
Mendengar kalau Geva membiarkan Zada pulang sendiri hanya karena ada sebuah pekerjaan mendadak, tentu membuat Mama Jianying semakin kesal dan marah. Bisa-bisanya putranya itu lebih mementingkan pekerjaan dari pada istrinya, apalagi itu adalah hari pertama dimana mereka telah sah menjadi suami istri.
Hari yang seharusnya menjadi suatu momen yang sangat spesial, apalagi bagi seorang wanita.
Geva benar-benar sudah sangat keterlaluan!
" Ma, apakah aku ini masih putramu?" tanya Geva ketika Mama Jianying membawa putranya pergi menjauh dari yang lainnya dengan cara kurang nyaman di lihat.
" Sepertinya bukan, karena aku tak punya putra yang tidak bisa menghargai seorang wanita!" tukas Mama Jianying dengan tatapan begitu tajam.
Geva hanya bisa menghela nafas panjang, lalu mencoba mengusap lembut punggung sang Mama dan meminta maaf agar tak terus marah-marah. Di usianya yang sudah tak lagi muda, membuatnya harus lebih di perhatikan lagi. Apalagi soal kesehatan agar sang Mama bisa awet sehat.
" Ma, maafkan Geva jika menikah secara mendadak. Tapi percayalah jika pernikahan ini bukan palsu seperti apa yang di katakan oleh Kak Bitha dan Geva sedang tidak bermain-main," terang Geva serius.
" Mama tahu jika kamu bukanlah pria yang suka mempermainkan pernikahan, tapi kenapa mendadak sekali dan dengan___" Mama Jianying tak tahu harus seperti apa mengatakannya.
" Geva tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Mama saat ini, dan Geva minta maaf."
Mama Jianying hanya bisa menghela nafas panjang. " Apa dia gadis itu?" Kini, pembahasan tiba-tiba berubah menjadi lebih serius.
Geva hanya diam dan menunduk.
" Jadi, apa kamu menikahinya karena dia___"
" Bukan!" tolak Geva cepat sebelum sang Mama menyelesaikan ucapannya.
" Lalu apa Geva?"
Geva masih diam, membuat Mama Jianying semakin meraba-raba apa alasan putranya tiba-tiba menikah.
" Jika kamu belum bisa mengatakannya, tidak masalah. Tapi ingat, jaga dia baik-baik karena Mama bisa melihat bahwa dia adalah gadis yang baik dan tulus," ucap Mama Jianying yang tak mau memperpanjang masalah ini.
" Pasti, Geva pasti akan menjaga dia dengan baik, "jawab Geva penuh keyakinan. Walau di hatinya belum ada rasa cinta tapi Geva sudah menekankan pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga dan melindungi Zada.
Sementara di ruang keluarga, atmosfernya terasa begitu dingin dan mencekam.
__ADS_1
" Siapa namamu tadi, Zada?" tanya seorang wanita paruh baya dengan pakaian begitu glamour.
Zada mengangguk.
" Sebenarnya apa yang terjadi diantara kamu dan adik bungsuku itu?" tanya wanita itu dengan wajah tak ada ramahnya sama sekali.
" Maksud___" Zada menggantung ucapannya seakan memberikan sebuah kode jika dia bingung harus memanggil wanita itu apa. Pasalnya dia tak tahu siapa wanita itu di keluarga ini
" Aku Eshika Faunia Nuraga," ucap wanita itu yang seakan paham maksud dari Zada.
" Putri kedua Nuraga, tapi jangan harap aku mau di panggil kakak olehmu. Karena aku tak menerima kaum rendahan sebagai keluarga," lanjutnya yang begitu pedas.
" Kakak!" pekik Aristya yang tak suka akan sikap kakaknya pada Zada.
" Kenapa? Gak usah sok ikut campur, lebih baik urus saja dirimu sendiri yang sampai saat ini belum juga hamil,"cemoh Wanita itu.
Zada melongo, dia tak pernah mengira bahwa wanita ini lebih jahat daripada Mama Emerald. Masak iya menghina adik sendiri di depan orang banyak. Walau dalam lingkup keluarga, tapi apakah harus seperti itu?
Astaga, mulut wanita ini kenapa pedes banget kayak bon cabe sih! Lagipula, panggilan kakak tidak cocok untuk wanita paruh baya sepertimu! pantesnya di panggil si mulut pedas!
Zada menoleh ke arah Aristya yang tiba-tiba menunduk, hatinya pasti sangat sakit sekali mendapatkan perkataan seperti itu.
" Dan, tidak sepantasnya Anda berbicara seperti itu pada adik sendiri di depan orang banyak," lanjutnya.
Gara-gara berada di tempat orang-orang seperti ini membuat jiwa julidnya seakan bangun dari mati suri.
" Kamu! Berani-beraninya menghinaku seperti itu, benar-benar kaum rendahan yang tak memiliki etika!" tukas Eshika dengan raut wajah penuh kekesalan.
" Dia orangnya memang seperti itu, Tante. Tidak punya tatakrama yang baik," timpal Veena dengan lirikan menghina ke arah Zada.
Kebetulan, tempat duduk Veena bersebelahan dengan Eshika.
" Kamu mengenalnya? " tanya Eshika.
" Kalau di bilang kenal sih hanya cukup tahu saja karena kebetulan dia adalah asisten desainer di kantor dimana aku dan Rald bekerja, "jawab Veena.
__ADS_1
" Jadi, dia hanya karyawan rendahan di anak perusahaan Nuraga grup? " tanya Eshika lagi dengan nada mengejek.
Veena mengangguk.
" Jangan-jangan, kamu beneran berpura-pura hamil atau terus-menerus menempel serta menggoda adikku agar dinikahi dan bisa menjadi nyonya di keluarga Nuraga!"hardik Eshika.
Zada melongo, sementara Aristya mencoba menenangkan sang adik ipar agar tak terpancing emosi. Pasalnya, dia tahu betul dengan sikap kakaknya itu yang tak mau mengalah.
Zada menarik sudut bibirnya." Saya kira, anda hanya orang yang suka julid dan bermulut pedas tapi ternyata juga picik! Yang suka menilai dan berkata sesuka hati tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain."
" Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak HAMIL. Dan saya, tidak seperti seseorang yang dengan mudahnya merebut tunangan wanita lain sampai rela melakukan hubungan intim sebelum ada ikatan pernikahan, " lanjut Zada seraya melirik ke arah Veena seakan mengisyaratkan kalau ia sedang menyindirnya.
Veena mendelik, sementara Zada sudah bersiap-siap beranjak pergi dari tempat itu. Tempat yang katanya kumpul keluarga tapi tak layak di sebut keluarga.
Namun, siapa sangka jika tiba-tiba Geva dan Mama Jianying sudah kembali. Geva menghampiri Zada, lalu merangkulnya pinggangnya posesif.
" Aku dan Zada menikah memang sangat mendadak sehingga membuat orang lain mudah berspekulasi yang tidak-tidak. Tapi kalian juga harus tahu kalau dia tak pernah sedikitpun menggodaku karena aku yang mengejarnya!"
Skak
Semua orang seketika diam, begitupun dengan Zada yang ikut diam membeku.
Netra keduanya masih saling bersitatap begitu dalam hingga membuat jantung Zada berdetak tak karuan.
Dia benar-benar tak pernah mengira bahwa Geva akan berkata seperti ini di depan keluarga besarnya.
Apa jangan-jangan dia memang menyukaiku?
" Kalian sudah dengar? Jadi, berhentilah untuk berpikiran yang tidak-tidak tentang Zada! Terutama kamu Eshika, kamu memang terlahir dari keluarga terpandang tapi etikamu nol!" pungkas Mama Jianying.
" Jika kamu masih terus seperti itu, jangan harap Mama masih mengakuimu sebagai anak. Di tambah lagi, apa kamu lupa akan perbuatan suamimu yang selalu kamu bangga-banggakan itu terhadap perusahaan?"beber Mama Jianying yang jadi ikut emosi terhadap putri keduanya itu.
Sebelumnya, dia selalu diam soal masalah itu tapi sepertinya sekarang Eshika juga butuh di beri sebuah pelajaran agar bisa entropeksi diri sendiri daripada terus mencari kekurangan orang lain.
Mendengar Mama Jianying yang tiba-tiba membahas soal suami Eshika, membuat semua keluarga menatap ke arahnya. Sementara wanita itu terlihat gelagapan dan takut jika semua orang tahu tentang masalahnya.
__ADS_1
Sepertinya, hubungan keluarga ini cukup rumit!
...****************...