Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Berlian Yg Terpasang di Jari atau Berlian Yg Mesti Digali di Bumi


__ADS_3

Rania keluar ruangan bosnya seperti orang linglung. Otak dan tubuhnya seperti tidak singkron. Tubuhnya sudah terduduk di meja kerjanya, tapi otaknya belum berhasil mencerna semua kejadian barusan. Rania duduk, bengong, menggigit bibir bawahnya. Meletakkan dagunya di mega, melamun lagi. Lalu menidurkan kepalanya beralaskan kedua tangannya. Belum berapa lama sudah mengubah posisinya duduk kembali.


"Heiii....Nia, kamu kenapa?" tanya mbak Susan penasaran.


Rania menolehkan kepalanya menghadap mbak Susan, dia hanya menatapnya saja tanpa berbicara.


"Ehh.......ini anak kesambet kayaknya. Ditanyain malah bengong," ucap mbak Susan lagi bingung.


"Loe diapain sama si bos sampe begini. Mana lama banget tadi ngasih laporannya," mbak Susan makin bingung.


"Mbak Susan, coba cubit Nia mbak,"


"Cubit....," tanya Susan


"Iya mbak, tolong cubit Nia....,"


"Awww......Sakit mbak Susan," rengek Rania


"Bukannya tadi minta dicubit," jengkel Susan


"Tapi nggak sakit gini juga kali mbakku," Nia makin merengek


"Ternyata ini nyata ya mbak. Nia kira mimpi tadi," ucap Rania yang makin membuat mbak Susan bingung.


"Ihhh ini anak. Ngomong yang jelas, kamu kenapa sih? Bikin bingung dan penasaran aja," cecar mbak Susan


Rania menatap Susan lagi, kali ini dia sengaja menggeser kursinya lebih dekat.


"Mbak Susan janji jaga rahasia yah....," pinta Rania.


"Niaaaaa.....," Susan makin jengkel

__ADS_1


"Iya maaf mbak Susan," rengek Rania lagi.


"Nia......," Susan menjadi geram menunggu Rania.


"Mbak, si bos tadi menyatakan cintanya....," ucap Rania pelan.


"Whatttt....Bos nembak kamu," teriak Susan


Cepat-cepat Rania menutup mulut mbak Susan dengan tangannya. Berabe kalau sampai di dengar karyawan lain.


"Mbak, jangan teriak gitu juga kale.....," pinta Rania.


"Maaf....maaf Nia, habisnya mbak kaget tahu," jelas Susan meminta maaf.


"Trus gimana tadi ceritanya," kali ini Susan yang menarik kursinya mendekati Rania.


"Nanti aja pulang aku ceritain mbak. Nggak enak kan lagi di kantor gini," pinta Rania.


"Kamu tahu Nia, udah sekian tahun mbak kerja di kantor ini. Baru kali ini mbak dikasih asisten. Biasanya juga kerjanya menggunung, mbak ngerjain sendirian. Dari situ aja mbak udah curiga," Susan menalarkan kecurigaannya.


Rania hanya mendengarkan saja semua komentar Susan. Karena dia sendiripun bingung, tidak tahu dan belum tahu mesti bagaimana bersikap.


"Bakalan jadi buk Bos ni....," ledek Susan akhirnya.


"Ihh....mbak Susan apaan sih. Nia aja belum tahu mesti bagaimana,"


"Nia, jangan bilang kamu ragu pada si Bos. Jangan bilang kamu masih belum bisa move on dari ustadmu itu yah," dikte Susan.


""Entahlah mbak, Nia bener-bener belum bisa mutusin,"


"Jangan membuang berlian yang udah ada di jari tangan, demi berlian lain yang masih harus kau gali di bawah permukaan bumi," nasehat Susan kembali.

__ADS_1


Susan yakin Rania faham akan kata-katanya barusan. Dia mengibaratkan dua pilihan yang tidak perlu lagi pemikiran panjang.


Rania terdiam. Lagi-lagi Susan membuatnya tidak bisa bicara, apalagi membantah.


"Oh iya, handpone kamu tadi berdering trus. Jadi mbak angkat. Tadi ada telp dari Fakhri, mbak bilang biar kamu telp balik aja nanti,"


"Bang Fakhri mbak?" tanya Rania menyakinkan.


"Iyaaaa, telp dari si ustad idolamu itu," Susan seperti kurang suka.


Rania bergegas mengambil handponenya. Dia langsung membanca dan membàlas pesan masuk dari Fakhri. Mata Rania tampak berbinar, senyum tersungging di bibirnya yang mungil.


Susan mendesah melihat perubahan pada gadis itu. Bagaimana bisa namanya saja dan sebuah whatshap dapat membuat mood gadis itu langsung berubah, ucap Susan dalam hatinya.


"Oh iya mbak Susan. Tadi si bos udah ngizinin aku ngurusin penyaluran dana dan bantuan kantor. Bos meminta mbak menghandel semua pekerjaan aku sementara," jelas Rania.


"Asiiapp bu Bos....," goda mbak Susan.


"Ihhhh....mbak Susan apaan sih," sungut Rania yang membuat Susan tertawa geli melihatnya.


Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca Mengejar Cinta Ustad


Mohon Dukungannya


👇


Vote


Like 👍


Favorit ❤

__ADS_1


Coment 💬


__ADS_2