
Hi readersku tercintahh🤩😍
Sebelum baca
Pastiin udah
👇
Vote
Love
Like
Rate5
Kasih Bonus
Love All
Rania kembali menitikkan airmatanya. Perasaan pedih masih menyelimuti hatinya. Merasakan ketidakmampuannya sebagai seorang wanita yang belum bisa memberikan keturunan untuk suami dan keluarganya, benar-benar membuat hati dan perasaannya begitu sakit.
Meskipun bang Fakhri dan kedua mertuanya tidak pernah menyalahkan dirinya. Dan selalu memberi semangat dan dukungan, tetapi tetap saja hatinya merasakan terluka, menyadari sebagai wanita merasa dirinya belumlah sempurna.
Rania tidak mau menunjukkan wajah sedih dan terlukanya di hadapan bang Fakhri. Dia tidak ingin menambah beban lagi untuk laki-laki yang sangat dicintainya itu.
Cukuplah pembelaannya atas kelakuan terang-terangan beberapa anggota keluarganya yang mengolok-olok Rania karena belum juga memberikannya keturunan.
Tapi sejak kemarin, sejak kehadiran kakek bang Fakhri, yang secara jelas dan terbuka mengatakan agar cucunya berpoligami saja. Rania harus kembali menelan pil pahit akan pembahasan kembali keluarga bang Fakhri mengenai poligami. Mengingat mereka belum juga diberi keturunan hingga saat ini.
Karena dalam islam memang diperbolehkan seirng lak-laki beristri lebih dari satu.
Apalagi mengingat bahwasannya belum mendapatkan keturunan bisa menjadi alasan kuat yang mendasarinya.
Flash Back On
"Maaf kek. Fakhri dan Rania baru juga satu tahun menikah. Kami berdua akan terus berusaha dan bersabar," elak bang Fakhri saat itu pada sang kakek.
"Jangan membuang waktu ***. Sekarang memang baru tahun. Jika sampai lima atau sepuluh tahun, usiamupun sudah makin tua. Apa kau mau dipanggil kakek oleh putramu sendiri," sang kakek tetap saja mengotot.
__ADS_1
"Kita belum melewatinya kek. Kita belum tahu berapa tahun lagi Allah akan memberikan karunianya dalam rahim Rania. Kita terus berusaha dan berserah, semoga disegerakan oleh Allah," balas bang Fakhri tetap dengan nada lembut dan sopan.
"Jangan keras kepala ***. Kakek ingin segera menimpang cicitmu sebelum kakek pergi, karena kita tidak akan tahu, kapan ajal akan memanggil," kakek kembali mengungkapkan alasan dari kekerasannya.
"Sudahlah pak. Jangan terlalu menekan Fakhri dan Rania," Abi bang Fakhri berusaha membela ketika dilihatnya putranya itu akhirnya terdiam.
"Kau sama saja dengan putramu itu Levi. Kalian berdua terlalu memanjakan para istri," maki kakek dengan kesal.
"Bukan begitu yah.....," Abi bang Fakhri masih berusaha menenangkan dan memberi pemahaman kepada ayahnya.
"Ah....sudahlah. Aku lelah untuk kembali berdebat dengan putraku pula," potong kakek kemudian berlalu menuju kamar tamu.
"Sabar nak....," ujar Abi bang Fakhri menatap putra dan menantunya itu.
"Bersabarlah pada sikap keras kepala kakekmu nak," Abi bang Fakhri kembali berucap pada bang Fakhri dan menepuk lembut pundak putranya itu, sekedar memberi semangat.
"Ajak Rania kembali ke kamar, dan beristirahatlah," kali ini Umi bang Fakhri yang berbicara.
"Baik Umi, Abi. Abang akan mengajak Rania beristirahat dulu," pamit bang Fakhri pada kedua orang tuanya.
Sementara Rania yang tampak shock hanya terdiam. Menatap lembut kedua mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Berusaha tersenyum kepada kedua mertuanya tersebut walaupun senyumnya terlihat tidak enak sekali.
"Abi rasa, ini ada hubungannya dengan gadis cucu sahabat ayah yang hendak beliau jodohkan dulu Umi," Abi bang Fakhri berspekulasi.
Umi terdiam menatap suaminya. Alisnya tampak berkerut seolah berfikir.
Ketika bang Fakhri memutuskan menikah, memang kakek sempat menentang. Karena beliau berkeinginan menjodohkan cucu pertamanya itu dengan cucu sahabatnya. Bahkan ayah mertua juga tidak hadir di akad nikah bang Fakhri dengan beralasan beliau dalam keadaan sakit.
"Kenapa ayah begitu niat. Setelah tidak bisa menjodohkan putranya, kini cucunyapun harus menggantikan," ujar Umi bang Fakhri ambigu.
Sementara Abi bang Fakhri hanya diam saja. Dirinyapun berfikir sama, seakan mengingat kembali berpuluh tahun lewat, dirinya sendiri selaku putranyapun pernah dijodohkan. Dan Abi bang Fakhri bersikeras menolak, dengan tetap meminang Umi bang Fakhri. Sang kekasih hati yang telah membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama. Dan kini haruskah putranya mengalami cerita yang sama atas kekerasan hati ayahnya sendiri.
Sementara di dalam kamar. Rania terdiam, duduk di ujung tempat tidur mereka.
Bang Fakhri mengusap lembut kepala sang istri. Menatap sayang pada wanita lemah lembut yang telah membuatnya jatuh cinta itu.
Tidak terasa air mata Rania menetes dengan deras. Suara isak tangisnyapun terdengar pilu di telinga bang Fakhri.
Rania yang memang pendiam, tidak pernah membalas bicara sedikitpun sejak permasalahan keturunan selalu di singgung keluarganya. Kini air mata dan isak tangisnya itulah yang menjadi jawaban atas semua beban yang menggelayuti hatinya kini.
__ADS_1
"Sayang, sabar yah....," ucap bang Fakhri menarik Rania dalam pelukannya.
Isak tangisnya masih terus terdengar pilu. Menciptakan irama sendu penuh rasa sedih.
Bang Fakhri makin memeluknya erat sambil memejamkan mata. Menguatkan hatinya sendiri agar jangan menjadi lemah. Dia harus lebih kuat, agar selalu bisa menjadi sandaran bagi sang istri yang selalu menjadi pembahasan keluarganya.
Kini Rania telah tertidur, dalam pelukan hangat suaminya tercinta. Sisa-sisa ait mata masih terlihat jelas di wajahnya. Bahkan sesegukkan bekas isak tangispun masih terdengar meski matanya sudah terpejam rapat. Rasa sedih itupun ikut terbawa dalam tidurnya.
Bang Fakhri sedikit meregangkan pelukannya. Menundukkan kepalanya menatap Rania yang berada dalam pelukannya.
Bang Fakhri begitu mengingat bagaimana wanita dalam pelukannya ini begitu mencintainya sejak dulu, sejak lama, sejak dia remaja. Terus memelihara rasa cinta itu meski dalam diam. Kalaupun akhirnya laki-laki yang dicintainya itu, dirinya, pun akhirnya jatuh cinta dengan sesungguhnya, pada pemilik wajah cantik berhati lembut ini.
Tidak cukuplah Allah menguji kesabarannya selama ini. Apakah harus menguji kesabarannya kembali. Bahkan sekalipun, selain diam dan tersenyum, Rania tidak pernah membalas tiap ucapan yang menyakiti hatinya. Rasanya semua sungguh tidak adil untuk istrinya yang baik ini. Bang Fakhri merasakan kekecewaan itu dalam hatinya.
"Astagfirullah.....Astagfirullah....Astagfirullah....," bang Fakhri segera beristigfhar, ketika menyadari hatinya mengeluhkan kebesaran Rabbnya. Ketika menyadari kekesalan hatinya yang membuatnya marah atas semua yang telah terjadi, yang tentu saja sudah digariskan Allah.
Bang Fakhri terus beristighfar dalam hatinya, hingga akhirnya matanyapun ikut terpejam dan tertidur dengan memeluk erat tubuh Rania.
Flash Back Off
Rania berusaha menyimpan kesedihannya. Merapikan penampilan dan riasan wajahnya. Menghapus jejak-jejak air mata yang masih tersisa. Mengulas sedikit bedak dan menutupi wajah sedihnya itu di dalam toilet kantor.
Bagaimanapun, Rania telah berjanji pada dirinya sendiri. Mulai hari ini Rania akan berusaha kuat, tidak menunjukan kesedihannya di depan suaminya tercinta. Cukuplah selama ini pembelaan sang suami untuk dirinya. Bahkan membantah keras sang kakek demi istrinya yang belum sempurna ini. Rania tidak ingin menambah beban lagi di hati bang Fakhri.
Cukuplah dia menghadapi keluarganya saja. Jangan lagi di tambah beban harus melihat kesedihan dan menghibur istrinya pula.
Rania menatap cermin. Berusaha menampilkan senyum manis. Sore ini bang Fakhri menjemputnya pulang dari kantor. Rencananya mereka akan kembali ke rumah mereka sendiri, setelah selama satu minggu tidur di rumah mertuanya, sejak kehadiran sang kakek dan nenek bang Fakhri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Author Kesayanganmu😘😘
__ADS_1
WCU