
"Assalamualikum.....," sapa Rania lembut.
Sore ini, sepulang kantor Rania menyempatkan bertemu sesuai tempat janjiannya dengan mas Reyhan.
"Hi....Raniku. Walaikumsalam," balas Reyhan mendongakkan kepalanya memandang sumber suara lembut yang menyentuh indah gendang telinganya.
"Ayo duduk....," Reyhan segera berdiri lalu menarik kursi mempersilahkan Rania duduk.
"Makasih mas....," jawab Rania masih selembut salju.
"Raniku, mau pesan apa?" Reyhan menawarkan buku menu.
"Nia, cukup orange juice aja mas," jawab Rania tersenyum.
"Nggak mau pesan yang lain, cemilan. Di sini pisang coklat bertopingnya terkenal enak banget loh," Reyhan mencoba berpromosi.
"Makasih mas. Nanti aja, Nia cukup orange juice aja," jawab Rania kembali dengan lembut, kali ini disertain senyum manisnya.
"Mas Rey, ada apa. Katanya minta ketemu karena ada masalah serius yang mau di bicarakan sama Nia?" tanya Nia lembut.
Reyhan kembali tersenyum. Menatap lembut netra lentik yang tengah menatapnya itu. Seketika hati Reyhan menjadi menghangat. Karena wajah cantik yang tampak begitu indah di matanya kini. Juga karena mendengar suara lembut yang langsung menyentuh rasa hingga di ujung kalbunya.
Reyhan menghela nafas berat. Tidak biasanya sang tentara langit tampan patriot kebanggaan Indonesia itu seperti tengah berfikir keras. Biasanya sangat mudah bagi seorang Reyhan untuk berkata-kata. Sangat mudah bagi seorang Reyhan membuat lawan bicaranya langsung terpikat akrab. Sangat mudah bagi seorang Reyhan melontarkan rayuan mautnya, yang pasti akan selalu membuat senyum tidak lepas dari bibir karena rayuannya itu.
Tapi kali ini Reyhan terlihat berbeda. Rey terlihat mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksdnya pada Raniku. Antara perasaan mau nembak tapi takut ditolak. Bikin deg-deg an banget.
Akhirnya Reyhan berusaha beralih ke mode aslinya.
"Raniku, bolehkah abang tentaramu ini menanyakan sesuatu?" tanya Reyhan pada akhirnya menatap Rania.
Rania menatap Reyhan. Memperhatikan teman barunya itu. Reyhan terlihat berbeda, wajahnya benar-benar terlihat serius. Tidak tampak lagi abang tentara langit yang biasanya sangat pandai bicara dan menyenangkan.
Rania menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Reyhan yang bertanya padanya.
Gadis ini selalu saja. Kalau tidak tersenyum, pasti hanya menganggukkan kepalanya. Raniku tidak tahu saja, jika sikap malu-malunya itu malah membuatnya terlihat makin imut.
"Raniku, apakah ada seseorang yang kini tengah berada di sudut hatimu?" tanya Reyhan dengan mode serius.
Netranya menatap lekat lentra lentik pemilik mata indah itu.
__ADS_1
Rania terkesiap. Tidak menduga pertanyaan Reyhan mengusik sisi hatinya yang terdalam. Memaksanya untuk kembali merasakan rasa yang begitu besar sudah berada sejak dulu di sudut sana. Seketika Rania menginggat kembali cinta pertamanya. Cinta dalam diamnya yang tidak pernah berubah keberadaannya. Cinta pada pandangan pertama pada sang Ustad yang sangat diidolakannya. Cinta pada seorang laki-laki yang bahkan hingga detik ini tidak mengetahui perasaan Rania padanya.
"Maksud mas Reyhan gimana yah?" Rania malah balik bertanya setengah beberapa saat ingatannya melayang pada orang yang sama yang masih berada di hatinya.
"Abang itu bertanya, apa sudah ada seseorang di hatimu saat ini?" ujar Reyhan kembali.
"Kayaknya pertanyaan abang terlalu pribadi deh," jawab Rania tersenyum lembut.
"Karena yang akan abang bicarakan juga bersifat pribadi. Maka pertanyaan yang abang ajukan juga sedikit pribadi," jawab Reyhan tersenyum.
"Maksud mas Reyhan gimana? Nia nggak ngerti?" tanya Rania bingung.
"Jadi Raniku menganggap mas tampanmu ini apa?" Reyhan malah kembali bertanya dengan senyum percaya diri.
"Mas Reyhan itu temen baru yang sudah Nia anggap teman baik. Entahlah kenapa bisa begitu, Nia merasa sudah kenal mas Rey lama walaupun kita baru saja berteman,"jelas Rania dengan lembut.
"Nia itu nggak pernah dekat apalagi punya teman dekat laki-laki mas. Sama mas Rey, Nia kayak sama kakak sendiri" ujar Rania kembali menunjukkan senyum manisnya.
Reyhan tersenyum. Senyum yang tulus tanpa rekayasa. Tadinya Reyhan ingin mengungkapkan perasaannya pada Raniku. Walau Reyhan belum yakin benarkah cinta yang dirasakannya. Tapi Reyhan mengurungkan niatnya, rasanya terlalu cepat bagi Reyhan untuk mengungkapkannya pada Rania.
Mereka baru saja bertemu, Raniku sudah mau menganggapnya sebagai teman baik, bahkan seorang kakak baginya. Gadis pendiam itu bahkan setuju tiap kali mereka akan bertemu, sekedar berbicara atau menemani Reyhan ketika membeli sesuatu.
Reyhan ingin Raniku terbiasa dulu dengan kehadirannya. Reyhan ingin Raniku merasa dekat dulu dengan dirinya. Bukankah cinta datang karena terbiasa.
"Mas tentaramu ini cuma ingin berpamitan. Minggu depan mas udah berdinas kembali, masa free dan cuti mas udah habis. Setelah ini kita akan jarang bertemu. Mas takut nanti Raniku merindukan mas tentaramu ini," ujar Reyhan telah kembali ke modenya semula.
Dan Rania cuma bisa tersenyum mendengarkan semua perkataan Reyhan padanya.
"Dan seperti kata Dylan. Jangan rindu Raniku....Berat. Mas yakin kamu nggak bakalan kuat, biar mas aja...," ujar Reyhan kembali menggombal.
Sang tentara langit udah balik ke mode asalnya. Kembali melontarkan kata-kata manis bak bulu perindu. Melemparkan jurus rayuan yang membuat hati otomatis meleleh.
"Mas Rey dines ke luar negara lagi?" tanya Rania akhirnya bersuara.
"Nggak dek. Mas mu masih di kota ini. Masih betah berlama-lama menatap wajah cantik di hadapan mas ini," rayu Reyhan kembali.
"Mas Rey ini pandai sekali menggombal yah. Entah sudah berapa gadis yang bertekuk lutut," cibir Rania pada akhirnya.
Gadis pendiam itu sudah sedikit bisa bicara kini. Reyhan memang benar-benar bisa membuat lawan bicaranya merasa nyaman.
__ADS_1
"Ramiku. Kaulah gadis pertama yang abang rayu. Biasanya para gadis yang mengejar mas tentara langitmu yang tampan ini. Ini pertama kali tentara yang digilai banyak wanita ini bertekuk lutut pada Raniku," jawab Reyhan.
"Tapi susahnya merayu gadis cantik ini. Rayuan dan gombalan mas, hanya cuma bisa membuatnya tersenyum geli. Entah sampai tidak ke dalam hatinya," jawab Reyhan kembali ambigu.
Reyhan akui. Biasanya para gadis akan bersemu merah jika digimbali. Biasanya rayuan bisa membuat para gadis meleleh, jatuh bertekuk lutut, tidak akan bisa menjauh lagi.
Tapi lihat saja Raniku ini. Gadis ini bukan gadis yang gampang meleleh jika dirayu. Gadis ini boro-boro bersemu merah wajahnya mendengar gombalan. Dia malah tersenyum malu seakan tidak pantas mendengarkan semua rayuan dan gombalan itu.
Raniku memang berbeda. Tapi melihatnya begitu, seolah dia menutup hatinya untuk di dekati. Seolah pintu di hatinya itu sudah terkunci. Apakah bisa menemukan kunci itu dan membuka hatinya. Atau hatinya memang sengaja dia kunci untuk menjaga kesucian perasaan yang dia jaga. Raniku. Hanya berhadapan denganmulah, tentara langit ini tidak bisa berbuat apa-apa. Berhadapan dengan Ranikulah, tentara langit ini mengerti artinya berjuang dengan perasaan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Jangan rindu Raniku. Berat. Kamu nggak akan sanggup✌
Biar mas tentara langitmu aja😁🤭😚
Haii readers tercintaku😗😙😚😘
Maaf karena kesibukan Author di dunia nyata, Author baru bisa up🙏🏻✌
Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻
Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻ŕ
Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love
Author Kesayanganmu 😗😙😚
WCU
__ADS_1