
Hi readersku tercintah🤩😍
Mohon maaf banget, janjinya mau update semalem, tapi baru sempet update pagi ini🤭🙏
Jangan pada bersuudzon yah.
Jangan lewati part2 selanjutnya, biar nggak penasaran, abang ustad jadinya poligami nggak yah???
Kalu ada typo2✌ Author mohon maklum yak✌ Nanti ada waktunya semua typo author revisi🙏✌
Sebelum baca, ada baiknya pencet dulu Vote, Like, Love, Favorit & Rate5, kalau mau kasih hadiah juga lebih bagus🙏🙏
Demi kelanjutan novel author agar bisa naik level🙏✌
Dan demi semangat author biar rutin nulisnya💪💪
Love lagi sekebon ubi dari author😘😘
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baik Fakhri, Rania, abi dan umi sama-sama terkejut jika nyatanya gadis yang dijodohkan sang kakek adalah salah satu rekan dosennya.
Sedikit banyak bang Fakhri tahu sosok dari seorang Humairoh, walaupun tidak mengenal dengan dekat gadis cantik berhijab tersebut.
Dan ketika terungkap bagaimana perasaan gadis itu yang nyatanya juga mencintai bang Fakhri tanpa kata. Gadis yang menurut sang kakek sangat mirip dengan Rania istrinya. Bukan hanya kecantikan wajahnya, tapi juga sifat, sikap dan tingkah lakunya.
Walaupun begitu, bang Fakhri tidak sedikitpun bergeming. Sejak awal menjatuhkan pilihan pada Rania. Bang Fakhri telah berjanji pada sang istri, bahwa dialah satu-satunya wanita dalam hati dan kehidupan bang Fakhri.
Demi Allah, bang Fakhri sudah berjanji, untuk tidak akan berpoligami. Apapun masalah diantara mereka berdua, keduanya sepakat memasrahkan semuanya hanya kepada Allah.
Bang Fakhri ingat betul, ketika mengajak Rania bertaaruf, hingga serius memutuskan segera menikah. Yang ditanyakan gadis itu pada bang Fakhri adalah mengenai poligami.
Rania tidak perduli jika cintanya belum terbalas. Cukuplah dia saja yang sangat mencintai bang Fakhri. Hingga saatnya nanti, rasa itu pasti tumbuh bersama rasa cinta yang tulus dari lubuk hati Rania. Dan Rania akan bersabar untuk itu.
Tapi tidak dengan berpoligami. Meskipun agama tidak melarang, seorang laki-laki beristri lebih dari satu, asalkan sang pelaku poligami bisa bersikap adil pada keduanya. Tapi Rania tidak mampu untuk menjalaninya. Membagi semua rasa dan perasaan laki-laki yang dicintainya bersama wanita lain. Rania menyerah.
__ADS_1
Dan bang Fakhripun telah memastikan agar Rania mempercayainya. Bahwa tidak akan ada poligami di pernikahan mereka kelak. Bagi bang Fakhri cukuplah satu istri cantik, lembut, pendiam & pemurut seperti Rania. Dan kini, bang Fakhri tidak akan mungkin melanggar janjinya pada sang istri. Janji yang diucapkannya sebelum bang Fakhri mengikat Rania pada rantai indah mahligai pernikahan suci.
"Baiklah, kita sekeluarga akan berkunjung ke rumah abi Kosim. Levi minta tolong, Abah hubungilah abi Kosim dan tentukan waktunya. Mumpung Reyhan juga masih libur dan berada di rumah," putus abi bang Fakhri pada akhirnya.
"Abi, apa yang.......," cegah bang Fahkri cepat ketika mendengar putusan sang abi.
Abi mengkode agar Fakhri jangan mencela pembicaraannya dulu, baiknya dengarkan semuanya dahulu hingga selesai.
"Kita sekekuarga akan bersilahturahmi pada keluarga abi Kosim. Sekaligus memperkenalkan Rania, menantu kita," ujar abi kembali, sambil menatap satu persatu anggota keluarganya.
"Tapi abah, kedatangan kita ke sana hanya bersilahturahmi, bukan datang melamar Humairoh. Dalam hal ini sebagai abinya Fakhri, Levi tegaskan akan mendukung apapun keputusan Fakhri pada gadis pilihan abah itu," jelas abi lagi-lagi dengan tegas.
"Dan siapa tahu, kedatangan kita sekeluarga, bisa membujuk Humairoh agar memikirkan kembali keinginannya. Sekaligus meminta dengar pendapat tentang permasalah ini di mata keluarga abah Kosim. Levi harap abah bisa memaklumi dan memahami. Dan tidak lagi memaksakan kehendak abah pada abang," mohon abi pada ayahnya sendiri.
Kakek Gunawan hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui. Bagaimanapun cucunya itu sangat keras kepala untuk satu keputusan yang menurutnya benar. Dan kakek Gun sesungguhnya juga sudah lelah, selalu berdebat dan menekan Fakhri dalam hal ini. Padahal beliau tahu pasti, jawaban Fakhri masih tetap sama.
Bang Fakhri menghela nafas berat, kemudian menatap wajah istrinya dengan sendu. Selalu saja, perdebatan yang sama yang mesti di dengar Rania ketika bertemu dengan kakeknya.
Jika bukan Rania yang tadi mengajaknya berkunjung sebentar ke rumah abi dan umi, rasanya bang Fakhri malas sekali untuk datang. Karena dia sangat yakin, saat kakek masih ada di sana, perdebatan yang sama akan selalu di dengar oleh Rania.
"Ayo bang, ajak istrimu ke taman belakang saja," ujar abi pada putra sulungnya itu.
Lalu bang Fakhri mengikuti abinya menuju taman belakang. Sementara Rania diajak umi ke dapur untuk membuat teh dan membawa camilan ke taman belakang, untuk teman mereka mengobrol santai seperti biasanya.
"Maafkan kakek ya sayang," ujar umi menatap lembut Rania yang sedang mengaduk teh.
Rania tersenyum menatap ibu mertuanya yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Rania merasa beruntung mendapatkan ibu mertua yang begitu baik dan sayang kepadanya, layaknya ibu kandungnya sendiri. Bagi umi tidak ada anak dan menantu, keduanya adalah anaknya kini.
"Maafkan kakekmu. Umi rasa semua berasal dari beban rasa bersalahnya yang besar selama ini," ujar umi kembali pada Rania.
"Tidak apa-apa umi. Nia memakluminya," jawab Rania lembut masih tetap tersenyum dengan manisnya.
"Nia juga berharap dan tidak putus berdoa, semoga Allah segera memberikan karunianya agar Nia segera bisa mengandung umi," ujar Rania kembali dengan selalu tersenyum manis.
"Aamiin. Semoga segera di titipkan Allah, cucu-cucu umi dalam rahimmu nak," balas umi ikut tersenyum.
__ADS_1
"Yakinlah pada abang nak. Abang itu keturunan abinya. Abang juga akan setia hanya pada satu wanita. Umi yakin, abang akan kekeh pada pendiriannya, bagaimanapun kakek memaksanya," umi berusaha menyakinkan.
Seketika mata Rania memerah, meski telah ditahannya sedari bersama kakek tadi, namun bulir bening itu akhirnya jatuh juga.
"Maaf umi, Nia terlalu cengeng," ujar Rania di hadapan umi.
Seketika umi meraih Rania dalam pelukannya. Membiarkan saja istri putranya mengeluarkan tangisnya. Umi yakin, sedari tadi Rania pasti sudah ingin menangis, tetapi di tahannya sekuat tenaga agar jangan sampai menangis di hadapan sang kakek.
Umi tahu, senyum palsu menahan laju air matalah yang ditampakkannya sedari tadi. Berusaha setegar batu karang. Menunjukkan senyum termanis kepada semua orang, untuk menutupi hatinya yang terluka.
"Sana, cuci muka dan bersihkan wajahmu, Jangan tunjukkan wajah bekas menangis pada Fakhri. Itu akan membuatnya semakin kesal pada kakek nak," ujar umi memerintah.
Setelah mencuci muka dan membersihkan wajahnya, umi dan Rania membawa teh dan cemulan ke taman belakang rumah, di mana abi dan bang Fakhri sudah menunggu sedari tadi.
"Heii lihatlah bang, keduanya sudah datang," ujar abi begitu melihat istri dan menantunya telah menyusul ke taman belakang.
"Umi dan Rania, membuat teh saja lama sekali, abi dan Fakhri hampir saja ketiduran," sindir abi terkekeh.
"Maafkan umi, abi sayang. Tadi umi dan Rania sambil berbicara. Seperti tidak tahu kalu para wanita berkumpul saja," jelas umipun sambil terkekeh.
Sekilas bang Fakhri menatap Rania. Istrinya itu seperti selesai mencuci muka. Tapi matanya yang memerah tidak bisa berbohong. Fakhri yakin, Rania tadi habis menangis. Biarlah, Nia bisa mencurahkan isi hatinya pada umi. Fakhri yakin, umi akan mampu menyakinkan sisi hati Rania yang Fakhri yakin, saat ini tengah terluka.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil untuk cek novel Author yg lain
⤵️
Author Kesayanganmu😘😘
__ADS_1
WCU