
Bang Fakhri menatap lembut ke arah Rania yang duduk di apit kedua orang tuanya. Kemudian menarik nafas dalam, sebelum dihembuskannya dengan pelan.
Bukan hanya Rania saja. Kedua orang tua Rania, bahkan Andi dan om Rido juga penasaran mendengarkan jawaban yang akan di sampaikan oleh bang Fakhri atas pertanyaan mengejutkan yang diajukan Rania.
Bukan apa-apa. Pernyataan tentang poligami ini memang sangat sensitif. Apalagi di mata para kaum hawa. Walaupun agama memperbolehkan, tapi sebagaian besar dari mereka rata-rata menolak. Tidak Menerima.Tidak rela. Bagaimanapun kadar keimanan dan kajian islam mereka di uji di sana.
"Begini, poligami itu tidak dilarang oleh ajaran agama kita. Bahkan membatasi maxsimal 4 istri. Jika seorang pria merasa mampu lahir dan batin. Terutama mampu untuk bersikap adil pada istri-istri mereka, agama kita memperbolehkan. Tujuan pernikahan kembali tersebut adalah lebih baik daripada terjadinya zina," bang Fakhri memulai bicara.
Sementara beberapa pasang mata menatap lekat bang Fakhri dengan tatapan dan pandangan berbeda-beda.
Andi dan om Rido membenarkan pendapat bang Fakhri. Ayah dan ibu Rania juga demikian, hanya saja sempat terbersit di hati mereka, apakah Fakhri bermaksud hendak berpoligami juga nantinya.
Sementara Rania langsung terdiam. Dadanya berdegup kencang, wajahnya kembali tertunduk mendengar penjelasan bang Fakhri.
Mendengar penjelasanya tersebut, Rania berfikir sepertinya bang Fakhri juga hendak berniat akan berpoligami nantinya, batin Rania.
Maaf bang, Nia belum mampu untuk bisa ikhlas dengan pilihan abang untuk berpoligami, kembali hati Rania berbisik lirih.
Rania sudah siap jika akhirnya cintanya harus berhenti sebelum berkembang. Rania harus rela, jika cinta itu nyatanya tetap tidak ditakdirkan untuknya. Rania harus menerima, jika akhirnya kembali memendam cinta itu dalam diam.
Karena Rania sangat yakin, dia bukanlah Khadijah yang soleha. Dia bukanlah istri para nabi. Rania, hanya seorang gadis biasa meski dengan cinta yang luar biasa. Sayangnya cinta yamg luar biasa itu bahkan tidak mampu untuk dia bagi dengan yang lain.
"Maafkan Nia bang," ucap Rania pelan, namun terdengar seperti sebuah keluhan pilu dari bibirnya.
"Kenapa meminta maaf. Tidak ada yang salah di sini Nia," jawab bang Fakhri lugas.
"Nia minta maaf bang. Karena Nia tidaklah semulia para wanita sholeha di luar sana. Nia punya cinta yang sangat besar untuk abang. Tapi Nia tidak sanggup jika harus menjalani pernikahan poligami bang," jawab Nia tertunduk, dengan suara yang sangat kecil, hampir tidak terdengar.
Namun apa yang dikatakan Rania barusan tertangkap jelas di telinga bang Fakhri, kedua orang tuanya, om Rido juga Andi. Karena memang dalam ruangan dalam keadaan sunyi dan tidak ada seorangpun yang berbicara.
Fakhri kembali menghela nafas dalam, sebelum kemudian dihembuskannya dengan cukup kasar.
__ADS_1
Gadis ini, kenapa belum juga mengerti. Bukankah kemarin saat bertemu bertiga dengan Andi, bang Fakhri juga sudah menjelaskannya. Kenapa hati dan perasaannya terus saja meragu, gumam bang Fakhri dalam hati sambil pandangannya menatap lekat pada Rania.
"Poligami adalah perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri dalam waktu yang bersamaan. Dalam perspektif hukum Islam, poligami dibatasi sampai maksimal empat orang isteri. Ada dua ayat pokok yang dapat dijadikan acuan dilakukannya poligami, yakni QS. al-Nisa’ (4): 3 dan QS. al-Nisa’ (4): 129," terang bang Fakhri.
"Hukum Islam mengatur masalah poligami bagi orang-orang yang memang memenuhi syarat untuk melakukannya. Pelaksanaan poligami, menurut hukum Islam, harus didasari oleh terpenuhinya keadilan dan kemaslahatan di antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Namun walaupun pada kenyataannya banyak praktik poligami yang tidak mengindahkan ketentuan hukum Islam tersebut, sehingga masih jauh dari yang diharapkan," terang bang Fakhri kembali.
Emang pada dasarnya abang ustad. Masih saja dengan penjelasan panjangnya yang sarat pengetahuan. Kenapa tidak langsung to do point saja mengatakan kalau abang ustad bukanlah salah satu yang termasuk penganut poligami. Tinggal katakan saja, kalau bang Fakhri berjanji tidak ada berpoligami. Semua orang sudah sangat penasaran pada jawaban finalnya, keluh Andi dalam hati tidak sabaran, menatap geram abang angkatnya itu.
Sebagai seorang yang dekat dan sudah dianggap sebagai adiknya sendiri, Andi sangat mengenal bang Ustad. Walau faham bahwa poligami itu tidak dilarang oleh agama. Tapi bang Fakhri telah mengatakan tegas hanya akan memiliki satu cinta dan satu istri saja.
"Abang tidak menolak poligami, tapi tidak juga menyetujui poligami. Dan tentu saja abang memahami karena memang hukum islam sudah mengaturnya," bang Fakhri berbicara tapi lebih tertuju pada Rania saja.
Perkataan bang Fakhri kembali menyentak hati Rania. Fikiran gadis cantik ini masih abu-abu. Antara ingin menyakini apa yang pernah di ucapkan bang Fakhri padanya. Tapi sekaligus meragu dengan banyaknya informasi dan keterangan yang diikutsertakan bang Fakhri dalam tiap tutur katanya.
"Walaupun abang pernah mengatakannya pada Rania sebelumnya. Baiklah, kali di depan ayah dan ibu, juga disaksikan om Rido dan Andi," ujar bang Fakhri kemudian menghela nafas dalam.
"Maaf jika abang terlambat menyadari perasaan abang. Perasaan ini tulus, karena Allah," ujar bang Fakhri menulai bicara.
"Sekali lagi maafkan abang. Terlalu lama menyadari perasaan ini. Terlalu lama memintamu untuk perasaan ini," ucap bang Fakhri kembali dengan tatapan dan juga nada suara yang sangat lembut.
"Abang tidak berjanji untuk selalu bahagia. Karena hidup tidaklah selalu seperti yang kita inginkan. Akan tetapi, abang berani berjanji untuk selalu berusaha keras demi kebahagian keluarga kecil abang nantinya," tegas bang Fakhri kembali.
"Dan di depan ayah dan ibu Nia. Abang berjanji untuk selalu membahagiakanmu. Abang akan membuatmu bahagia, sebagaimana ayah dan ibu membahagiakanmu. Abang tidak akan membuat air mata jatuh di pipimu," kembali bang Fakhri berucap.
Setelahnya menarik nafas lega. Sang ustad dingin, pendiam dan tidak banyak bicara itu, hari ini berkata dengan begitu banyak.
Raniapun sudah berkaca-kaca, tidak mampu menyembunyikan rona bahagia yang saat ini menghiasi hatinya. Kata-kata bang Fakhri begitu menyetuh ujung hatinya. Merasakan bagaimana selama ini mencintai seorang Fakhri tanpa pernah di ucapkan. Bagaimana hati Rania tidak menjadi menghangat, memdapat balasan bertubi dari kesabaran hatinya selama ini.
Bukan saja cintanya yang kini tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi balasan cinta dan janji bang Fakhri untuk selalu membahagiakannya. Juga keseriusan akan ikatan cinta yang sakral. Membuat Rania tidak hentikan mengucap syukur. Sejak awal, sejak cintanya hanya diungkapkan di ujung sajadah. Rasanya syukurnya itu menjadi berlipat ganda.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
__ADS_1
Hiiii readersku tercintahh😗😙😚
Makasih banget yang udah Vote, Like & Coment.
Maaf banget🙏 Author baru bisa update kembali🙏
Bukannya Author nggak mau update rutin🙏🏻
Coz selain hidup dalam dunia novel dan halu. Author juga hidup di dunia nyata dengan segala aktifitas yang nggak bisa di tinggalin🙏🏻✌🏻
Tapi Author akan berusaha update rutin jika Vote, Like, Favorit makin bertambah🙏🏻✌🏻😊
Mohon tetap setia pada Rania & Fakhri ya readers tercintahhh🙏🏻😚
Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻
Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻
Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love
Author Kesayanganmu 😗😙😚
__ADS_1
WCU