
"Pagi pak.....," sapa Rania begitu masuk ke dalam ruangan bosnya.
"Silahkan masuk.....duduk Rania," tawar si bos
"Terimakasih pak," jawab Rania
"Begini pak. Saya ingin melaporkan pertemuan saya dengan Ustad Fakhri kemarin," ujar Rania setelah meletakkan bokongnya di kursi tepat di hadapan bosnya.
Raniapun menjelaskan detail pertemuannya dengan Ustad Fakhri. Menjelaskan secara langsung keinginan Ustad Fakhri yang ingin bertemu secara langsung saat menyerahkan kontrak kerjasama mereka nanti.
"Baik. Kau atur saja dimana pertemuannya," jawab si bos.
"Baik, siap pak. Saya akan menginformasikan lebih lanjut nanti," ujar Rania.
Sesaat mereka hanya terdiam. Rania merasaka aura yang sangat berbeda.
"Kalau tidak ada yang mesti saya lakukan. Saya izin permisi pak," ujar Rania kembali.
"Silahkan......," jawab pak Reymond datar.
Rania keluar dari ruangan bosnya dengan raut wajah kesal. Sedari tadi Rania terus berfikir, apa yang menyebabkan si bos jadi berubah begitu drastis. Apa yang membuat si bos jadi tidak seramah seperti biasa kepadanya beberapa bulan ini. Rania terus memikirkan kesalahannya.
"Nia, kamu kenapa.....," tanya mbak Sinta heran.
Rania cuma mengangkat wajahnya menatap Sinta, tanpa berniat bicara.
"Heii...ini anak kenapa sih......," tanya Sinta lagi dengan bingung.
"Sejak keluar dari ruangan bos, kau cemberut saja, apa yang terjadi," desak Sinta.
Lagi-lagi Rania menatap Sinta, namun tetap saja bungkam.
""Ditanyain malah diem aja," ujar Sinta berpura-pura marah.
__ADS_1
"Bos benar-benar berubah mbak," jawab Sinta seperti bergumam.
"Berubah gimana maksudnya," tanya Sinta menyelidik.
Ternyata si bos yang merubah mood gadis ini, bisik hati Sinta.
"Bos tampak berubah beberapa bulan ini. Bos tidak seperti biasanya yang selalu lembut dan ramah," jawab Rania masih menunjukkam wajah tidak suka sekaligus bingung.
"Dia sangat datar, dingin, dan sedikit ketus. Padahal selama ini bos tidak bersikap seperti itu padaku," jelas Rania lagi.
"Tapi mbak tidak merasakannya. Bos seperti biasa saja, selalu baik dan ramah," bantah Sinta.
"Itu sikapnya pada mbak Sinta. Tetapi sikapnya padaku benar-bebar berbeda," jawab Rania.
"Aku terus berfikir sedari apa kesalahanku mbak. Apa ada hal yang kulakukan yang tidak disukai bos. Apa ada kesalahan yang kuperbuat yang mungkin tidak disukainya," tanya Rania kembali.
Sinta menghela nafas. Kesalahanmu adalah tidak jelas dengan perasaanmu sendiri. Kalau memang mau bertahan demi mengejar cinta Ustad. Tolaklah perasaan si bos, jangan terus digantung seperti ini, jawab Sinta dalam hati.
"Mungkin bos lelah dengan perasaannya sendiri," ucap Sinta lagi setelah beberapa saat
"Rania, kau sudah tahu bagaimana perasaan bos padamu. Bahkan bos tidak ragu-ragu sudah mengatakan perasaanya padamu," jawab Sinta lalu diam sesaat memperhatikan Rania.
"Mumgkin dia sudah lelah menyukai. Mengungkapkan perasaannya tanpa ada jawaban. Bos butuh kepastian cintanya itu, bukankah digantung nggak jelas kayak gini," ujar Sìnta kembali menjelaskan, lebih tepatnya menegaskan.
"Ni....Nia belum bisa memastikan perasaan Nia padanya mbak," jawab Rania pelan setelah mendengar jawaban panjang Sinta.
"Itulah yang namanya egois," ucap Sinta tegas.
Rania memicingkan mata dan alisnya, tampak tidak senang mendengar kata egois yang diucapkan Sinta.
"Masih mencintai dan mengharap cinta si Ustad, tapi tidak mau melepas kebaikan, perhatian dan kelembutan si bos. Kalau bukan egois, mau disebut apa....," tegas Sinta kembali pada Rania.
Rania terdiam, dalam hari dia mengiyakan apa yang dikatakan Sinta. Rania belum bisa memilih. Sesungguhnya dari dulu, sejak mengenal cinta dan menyukai Ustad Fakhri. Perasaan Rania tidak pernah berubah, cintanya itu untuk Ustad Fakhri. Tapi Rania juga menyukai rasa nyaman perasaaannya bila bersama si bos. Walau Rania belum yakin perasannya ini apakah juga cinta. Namun Rania begitu menyukai semua kebagian, perhatian dan kelembutan yang diberikan bos padanya. Apakah bènar Rania egois?
__ADS_1
"Mantapkan hatimu. Jangan akhirnya menyakiti salah satunya. Jangan akhirnya kau salah memilih perasaanmu sendiri. Fikirkanlah benar-benar. Karena tidak semua yang kita fikir cinta adalah benae cinta. Bisa jadi perasaanmu hanyalah rasa kagum pada sang Ustad yang tidak pernah terkatakan. Bisa jadi perasaanmu pada si bos adalah cinta, bukan rasa nyaman seperti yang kau fikir selama ini. Jadi tanyakan baik-baik bagaimana sesungguhnya hatimu itu," mbak Sinta menutup percakapan mereka pagi. Keduanyapun melanjutkan aktifitas pagi mereka dengan memeriksa dan mengerjakan pekerjaan mereka.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Mengejar Cinta Ustad"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Love Or Be Loved
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
__ADS_1
Coment 💬