Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Permasalahan Hati


__ADS_3

Ummi memperhatikan Fakhri. Beberapa hari ini putra sulungnya itu terlihat tidak seperti biasanya. Fakhri seperti tidak sedang baik-baik saja.


Walaupun Fakhri tidak memperlihatkan perubahan sikap pada keluarganya. Tapi sebagai seorang ibu, ummi bisa melihat perubahan sekecil apapun pada putranya itu. Ummi bisa merasakan jika hati putranya itu tengah gundah. Entah apa yang yang membebani fikiran Fahkri. Ummi bisa merasakannya.


Ummi ingin sekali bertanya pada putranya tersebut. Mencari tahu titik masalah dari kegundahannya. Tapi ummi juga tidak mungkin langsung bertanya. Kedua putranya itu sudah dewasa, bukan anak remaja labil lagi yang dengan bebasnya ummi interogasi. Kedewasaan mereka membuat mereka sudah bisa berfikir mana yang baik, mana yang buruk.


Tapi tetap saja, Ummi menjadi kefikiran. Fakhri, putra sulungnya itu, sejak kecil tidak pernah merepotkan, apalagi mempermalukannya. Fakhri selalu menjadi putra sulung kebanggaannya. Sifatnya yang persis abinya. Membuat ummi tidak pernah merasa khawatir. Hingga detik ini, putranya selalu menjaga nama baik dan kehormatan kedua orang tuanya.


Bahkan untuk urusan wanitapun Fakhri mengikuti abinya. Tidak ada istilah pacaran islam. Fakhri akan mengajak taaruf wanita yang kriterianya sesuai harapan Fakhri untuk menjadi istri sekaligus ibu anak-anaknya kelak, maka Fakhri akan segera mengkhitbahnya. Biar nantinya mereka berpacaran setelah menikah saja, itu selalu yang dijelaskan Fakhri. Ummi dan abi menghormati pilihan Fakhri. Kedua orang tuanya itu selalu mendukung keinginan kedua putra mereka.


Ummi menatap lembut putra sulung kesayangannya itu. Ummi membiarkan saja kegelisahan menggelayuti hatinya. Karena ada saatnya, bila hatinya akan mengadu, ummilah satu-satunya menjadi tempatnya mencurahkan semua yang terpendam di dalam hatinya itu. Jika Fakhri tidak bicara, itu berarti putra sholehnya itu bisa menyelesaikan sendiri semua permasalahannya.


"Ummi.....," panggil Fakhri tiba-tiba ketika sore itu ummi tengah menyirami bunga-bunganya yang tampak sedang bermekaran dengan indah di taman kecilnya.


"Iya bang....," sahut ummi sambil lalu masih meneruskan kesibukannya.


Ummi sengaja melakukannya untung memancing putranya itu. Ummi sangat mengerti bagaimana sifat putra tertuanya itu. Fakhri adalah jenis anak yang sangat sulit untuk bisa mengutarakan isi hatinya. Bahkan sebagai seorang laki-laki, Fakhri adalah jenis laki-laki yang kaku dan dingin. Memancingnya berbicara, apalagi bercerita sungguh butuh waktu dan kesabaran yang cukup.


"Reyhan belum pulang ummi?" Fakhri berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Loh adikmu nggak bilang toh mas. Rey mulai dinas kembali di Jakarta sejak tiga hari yang lalu" jawab Ummi menatap Fakhri.


"Abang lupa um. Rey sudah mengatakannya, cuma abang saja yang lupa," Fakhri menepuk jidatnya sendiri.


"Kamu mikirin apa sih bang?" pancing ummi masih dengan kesibukannya.


Menghadapi putranya yang satu ini memang harus pandai-pandai. Jangan terkesan memaksanya untuk bicara, nanti Fakhri malah memilih untuk tidak bicara. Biarkan seperti ini, tidak memaksanya, tapi memancingnya untuk bercerita.


"Lihat bunga-bunga ummi bang. Andai ini gadis-gadis cantik, adikmu pasti yang paling berbahagia," ujar ummi tersenyum lembut.


Reyhan, putra keduanya itu memang berbeda. Mungkin dìa mewarisi sisi lain dari sifat kedua orang tuanya yang tidak menonjol. Karena pada dasarnya ummi dan abi juga memiliki sifat menyenangkan, ramah dan supel. Walaupun akan terlihat hanya pada keluarga dekat mereka saja. Tapi Reyhan sepertinya mengekspos sifat tersebut secara langsung. Ummi kembali tersenyum jika mengingat putra bungsunya itu.


Fakhri hanya tersenyum lembut menatap umminya. Reyhan, adiknya itu memang berbanding terbalik dengan sifat yang dimilikinya. Jika Reyhan penuh dengan sejuta pesona yang menghayutkan gadis-gadis. Menyenangkan, supel dan juga ramah. Maka Fakhri adalah kebalikannya. Fakhri itu cenderung dingin, kaku dan tidak banyak bicara, sehingga para gadis akan segan dan tidak berani untuk mencoba dekat dengannya. Sifat dingin dan kakunya memang lebih dominan.


"Ummi, abang bisa bicara," ujar Fakhri begitu sopan dan lembutnya.


"Bukankah sedari tadi abang sudah bicara," ummi menatap lekat netra putranya dengan tersenyum lembut.

__ADS_1


Dan Fakhripun membalas senyuman ummi dengan tidak kalah lembutnya.


Ummi duduk di bangku yang ada di kebun bunga kecilnya itu. Menyisakan tempat di sampingnya agar putranya itu bisa duduk di sebelahnya.


"Apa yang hendak abang bicarakan dengan ummi," tanya ummi begitu Fakhri telah duduk di sampingnya.


Fakhri memutar tubuhnya, netranya menatap umminya lekat. Semakin menatap umminya, semakin Fakhri melihat sosok seorang Rania pada diri Ummi.


"Ummi kalau melihat seseorang yang mirip ummi gimana?" tanya Fakhri.


"Mirip dengan ummi? Seperti kembar maksudnya?" ummi malah membalas antusias.


"Bukan pada fisik ummi. Tapi lebih kepada karakter dan sifat," jawab Fakhri terlihat tersenyum.


Ummi menyipitkan matanya. Menatap heran pada bang Fakhri. Heiiii.....apakah benar putranya itu tersenyum ketika membicarakan seseorang.


"Apakah seseorang itu seorang gadis bang?" tanya ummi menebak.


Fakhri terdiam. Tatapannya semakin lekat pada ummi. Umminya selalu saja mengerti. Bahkan tanpa bicarapun, ummi seakan mengerti apa yang ada di dalam hatinya.


"Apakah diam itu bisa ummi artikan benar bang," kali ini ummi tersenyum menggoda putranya.


Ummi terkesiap. Rasa tidak percaya, kata-kata barusan keluar dari mulut bang Fakhri. Ini kali pertamanya, putranya itu bicara tentang seorang gadis.


Ummi juga terharu. Akhirnya putra sulungnya menemukan wanita yang di cintainya. Yang akan menjadi istri dan ibu dari cucu-cucunya nanti.


"Dari yang ummi tangkap. Abang sepertinya sungguh mencintai gadis itu?" tanya ummi lagi pada Fakhri.


Fakhri menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Cara terbaik ketimbang mengatakan dengan jujur dan berterus terang tentang perasaannya. Tetapi ummi bisa melihat binar cinta itu di mata bang Fakhri. Bahkan senyum selalu tersungging dan tidak lepas dari wajah tampannya.


"Tapi Rey juga mencintai Rania umi. Kami berdua mencintai gadis yang sama," ujar Fakhri pelan dan terdengar sedih.


Ummi terperanjat. Pernyataan Fakhri barusan sukses membuat ummi terkejut. Apalagi ini ya Allah, fikir ummi dalam hati.


Tetapi ummi cepat-cepat menguasai perasaannya dari rasa kaget.


"Lalu siapa yang dicintai gadis itu?" tanya ummi kemudian.

__ADS_1


Fakhri terdiam. Tidak mampu menjawab pertanyaan umminya. Gadis itu tidak mengetahui tentang perasaan Fakhri padanya. Rania yang katanya mencintai Fakhripun belum Fakhri pastikan secara langsung perasaannya.


"Fakhri sepertinya sudah mencintai Rania ummi. Dia gadis yang akan Fakhri ajak bertaaruf, dan segera mengkhitbahnya," jawab Fakhri sangat yakin.


"Jadi namanya Rania?" tanya umi.


"Iya ummi. Rania sebenarnya sudah lama menyukai abang. Tapi gadis itu tidak pernah sekalipun mengatakannya. Dia setia dengan mencintai abang dalam diam," jawab Fakhri kembali.


"Kalau perasaan kalian sama. Lalu kenapa mesti ragu. Laksanakan niat baik itu. Menikah memiliki banyak keutamaan. Pertama, terpelihara diri dan agamanya. Rasulullah SAW bersabda, Jika seorang telah menikah, berarti ia telah mencukupi separuh dari agama, maka hendaklah bertakwa pada Allah dalam menjaga sisanya yang separuh.'' ujar Ummi kembali menasehati bang Fakhri.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Masalah hati ini sepertinya masih akan berlanjut dalam dilema antara cinta dan persaudaraan?


Ataukah Fakhri akhirnya akan menemukan jawaban dari kegundahannya?


Haii readers tercintahku😗😙😚


Mohon tetap setia pada Rania & Fakhri ya readers🙏🏻


Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻


Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻


Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻


Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻




Love


Author Kesayanganmu 😗😙😚

__ADS_1


WCU


__ADS_2