
"Kenapa memilih masjid ini," tanya Fakhri akhirnya menatap Rania.
Rania yang memandang Fakhri setelah mendengar suaranya tampak sedikit gugup. Dia bisa bicara sedekat ini pada laki-laki yang disukai dan dikaguminya sedari dulu itu, secara otomatis membuat jantung Rania berdebar begitu kencang.
Ayolah Nia, jangan gugup. Kamu hanya perwakilan perusahaan untuk memberikan bantuan, jangan fikirkan hal lain, hatinya berusaha mengingatkan. Mengembalikan kesadarannya penuh akan tujuannya datang ke masjid ini.
"Nia sengaja memilih masjid kita bang. Karena Nia juga pernah menjadi bagian dari masjid ini. Sehingga Nia yakin untuk merekomendasikannya pada bos Nia, karena Nia sangat yakin, bantuan perusahaan pasti akan tepat sasaran," jelas Rania tulus.
"Insha allah......," balas Fakhri
"Dan surat-surat mengenai sumbangan perusahaan langsung akan abang bikin sekarang, atau mesti bos kamu yang memberi tanda tangan serah terima," tanya Fakhri.
"Nggak bang. Perusahaan sudah menyerahkan kewenangan sepenuhnya untuk bantuan perusahaan ini kepada Nia. Jadi semua tanggung jawab dan surat-surat yang dibutuhkan bisa melalui Nia aja bang. Dan ini juga amplop donasi dari perusahaan bang, mohon diterima dan diteruskan kepada yang membutuhkan" Nia menyerahkan amplop tebal kepada Fakhri.
"Baik. Saya terima, insha allah akan disalurkan langsung kepada yang berhak menerimanya," Fakhri menerima amplop tebal itu, kemudian memanggil Andi.
"Iya bang Fakhri, ada apa?" tanya Andi mendekat.
"Ini amplop donasi juga dari perusahaaan Nia. Coba kamu hitung dulu dan beri tanda terimanya, lalu kamu masukkan uang donasinya ke kas Remaja Masjid," jelas Fakhri.
Andi segera mengerjakan yang diperintahkan Fakhri.
"Kita tetap membutuhkan orang ke tiga sebagai saksi dan juga bukti tranasparansi," ujar Fakhri kepada Rania. Nia menganggukkan kepala menyetujui.
__ADS_1
"Oh iya, apa kamu mau nungguin abang menyelesaikan semua berkas-berkasnya atau gimana? Karena abang juga membutuhkan semua file-file bantuan dan donasi ini untuk berkas-berkas transparansi kegiatan Remaja Masjid," tanya Fakhri kemudian.
"Bagaimana kalau nanti berkas yang perlu di tanda tangani di antar ke kantor Nia aja bang. Atau kalau nggak bisa, biar Nia ke sini aja lagi besok untuk menyelesaikan semuanya. Karena maaf sore ini Nia ada rapat kantor yang nggak bisa Nia tinggal bang," Rania memohon.
Gadis cantik itu sudah menahan hatinya sedari awal tadi. Dia menahan diri untuk tetap bersikap tenang, hingga Fakhri tidak akan bisa menyadari detak jantungnya yang sudah seperti suara genderang, yang tidak berhenti berdentang. Jika harus tetap berada di sini, di samping Fakhri menyelesaikan semua berkas-berkas yang di butuhkan. Rania tidak bisa menjamin kalau dia tidak akan pingsan sangking gugupnya. Meeting hanyalah alasan Rania untuk memilih pergi saja dari sini.
"Ini kartu nama Nia kalau diperluin bang," Nia memberikan kartu namanya pada Fakhri.
Fakhri menerimanya. Lalu mengambil handphone dan mengetik sesuatu di handponenya. Rania melihatnya saja tidak mengerti. Hingga tiba-tiba saja handponenya berdering.
"Itu nomor abang. Kalau abang perlu mengenai berkas-berkas yang dibutuhkan abang akan bertanya dan menghubungi kamu," ujar Fahkri.
Rania tersenyum kaku menatap Fakhri.
"Tunggu sebentar, saya panggil Andi dulu," ucap Fakhri menyuruh memanggi Andi.
"Andi, kamu beri dulu saja tanda terima dari semua barang yang di bawa Rania, beserta tanda terima amplop tadi," perintah Fakhri begitu duduk di dekat Fakhri dan Rania.
"Ini bang udah semuanya, tinggal abang tanda tangan aja," ujar Andi.
Fakhri menerima semua tanda terima dari Fakhri dan menandatanganinya. Lalu menyerahkan satu berkas kepada Rania, dan menyimpan satu berkas lagi sebagai file.
"Kalau gitu Rania pamit ya bang," ujar Rania begitu sudah menerima berkas tanda terima.
__ADS_1
"Semuanya Nia pamit ya.......Assalammualaikum," memandang ke semua anggota Remaja Masjid yang baru saja menyelesaikan semua aktifiras mereka memindahkan barang-barang sumbangan tadi.
"Waalaikusalam.....," jawab semuanya kompak
"Hati-hati di jalan ya adek cantik," celetuk seseorang.
"Makaasih yaaa....," susul yang lain
"Hati kamu cantik secantik orangnya," yang lain lagi.
"Terusss.....Terussss.....," teriak Andi membuat wajah tidak suka dari mereka semua.
Fakhri menoleh lalu menatap tajam pada semua anggotanya. Fakhri sengaja melakukannya untuk menghentikan semua celetukan dari mulut mereka semuanya.
"Astaqfirullah.......," semua kompak menjawab lalu mengalihkan pandangan mereka semua begitu di tatap Fakhrì tajam.
Mereka lupa bahwa harus menjaga mata dan pandangan mereka.
Nia, Andi dan Fakhri berjalan beriringan menuju halaman luar masjid. Fakhri sepertinya sengaja memilih berjalan paling ujung, sehingga Rania tidak dapat kesempatan meliriknya ketika berjalan.
"Kalau gitu Nia pamit ya bang Fakhri......Andi....Assalamualaikum,"
""Waalaikumsalam,"
__ADS_1
Nia melangkah memasuki mobil kantor. Dilihatnya sopir kantor sudah siap duduk di kemudinya. Rania meninggalkan masjid masih dengan debaran di dadanya.