
"Mbak Sin, kalau butuh data apa-apa buka aja komputer Rania yah.Berkas-berkas juga udah Rania susun rap. Jadi kalau mbak perlu siang ini nggak kesulitan carinya," ujar Rania pada Sinta.
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Mbak, kalau si bos tanya Rania. Mbak yang bilang yah kalau Rania ngurusin cari relasi yang bisa ngurusin penyaluran dana tuk event nanti," pinta Rania.
Sinta menghentikan aktifitasnya, tampak mengeryitkan alisnya lalu berbalik menghadap Rania.
"Ini juga yang ngajuin ke Rania agar bang Fakhri yang ambil alih masalah penyaluran dana kan si bos mbak," jelas Rania membalas tatapan Sinta yang seperti bertanya saja.
"Si bos yang minta.....," Sinta bingung.
"Iya mbak. Saat Rania dipanggil menghadap waktu itu, si bos yang minta agar meminta bang Fakhri aja, yang sebelumnya sudah pernah menyalurkan bantuan dan donasi dari perusahaan kita," jelas Rania lagi ketika Sinta kaget bicara.
"Kenapa kamu nggak bicara langsung sama si bos," tanya Sinta kemudian.
"Maksudnya nanti kalau kesepakatan sama bang Fakhri udah di setujuinya. Dan proposalnya Nia serahin ke si bos kan Nia pasti bicara sama si bos mbak," elak Rania.
"Rania hanya takut kalau bang Fakhri nggak bersedia, makanya Rania belum bicara dulu sama si bos," jelas Rania lagi.
"Oke. Ntar mbak yang bicara kalau si bos tanya," putus Sinta akhirnya.
"Yah udah kalau gitu Nia jalan yah mbak," ucap Rania setelah melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Rania ingin lebih dulu tiba di lokasi yang sudah diinfokannya pada Fakhri via whatshapp pagi tadi.
"Waduhhh semangat amat yakk neng," ledek Sinta kembali.
Rania hanya tersenyum sambil menjulurkan lidahnya membalas Sinta. Lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan mereka menuju parkiran. Rania tampak melangkah pasti dengan twrsenyum bahagia untuk menutupi semua rasa gugupnya.
Tidak berapa lama Raniapun tiba di sebuah restoran. Rania sengaja janjian di restoran ramai bukan cafe seperti biasanya.
Disampung karena sebentar lagi jam makan siang, dan sekalian mengisi perutnya. Rania memang sengaja memilih tempat ramai untuk menghindari fitnah, seperti kata bang Fakhri kemarin.
Rania melirik jam tangannya, sepuluh menit lebih cepat, ucapnya dalam hati.
Rania sengaja tiba lebih dulu di lokasi janjian agar nantinya tidak kaku. Karena bila terlambat, maka bang Fakhri akan tiba lebih dulu, dan pasti Rania akan sangat gugup. Dengan begini Rania jadi bisa menenangkan hatinya terlebih dahulu. Sekaligus menenangkan diri. Rania sengaja memilih meja yang menghadang langsung ke luar kaca restoran. Itu akan memudahkannya melihat kedatangan Fakhri.
Begitu wajah ganteng itu tampak tersenyum, Rania kembali memegang dadanya. Rania merasakan hatinya sudah berserakan, tidak lagi menyatu pada tempatnya. Kumis tipis dan jambangnya itu, membuat ketampanan bang Fakhri bertambah berkali lipat. Pantas saja jika Rara bahkan bisa sampai mengancamnya. Yang diinginkannya setampan dan sekarismatik ini, gumam Rania dalam hatinya masih lekat menatap Fakhri dari kejauhan.
Mengingat Rara, sahabat kecilnya itu, membuat wajah Rania sontak berubah. Memikirkannya saja Rania tampak sudah tidak bersemangat. Gadis itu sangat berani, bagaimana Rania mesti menghadapinya. Jika sampai Rara mengetahui kalau dirinya dan bang Fakhri bertemu, entah apa yang bisa diperbuatnya. Rania bergidik ngeri.
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Mengejar Cinta Ustad"
Mohon Dukungannya
👇
__ADS_1
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Love Or Be Loved
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
__ADS_1
Coment 💬