kongkrit!" lerai Geva yang berusaha bersikap bijak. Walau ada rasa tak percaya, tapi Geva tak bisa bersikap lebih condong memihak Zada karena ada sebuah bukti transferan masuk ke dalam rekening sang istri.
Ingin rasanya Geva bertanya, kenapa Zada terlihat seakan tak tahu jika ada uang masuk yang mencurigakan.
Tak lama kemudian, Aden sudah kembali dengan membawa salah satu petugas IT yang kebetulan adalah Reya.
" Reya ...," lirih Zada.
" Zada, ngapain kamu ada di sini?"tanya Reya yang ikut kaget melihat sahabatnya berada di ruangan Direktur perencanaan.
__ADS_1
Melihat Geva yang ada di sana juga, membuat Reya mencoba menahan diri untuk bersikap tidak saling mengenal. Bahkan, ia sampai membungkam mulutnya yang hampir saja menyebut nama pria itu.
" Kalian saling kenal?"tanya Anna kepo.
" Em ..., Kenal. Soalnya Zada__"
" Cepat lakukan tugas kamu!" titah Geva yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Pasalnya, ia tahu bagaimana karakter Anna. Jika dia tahu kalau Zada dan Reya sahabatan, pasti dia akan berpikir kalau mereka komplotan.
Berhubung saat di perjalanan tadi Aden sudah memberitahu apa yang harus ia lakukan, membuat Reya langsung beraksi dengan leptopnya. Beberapa menit berselancar, akhirnya Reya menemukan lokasi pengirim email itu.
" Apakah sudah dapat?"tanya Geva penasaran.
" Sudah," jawab Reya yang tiba-tiba merasa tak enak.
" Dimana?"
Berhubung sudah sangat penasaran, Elisa langsung menajamkan penglihatannya dan mulai membaca dimana lokasi itu berada.
" Perusahaan Nuraga Fashion," ucap Elisa memberitahu.
Zada terdiam, kali ini sepertinya dia akan benar-benar terpojok. Sementara Geva, mengamati tanggal dan juga pengiriman email itu. Lalu, kembali mengingat-ingat kejadian pada hari itu. Pasalnya, hal itu terjadi sebelum dia pergi ke luar negeri.
" Bukan Zada pelakunya," ucap Geva mantap karena pada jam itu, Zada sudah bersamanya di dalam mobil perjalanan menuju rumah.
" Maksudnya?"seru semua orang.
" Kenapa kamu begitu yakin,Gev?"tanya Anna penasaran.
" Karena pada jam itu, Zada sedang bersama saya dan Tuan Geva." Bukan Geva yang bersuara,tetapi Aden.
" Bersama?!"pekik Anna yang terlihat terkejut.
" Bersama bagaimana?" lanjut Anna penasaran.
Sementara Geva dan Zada jadi gelagapan serta terus memberikan kode lewat sorot mata ke arah Aden yang tak bisa mengontrol perkataannya.
Namun, ternyata Aden pintar dan cukup bisa di andalkan. Alih-alih membongkar hubungan pribadi keduanya, Aden justru mengatakan kalau mereka bertemu karena Geva akan mengurus hak paten desain.
" Jadi ... desain itu sudah di daftarkan hak patennya?" tanya Anna memastikan.
Aden mengangguk. Walau cerita yang sebenarnya bukan seperti itu, tapi keesokan paginya dia memang di beri tugas Geva untuk segera mendaftarkan hak paten gambar itu. Pasalnya, Geva tahu bagaimana kejam dan liciknya dunia bisnis. Jadi, dia ingin segera melindungi karya-karya sang istri dengan baik.
Tanpa berlama-lama, Geva langsung meminta Aden menghubungi kuasa hukum mereka. Berhubung acara pagelaran sudah semakin dekat, maka mereka harus gerak cepat untuk menyelesaikan masalah ini segera.
Selesai berdiskusi, Anna mencoba menghubungi temannya lagi yang kebetulan bekerja di Wear Me. Awalnya, Geva berniat untuk membicarakannya secara baik-baik dengan pihak Wear Me. Namun, berhubung mereka tak mau bekerja sama. Maka, Geva akan menyelesaikan masalah ini dengan cara lain.
...***...
__ADS_1
Sekeluarnya dari devisi Perencanaan, Geva langsung membawa Zada pergi karena banyak hal yang ingin ia bicarakan. Sementara Aden, menyelesaikan tugas yang di perintahkan oleh Geva.
Ketika berada di dalam mobil, Zada lebih banyak menundukkan kepalanya. Begitupun dengan Geva yang juga jadi pendiam. Walau bukan dia pelakunya, tapi Zada tetap merasa bersalah karena sudah menimbulkan masalah besar.
" Maaf,"lirih Zada yang masih terdengar oleh Geva.
" Maaf untuk apa?" kata Geva dingin.
" Maaf karena sudah menyebabkan masalah besar," tutur Zada dengan suara bergetar layaknya sedang menahan tangis. Jujur, pikiran Zada benar-benar kalut saat ini. Dia bingung harus melakukan untuk membuktikan bahwa bukan dia yang menjual desain itu.
Melihat ada penjual ice cream di sebuah taman, membuat Geva mengemudikan mobilnya menuju taman itu.
" Ayo turun dulu," ajak Geva seraya membukakan pintu Zada.
" Kita ada dimana?"tanya Zada bingung.
" Sudah,turun dulu. Apa perlu aku gendong?"goda Geva yang langsung membuat Zada turun dari mobil.
Tanpa ragu, Geva menggandeng tangan Zada menuntunnya berjalan menuju sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang.
" Kamu tunggu di sini," punya Geva yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Zada.
Setelahnya, Geva berjalan pergi menghampiri penjual ice cream yang tak jauh dari tempat Zada duduk.
" Pak, Ice cream strawbery vanilla satu,"pinta Geva pada sang penjual ice cream.
Dengan lincah, tangan sang penjual langsung bekerja mengaut gumpalan ice cream di dalam box.
" Makanlah, biar lebih tenang." Geva menyodorkan satu cup ice cream strawberry vanilla pada Zada.
" Kamu tidak beli?"tanya Zada saat melihat Geva hanya membeli satu cup saja. Padahal, Geva bisa saja membeli satu gerobak ice cream.
Geva menggeleng.
Zada pun segera memakan ice cream itu dengan mata yang langsung tertutup seakan sedang menikmati manis dan lembutnya rasa strawberry dan vanila di dalam indra pengecapnya.
Helaan berat berhembus begitu saja, memang obat penat itu ya memakan ice cream di tempat sejuk seperti ini. Walau cuaca siang ini cukup panas, tapi hembusan angin masih terasa menerpa kulit wajahnya. Bahkan, dedaunan kering pun ikut berjatuhan bersama hembusan angin.
Melihat ada daun yang jatuh di atas kepala Zada, membuat Geva membantu mengambilnya. Merasakan ada sentuhan lembut di kepalanya, membuat Zada membuka mata.
" Ada daun di rambut kamu," kata Geva memberitahu.
Melihat Geva yang masih bersikap baik dan lembut seperti ini padanya, membuat Zada semakin merasa bersalah. Sepasang matanya seketika kembali mengembun.
" Ada apa? Jika ada yang membuatmu merasa tak nyaman, katakan saja. Aku akan mendengarnya," ucap Geva seraya mengusap pipi Zada lembut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, tiba-tiba Zada menghambur memeluk Geva. Mendapatkan sebuah pelukan secara mendadak dari Zada, tentu membuat Geva terkejut. Pasalnya, selama menikah, Zada tak pernah memeluknya lebih dulu. Geva yang tak mau melewatkan kesempatan pun, langsung membalas pelukan Zada.
__ADS_1
...****************...